Buka Hatimu Kembali Untukku

Buka Hatimu Kembali Untukku
Saat Hasrat di Ujung Tanduk


__ADS_3

Setelah susah payah merayu Ines akhirnya Nicolas berhasil mendapat satu ciuman dari istrinya, bukan hanya satu kissing Nicolas bahkan mendapatkan kepercayaan sang istri.  Itu paling terpenting baginya, enam tahun berjuang untuk mendapatkan maaf dari Ines, itu bukanlah hal yang mudah. Tetapi lelaki tampan berkulit putih itu yakin dengan cintanya yang tulus bisa mendapatkan hati Ines, usaha dan kerja kerasnya tidak sia-sia, saat menjelang malam,  mereka berdua mandi bersama.


“Aku tidak akan menyakitimu lagi Sayang, Aku berjanji padamu,” ujar Nicolas menahan hasrat hampir diujung tanduk, tongkat pamungkas milik Nicolas sudah menegang di balik kain pengaman yang ia pakai siap menghujam.


“Aku masih takut.”


“Percaya padaku, Aku tidak akan menyakitimu dan kamu juga akan menikmatinya,” bujuk Nicolas dengan tatapan merayu.


Ines tidak ingin dianggap cengeng dan lemah, ia akhirnya mengangguk dan setuju, baru juga  tangannya meraba ke bawah, menyentuh bulu halus bersiap untuk menuntaskan permainan terakhir, tiba-tiba.


“Mommy!”


“Mommy!


“Astaga!” mereka berdua  melompat dari bak mandi kelabakan mencari handuk


“Apa kamu tadi tidak mengunci kamar?” bisik Ines berlari ke pintu kamar mandi dan mengunci pintunya sebelum kedua anak lucu itu melihat mereka saling  berpelukan di bak mandi.


“Tidak,” jawab Nicolas.


Saat hasrat hampir di ubun-ubun ada pengganggu. Kedua anak itu baru saja pulang dari mall, Bu Narti sengaja membawa mereka keluar agar tidak menganggu orang tuanya untuk berbaikan, siapa sangka disaat diwaktu yang tidak tepat mereka datang. Mau marah tidak bisa itu anak kesayangannya.


“Bagaimana dong, ini sudah tidak tahan lagi,” bisik Nicolas menunjuk juniornya yang menegang dibalik ****** *****.


Ines tertawa geli melihat wajah tersiksa sang suami.


“Tahan, nanti malam saja,” ujar Ines menahan pintu agar tidak diterobos kedua anak itu.


“Mommy di mana?”


“Mommy kami membawa hadiah buat Mommy, loh,” ujar Amber.


“Sebentar sayang Mommy lagi ke kamar mandi lagi Pup!”


“Ok, cepat, ya.”


“Ini bagaimana urusannya, kita tuntaskan dulu kasihan si otongku,” bujuk Nicolas wajahnya memelas.


“Ih … nanti saja, ada anak-anak,” bisik Ines, ia bukannya kasihan melihat suaminya yang terlihat menderita mendiamkan siotongnya yang berontak Ines malah tertawa geli melihat Nicolas memegangi  bagian pangkal pahanya.

__ADS_1


“Sayang hanya sebentar saja,” bisik Nicolas lagi, wajahnya merayu.


Ines menepuk  bagian  belakang suaminya.


Pak!


 “Aku tidak suka buru-buru  seperti ayam,” ujarnya  menahan tawa.


“Aduh ini bagaimana, dong?”


“Suruh tidur lagi,” ujar Ines menahan tawa, ia melepaskan pakaian basahnya dan menggantinya dengan bathrobes, ia juga membuka lemari handuk dan menyodorkan satu untuk Nicolas.


“Kamu tetap di sini, tunggu Aku keluar duluan baru kamu.”


“Kenapa begitu?”


“Mulut mereka berdua cerewet pasti akan cerita sama bibi dan Marta nanti kalau kita mandi bersama.”


Ines keluar setelah selesai mandi, ia duduk mendengarkan kedua anak itu bercerita tentang keseruan di mall dan menceritakan barang apa saja yang mereka beli.  Saat membelakangi pintu kamar mandi Nicolas keluar ia masuk menuju kamarnya, setelah berpakaian santai ia datang dari kamarnya seolah-olah ia baru masuk ke kamar Ines.


“Hai anak-anak.”


Kedua anak itu memeluk  Nicolas berebut ingin digendong.


“Eh … tapi daddy lagi sakit loh,” ujar Ines tiba-tiba perhatian, kalau biasanya walau Nicolas tersandung atau kejatuhan buah kelapa sekalipun Ines hanya menoleh sebentar  lalu mengalihkan wajahnya, tidak pernah menunjukkan rasa simpatinya secara langsung pada sang suami. Tapi kali ini ia menunjukkan perhatian yang manis pada suaminya, mungkin karena Nicolas sudah memberinya vitamin c di kamar mandi Ines jadi berubah  mungkin juga Ines akan lebih perhatian lagi kalau tadi sempat diberi suntikan padanya, tapi sayangnya saat ingin disuntik anak-anaknya datang menganggu.


Nicolas berharap-harap malam ini ia bisa menyuntik istrinya, ia juga takut tongkat miliknya karatan karena hampir enam tahun tidak pernah dipakai untuk bercocok tanam , untuk mengganti oli, biasanya  bermain solo di kamar mandi. Nicolas berharap setelah ia berbaikan dengan istrinya ia bisa mendapat jatah ranjang.


“Oh, Daddy sakit ya.” Keanu menatapnya dengan iba.


Nicolas merebahkan tubuhnya di atas ranjang berharap anak-anaknya tidur dengan cepat agar mereka melanjutkan cara yang sempat tertunda tadi.


“Aku mau tidur sama Daddy,” ujar Keanu dan berlari ke atas ranjang.


“Haaa …?” Nicolas melongo.


Sementara Ines tertawa ngakak melihat ekspresi frutasi suaminya, ia menatap Ines meminta istrinya mengatakan sesuatu pada anak-anak itu agar jangan tidur di kamar mereka, bukannya menolong Ines malah semakin tertawa, ia bahagia melihat penderitaan suaminya.


“Sabar …,” ujar Ines menepuk-nepuk pundak suaminya sembari  menahan tawa.

__ADS_1


“Kamu bahagia melihat suamimu menderita, astaga kepalaku jadi pusing menahan ini,” ujar Nicolas ia sampai tidur telungkup untuk menahan gejolak bagian bawahnya.


“Bukannya bahagia, lalu,  apa yang aku harus Aku lakukan,” ucap Ines menatap wajah  frustasi sang suami.


“Sini.” Nicolas membisikkan ke kuping Ines, “ suruh di tidur di kamar Ibu.”


“Aku malu sama Bibi nanti ketahuan sama mereka,” bisik Ines.


“Daddy tidak apa-apa?” tanya Keanu saat melihat Nicolas tidur telungkup dan memukul-mukul kepalanya ke atas bantal.


“Daddy sakit kepala, Bang.”


“Mau abang urut?” tanya Keanu.


“Abang tidak bisa, hanya Mommy yang bisa melakukannya.”


“Mom … urut kepala daddy,” bujuk Keanu menarik tangan Ines yang duduk di ranjang,  menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang, tangannya sibuk mengusap layar ponsel miliknya, karena asik berduaan dengan suaminya ada pesan masuk ke ponsel dan belum sempat ia balas.


Kedua anak itu tidur-tiduran di tengah mereka berdua.


“Apa kamu tidak bisa menundanya dulu ?” bisik Ines, karena ini pertama kalinya melihat hal yang seperti itu jadi Ines hanya  bisa tertawa.


“Ines Pratama! ini genting tidak bisa di tunda, kamu tidak tahu bagaimana   rasanya sih, kepala serasa ingin meledak dan badan terasa panas, kalau ini tidak dikeluarkan saat ini aku akan sakit kepala,” ujar Nicolas menenggelamkan wajahnya di bantal.


“Apa benar separah itu?” tanya Ines dengan wajah serius.


“Ya.”


“Kalau begitu keluarkan di kamar mandi pakai sabun,” bisik Ines masih setengah tertawa.


“Selama enam tahun belakangan ini Aku selalu melakukannya Mommy … masa Aku juga harus melakukannya juga seperti itu saat hubungan kita sudah membaik,” ujar Nicolas.


Ines merasa kasihan juga sama  mendengar cerita sang suami, tapi tetap saja ia senyum-senyum melihat tingkah Nicolas yang  menekan bagian bawahnya ke  bantal, Ines geli melihatnya


“Apa kamu memperk*sa  bantal itu?” tanya Ines tertawa ia mengintip ke bawa selimut.


“Aku mencoba menahannya, Bu Ines … bukan menggauli bantal,” ujar Nicolas dengan wajah tersiksa, memang tidak enak diganggu saat  lagi posisi  hasrat diujung tanduk.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2