
Hendra selama ini selalu bersikap pesimis tentang penyakitnya, ia bahkan sudah menduga-duga sisa umurnya di dunia ini, karena itulah ia menolak Marta punya anak, karena ia berpikir ia tidak akan berumur panjang untuk melihat anaknya bertumbuh . Namun, mendengar Marta hamil ia mengubah pemikirannya, ia bertekad akan melawan penyakit yang menyerang tubuhnya selama ini.
“Dok, kalau istrimu bisa hamil, itu artinya ada hal baik yang berubah dalam tubuhmu,” ujar dokter senior yang menanggani penyakit Hendra selama ini.
“Aku berharap seperti itu Dok,” balas Hendra.
“Obat paling mujarab adalah hati yang senang. Apa yang membuatmu senang belakangan ini?” tanya dokter berambut putih itu sembari memberi dr. Hendra suntikan sebuah cairan berwarna putih yang disuntikan tepat di tulang belakangnya.
“Istriku hamil Dok,” jawab Hendra sembari menahan rasa sakit dari suntik besar itu.
Marta yang diperbolehkan melihat dari balik kaca hanya bisa menahan napas melihat sang suami menahan rasa sakit.
‘Bertahanlah Pi, kamu pasti bisa,” ucapnya dalam hati.
Melihat Marta tegang, Hendra pura-pura senyum, walau ia merasa sangat sakit, tapi ia memaksakan tersenyum pada istrinya.
“Tidak apa-apa, tidak sakit,” bisiknya lewat gerakan bibirnya.
“Kita akan melakukan besok siapkan dirimu,” ujar dokter menatap Hendra, lelaki itu hanya mengangguk. Apapun yang akan di minta akan ia lakukan yang pentin ia punya kesempatan untuk melihat anaknya lahir.
‘Aku tidak berharap lebih dari penyakit ini, Aku bisa melihat anakku lahir saja Aku sudah sangat senang’ ujar Hendra dalam hati, ia masih menatap kaca di mana Marta berdiri menonton para dokter itu melakukan tugas mereka.
Hendra mengalami penyakit langka, penyakit sama yang dialami papanya , itu artinya penyakit yang ia alami turun dari papanya dan obatnya masih langkah.
”Dok, jika penyakit ini turunan, itu artinya anakmu yang masih dalam kandungan akan sakit juga,” ujar Dokter tersebut ia menyerahkan kertas hasil pemeriksaan sampel darah Hendra.
Hendra menatap kertas itu dengan mata berkaca-kaca, ia menggenggam tangannya di samping tubuhnya, mencoba menyembunyikan perasaan yang hancur itu dari Marta, tidak bisa dibayangkan perasaan Hendra, ia sudah tahu, sebelum buah hatinya lahir ia sudah tahu nasibnya akan sama dengannya juga.
“Apa yang harus Aku lakukan Dok?” tanya Hendra putus asa.”
“Jika kamu sembuh ada kemungkinan dia juga sembuh, mari kita coba pengobatan yang belum pernah di lakukan sebelumnya,” ujar dokter.
“Baik Dok, mulai saat ini Aku akan menurut apapun kata Dokter,” ujar Hendra dengan sedih.
*
“Mi, nanti rambutku akan botak karena rontok dan wajahku akan kering dan menguning, Apa kamu tidak apa-apa?” tanya Hendra.
“Tidak apa-apa, Aku akan tetap bersamamu.” Marta memegang telapak tangan Hendra mencoba menguatkannya.
“Aku rindu Amber, sebelum Aku menerima pengobatan Aku ingin melihat mereka berdua,” ujar Hendra.
“Aku akan mencoba menghubungi Ines nanti,” ujar Marta.
__ADS_1
“Mi …,” panggil Hendra.
“Ya, Papi mau mengatakan sesuatu?”
‘Anak yang kamu kandung itu juga nanti akan sakit sama seperti aku, lebih baik kamu gugurkan saja. Apa kamu mau?’ tanya Hendra dalam hati, tapi ia tidak berani mengatakannya.
“Apa?” tanya Marta menatap sang suami.
“Terimakasih sudah menjadi istriku,” ucap Hendra, ia tidak tega mengatakan kebenarannya pada Marta.
Hendra jadi sedih melihat Marta setia mendampinginya, melihat ketulusan Marta yang tidak pernah mengeluh ataupun meninggalkannya, walau ia sudah meminta wanita hamil itu untuk pulang . Namun, ia menolak, Marta yakin kalau ia dan bayinya kuat untuk mendampingi Hendra selama menjalani pengobatan.
Dua bulan berlalu.
Rombongan Ines sudah menjelajahi banyak negara, menikmati keindahan kota di setiap negara, mencoba melupakan semua yang terjadi dalam hidupnya, tetapi sepanjang perjalanan raut wajahnya selalu tampak sedih.
“Apa semua baik -baik saja selama kita pergi perasaan tidak pernah senyum, apa hatimu sudah beku karena salju ini?” tanya Heru
“Aku baik-baik saja,” jawab Ines santai melihat kedua anak itu bermain salju.
“Kita sudah hampir dua bulan melakukan perjalanan Ines, tapi kamu tidak terlihat bahagia.”
“Aku ditakdirkan untuk bahagia, jangan khawatirkan aku.”
“Nes, kebahagian kita yang ciptakan sendiri kalau kamu berpikir selalu yang buruk-buruk maka yang buruk yang akan datang, kalau kamu selalu berpikir hidupmu baik-baik saja maka itulah yang akan terjadi,” ujar Heru menasihati.
“Apa kamu kangen sama Mami sama Papimu?” tanya Ines menatap wajah Amber.
Anak perempuan berwajah cantik itu menatap Ines dengan sendu lalu ia menjawab
“Ya, Aku kangen sama Papi.”
“Kita akan pulang,” ujar Ines.
Ia tidak ingin mengorbankan perasaan anak itu karena kemarahan orang tau, setelah melakukan perjalan yang begitu panjang Ines meminta Heru membawa mereka pulang, ia sedih mendengar kabar tentang kondisi Hendra dan ia memikirkan perasaan Marta.
Heru akhirnya tiba di Jakarta ada banyak yang berubah.
Hendra duduk di kursi roda setelah mendapat pengobatan selama hampir dua bulan di Singapura.
“Papi! Amber berlari memeluk tubuh Hendra.”
“Papi kangen,” ujar Hendra memeluk putrinya
__ADS_1
“Abang tidak ikut, dia sama Mommy pulang ke rumah kita,” ucap Amber, bercerita panjang lebar.
“Apa Ines tidak ikut pulang?” tanya Marta.
“Dia kembali ke Jerman dia akan tinggal di sana,” sahut Heru.
Padahal keluarga Nicolas sudah menunggu mereka di rumah, berharap Ines ikut pulang setelah dibujuk sama Hendra.
“Apa hatinya Ines sudah benar-benar mati rasa? Sampai dia tidak mau mendengar kata orang yang sedang sakit?” tanya Novi
“Nicolas sudah berubah demi Ines, dia sudah membangun perusahaan semakin maju, apa semua itu tidak cukup untuk Ines?” tanya Linda.
“Aku sudah membujuknya, tapi tidak berhasil,” ujar Heru.
“Aku butuh bantuan Ines untuk bicara dengan Marta, apa kamu bisa membawanya pulang?” tanya Hendra menatap Nicolas.
“Akan Aku usahakan Ko, jangan khawatir.”
Nicolas meminta alamat rumah di Jerman. Namun, satupun diantara mereka tidak ada yang berani memberikannya. Marta menghubungi Ines memberitahukan kalau Nicolas ingin datang ke sana.
“Berikan saja, kalau dia mau datang silahkan,” balas Ines dengan tenang.
Marta akhirnya memberikan alamat rumah di Jerman setelah dapat persetujuan dari Ines. Besok harinya Nicolas terbang ke Jerman karena Ines tidak mau pulang ke Indonesia, jadi ia yang datang ke sana. Perjuangannya tidak sia-sia, ternyata Bu Narti sudah ada di sana juga.
“Aku harus bagaimana biar kamu mau menerimaku kembali,” ucap Nicolas saat ia tiba di Jerman.
Karena Ines menolak pulang ke Indonesia , Nicolas datang menemui Ines di sana.
“Ini bukan tentang bagaimana menerima atau gak, Pak Nicolas, ini tentang hati. Perasaan tidak bisa dipaksakan.”
“Lalu kamu ingin Aku melakukan apa?” tanya Nicolas.
“Tidak ingin melakukan apa-apa”
“Kalau begitu izinkan Aku dan keluargaku menemui anakku,” bujuk Nicolas.
“Baiklah,” jawab Ines.
Mata Nicolas dan Bu Narti terkejut saat memberinya Izin menemui Keanu. Ia memeluk putranya dengan tangisan, akhirnya satu hari berharga datang juga menghampirinya, Akhirnya ia bisa memeluk putranya dengan erat.
‘Ini bukan mimpi kan, Aku beneran bertemu Keanu’ ucap Nicolas memeluk dan mengecup ujung kepala Keanu berulang-ulang.
“Terimakasih Bu, berkat Ibu Ines mau menerimaku di rumah ini,” bidik Nicolas pada Bu Narti, wanita itu hanya tersenyum. Akhirnya Ines memperbolehkan Nicolas menemui putranya, walau hanya sekedar memeluk Nicolas sudah sangat bahagia, ia sampai melupakan tujuan utamanya untuk menemui Ines.
__ADS_1
Bersambung.
Bantu lke vote komen ya terimakasih