
Setelah keluar dari kamar Nicolas, Linda tidak bisa tidur, ia terus saja berdiri di jendela menatap ke arah luar. Ucapan Bu Narti bolak balik melintas di otaknya.
“Ines tidak pernah bersama pria, dia sangat takut. Baru kali ini dia mau menikah. Karna itulah kakeknya sangat senang karna Ines akhirnya bisa menyembuhkan traumanya. Tolong jaga dia ya Bu,” itulah pesan Bu Narti beberapa minggu lalu.
'Bagaimana kalau dia semakin trauma'Linda membatin.
“Mi, tidurlah,” tegur Papi Nicolas, "ada apa masalah?"
"Tidak bisa tidur."
Gunawan berdiri, lalu memeluk pundak istrinya, “Apa masalahnya?” tanyanya lagi.
“Pi, Niko mabuk lagi, Aku takut dia berbuat kasar pada Ines.”
“Mereka sudah menikah Mi, biarkan mereka menyelesaikannya, mungkin setelah itu mereka akan tumbuh cinta satu sama lain.”
“Masalahnya, Ines .…”
“Jangan khawatir, mereka berdua bukan anak kecil lagi, mereka sudah dewasa, Papi yakin Nicolas akan mencintai istrinya. Ines itu ank baik, sopan, pintar,” puji Papi Nicolas.
“Aku berharap seperti itu Pi, tapi-”
“Sudah, Mami jangan semua dibuat jadi beban pikiran, nanti Mami sakit." Ia mengajak Istrinya untuk tidur.
Linda merebahkan tubuhnya, tetapi sepanjang malam itu ia tidak bisa tidur, saat jarum jam bertengger di angka tiga pagi. Ia memberanikan diri ke kamar Nicolas. Ia berhenti di depan pintu kamar, mendengar kran air masih menyala di kamar mandi, wajahnya semakin khawatir.
Linda mengetuk pintu, namun, tidak ada jawaban, memutuskan masuk ke dalam kamar, matanya tertuju ke kasur. Nicolas masih tertidur dengan tubuh telungkup. Ia berjalan mendekat meneliti dengan jelas ke arah lantai. Tidak lama kemudian bola matanya membesar saat ia melihat ada gunting berlumuran darah dan ada tetesan darah di lantai.
“Da-darah.” Ia menghampiri Nicolas memastikan lelaki itu, masih bernapas apa bukan, di tempat tidur ada bekas darah, ia mengikuti tetesan darah menuju kamar mandi Ines tidak ada. “Tuhan … kemana Ines,” bisik Linda dengan tangan gemetar. Lalu ia melihat pintu balkon kamar mereka terbuka, ia berjalan dengan hati-hati dan napas tertahan.
Ines duduk meringkuk di balkon seperti mayat hidup.
“Nes, kamu tidak apa-apa?” tanya wanita itu panik. Penampilan Ines benar-benar berantakan, rambutnya masih basah, bibirnya memutih, ia pucat bagai mayat hidup.
“Ma….” Ia menangis sesenggukan.
“Nak, Mama Minta maaf.” Ia memeluk Ines dengan erat.
__ADS_1
“Koko melakukannya saat mabuk, Aku kesakitan,” ujar Ines menangis.
Hati wanita itu sangat sedih mendengarnya, sesama wanita ia juga merasakan apa yang dirasakan Ines, ia melihat handuk yang di pakai Ines penuh dengan darah.
“Astaga … berdarah Jangan takut Mama akan mengobati lukamu." Wanita itu buru-buru masuk ke dalam membawa kain tebal membal tubuh Ines, ia juga bergegas ke ke lemari menarik pakaian yang akan dipakai Ines.
“Sayang badanmu panas, Mami akan membawamu ke rumah sakit,” ujar Linda, ia belum tahu kalau Ines melukai dirinya.
“Ma, aku terluka,” ujar Ines membuka handuk.
“Oh, astaga apa yang terjadi.” Tangan wanita itu gemetar .
Ia membantu Ines berpakaian, tidak ingin ada kehebohan di rumah.
“Nes aku akan membawamu ke rumah sakit, tapi sebelumnya aku membereskan ini sebentar, sebelum semua orang mengetahui,” ujar Linda.
“Baik Mi.”
Wanita itu menarik seprai bernoda darah itu, ia menganti seprai baru lalu menyelimuti tubuh Nicolas dengan seprai baru, ia menyingkirkan semuanya termasuk pakaian Ines dan dan gunting ia menyembunyikan. Nicolas masih sangat mabuk, ia tidak perduli walau Maminya menarik selimut yang membungkus tubuhnya dan mengganti dengan yang baru. Mami Nicolas mengatur seolah-olah tidak terjadi apa-apa malam itu.
Setelah rapi, ia akan membawa Ines ke dokter.
Ines hanya mengangguk, ia terlihat tidak berdaya.
“Oh, sayangku, maafkan Nicolas sayang.” Ia memeluk menantunya dengan erat, saat semua orang memusuhi Ines di rumah itu, dia masih merasa beruntung karena masih ada ibu mertuanya yang perduli dan sangat baik padanya.
Tidak ingin Nicolas merasa bersalah dan panik. Maminya terpaksa melakukan seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ia membawa Ines ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.
Linda tidak ingin ingin orang rumah tahu apa yang terjadi antara Ines dan Nicolas, sebagai seorang Ibu ia yang akan maju paling depan saat anaknya ada masalah.
Dalam rumah itu ada banyak persaingan, Ayah Nicolas dan ayah Duha kakak beradik. Namun mama Duha ingin suaminya yang memimpin perusahaan. Tetapi ayah Nicolas yang paling tua, jadi perusahaan ia yang memimpin.
Mamanya Duha selalu mencari-cari kesalahan iparnya agar dibenci ibu mertuanya . Maka itulah Linda tidak ingin adik iparnya ang licik itu mengetahui yang terjadi antara Ines dan Nicolas. Linda memesan kendaraan berbasis online kendaraan mereka ke rumah sakit.
Ia meminta bantuan Bi Noni membantunya memapah Ines ke mobil.
“Bu, apa yang terjadi?” tanya wanita itu panik.
__ADS_1
“Bi, Non Ines jatuh di kamar mandi,” ucap Linda terpaksa berbohong.
“Koko kemana Bu?”
“Dia mabuk, karena menolong dia mabuk makanya Non Ines jatuh,” ucap Linda, berbohong lagi.
“Astaghfirullahazinm.” ucap Bi Noni.
“Bi, jangan katakan apapun pada mereka, bilang saja antar Ibu ke rumah sakit,” ucap Linda.
“Baik Bu.”
Dalam mobil Ines duduk meringkuk, badannya panas, rupanya ia masih ketakutan. Ia melihat driver itu menatapnya ia semakin takut.
“Tenanglah sayang, tidak apa-apa.” Linda semakin memeluk tubuh menantunya dengan erat.
“Bu, kita ke mana-mana?” tanya supir itu menoleh ke belakang.
“Kita ke rumah sakit Pak.”
“Apa anaknya sakit Bu?”
“Ya, tolong lebih cepat Pak, badanya sangat panas,” ujar Linda, ia memeluk kepala Ines meletakkannya di dadanya, mengusap kepalanya dengan lembut, apa yang pernah dikatakan Bu Narti di lakukan Ibu mertuanya. Benar saja, Ines merasa lebih tenang ia memeluk pinggang ibu mertuanya dengan erat dan ia tertidur.
Tiba di rumah sakit, ia meminta bantuan untuk mengangkat tubuh Ines dari dalam mobil, saat ranjang di dorong Axell melihat. Pria yang berprofesi sebagai dokter itu masuk shift pagi.
“Oh, bukankah itu Maminya Nicolas? Siapa yang sakit?” tanya Axel, ia ingin menghampiri dan mencari tahu siapa yang sakit. Tetapi jam tugasnya sebentar lagi akan mulai. Ia melirik jam di pergelangan tangannya, tidak ada waktu lagi ia masuk ke ruangannya.
Sementara Ines sudah dibawa ke kamar untuk mendapat perawatan, ia menjelaskan luka diperut Ines, ia juga menjelaskan secara gamblang malam pertama Ines agar dokter bisa mengambil tindakan. Mami Nicolas meminta kondisi menantunya untuk dirahasiakan oleh dokter, ia tidak ingin kondisi Ines di ketahui orang lain.
Saat Mami Nicolas ingin mengurus administrasi Ines, ia melihat Axell melintas.
” Oh, itu Axell.” Linda terpaksa menghindar.
Ia meminta kamar VIP untuk Ines dan meminta dokter jangan memberitahukan tentang Ines pada dr. Axell, setelah mendapat kamar Ines tidur terlelap setelah di beri suntikan sama dokter. Linda duduk di samping ranjang menatap wajah Ines, setelah perawat membersihkan luka dan menghapus riasan hitam di wajah Ines. Kini wajah cantik Ines terlihat sangat jelas di depan ibu mertuanya.
“Ternyata kamu sangat cantik, Nak,” ucap Linda mengusap punggung tangan menantunya.
__ADS_1
Bersambung.
Kakak bantu vote, like, komen ya