Buka Hatimu Kembali Untukku

Buka Hatimu Kembali Untukku
Mari Kita Bersama Kembali


__ADS_3

Ines masuk ke kamar Darto menggunakan pakaian dokter, lelaki tua itu tersenyum  hangat melihat cucu kesayangannya datang mengenakan jubah dokter, kalau biasanya Darto tidak mau diperiksa, tetapi kali ini ia akhirnya pasrah dan mengijinkan sang cucu memeriksanya, selama ini ia tidak mau bukan karena tidak percaya pada Ines, hanya saja Darto menyembunyikan penyakit jantung yang sudah lama menggerogoti kesehatannya.


“Kakek tidak punya  kesempatan lagi untuk menolak, Aku akan menjadi dokter Kakek mulai saat ini,” ujar Ines, memegang catatan kesehatan sang kakek.


“Baiklah  Bu Dokter, lakukan apapun untukku Aku siap,” sahut Darto dengan senyuman hangat.


“Kakek, Aku akan melakukan  apapun untukmu, Aku akan selalu bersama Kakek mulai saat ini,” ujar Ines dengan suara bergetar dan mata  berkaca-kaca.


Darto menatap Hendra dan doktor senior itu bergantian, lalu ia menghela napas panjang, ia akhirnya sadar kalau ia tidak bisa selamanya menyembunyikan tentang penyakitnya dari Ines, cucunya bukan anak kecil  lagi yang bisa ia bohongi tentang penyakit yang ia sembunyikan selama ini.


Melihat suasana  itu dr. Hendra dan doktor senior itu meninggalkan Ines, ia memberi kesempatan dokter cantik itu merawat kakeknya seperti keinginannya selama ini.


“Kami akan keluar dr. Ines, lakukan yang terbaik dengan kakekmu, saya ingin mengurus administrasi agar kamu bekerja dengan saya di rumah sakit ini,” ujar lelaki itu  menatap Ines.


“Baik, Dok.”


Lalu mereka berdua pamit, Ines dengan diam mengganti infus kakeknya, Darto hanya bisa menghela napas berat melihat wajah sedih cucu kesayangannya yang sedih mengetahui penyakit kakeknya. Ia tidak tahu harus memulai dari mana untuk mulai bicara dengan Ines tentang penyakitnya.


"Kakek sudah tua, ada banyak penyakit silih berganti."


"Itu alasan Kakek memintaku untuk kuliah di Jerman dan bertugas di sana? Supaya Aku tidak memeriksa kakek, kan?"


“Jangan sedih seperti itu."


“Tapi Kakek tidak pernah memberitahukan padaku tentang keadaan kakek yang sebenarnya.”


“Aku tidak mau kamu terbebani.”


“Kakek … Aku mau jadi dokter tujuanku agar bisa menyembuhkan kakek,” tutur Ines, buliran kristal dari matanya kembali berjatuhan satu persatu, “ kalau kakek mau menceritakannya padaku , Aku akan berusaha mencari obatnya Kek.”


“Nes, kakek tidak berdaya lagi, Nak, makanya tidak kasih tahu kamu."


“Tapi aku tidak ingin mendengar semua ini dari orang lain,” ujar Ines, ia kembali menangis di sisi ranjang Darto, walau ia sudah pakai pakaian dokter dan bertindak sebagai dokter ternyata tidak lantas membuatnya kuat seperti yang dikatakan kedua dokter tersebut.


Ines memeluk kakek kembali, "Aku belum siap kehilangan kakek,” lirih Ines.


“Kalau kamu begini Kakek akan semakin sedih.”


“Temani Aku  sebentar lagi Kek, sampai benar-benar kuat  berdiri sendiri,” ujar Ines.


“Itu sama saja kamu melawan Tuhan Nes, kita boleh berencana tapi kalau Tuhan bilang sudah habis waktuku di dunia ini, apa yang bisa kakek lakukan?”


“Aku akan membujuk Tuhan agar memberimu sedikit waktu lagi Kek.”


‘Bagaimana Aku meninggalkan dunia ini, jika Ines serapuh ini’ Lelaki tua itu berucap dalam hati.


“Nes, tubuh kakek tidak kuat lagi menerima pisau bedah.”

__ADS_1


“Lalu Apa yang kakek lakukan?”


“Mari kita pulang ke kampung, biarkan kakek keadaan anak-anak panti,” ujar Darto.


“Jika kakek pergi Aku juga akan menyusul kakek nanti,” ujar Ines.


"Hus! Tidak baik bicara seperti itu," tegur Darto pada sang cucu. " Aku ingin melihat kamu bersama suami diakhir hidupku."


Mendengar hal itu Darto merasa sangat sedih, ia tidak ingin meninggalkan dunia ini


            *


Saat Hendra keluar, keluarga Nicolas mendampinginya, bertanya tentang keadaan Darto, lelaki itu menunjukkan wajah sedih,


“Apa ada masalah?” tanya Julio penasaran.


“Dia  menolak pengobatan, Ines sangat terpukul


“Apa maksudnya,  bukannya keadaannya sudah baik.” Nicolas menatap serius.


“Jantung Pak Darto sudah sekarat, sudah bolak-balik diganti, minggu kemari sudah diganti di Singapura, saat ia pingsan jantung itu kembali bermasalah.”


Nicolas diam, ia merasa  bersalah karena ulahnya  Darto jadi sakit.


Darto meminta pengacara datang, mendengar itu Ines keluar.


“Bagaimana Aku bisa ikhlas Ta, Aku belum siap kehilangan Kakek,” ucap Ines.


“Kamu pasti bisa Nes, kamu pasti mampu melewati semua ini seiring berjalannya waktu,” bujuk Marta.


“Aku belum sempat membahagiakan Kakek.”


“Dia merasa bahagia jika  kamu bersama dengan Nicolas.”


Ines menggeleng, “Jangan menyebut nama  lelaki itu di hadapanku, karena dia, kakekku sakit” ujarnya masih marah.


“Nes tidak ada yang bisa menghambat kematian, Aku juga kehilangan Ayah Ibuku saat kecil, tapi aku bisa mandiri sampai saat ini. Kamu juga harus bisa, kalau kakekmu sudah berkorban  memperjuangkan seumur hidupnya, maka di sisi hidupnya tugas kamu membahagiakan dia Nes. Lakukan apa diinginkan kakekmu.”


“Aku harus bagaimana?"


“Nes … dia ingin kamu kembali dengan Nicolas , dia ingin ada orang yang menjagamu.”


"Tapi dia dan keluarganya sudah menyakitiku," ujar Ines.


"Berkorban lah sekali Nes, supaya kamu tidak menyesal nantinya," bujuk Marta.


Ines merasa tidak adil pada hidup saat ia ingin menjauh dan meninggalkan Nicolas, ternyata Darto ingin mereka bersama kembali.

__ADS_1


Saat mereka mengobrol Nicolas datang,” Apa boleh kita bicara, Nes?”


Ines masih duduk sesenggukan, ia menatap Nicolas ‘ Apa  yang ingin kamu bicarakan?’ tanya Ines dalam hati, ia mengalihkan wajahnya ke arah lain dan mengusap air mata yang membanjiri wajahnya.



“Nes, bicaralah dengan suami, pikirkan dengan kakekmu jangan biarkan kamu menyesal nanti,” ujar  Marta lagi meninggalkan Ines dan Nicolas.


Setelah Marta  meninggalkan mereka, Nicolas duduk di samping Ines, melihat Ines menangis sedih seperti itu Nicolas merasa semakin bersalah.


“Maaf …,” ucap Nicolas.


Pundak Ines semakin bergetar, ia menahan tangisan  dengan  cara mengigit lengannya sendiri, ingin rasanya Nicolas memeluknya untuk menenangkan tangisan Ines, tetapi lelaki itu tidak punya keberanian untuk melakukan itu, ia hanya diam menunggu Ines tenang.


“Ayo kita bujuk kakekmu untuk mendapatkan pengobatan,” ucap Nicolas.


“Apa yang bisa aku lakukan lagi? Kamu sudah  menghancurkan semuanya, Aku sudah memohon padamu  … kenapa kamu tidak mendengar!”


“Nes, aku juga tidak tahu kalau akan seperti ini jadinya … Aku hanya ingin melepaskan diri dari kendali Oma, itulah sebabnya Aku bicara jujur sama Kakek, Aku tidak tahu beliau sakit.”


“Aku tidak punya siapa- siapa Pak Nicolas di dunia ini, karena itulah Aku mau menikah dan bertahan di rumahmu walau kalian memperlakukanku dengan buruk. Tapi kamu merusak semua usahaku, kamu mengingkari janjimu padaku.”


“Aku sungguh minta  maaf, saat itu ... Aku sedang mabuk, Aku mau melakukan apapun agar kamu bisa memaafkan ku.”


'Berkorbanlah Nes, lakukan demi kakekmu' ucapnya dalam hati.


“Benarkah mau melakukan apapun?”


“Ya,” jawab Nicolas.


“Kalau begitu, mari kita tinggal bersama walau tidak ada cinta diantara kita. Aku janji tidak akan melarang kamu dengan siapapun.”


“Baik, Aku akan memperbaiki hubungan kita.”


"Tidak ada yang perlu diperbaiki Pak Nicolas, mari kita pura-pura menjadi pasangan suami istri, ayo kita lakukan lagi di sisa hidup kakekku. Jika dia sudah  meninggal hubungan kita pun akan berakhir,” ucap Ines.


Nicolas terdiam,  tadinya bukan itu yang ia inginkan,  Ia ingin memperbaiki hubungan mereka, tetapi melihat kemarahan di wajah Ines,  ia hanya bisa mengangguk setuju.


“Baiklah, mari kita lakukan seperti yang kamu inginkan,” ujar Nicolas dengan kepala menunduk.


“Bukan keinginanku Pak Nicolas … bukan keinginanku, itu keinginan kakekku,” lirih Ines pelan, ia kembali meneteskan air mata, tetapi ia buru-buru mengusapnya sebelum Nicolas melihat.


Kembali menjalani hubungan tanpa cinta, Ines merasa dunianya seperti berputar di situ-situ saja.


Mampukah Ines melakukan semua itu demi sang kakek?


Bersambung .

__ADS_1


Bantu vote like komen


__ADS_2