Buka Hatimu Kembali Untukku

Buka Hatimu Kembali Untukku
Kesabaran yang Membuahkan Hasil


__ADS_3

Kedatangan Nicolas ke Jerman membawa suasana  baru  di rumah Ines, Keanu tidak rewel lagi, saat dipisahkan dengan Amber ia sering sekali menangis minta pulang ke Indonesia bertemu Amber. Mereka selalu bersama sejak dari lahir, jadi kalau satu tidak ada mereka akan selalu mencari.


Malam itu setelah mereka berdua menyabotase  kabar Ines, bapak  anak itu tidur lelap sampai pagi, sementara Ines yang tidak mau tidur satu kamar dengan Nicolas, ia ke kamar Bu Narti dan tidur di sana.


Saat pagi  wanita itu membangunkan Ines, ia terbangun karena Heru menelepon Amber  menangis dan rewel karena tidak ada temannya untuk bermain.


“Nes bangunlah.”


“Apa Bi.” Ines membuka mata  dan menatap Bu Narti  yang duduk di sisi ranjang.


“Bagaimana pendapatmu kalau Amber kita bawa ke sini juga, kasihan dia menangis.”


“Boleh Bi, harusnya Nicolas yang disuruh pulang,” ujar Ines.


“Biarkan seperti itu Nak, kalau kamu tidak merasa bahagia, biarkan putramu bahagia bersama Papanya,” ucap Bu Narti menasihati.


Aku belum memaafkannya, Aku masih marah  Bi.”


“Nicolas sudah mendapat hukuman atas kesalahannya di masa lalu Nes, Kamu sudah meninggalkannya selama enam tahun dan dia bertahan menunggu kamu selama  itu, dia melakukan itu karena wanita penyihir itu yang memaafkannya, dia yang perlu dikasih pelajaran,” ujar Bu Atin.


“Tapi ngomong-ngomong apa benar Bibi meminta Omanya Nicolas keluar hari kantor?” tanya Ines.


“Ya, dia sudah tua seharusnya tidak usah ikut campur lagi tentang keuangan. Apa kamu tahu … Kantor di Surabaya banyak yang mengadu padaku, jadi Aku laporkan pada ayah mertuamu, dia meminta wanita itu untuk berhenti,” ujar Bu Narti.


“Jadi yang mengganti bukan Bibi?”


“Secara tidak langsung tidak,  Pak Gunawan yang meminta ibunya berhenti.”


“Apa Nicolas tau?” tanya Ines lagi.


“Nicolas yang bilang padamu dia datang sendiri ke Surabaya membawa pengganti Bu Marisa, lagian sudah tua tidak bisa lagi untuk bekerja, Kenapa dia tidak menghabiskan masa tuanya di rumah saja, saya saja yang masih jelas ingatannya dan penglihatannya , sudah tidak kerja lagi.” ujar Bu Narti.


“Selama Aku tidak ada … hubungan Bibi sama Nicolas bagaimana, kok kalian terlihat akrab?”


”Dia selalu datang ke rumah mengunjungi kami, Nes … kakekmu yang memilih dia jadi suamimu,” ujar Bu Narti.


“Sayangnya pilihan kakek tidak tepat,” ujar Ines.

__ADS_1


“Bukan  tidak tepat Nak,  setiap rumah tangga itu  pasti ada cobaan,” ujar Bu Narti.


“Bibi tidak marah lagi pada dia dan keluarganya?”


“Tidak, dia sudah  berubah. Nes ayo kita pulang lagi ke Indonesia, Marta butuh bantuanmu,” bujuk Bu Narti.


Bagaimana dengan Keanu Bi, bagaimana kalau Nicolas dan keluarganya merebutnya dariku.”


“Nes, Nicolas dan keluarganya berhak untuk Keanu, biarkan mereka melihatnya, Nicolas sudah cukup sabar Nak … Tapi kesabaran manusia itu ada batasannya,”ucap Bu Atin.


“Tapi Aku tidak mau kembali padanya lagi Bi.”


“Baiklah, kalau kamu belum siap, Bibi tidak memaksa. Tapi memisahkan anak dari Bapaknya itu salah Nak,” ujar Bu Narti.


“Bibi kenapa memaksaku kembali padanya? dia itu jahat,” ujar Ines.


“Semua orang tua tidak ingin rumah tangga anaknya  hancur, orang tua ingin nya rumah tangga anaknya bersatu. Bibi ingin melihatmu bersama Nicolas sebelum aku mati.”


“Ah, kata-kata mati selalu membuatku  takut, bisa gak Bibi  jangan menyinggung kematian,” ujar Ines.


Ines diam,  apa yang dikatakan  wanita paruh baya itu akhirnya bisa ia terima, juga. Bu Narti   bia membaca situasi, setelah melihat Ines dalam situasi hati yang sudah membaik barulah ia memberi nasihat, selama ini Ines tidak memberi rung untuk orang  lain dalam hatinya jadi Bu Atin tidak berani memberi nasihat.


“Sana bangunin suami sama anakmu , kita serapan bersama.”


‘Kenapa harus Aku, nanti dikirain Aku cari perhatian padanya’ ucap Ines dalam hati.


“Bibi saja, Aku tidak mau.” Ines menolak.


“Kalau bibi yang bangunin , dia pasti merasa malu. Bagaimana kalau dia buka baju.”


“Memang ada seperti itu, Bi?” tanya Ines.


“Laki Laki,  kalau tidur suka melepaskan pakaian. Apa dulu Nicolas tidak seperti itu saat kalian menikah?”


“Aku tinggal bersamanya hanya beberapa  bulan Bi, bahkan belum hapal semua kebiasaan dia, jadi jangan tanya bagaimana tentang dirinya tidak tau,” ucap Ines.


“Kamu tidak mau panggil suami sama anakmu? Biar Aku minta si mbak yang bangunin,” ujar Bu Narti.

__ADS_1


Ines akhirnya setuju, setelah diancam  akan meminta  asisten rumah tangga yang membangunkan Nicolas, Ines berjalan menuju kamar.


Tok -Tok!


Ia mengetuk kamarnya sendiri, tidak asa jawaban, dengan hati-hati tangannya menekan handle pintu. Ternyata Nicolas  masih tertidur pulas dengan Keanu dengan pose yang sama, ia menatap wajah keduanya ia baru menyadari kalau Keanu mirip dengan Nicolas.


‘Selama ini Aku terlalu sibuk membenci dirinya hingga Aku  melupakan kebagian anakku’ ucap Ines, ia mematikan penghangat ruangan di kamarnya ia yakin dengan begitu Keanu akan bangun, ia hanya perlu  menunggu di bawah.


Benar saja saat penghangat ruangan itu di matikan bapak  dan anak itu turun ke bawah dengan tubuh meringkuk.


“Mommy kenapa penghangat di kamar  mati, Aku sama Om kedinginan,” ujar Keanu  duduk di dekat perapian, ia masih sering lupa menyebut Nicolas sebagai Om, Ines hanya tersenyum kecil mendengar bocah tampan itu menyebut Nicolas sebagai Om.


“Usss … bukan om Nak, dia papa kamu,” ujar Bu Narti membela Nicolas.


“Aku lupa … Aku panggil daddy Nek.”


“Baiklah panggil Daddy juga tidak apa-apa,” ucap Bu Narti.


Setelah serapan pagi  mereka kembali duduk di perapian, salju di laur rumah semakin deras Ines,  selalu menatap keluar jendela, ada perasaan sedih dan kosong  setiap kali musim salju, saat ia melahirkan Keanu dulu saat salju turun lebat. Beruntung saat itu  Ines menjelang kelahiran di dampingi orang-orang yang sangat sayang padanya.


‘Marta ko Hendra Aku berharap kalian baik-baik saja’ ucap Ines dalam hati, tiba-tiba kedua orang itu terlintas di benaknya. Hendra dan Marta orang yang berjasa dalam hidup Ines mereka berdua selalu mendukung Ines saat  dirinya pernah putus.


“Bi, mari kita pulang ke Indonesia,” ucap Ines tiba-tiba.


“Kamu yakin Nak?” tanya Bu Narti bersemangat.


“Ya, Aku ingin merawat Ko Henra juga,” ucap Ines.


“Baguslah Nak, Bibi senang.”


A’yo kita bangun rumah sakit untuk orang-orang yang tidak mampu, seperti yang diinginkan kakek dulu Bi,” ujar  Ines.


Bu Narti dan Nicolas saling melihat, wanita itu tersenyum pada Nicolas, akhirnya Ines sendiri yang meminta pulang ke Indonesia, pulang pergi Jakarta- Jerman  sudah seperti pulang kampung untuk Ines, karena kakeknya  Ines punya jet pribadi  jadi untuk berpergian mereka tidak perlu khawatir, jadi untuk kepulangan Ines kali ini atas keinginan sendiri tanpa ada yang memaksa.


Apa Ines  sudah bisa memaafkan suaminya?


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2