Buka Hatimu Kembali Untukku

Buka Hatimu Kembali Untukku
Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

Saat Kakek Ines dimakamkan sore itu, Nicolas dan Axell masih di perjalanan menuju ke sana, sepanjang perjalanan Nicolas hanya diam  ada banyak beban yang ia pikul, rasa bersalah dan penyesalan terukir di wajahnya. Tetapi penyesalan akan selalu datang terlambat. Kalau datang duluan namanya pengumuman.


Begitu juga dengan Nicolas, ia sangat menyesal karena malam itu ia mau mengantar Naura, ia tidak tahu kalau mantan kekasihnya tersebut akan menguncinya di kamar dan merebut ponselnya saat ia menelepon Ines. Kalau saja Nicolas tegas menolak malam itu, mungkin ia saat itu sedang bahagia karena dapat kado spesial dari Ines. Tetapi saat itu mungkin Ines tidak akan memberitahukan kabar kehamilannya pada sang suami karena kesepakatan kebersamaan mereka sudah berakhir karena kakeknya sudah meninggal.



“Bro, jangan diam saja dong, Aku jadi mengantuk,” ucap Axell, lelaki berkaca mata itu yang pegang setir.


“Aku tidak tahu harus  bicara apa, otakku panas rasanya.” Nicolas memijit kening yang semakin dipikirkan semakin berkedut.


“Macet ni, kita harus mengobrol biarkan gak jenuh, aku bisa tidur sambil menyetir kalau kamu diam saja,” ujar Axell.


Apa yang dikatakan Linda benar jalanan akan sangat macet  menuju ke kampung karena hari itu weekend.


“Bro, kita harus cari penginapan saja, ini sudah mau malam tidak akan keburu lagi,” keluh Axell menyetir beberapa jam tanpa istirahat membuatnya sangat lelah.


“Biarkan Aku yang menyetir,” ujar Nicolas.


“Bahaya Bro, kita menyetir  dengan tubuh lelah yang ada kita sakit. Kita makan dulu, lagian tidak keburu lagi, Pak Darto sudah dimakamkan,” ujar Axell.


“Aku  merasa bersalah,” ujar Nicolas.


“Kamu harusnya punya sikap, kamu sudah menikah, jangan ada hubungan dengan si Naura lagi.” Axell memberi nasihat.


“Aku tau, Aku sudah berusaha Xell, tapi Naura … merepotkan ku, dia bersikap seperti itu karena dia yang membantu membiayai pengobatan Papi.”


“Aku tahu apa yang kamu hadapi berat Bro, tapi Ines juga dalam posisi yang sulit, melihatnya tadi menangis membuatku sedih, dia tidak punya sia-siapa lagi,” ujar Axell.


Mendengar cerita Axell wajah Nicolas semakin mendung, ia merasa bersalah , karena tidak ada saat Ines terpuruk atas kepergian kakek Ines.


Axell membujuk Nicolas untuk  berhenti di sebuah penginapan,  saat tiba di sana Nicolas mencoba menelepon Ines, tapi ponselnya sudah tidak aktif lag.


Ia mengirim pesan ke nomor Marta, wanita itu juga marah ia tidak membalas.


“Bagaimana?” tanya Axell.


“Tidak diangkat.” Nicolas menghela napas.


“Sabarlah Bro, dia lagi berduka mungkin dia masih menangis,” ujar Axell.


Mereka berdua memilih beristirahat di sebuah penginapan, saat ingin meneruskan perjalanan Axell mendapat kabar ada bencana . Lagi-lagi  banyak rintangan yang menghalangi perjalanan Nicolas, jalan menuju kampung Ines longsor.

__ADS_1


“Bagaimana Bro? Jalan menuju tempat Ines longsor,” ucap Axell .


“Pasti ada jalan lain, Aku harus datang  ke sana walau sudah terlambat.” Nicolas tidak mau menyerah.


Melihat wajah Nicolas Axell merasa kasihan, ia sudah mengenal dari mereka  masih sekolah SMP,  ia tahu bagaimana sikap Nicolas, ia bukan orang yang tegaan, ia tahu  Nicolas pasti dijebak Naura.


“Baiklah, ayo kita lanjutkan mudah-mudahan ada akses lain masuk ke sana.” Sebagai sahabat Axell memilih mempercayai Nicolas ia setuju melanjutkan perjalanan yang sudah setengah perjalanan.


Disisi Lain.


Bu Narti tidak ingin Ines merasa sedih atas kepergian kakeknya dan atas apa yang dialami. Wanita itu akan membawa Ines kembali ke Jerman, di sana Ines sudah punya rumah yang dibeli Darto saat kuliah di sana.


“Kita akan pergi ke Jerman, di sana kamu bisa lebih tenang,” ujar Bu Narti.


“Baiklah, Aku mau. Tapi biarkan Aku bicara dengan Nicolas, Aku  ingin menyelesaikan semuanya.”


“Baiklah, mari kira bereskan dulu semua baru kita pergi.”


Bu Narti orang yang cekatan dalam bekerja, malam itu ia sudah menugaskan orang-orang yang akan mengurus panti dan bertugas mengurus perkebunan teh miliki kakek Ines, saat pagi mereka kembali ke Jakarta menggunakan helikopter. Mereka kembali ke Jakarta sementara Nicolas dan Axell baru tiba di kampung, Nicolas menghela napas panjang saat ia tahu kalau Ines sudah kembali lagi ke Jakarta. Tapi ia  tidak menyia-nyiakan kedatangannya ke sana, Nicola mampir ke malkam Darto, lelaki itu mencurahkan semuanya di sana . Nicolas meminta maaf tidak ada saat Darto memanggilnya untuk terakhir kalinya, setelah mampir ke makam Pak Darto Nicolas kembali pulang ke Jakarta karena Ines tidak ada  di sana.


                             *


Karena lelah dan banyak beban pikiran Ines di larikan ke rumah sakit, ia berbaring lemah di ranjang rumah sakit.


“Aku ingin bicara dengan Nicolas dulu Bi.”


“Ya, kamu boleh bicara kalau kamu sudah sembuh, istirahatlah,” ujar wanita itu  dengan lembut.


Mendengar Ines di rumah sakit, Nicolas langsung menuju rumah sakit, tetapi kali ini Bu Narti melarangnya dengan tegas.


“Bu Aku hanya ingin bicara sebentar,” ujar Nicolas, setelah ia tiba dari kampung.


“Untuk apa? Kamu ingin menyakitinya lagi? Kondisi Ines sangat lemah kami akan menjaganya kalau kamu menemuinya dia akan bertambah stres.”


“Bu, Aku hanya melihatnya sebentar saja,” ujar Nicolas memohon.


“Datanglah lagi kalau kondisinya sudah pulih.” Bu Narti tidak mengijinkan Nicolas bertemu.


“Aku minta maaf Bu, karena tidak ada saat Kakek pergi,” ucap Nicolas merasa bersalah.


“Tidak apa-apa, itu artinya kamu tidak perlu lagi menemui Ines, kamu  tidak perlu lagi pura-pura bersamanya, kamu boleh pergi pada kekasihmu.”

__ADS_1


“Apa?”


“Ya, bukankah itu kesepakatan kalian berdua?”


“Aku akan membicarakan itu dengan Ines, Bu setelah dia pulih nanti,” ujar Nicolas, melihat tatapan sinis Bu Narti Nicolas sadar  ia memang salah.


“Aku minta maaf Bu.”


“Tidak apa-apa, justru Aku ingin berterimakasih karena kamu mau membantu Ines untuk mewujudkan keinginan kakeknya  melihat Ines menikah,” ujar Bu Narti. “pergilah,  datang kembali setelah  dia pulih.”


Nicolas tidak diijinkan menemui Ines,  dengan wajah kusut Nicolas  berjalan  dari rumah sakit, ternyata di depan bertemu Marta. Wanita itu sangat membenci Nicolas, ia berjalan menghindar. Namun, Nicolas mengejar Marta.


“Ta, tunggu. Aku ingin bicara sebentar.”


“Bicara apa lagi?”


“Tolong dengarkan aku sebentar.” Nicolas mengajak Marta bicara .


“Apa lagi yang ingin dibicarakan?”


“Malam itu aku mint maaf kare-”


“Karena sibuk berduaan di kamar Naura.”


“Bukan begitu kebenarannya Marta, makanya dengarkan aku jelaskan.”


“Kamu yang seharusnya dengarkan Aku Pak Nicolas. Ines kami saat ini sedang sakit, Aku ingin merawatnya,  malam itu dia sudah susah payah membungkus kado spesial untukmu tapi ... ah sudahlah.” Marta berdiri.


“Naura menjebak di kamarnya Marta, tidak ada niat masuk ke kamarnya.”


“Alasan yang tidak masuk akal. Apa kamu mau bilang kalau wanita itu memaksamu juga?”


Wajah Nicolas langsung pucat saat ia mendengar kata pemaksaan, ia merasa malu pada diri sendiri karena lemah jadi laki-laki.


Apakah Nicolas akan tahu kalau Ines sedang mengandung anaknya?


Apakah Ines akan menyembunyikan kehamilannya  selamanya dari Nicolas?


Ikuti terus kisah mereka


Bersambung.

__ADS_1


Bantu Like komen dan vote ya kakak, terimakasih.


__ADS_2