
Kematian seseorang akan jadi misteri dan dan tidak bisa ditolak, hanya Pemilik kehidupan itu sendiri iyang tahu kapan ajal akan akan datang menjemput. Begitu juga dengan dr. Hendra Darmawan, ia dan keluarganya sudah melakukan semua cara untuk menyembuhkan penyakitnya, tetapi tidak ada jalan menuju kesembuhan.
Setelah berpamitan sama semua keluarganya Hendra sudah merasa lega, duduk diam melihat langit senja yan indah.
“Pi, Aku menyukai senja, karena ia sama seperti kamu, meski kedatanganmu singkat dalam hidupku, namun kehadiranmu akan membekas di hati. Dari senja Aku belajar semua yang indah di dunia ini tidak selamanya bisa dimiliki,” ucap Marta dengan bergetar.
“Kita nanti akan seperti senja dan daratan, saling melihat dan tak bisa saling menyentuh, saling menyapa namun tak saling menyahut. Tapi percayalah Aku akan selalu melihatmu melalui senja yang indah itu,” balas Hendra menatap langit senja.
“Pi, jika boleh jujur … Aku tidak ingin kamu pergi, Aku ingin kamu menemaniku melihat matahari tenggelam setiap sore,” lirih Marta.
“Sayang … Aku adalah senja yang sama; senja yang tak berani mengucapkan selamat tinggal, senja yang selalu menolak pergi meski dihalau paksa oleh waktu, dipaksa berpisah oleh keadaan. Tetapi percayalah, itu bukan keinginanku,” balas Hendra dengan sedih.
Saat matahari sudah meninggalkan langit menyisakan awan yang terang yang menguasai cakrawala, keindahannya membuat mereka begitu tenang dan hening, Marta berucap lagi dalam hati.
‘Kuatkan hatiku Tuhan’ ucapnya dalam untaian doa.
“Mi, Aku lelah, ingin tidur,” lirih Hendra dengan suara kecil nyaris tak terdengar.
‘Apakah ini sudah waktunya dia pergi?’ tanya Marta dalam hati, ia masih berdiri menatap langit, tidak ingin mendengar kata selamat tinggal dari suaminya, tangannya memegang kuat pegangan kursi roda sang suami. Setelah menguatkan hati, ia akhirnya menjawab dengan linangan air mata.
“Baiklah tidurlah dengan tenang, Sayang,” ucapnya dengan suara parau.
Hendra melakukan apa yang dikatakan Marta, ia membaringkan tubuhnya di sandaran kursi roda dan menutup mata selamanya.
Setelah beberapa menit menunggu dengan diam. Marta serasa belum percaya meraba wajah suaminya dengan pundak bergetar, setelah ia tak bernapas lagi, Marta akhirnya lunglai di samping Hendra.
“Selamat jalan kekasihku, tunggu Aku di pintu surga nanti, maafkan Aku,” ujar Marta memeluk sang suami yang sudah tidak bergerak lagi.
Ines, Bu Narti berdiri tidak jauh dari mereka akhirnya ikut menangis.
“Dia sudah pergi Bi,” ujar Ines pelan.
“Selamat jalan Nak, kamu tidak akan merasakan sakit lagi di tubuhmu,” ujar Bu Narti mereka berdua mendekat dan memeluk Marta.
“Nes … Dia sudah pergi, Aku memintanya pergi,” ujar Marta menangis keras mengudang perhatian semua orang yang melihat.
Mereka semua menangis merasakan apa yang dirasakan Marta, kehilangan orang yang sangat dicintai sangatlah berat. Axell dan Nicolas berlari dan tiba-tiba mematung melihat lelaki yang selalu membela dan selalu menolong mereka berdua setiap kali ada masalah.
__ADS_1
Axell dengan tubuh bergetar menangis di kursi taman, saat itu Lina dan Gunawan masih duduk di kursi tidak jauh dari mereka, Novi menghampiri keluarganya.
“Pi … dia sudah pergi,”ucapnya menangis tersedu-sedu. Gunawan berlari menghampiri tubuh Hendra, memeluk anak yang dirawat seperti anak sendiri.
Kepergian Hendra menorehkan kesedihan di mata semua rekan-rekannya sesama dokter, karena ia dikenal lelaki yang baik dan suka menolong . Hendra juga sangat aktif dalam acara sosial dan sering melakukan pengobatan gratis pada orang yang tidak mampu.
*
Besok paginya.
Setelah diurus semuanya, Hendra dibawa ke ruang duka, Marta masih duduk diam, ia seakan-akan belum percaya kalau suaminya sudah pergi, baru tadi sore mereka berdua saling bicara , membahas tentang senja, kini lelaki yang menikahinya enam tahun lalu itu sudah terbujur kaku dalam peti, tidak ada lagi senyuman manis yang akan diberikan padanya, tidak lagi memuji masakannya enak, walau sebenarnya rasanya hambar.
“Ta, Apa kamu tidak memberitahukan Amber?” tanya Bu Narti, memegang telapak tangan Marta.
“Aku tidak tahu, Bi,” jawab Marta, ia duduk seperti tubuh tanpa jiwa, tatapan matanya hanya tertuju pada wajah suaminya yang sudah menutup mata.
Semakin ia lihat, semakin ia tidak percaya kalau suaminya sudah pergi, ia beranggapan kalau Hendra masih tidur.
‘Bangunlah lagi, Ayo kita pergi jalan-jalan sekali lagi, melihat pantai’ bisik Marta menatap tubuh yabg sudah terbujur kaku itu.
“Ta … bangunlah,” bisik Ines saat Marta diam seperti patung.
“Ya Kenapa?” Ia menatap Ines dengan tatapan sendu.
“Kita harus membawa mereka berdua ke sini, mereka harus melihat untuk terakhir kalinya,” ucap Ines.
“Bagaimana kalau mereka menangis?” tanya Marta.
“Lebih baik menangis sekarang dan mereka tahu kebenarannya.”
“Baiklah, lakukan apapun,” ucap Marta dengan pasrah.
Nicolas dan kedua suster itu kembali membawa anak itu ke rumah sakit.
“Kenapa kita datang lagi ke sini? Kan kemarin sudah bertemu dengan Papi Om,”ucap di cerewet Amber, ia belum mau memanggil Nicolas dengan sebutan Daddy, bagi anak cantik itu papinya hanya satu, hanya Hendra.
“Kita akan melihat Papi sayang,” sahut Nicolas mengusap wajah cantik Amber dengan punggung tangannya.
__ADS_1
‘Beruntungnya kamu Ko kedua anak ini sangat menyayangimu dan Aku iri’ ucap Nicolas dalam hati.
“Apa kita akan mengajak Papi pulang?” tanya Keanu, tangannya sibuk memainkan mainan robot di tangannya.
“Ucapkan selamat jalan pada Papi kalian,” ujar Nicolas dengan suara bergetar, kedua suster mereka langsung paham kalau Papi anak-anak itu sudah meninggal.
“Papi memang pergi kemana?” tanya Amber lagi, ia selalu banyak bertanya dan pertanyaan tidak pernah putus.
“Papi akan pergi jauh sayang, sudah ya .. biarkan Daddy menyetir dengan tenang biar kita cepat sampai,” ucap suster Amber memangku anak berkepang dua itu agar bibirnya berhenti mengoceh.
“Sus, memang Papiku kemana sih?” Ia bertanya lagi.
“Papi Amber akan pergi ke surga, tinggal bersama bintang, lalu dia akan melihat Amber dan Abang dari sana,” ujar Suster,
“Oh, apa dia akan kembali lagi?”
Kedua suster itu saling melihat pertanyaan yang sungguh sulit, jika mereka jujur kedua anak itu akan sedih, kalau mereka berdua berbohong mereka berdosa.
“Papi akan menjaga dan mengawasi kalau berdua dari surga,” ujar Nicolas.
Tidak lama kemudian mereka akhirnya tiba, semua menatap saat mereka berdua masuk ke ruangan itu.
“Pap-” Amber terdiam, ia menatap susternya dengan bingung kenapa banyak orang.
Semua orang menangis saat Amber mendekat dan menatap wajah papinya dengan tatapan memelas.
“Papi kenapa tidur di situ,” ucap Amber berdiri di peti papinya.
“Apa Papi tidak bangun lagi?” tanya Keanu menatap Mommynya, pernyataan Keanu seolah-olah menyadarkan Marta kalau suaminya tidak akan bangun lagi, ia menangis lagi.
“Mami kenapa menangis?” tanya Amber dengan mata berkaca-kaca. Ines memeluk Amber.”
“Ucapkan selamat jalan sama Papi sayang.”
“Papi selamat jalan,” ucap keduanya dengan sendu.
Bersambung
__ADS_1