
Nicolas mengajak Ines bertemu dengan teman-temannya, tetapi dia takut Naura tahu kalau dia menikah dengan gadis yang kampung yang dekil.
Agar tidak ketahuan ia mengajak Ines ke kamar mandi, ia briefing istrinya di dalam kamar mandi.
“Aku tidak ingin kamu mengatakan sepatah katapun, biarkan aku yang bicara,” ujar Nicolas, menatap wajah Ines dengan tegas.
“Aku pulang saja kalau kamu malu.”
“Mereka akan semakin meledekku nanti. Kamu hanya perlu mengikuti semua yang aku katakan dan jangan jauh-jauh dariku.”
Setelah memberi pengarahan pada Ines, ia mengajak kembali untuk bergabung dengan teman-temannya. Kebetulan Axell baru tiba di sana.
“Hai ... tadi malam belum sempat memperkenalkan diri. Aku Axell teman suami mu,” ujar Axell menyodorkan tangannya.
“Halo, saya Ines.”
Menerima uluran tangan lelaki bertubuh tinggi itu, tapi mata mereka berdua saling bertemu.
‘Apa aku pernah melihat dia?’ tanya Axell, ia mencoba mengingat wajah yang ia lihat saat ini.
“Istrimu kerja dimana?” tanya Bela, teman Nicolas.Pertanyaan penyelidikan tentang istrinya ternyata masih berlanjut.
“Dia mengurus bisnis keluarga,” jawab Nicolas, ia membawa Ines ke sana hanya sebagai istri pajangan, bahkan tidak diijinkan untuk bicara oleh Nicolas. Ines merasa sedih itu sudah pasti, tapi ia mencoba tetap tenang, tidak ingin membuat Nicolas bertambah malu.
'Apa hanya kecantikan fisik yang jadi tolak ukur untuk mencari pasangan?Jika semua lelaki di dunia ini hanya memandang fisik yang cantik. Apakah gadis yang wajah tidak menarik sulit untuk mendapatkan pasangan?' tanya Ines dalam hati, ia menatap gadis-gadis cantik berpakaian seksi itu, saat duduk dalam diam tiba-tiba Axell menghampirinya.
“Apa kita pernah bertemu?” tanya Axell melirik Ines, ia duduk di samping Nicolas.
“Apa kamu mau bilang kalau lo datang ke kampung dia,” ujar Nicolas pelan. Dia sudah cerita pada Axell kalau istrinya dari desa.
“Ya sepertinya di panti asuhan,” ucap Ines.
“Ha! Benar ,” sahut Axell bersemangat.
“Keluargamu salah satu donatur penyumbang terbanyak di panti kami,” ucap Ines. "Tapi tunggu ... kamu cucu pemilik panti? Aku tidak pernah melihatmu di sana."
"Dia dikurung di dalam rumah, kakeknya pasti malu," ujar Nicolas sok tau. Lalu ia meminta Axell untuk menjauh dari Ines.
*
__ADS_1
Naura dan teman - temannya mulai berbisik- bisik ingin mulai rencana untuk mempermalukan Ines. Nikolas menyadari hal itu dan tidak ingin Ines di kerjain Naura dan teman-temannya.
Nicolas berpura- pura menerima telepon dari rumah, agar membawa Ines pulang.
“Maaf kami akan pulang," ucap Nicolas memasang wajah panik.
“Kenapa harus pulang, kita minum dululah, kita belum merayakan pernikahan kamu.”
Teman-teman Nicolas tidak mengijinkannya pulang sebelum mereka minum. Nicolas tidak ingin Ines ikut minum dan mabuk dan membongkar semua rahasia mereka,jadi, setiap kali Naura dan teman-temannya menyodorkan untuk Ines ia akan menggantikannya untuk meminum.
Justru Nicolas yang mabuk berat, ia sudah mulai tidak terkendali, kalau Nicolas pulang keadaan mabuk akan kena marah sama Nyonya, ia meminta Axell membantunya mengantar pulang.
“Kenapa kita harus pulang, Bro?” tanya Nicolas setengah sadar.
“Untuk menyelamatkanmu,” sahut Axell.
“Dari siapa?”
“Dari mereka semua lah, memang siapa lagi?” sahut Axell jengkel, karena mabuk Nicolas justru mempermalukan Ines di depan teman-temannya, menjadikan wanita malang itu jadi bahan tertawaan teman-temannya. Ia memuji Naura mantannya, tetapi menghina fisik istrinya.
“Apa kamu melihat tatapan Naura tadi?” Nicolas mengoceh panjang lebar, ia tidak memperdulikan perasaan Ines.
“Dia bukan istriku, dia kartu ATM untuk keluargaku. Jangan khawatir,” ucapnya lagi.
“Kamu berbahaya kalau sedang mabuk, lebih baik kamu tidur saja , agar suasananya tenang.
“Tidak, biarkan aku meluapkan apa yang selama ini dalam hatiku. Naura aku sangat mencintaimu. Tapi kenapa kamu mengkhianati. Aku hancur, Aku semakin hancur saat keluargaku menjual ku demi menyelamatkan perusahaan. Aku menikah dengan gadis yang tidak aku kenal.” Nicolas membongkar semua rahasia keluarganya di depan Axell. Ines hanya diam, ia merasa malu di depan Axell untuk kedua kalinya, tadi malam Nicolas sudah meneriaki Ines . Tadi malam Nicolas menyebutnya seperti monyet hitam tetapi sekarang bahkan lebih parah.
“Bro, tolong diam lah, jaga perasaan istrimu,” ujar Axell lagi.
Nicolas tidak bisa mengontrol emosinya, dia terlalu mabuk, tiba di depan rumah Axell membantu Ines membawa ke depan pintu.
“Sampai di sini saja, terimakasih atas bantuannya,” ucap Ines dengan sopan.
“Oh, tidak apa-apa, jangan diambil hati apa yang dikatakan Nico, tadi dia hanya mabuk,” ucap Axell, dia tahu kalau Ines sakit hati atas hinaan yang di lontarkan Nicolas padanya.
“Tidak apa-apa, aku mengerti.”
Setelah membantu Nicolas turun, ia pergi tapi Nicolas membuat keributan.
__ADS_1
“Jangan berisik nanti Oma bangun kita akan kena marah,” bisik Ines membawa tubuh suaminya di pundaknya.
“Justru aku mau bilang sama Oma dia kejam. Ayo antarkan Aku ke kamarnya,” ucapnya memaksa Ines.
“Besok saja, ini sudah larut,” bujuk Ines setengah berbisik.
Tiba-tiba Maminya Nicolas keluar dari kamarnya mendengar suara berisik.
“Nico, Kamu mabuk lagi?”
“Mami, Aku mencintaimu,” ucap Nicolas memeluk Maminya.
“Kamu kenapa mabuk terus? baru juga tadi malam mabuk kok mabuk lagi.”
“Ma, tolong bantu bawa ke kamar sebelum yang lainya kebangun,” ujar Ines.
Kedua wanita itu memapah Nicolas ke kamar, meletakkannya di kasur.
“Mami keluar saja biar aku yang menganti pakaiannya,” ujar Ines.
“Baiklah.”
Setelah Mami Nicolas pergi, ia mengganti pakaian Nicolas yang terkena muntahan, saat ia melepaskan kancing kemejanya tiba-tiba Nicolas membuka mata dan menatap Ines dengan tajam.
“Naura?” Lalu menarik tubuh Ines dan menjatuhkannya ke tempat tidur, tentu saja wanita itu terkejut dan panik, ia berontak karena dia bukan Naura.
Tapi lelaki tampan itu sedang mabuk berat, ia tidak menghiraukan ketakutan Ines. Ia menangkap dagu Ines dan menikmati bibir mungil itu dengan sangat rakus.
“Aku bukan Naura kamu salah," pekik Ines dengan tangisan, ia mendorong dada Nicolas yang menindihnya dari atas.
“Aku mencintaimu Naura, sangat,” ucap Nicolas.
Hati wanita mana yang tidak terluka saat suaminya menyebut nama wanita lain saat menikmati tubuhnya.
“Jangan seperti ini … Aku mohon, kamu yang mengatakan tidak akan melakukannya kalau aku belum siap. Aku belum siap, apa lagi kamu ingin melakukannya saat mabuk,” ucap Ines dengan suaran bergetar wajahnya panik.
Dia belum pernah melakukannya dengan siapapun, tetapi Nicolas ingin melakukannya dengan paksa dalam keadaan mabuk.
“Tolong … aku bukan Naura, jangan lakukan itu padaku,” lirih Ines. Nicolas tidak bisa mengontrol dirinya karena mabuk. Ia terus memburu bibir Ines dan menikmatinya tanpa memperdulikan yang di lakukan Ines.
__ADS_1
Bersambung.