Buka Hatimu Kembali Untukku

Buka Hatimu Kembali Untukku
Harus Banyak Istirahat


__ADS_3

Langit di Kota Berlin semakin dingin, sehubungan dengan langit di Kota itu semakin gencar menghamburkan puih -pui berwarna putih memenuhi sudut sudut kota dan setiap orang yang akan pergi keluarga ruangan akan memakai mantel- mantel tebal di penghujung bulan November dan akan memasuki awal bulan Desember pohon- pohon natal sudah mulai dipajang di sudut- sudut kota dan bulan Desember bulan puncaknya salju, langit akan menumpahkan butiran salju di langit Eropa.


Di lantai delapan apartemen yang di huni sepasang suami istri yang saat ini selimuti kebahagian yang luar biasa, karna mereka akan kedatangan tamu yang istimewa lagi, delapan bulan lagi, kalau tidak ada halang melintang dia akan datang ke dunia ini, karna karna usia kandungan Ines baru berusia satu bulan lewat satu minggu, Maka penantian mereka Delapan bulan lagi.


Nicola menyalakan perapian untuk menghangatkan tubuh mereka berdua, bertiga lebih tepatnya’ Ines duduk si sofa di depan perapian dengan kepalanya bersandar di pundak Nicolas, antara marah sedih bahagia karena hamil dan sedih karena Sonia menganggu kebahagiaan mereka lagi.


"Sayang kamu harus kuat apapun yang terjadi,"ujar Nicola dengan wajah memelas.


"Doakan Aku agar kuat, ini tidak mudah bagiku . Namun Aku memilih percaya padamu."


"Maafkan Aku Nes, Kalau saja wanita gila itu menjebak ku itu tidak akan terjadi."


"Baik mari kita lupakan."


Suasana hening tanpa suara. Ines tertidur di pundak Nicolas. Ines wanita yang kuat dan tangguh padahal posisinya dia lagi hamil tapi cobaan hidup datang lagi menerpa rumah tangganya, dalam hati sebenarnya ia tidak rela, namun kalau ia marah lagi Nicolas juga akan ikut terluka karena ia juga korban.


Ines harus beristirahat di rumah lagi, padahal baru  ia bekerja di rumah sakit , untungnya Rumah sakit tempatnya bekerja mengerti dan memberinya izin cuti beberapa hari dan tetap melanjutkan kerja sama rumah sakit Ines yang di Jakarta dan rumah sakit di Jerman.


“Kita akan ke rumah sakit nanti,” ajak Nicolas  pada istrinya pagi itu yang lagi asik menyantap Roti panggang untuk serapan paginya.


“Untuk apa?”

__ADS_1


“Untuk cek.’’


“Aku’ kan sudah memeriksanya beberapa hari yang lalu gak usah," tolak Ines


“Bukan tidak percaya sayang, tapi aku tidak ada saat itu, sebagai seorang Bapak dan seorang suami, harusnya aku menemanimu , sat hamil Keanu aku tidak melakukan apa-apa kali biarkan aku melakukan tugasku.” Nicolas mencium kening Ines yang sedang asik menikmati serapan paginya,


“Tapi aku kan seorang dokter, aku bisa memeriksanya sendiri,” kata Ines.


“Tidak, lebih baik dokter yang lain yang memeriksanya agar aku bisa bertanya lebih banyak lagi, apa lagi dokternya sudah pengalaman.”


Ines merasa hari tidak perlu ke rumah sakit lagi karena sebelumnya dia sudah ke rumah sakit, tapi Nikolas berkeras akan ke rumah sakit, pada akhirnya Ines mengalah juga.


Ia tidak ingin merusak kebahagian suaminya, walau hatinya masih ada yang mengganjal karena setiap kali berdebat atau berbeda pendapat mereka sering kali menyimpan dalam hati, masalah itu akan berakhir begitu dengan saling diam, tanpa ada keputusan yang pasti, itu juga yang di takutkan Ines walau Nicolas memilih dirinya dari pada Sonia, tapi wanita itu sudah ditiduri ?


Makah hal itu juga yang selalu menghantui Ines, kekhawatiran yang berlebihan menyebabkan stres.


Di Ruangan itu Ines di periksa seorang Dokter wanita yang terlihat sudah berumur,


Nikolas mengawasi setiap gerak gerik dokter yang memeriksa dan melakukan USG untuk anak mereka, Nicolas begitu bahagia mendengar denyut jantung calon bayinya dengan mata berkaca kaca ia memegang tangan Ines ada kebahagian yang terpancar dari wajahnya. Karena saat Keanu ia tidak bisa melihatnya.


Nicolas merekam semuanya dan mengirim ke Bu Narti untuk diperlihatkan sama Keanu,  ia dan Amber sangat gembira saat tahu akan punya adik.

__ADS_1


Setelah pemeriksaan lanjutan Nikolas mengetahui kenapa Ines tidak mau di ajak periksa ke rumah sakit ternyata ada hal lain yang dia sembunyikan , dari awal Ines sudah mengetahui kalau kandungannya mengalami masalah ,Lemah kandungan di sebut juga istilah(Kompetensi serviks) bagi seorang dokter dia sudah mengetahuinya lemah kandungan hanya bisa terlihat pada trimester kedua dam ketiga kehamilan dan yang dia alami ines adalah karna factor keturunan, Maka PR besar untuk mereka dan suaminya agar bayi dalam Rahim wanita itu bisa bertahan.


Dokter itu menyarankan Ines untuk bed rest atau tidak melakukan gerakkan agar bayi dalam kandungannya bisa bertahan,  Nikolas lebih memilih jalan ini tapi tidak bagi Ines .Dia lebih memilih (Cervical cerclage )atau pengikatan mulut rahim, dia akan di jahit secara tidak sadar dengan mengunakan benang dan jahitan baru akan di buka kembali setelah kandungan 37 minggu dan masa yang sudah aman dan Janin pun memiliki organ yang sudah lengkap, Ines lebih memilih hal yang lebih terasa sakit tapi tingkat keberhasilannya sembilan puluh persen,


Demi buah hatinya dia rela melakukan itu, perjuangan seorang ibu di mulai dari sekarang ucapnya dalam Hatinya,


Ketika proses itu di lakukan dokter Nikolas selalu mendampinginya dan menguatkan nya walau hatinya terkadang tidak habis pikir kenapa jalan yang mereka lalui begitu berat, Wanita itu dua kali lipat perjuangannya dari pada Ibu pada umumnya, tahap awal di sudah merasakan sakitnya dan belum nanti proses melahirkan.


Satu minggu setelah proses Cervical cerclage Ines hanya boleh tidur dan melakukan semuanya di tempat tidur, mulai mandi makan ,buang air besar semuanya dia lakukan di Tempat tidur, Dan di bantu seorang tenaga perawat yang menjaganya , Nikolas selalu bersamanya, dia bahkan meninggalkan pekerjaannya demi menjaga Istri dan calon anaknya kelak.


Hampir dua bulan dia mengalami masa sulit akhirnya bisa dia lewati kini dia sudah Mulai bekerja kembali walau harus hati hati, Ines Sama Sama berjuang bersama suaminya.


Melihat Ines malam itu menyuntik sendiri obat ke tangannya, ada rasa haru untuk Nikolas dia seorang laki laki yang takut Akan jarum suntik bahkan rasa takut Nikolas sudah bisa di kategorikan phobia jarum suntik, tapi di sisi lain istrinya malah bersahabat dengan jarum suntik, hampir tiap Malam wanita itu Akan menyuntikkan semacam vitamin untuk calon anak nya.


“Maaf iya sayang aku tidak bisa menemanimu ketika kamu pegang benda menakutkan itu.” Nikolas langkahnya mundur menjauh setiap kali Istrinya  akan menyuntik  perutnya.


“Gak apa- apa” jawab Ines tapi matanya fokus mencari tempat yang pas, pada tangannya untuk  disuntik.


Setiap malam dia Akan melakukan suntikan itu untuk tangannya entah berapa banyak nanti di butuhkan suntikan untuk calon bayi.


Nicolas semakin perhatian padanya setelah melihat perjuangannya, sejak dia mengetahui kalau dia Akan menjadi seorang Ayah dan lebih lagi melihat perjuangan Ines yang luar biasa.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2