Buka Hatimu Kembali Untukku

Buka Hatimu Kembali Untukku
Ingin Bersamanya Selamanya


__ADS_3

Hari itu Marta  di lema,  dihadapkan pada dua pilihan, ia tidak ingin menyesal nanti kalau ia pergi meninggalkan suaminya yang sedang sakit, di sisi lain ia juga tidak  tidak ingin tinggal oleh Heru dan Ines.


“Kalau begitu kalian harus membawa Amber bersama kalian,” ujar Marta.


“Kamu yakin?” Heru dan Ines saling menatap.


“Ya, Aku tidak ingin Axell dan keluarganya mendekati anakku, mereka tidak  berhak,” ucap Marta dengan tatapan mata serius.


“Tapi bagaimana dengan Hendra? dia  berhak atas putrimu, apa dia tidak marah kalau kami mengajak pergi?” tanya Heru.


“Kalau dia memang beneran sakit kami akan fokus dulu mengurus perawatan untuknya, mungkin dia tidak keberatan,” ujar Marta.


“Baiklah kalau kamu yang meminta seperti itu,” ujar Heru.


Malamnya Marta bicara dengan Amber, ia meminta ijin pada anak perempuannya  untuk pulang ke rumah Bu Narti dengan alasan kalau papi mereka sakit,  ingin merawatnya.


“Nanti kalau Papi sudah sembuh , kami akan datang menyusul kalian,” ujar Marta, sebenar ia juga sangat berat meninggalkan putrinya. Namun ia lebih tidak rela kalau Axell dan keluarganya mendekati anak perempuannya apa lagi merebut darinya.


“Mami sama Papi pasti akan datang kan?”


“Ya, kami akan datang, ada Abang Axell ada Mommy dan Om Heru dan suster bersamamu,” bujuk  Marta.


“Janji akan datang  bersama kami?” tanya Amber lagi.


“Ya.”


Amber ternyata mau ikut dengan Ines tanpa ada drama menangis, Marta kembali ke Jakarta , mendengar Marta kembali ke jakarta Axell dan Nicolas datang ke rumah, bahkan Novi juga ikut datang mereka berpikir Ines dan Keanu ikut ternyata hanya Marta dan supir yang datang.


“Bagaimana dengan Ines , Marta?” tanya Nicolas dengan wajah yang amat kecewa.


“Maaf dia berangkat ke luar negeri.”


“Luar negeri mana?” tanya Novi, ikut-ikutan bertanya.


“Dia bilang ingin keliling dunia.”


“Apa Amber juga ikut dibawa?” tanya Hendra  dengan tatapan menajam.


“Ya,” jawab Marta berusaha bersikap tenang, ia tidak ingin ada kemarahan antara dirinya dengan sang suami di hadapan Axell.


“Marta Amber putriku, harusnya kamu minta izin padaku juga kalau Ines akan membawanya.”

__ADS_1


“Pi, Aku ingin fokus merawatmu, kami berdua ingin Papi sembuh agar  bisa melindungi kami,” ujar Marta dengan  suara bergetar, wajah Hendra yang tadinya marah berangsur  menurun melihat Marta ingin menangis.


Hendra mendekat dan memeluk tubuh sang istri, ia mengusap buliran air mata yang menyusuri pipinya.


“Aku hamil Pi, Kamu harus  menjagaku,” ujar Marta menangis di pelukan Hendra.


“Baiklah, Aku akan menjagamu.”


Mendengar Marta hamil anak Hendra, Axell terdiam seperti batu, entah apa yang dipikirkan Axell, tetapi melihat Amber tidak ada di sana, ia tidak bersemangat.


“Koko sakit?” tanya Novi menatap Hendra.


Hendra tidak menjawab pertanyaan Novi, tetapi tataan matanya dan caranya memeluk Marta cukup menjawab semua yang ia lakukan selama ini.


‘Jadi itu kamu memintaku menjaga Marta karena kamu sakit’ ucap Axell.


“Jadi benar, kalau Koko sudah merencanakan semua ini dari awal,” ujar Nicolas.


Melihat Marta tidak nyaman bertemu Axell Hendra mengajak Marta untuk menginap di hotel,  awalnya ia sempat tidak setuju kalau  Amber di bawa sama Ines.


“Aku ingin fokus merawatmu, kalau sudah sembuh kita akan meminta diantar kesini,” ujar Marta saat mereka dalam mobil.


“Kalau ditanya tentang marah , itu sudah pasti,” sahut Marta


Ternyata Hendra sangat takut kehilangan istrinya, sengaja membawa Marta ke hotel agar mereka  punya waktu berduaan, saat Marta menunjukan wajah marah Hendra melakukan berbagai cara untuk mendapatkan maaf dari sang istri.


“Ta, tidak ada niat membuatmu marah.”


“Lalu kenapa kamu tidak pernah jujur?”


“Aku tidak ingin kamu meninggalkanku seperti yang dilakukan  Mamaku. Dulu saat dia tau kalau Papaku sakit, Mama pergi meninggalkan kami,” ujar Hendra.


“Aku tidak akan melakukan itu, Aku berjanji padamu, Aku tidak akan meninggalkanmu dikala susah maupun senang, dikala sakit maupun terpuruk,” ujar Marta dengan tulus.


Mendengar ucapan Marta , Hendra sangat tersentuh, ia tidak pernah menduga kalau ia akan mendengar  hal itu dari Marta, ia selalu berpikir semua wanita sama seperti Mamanya , Hendra tertawa kecil tetapi air dari matanya menetes


Melihat wajah tak berdaya itu, Marta merasakan kesedihan yang dialami sang suami. Ia meraih dagu Henra lalu menempelkan bibirnya di bibir sang suami, menciumnya dengan lembut, bak gayung  bersambut Hendra mengangkat tubuh istri di pangkuannya, ia tidak ingin hanya sebatas aktivitas bibir  melepaskan pakaian Marta dan menggendongnya ke atas ranjang.


“Pi, tapi aku kan lagi hamil,” ucap Marta menggulum senyum, niat tadi hanya ingin memberi ciuman kecil ternyata Hendra ingin lebih.


“Aku akan melakukannya dengan hati-hati, sayang.”

__ADS_1


“Apa kamu yakin dia tidak apa-apa?”


“Tidak, lagian kamu yang memancing singa lagi tidur,” bisik Hendra ke kuping istrinya sembari tangannya melepaskan pakaian  miliknya, setelah tubuh keduanya sudah benar-benar naked. Hendra mendaratkan bibirnya di setiap bagian tubuh sang istri, Marta memiliki tubuh yang sintal dan berisi, bagian dada yang padat membuat Hendra kagum dengan kemolekan tubuh istrinya . Pada saat sang suami melihat tubuh polosnya, Marta menggodanya menyebut Hendra seperti singa kelaparan, Hendra tersenyum nakal dan mengecup tubuh itu sampai puas.


Ini pertama kalinya mereka bisa berduaan,  biasanya kedua buntutnya Keanu dan Amber selalu mengekor kemanapun mereka berdua pergi. Bahkan tidurpun masih bersama jadi aktivitas ranjang mereka terbatas, hanya bisa melakukan  saat kedua bocil itu sudah tidur.


“Tubuhmu sangat indah ternyata Mi, Aku baru menyadarinya,” bisik Hendra sembari menikmati bagian lembut di dada sang istri.


‘Maka itu j jangan  berpikir memberikan Aku pada pria lain’ bisik  Marta dalam hati.


“Aku  mencintaimu Pi.  Apa kamu tidak tahu itu?” tanya Marta menatap wajah sang suami. Hendra menghentikan aktivitasnya,  lalu menatap istrinya dengan tatapan hangat.


“Aku juga mencintaimu Ta,” sahut Hendra.


“Kalau begitu jangan serahkan Aku pada siapapun, tubuh ini hanya milikmu,” ujar Marta dengan mata berkaca-kaca.


Hendra melihat mata istrinya yang hampir menangis, ia merasa sedih lagi, ia  duduk dan menarik tubuh Marta untuk ikut duduk.


“Baiklah, Aku tidak akan melakukan itu, Aku akan tetap bersamamu sampai mati,” ujar Hendra memeluk tubuh Marta.


Lalu menyatukan tubuh keduanya, ia melakukannya dengan cara yang paling aman. Duduk di sisi ranjang dan memangku tubuh sang istri lalu menuntaskan hasrat panas keduanya. Hendra melakukannya dengan sangat hati-hati karena ia tahu istrinya saat itu sedang hamil muda.


Pertama mendengar Marta hamil, ia kaget karena selama mereka menikah ia selalu meminta Marta meminum pil KB, Marta juga menuruti tetapi belakangan ia tidak meminumnya ia ingin Amber punya adik .


Sebenarnya Hendra juga merasa bahagia saat marta mengandung dara dagingnya, tetapi di bagian hati yang lain ia takut tidak sempat melihat anaknya lahir.


“Sayang, Aku ingin bersamamu selamanya,” bisik Marta memeluk Hendra dari belakang saat mereka ingin tidur, ia takut lelaki itu meninggalkannya saat hamil.


“Baiklah ,” sahut Hendra setengah  mengantuk, aktivitas ranjang tadi membuat tubuhnya lelah ia ingin tidur.


“Karena itu kamu harus berusaha sembuh, jangan menyerah demi anak-anak kita dan demi aku juga,” bisik Marta lagi.


Seketika mata Hendra terbuka sempurna, ia membalikkan tubuhnya dan  menjadikan  sikut tangannya jadi bantal,  menatap wajah Marta  begitu dalam ia menyentuh pipi istrinya dengan lembut,  lalu ia tersenyum, “baiklah Aku akan berusaha keras lagi,” sahut Hendra mendekatkan tubuhnya kearah Marta memeluk  dengan erat, sesekali ia mengecup puncak kepala Marta dan mereka berdua tidur.


Sebelum  tidur Marta menitipkan sepenggal  pesan pada Tuhan lewat untaian doa sebelum tidur;


‘Tuhan  Aku punya permohonan, biarkan lelaki ini bersamaku selamanya’ bisik Marta dalam hati, lalu ia tertidur.


Bersambung


Bantu Vote like komen ya

__ADS_1


__ADS_2