Buka Hatimu Kembali Untukku

Buka Hatimu Kembali Untukku
Akhirnya Bisa Memeluk Putraku


__ADS_3

Hendra selama ini selalu bersikap pesimis tentang penyakitnya, ia bahkan sudah menduga-duga  sisa umurnya  di dunia ini, karena itulah ia menolak  Marta punya anak, karena ia berpikir ia tidak akan berumur panjang untuk melihat anaknya bertumbuh . Namun, mendengar Marta hamil ia mengubah pemikirannya, ia bertekad akan melawan penyakit yang menyerang tubuhnya selama ini.


“Dok, kalau istrimu bisa hamil, itu artinya ada hal baik yang berubah dalam tubuhmu,” ujar  dokter senior yang menanggani penyakit Hendra selama ini.


“Aku berharap seperti itu Dok,” balas Hendra.


“Obat paling mujarab adalah hati yang senang. Apa yang membuatmu senang belakangan ini?” tanya  dokter berambut putih itu sembari memberi dr. Hendra  suntikan sebuah cairan berwarna putih yang disuntikan tepat di tulang belakangnya.


“Istriku hamil Dok,” jawab Hendra sembari menahan rasa sakit dari suntik besar itu.


Marta yang diperbolehkan melihat dari balik kaca hanya bisa menahan napas melihat sang suami menahan rasa sakit.


‘Bertahanlah Pi, kamu pasti bisa,” ucapnya dalam hati.


Melihat Marta tegang, Hendra pura-pura senyum, walau ia merasa sangat sakit, tapi ia memaksakan tersenyum pada istrinya.


“Tidak apa-apa, tidak sakit,” bisiknya lewat gerakan bibirnya.


“Kita akan melakukan  besok siapkan  dirimu,” ujar dokter menatap Hendra, lelaki itu hanya mengangguk. Apapun yang akan di minta akan ia lakukan yang pentin ia punya kesempatan untuk  melihat anaknya lahir.


‘Aku tidak berharap lebih dari penyakit ini, Aku bisa melihat anakku lahir saja Aku  sudah sangat senang’ ujar Hendra  dalam hati, ia masih  menatap kaca di mana Marta berdiri menonton para dokter itu melakukan tugas mereka.


Hendra mengalami penyakit langka, penyakit sama yang dialami papanya , itu artinya penyakit yang ia alami turun  dari papanya dan obatnya masih langkah.


”Dok, jika penyakit ini turunan, itu artinya anakmu yang masih dalam kandungan akan sakit juga,” ujar Dokter tersebut ia menyerahkan  kertas hasil pemeriksaan sampel darah Hendra.


Hendra menatap kertas itu dengan mata berkaca-kaca, ia menggenggam tangannya di samping tubuhnya, mencoba menyembunyikan perasaan  yang hancur itu dari Marta, tidak bisa dibayangkan perasaan Hendra,  ia sudah tahu, sebelum buah hatinya lahir ia sudah tahu nasibnya akan sama dengannya juga.


“Apa yang harus Aku lakukan Dok?” tanya Hendra putus asa.”


“Jika kamu sembuh ada kemungkinan dia juga sembuh, mari kita coba pengobatan yang belum pernah di lakukan sebelumnya,” ujar dokter.


“Baik Dok, mulai saat ini Aku akan  menurut apapun kata Dokter,” ujar Hendra dengan sedih.


                *


“Mi, nanti rambutku akan botak karena rontok  dan wajahku akan  kering dan menguning, Apa kamu tidak apa-apa?” tanya Hendra.


“Tidak apa-apa, Aku akan tetap bersamamu.” Marta memegang telapak tangan Hendra mencoba menguatkannya.


“Aku rindu Amber, sebelum  Aku menerima pengobatan Aku ingin melihat mereka berdua,” ujar Hendra.


“Aku akan mencoba menghubungi Ines nanti,” ujar Marta.

__ADS_1


“Mi …,” panggil Hendra.


“Ya, Papi mau mengatakan sesuatu?”


‘Anak yang kamu kandung itu juga nanti akan sakit sama seperti aku, lebih baik kamu gugurkan saja. Apa kamu mau?’ tanya Hendra dalam  hati, tapi ia tidak berani mengatakannya.


“Apa?” tanya Marta menatap sang suami.


“Terimakasih sudah menjadi istriku,” ucap Hendra, ia tidak tega mengatakan kebenarannya pada Marta.


Hendra jadi sedih melihat Marta setia mendampinginya, melihat ketulusan Marta yang tidak pernah mengeluh ataupun meninggalkannya, walau ia sudah meminta  wanita hamil itu untuk pulang . Namun, ia menolak, Marta  yakin kalau ia dan bayinya kuat untuk mendampingi Hendra selama menjalani pengobatan.


Dua bulan berlalu.


Rombongan Ines sudah menjelajahi banyak negara,  menikmati  keindahan kota di setiap negara, mencoba melupakan semua yang terjadi dalam hidupnya, tetapi sepanjang perjalanan raut wajahnya selalu tampak sedih.


“Apa semua baik -baik saja selama kita pergi perasaan tidak pernah senyum, apa hatimu sudah beku karena salju ini?” tanya Heru


“Aku baik-baik saja,” jawab Ines santai melihat kedua anak itu bermain salju.


“Kita sudah hampir dua bulan melakukan perjalanan Ines, tapi kamu tidak terlihat bahagia.”


“Aku ditakdirkan untuk bahagia, jangan khawatirkan aku.”


“Nes, kebahagian kita yang ciptakan sendiri kalau kamu berpikir  selalu yang buruk-buruk maka yang buruk yang akan datang, kalau kamu selalu berpikir hidupmu  baik-baik saja maka itulah yang akan terjadi,” ujar Heru menasihati.


“Apa kamu kangen  sama Mami sama Papimu?” tanya Ines menatap wajah Amber.


Anak perempuan berwajah cantik itu menatap Ines dengan sendu lalu ia menjawab


“Ya, Aku kangen sama  Papi.”


“Kita akan pulang,” ujar Ines.


Ia tidak ingin mengorbankan  perasaan anak itu karena kemarahan orang tau, setelah melakukan perjalan yang begitu panjang Ines  meminta  Heru membawa mereka pulang, ia sedih mendengar kabar tentang kondisi Hendra dan ia memikirkan perasaan Marta.


Heru akhirnya tiba di Jakarta ada banyak yang berubah.


Hendra duduk di kursi roda setelah mendapat pengobatan selama hampir dua bulan di Singapura.


“Papi! Amber berlari  memeluk tubuh Hendra.”


“Papi kangen,” ujar Hendra  memeluk putrinya

__ADS_1


“Abang tidak ikut, dia sama Mommy pulang ke rumah kita,” ucap Amber, bercerita panjang lebar.


“Apa Ines tidak ikut pulang?” tanya Marta.


“Dia kembali ke Jerman  dia akan tinggal di sana,” sahut Heru.


Padahal keluarga Nicolas sudah menunggu mereka di rumah, berharap Ines ikut pulang setelah dibujuk sama Hendra.


“Apa hatinya Ines sudah benar-benar mati rasa? Sampai dia tidak mau mendengar kata  orang yang sedang sakit?” tanya Novi


“Nicolas  sudah  berubah demi Ines,  dia sudah  membangun perusahaan  semakin maju, apa semua itu tidak cukup untuk Ines?” tanya Linda.


“Aku sudah membujuknya, tapi tidak berhasil,” ujar Heru.


“Aku butuh bantuan Ines untuk bicara dengan Marta, apa kamu bisa membawanya pulang?” tanya Hendra menatap Nicolas.


“Akan Aku usahakan Ko, jangan khawatir.”


Nicolas meminta alamat rumah di Jerman. Namun, satupun diantara mereka tidak ada yang berani memberikannya. Marta menghubungi Ines memberitahukan kalau Nicolas ingin datang ke sana.


“Berikan saja, kalau dia mau datang silahkan,” balas Ines dengan tenang.


Marta akhirnya memberikan alamat rumah di Jerman setelah dapat persetujuan dari Ines. Besok harinya Nicolas terbang ke Jerman karena Ines tidak mau pulang ke Indonesia, jadi ia yang datang ke sana. Perjuangannya tidak sia-sia, ternyata Bu Narti  sudah ada di sana juga.


“Aku harus bagaimana biar kamu mau menerimaku kembali,” ucap Nicolas saat ia tiba di Jerman.


Karena Ines menolak pulang ke Indonesia , Nicolas  datang menemui Ines di sana.


“Ini bukan  tentang bagaimana menerima atau gak, Pak Nicolas, ini tentang hati. Perasaan tidak bisa dipaksakan.”


“Lalu kamu ingin Aku melakukan apa?” tanya Nicolas.


“Tidak ingin melakukan apa-apa”


“Kalau begitu izinkan  Aku dan keluargaku menemui anakku,” bujuk Nicolas.


“Baiklah,” jawab Ines.


Mata Nicolas dan Bu Narti terkejut  saat memberinya Izin menemui Keanu. Ia memeluk putranya dengan tangisan, akhirnya satu hari berharga  datang juga menghampirinya, Akhirnya ia bisa memeluk putranya dengan erat.


‘Ini bukan mimpi kan, Aku beneran bertemu Keanu’ ucap Nicolas memeluk dan mengecup ujung kepala Keanu berulang-ulang.


“Terimakasih Bu, berkat Ibu Ines mau menerimaku di rumah ini,” bidik Nicolas pada Bu Narti, wanita itu hanya tersenyum. Akhirnya Ines memperbolehkan Nicolas menemui putranya, walau hanya sekedar memeluk Nicolas sudah sangat bahagia, ia sampai melupakan tujuan utamanya  untuk menemui Ines.

__ADS_1


Bersambung.


Bantu lke vote komen ya terimakasih


__ADS_2