
Jika seseorang dalam keadaan terdesak, ia nekat melakukan apa saja, itulah yang terjadi pada Duha dan Bapaknya, setelah Nicolas dan Gunawan memutuskan bisnis kotor yang mereka geluti selama ini, mereka berdua terjerat hutang pada rentenir. Duha nekat mendatangi Hendra abang sepupunya yang sakit parah, bukan untuk menjenguk dan memberi dukungan,
melainkan ingin uang.
Duha meminta kunci brankas dan password penyimpanan harta warisan yang dibagi-bagi sama opa mereka untuk semua cucunya dan yang dipercaya memegang kunci brankas itu adalah Hendra. Sangat kebetulan sekali Hendra dan Nicolas cucu yang sudah menikah dan otomatis hanya dua orang itu yang berhak membuka kotak harta warisan yang diberikan opa mereka.
Hendra sudah punya feeling kalau Duha dan pamannya akan datang menemuinya untuk meminta kunci brankas.
Sebelum Ines dan Nicolas tiba di rumah sakit.
Pagi itu saat Hendra ingin masuk ke ruangan kontrol, Marta memberi tahun kalau Duha dan Papanya datang menjenguknya.
“Pi, Pak Deon sama Duha datang menjenguk mu, kamu pasti senang,” ucap Marta membantunya mengganti pakaian.
“Sama siapa saja?” tanya Hendra dengan wajah tidak ramah.
“Mereka berdua saja, jadi Papi jangan merasa sedih ya, semua keluarga perduli sama Papi,” ujar Marta dengan lembut , ia tidak tahu apa tujuan lelaki bukan ingin menjenguk Hendra bapak anak itu punya tujuan lain.
“Sus, tolong bilangin sama sepupu dan paman saya, kalau saya tidak menerima mereka saat ini, bilang saja pasiennya sedang tidur, suruh mereka datang siang saja, pokoknya suster harus cari cara agar mereka tidak masuk ruangan ini saat ini,” ujar Hendra dengan wajah dingin.
“Baiklah Dok.” Suster menemui Duha dan Bapaknya menyampaikan apa yang dikatakan dr. Hendra, awalnya kedua lelaki itu memaksa ingin bertemu , mereka bilang hanya ingin bicara sebentar tapi perawat menolak dengan tegas.
“Mi, sini,” panggil Hendra pada istrinya.
“Ada apa?”
“Ini berikan pada Ines maupun pada Nicolas, jangan sampai jatuh ke tangan Duha dan Papanya, ataupun Oma.”
“Apa ini?”
“Berikan saja pada mereka, Ingat jangan sampai Duha tahu,” ujar Hendra mengingatkan istrinya pagi itu.
Setelah memberikan pada Marta, Hendra di bawa ke ruang kemoterapi, keluar dari sana tubuhnya sangat lemah ia hanya tidur, saat Duha dan Bapaknya datang, ia tidak tahu apa yang mereka katakan.
__ADS_1
“Ko … Aku hanya ingin meminta bagian dari warisan yang diberikan Opa,” ujar Duha tanpa basa-basi , bahkan tidak menunjukkan wajah simpati pada Hendra.
“Aku tidak bisa ingat apa-apa, Aku merasa sangat pusing,” ujar Hendra.
“Koko coba ingatlah, tolong bantulah kami, ini sangat mendesak,” desak Duha terdengar memaksa, Wajah Marta dan perawat mulai kesal melihat bapak anak itu memaksa Hendra. Marta akhirnya paham kenapa suaminya tidak senang saat mendengar mereka berdua ingin menjenguk.
‘Ini mah … bukan menghibur pasien, ini justru menyebabkan pasien makin sakit parah, bukannya memberi simpati pada saudara malah menambah beban’ucap Marta dalam hati.
Melihat mereka berdua memaksa, perawat itu memanggil dokter untuk meminta mereka meninggalkan Hendra.
“Maaf pak, pasien harus istirahat dia baru melakukan kemoterapi jadi tubuhnya masih lemah , apapun yang Bapak katakan percuma karena dia tidak akan bisa mengingat apa-apa, tubuhnya sangat lelah dia butuh istirahat,” ucap dokter mengingatkan mereka berdua.
“Kami sudah menunggu dengan sabar dari pagi Dokter, Apa kami diminta menunggu lagi?” Wajah Duha dan ayahnya kesal.
“Seharusnya sebagai keluarga, kalian perduli kesehatan pasien,” ujar dokter mulai ikut kesal juga melihat sikap memaksa kedua orang tersebut.
“Ini karena keadaan mendesak,” jawab Duha belum mau menyerah.
“Kami juga lagi berjuang untuk hidup.”
“Maaf … saya minta tolong kalian keluar dari ruangan suami saya, karena dia ingin istirahat,” ujar Marta, terpaksa bersikap tegas, walau dinilai tidak hormat tapi ia melakukan itu demi suaminya.
Mereka berdua akhirnya terdiam dan keluar setelah tahu kalau istri Hendra sedang mengawasi mereka dari tadi, setelah mereka keluar. Tidak lama kemudian Gunawan dan Linda datang setelah diberitahu Marta.
“Bagaimana keadaannya?” tanya lelaki itu dengan Panik.
“Dia sudah tidur setelah diberi minum obat, dia benar-benar pusing melihat sikap mereka berdua tadi,” ujar Marta.
“Kurang ajar, kemana mereka pergi? Aku kasih mereka pelajaran,” kata Gunawan dengan marah.
“Pi, sudah-sudah kita keluar saja dulu, kita tunggu Nico, katanya tadi dia mau ke sini,” bujuk Linda pada suaminya.
Saa mereka keluar disitulah bertemu dengan Ines untuk pertama kalinya setelah kejadian di pemakaman, wanita itu tidak mengatakan apa-apa pada mereka hanya menyapa dengan menganggukkan kepalanya. Mereka berdua tahu kalau Ines belum membuka maaf pada mereka terlebih pada mami mertuanya
__ADS_1
‘Semakin besar seseorang berharap semakin besar juga rasa kecewa yang ia dapatkan’
Itulah yang dirasakan Ines pada mami mertuanya. Jadi wajar jika ia belum bisa memaafkan, karena dulu Linda sangat mendukung hubungannya dengan Nicolas. Namun tiba-tiba wanita itu memintanya untuk ikhlas melepaskan Nicolas, malah mendukung Naura, hal yang wajar kalau Ines masih belum bisa memaafkan ibu mertuanya dan adik iparnya.
Nicolas masuk ke kamar Henra, sementara Ines masuk ke kamar mandi, dari sana Ines sudah dikuti dua orang suruhan Duha, tetapi ia tidak menyadarinya, hingga akhirnya ia dan Marta duduk di taman barulah Ines menyadari kalau mereka sedang diawasi. Setelah meminta Marta membawa kunci itu ke Nicolas, ia masih duduk di sana dengan sikap waspada, mencari cara agar bisa melarikan diri dari kedua lelaki yang berdiri di taman itu.
“Apa yang Aku harus lakukan … Apa Aku harus lari atau berjalan pelan-pelan?” Ines bicara sendiri.
Saat waktu terdesak, ternyata seorang dokter mengenalinya.
“Hai Dokter, apa yang sedang kamu lakukan sendirian?” sapa seorang wanita berjubah dokter, ia orang yang merawat Pak Darto saat masih sakit dulu.
“Eh … Dokter Shani.” Ines merasa sangat bahagia karena selamat dari dua orang yang mengawasinya.
“Kapan datang ke Indonesia? Aku dengar setelah Pak Darto meninggal kamu memutuskan tinggal di Jerman.”
“Ya Dok, bagaimana kalau kita bicara di ruangan mu saja, Aku ingin bicara soal pasien di rumah sakit ini, dia sudah seperti saudara buat saya.”
Mereka berdua berjalan ke ruangan dokter itu , akhirnya ia lolos dari incaran dua pria yang ingin menculiknya, saat mereka masuk ke ruangan dokter. Heru, Axell, Nicolas berlari ke taman mencari Ines, mereka bertiga panik karena Ines sudah tidak ada di sana.
Nicolas yakin kalau Ines sudah diculik sebab lelaki yang ia lihat di kuburan pagi itu baru saja pergi meninggalkan rumah sakit. Nicolas mengejarnya tapi mereka sudah pergi buru-buru.
“Kita berpencar, kalian sisir di setiap lorong rumah sakit.”
“Baik.” Axell berlari melihat di setiap lorong rumah sakit dan parkiran, sementara Heru masuk kekantor keamanan untuk melihat CCTV. Saat mereka sedang bergelut mencarinya, tiba-tiba Ines menelepon.
“Aku baik-baik saja jangan khawatir, Aku ada di ruangan dokter,” ucap Ines melihat Nicolas dari jendela ruangan dokter ia melambai pada Nicolas. Seketika lutut lelaki berwajah tampan itu lemas, ia berpikir kalau penjahat itu sudah membawa Ines.
Ia merasa tenang karena Ines selamat, ia juga memilik kunci brankas dan password penyimpanan, kali ini ia sudah tahu kalau musuhnya yang sebenarnya sepupunya dan pamannya sendiri.
Mampukah Nicolas memperbaiki kondisi perusahaan saat saudara berusaha menghancurkan keluarganya?
Bersambung.
__ADS_1