Buka Hatimu Kembali Untukku

Buka Hatimu Kembali Untukku
Hanya Cinta yang Tulus yang Bisa Menyembuhkan Ines


__ADS_3

Hal yang nekat yang dilakukan Nicolas sesuai yang diharapkan. Ines berada di sampingnya sepanjang hari, setelah menjelang siang Nicolas bangun setelah tertidur lelap. Saat membuka mata ia  melihat Ines tertidur di sisi ranjang menjadikan lengannya jadi bantal,  wajahnya  menghadap ke arah suaminya.


‘Apa setiap kali tidur wajahnya begitu tenang? Kenapa saat melihatku wajahmu begitu sinis. Aku akan menyembuhkan luka dalam hatimu Nes, Aku berjanji’ ucap Nicolas, ia hanya bisa melihat wajah istrinya saat tidur ia takut menyentuh pipinya , ia takut menganggu.


Ia menyingkirkan selimut itu pelan-pelan, ingin buka kran  ke kamar mandi, saat merasa ada yang bergerak Ines langsung bangun.


“Apa kamu ingin ke kamar mandi.” Ines memegang lengan sang suami membantu ke kamar mandi.


Ternyata Nicolas ingin merasakan bagaimana  bersikap manja sama istrinya,  ia sengaja  berjalan sempoyongan seperti habis minum bir lima botol, tujuannya agar ia bisa memeluk pundak istrinya.


“Tolong pegang infus ku, Aku ingin pipis,” ujar Nicolas bersikap santai.


“Apa?”


Walau ia seorang dokter dan  pasiennya adalah suaminya,  masih sangat canggung ia berdiri di belakang Nicolas dan membelakangi suaminya.


“Apa kamu malu sama suamimu sendiri?”


“Tidak,” jawab Ines  mencoba melawan ketakutan dalam dirinya dan Nicolas juga  mencoba membantu untuk melupakan trauma masa lalu yang dialami Ines.


“Kalau begitu tolong naikkan celanaku,  tanganku tidak bertenaga,” ujar Nicolas.


Saat  ia memegang celana  dan ingin menaikannya, tiba-tiba tangannya gemetar, untungnya Nicolas langsung menyadarinya, ia memegang tangan Ines tidak memaksa.


“Tidak apa-apa kalau kamu tidak biasa, Aku akan melakukannya,” ujar Nicolas.


“Maaf Aku hanya tidak biasa.”


“Tidak apa-apa Aku bisa mengerti, tapi … berusahalah untuk melawan ketakutan dalam dirimu,” ujar Nicolas.


“Baiklah, Aku akan berusaha.”  Ines mengalihkan wajahnya, tangannya memegang  kantong infus , saat nicolas berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan, Ines tiba-tiba tidak mau menatapnya.


‘Apa dia malu? apa takut?’ Nicolas  bertanya dalam hati.


“Apa kamu punya pisau cukur?” tanya Nicolas mengarahkan dagunya ke arah kaca.


“Tidak ada,” jawab Ines tanpa menoleh ke arahnya.


“Apa kamu punya pencabut bulu?” Ia mencoba menarik perhatian istrinya lagi.


“Kalau itu aku punya pegang ini, Aku kan  mengambilkan untukmu.”


Nicolas memegang jarum infus  itu dari tangan Ines.


“Ini.” Ia menyodorkan satu penjepit.

__ADS_1


“Bisa tolong bantu cabut  kumis yang  tumbuh ini?”


Awalnya Ines ragu, ia diam, hanya menatap wajah Nicolas,   tidak mau mendekat.


“Tolong yang sebelah di sini,” ujar Nicolas  menyodorkan wajah tampannya ke arah Ines, lalu ia pura-pura menutup mata.


Wanita itu memang benar-benar ketakutan  bersentuhan dengan pria, terlihat dari tangannya yang bergetar dan keningnya yang berkeringat, ia sampai menahan napas.


“Aku tidak bisa,” ucapnya dengan pundak naik turun.


“Nes, Aku tidak akan menggigit Aku akan menutup mataku. Tolong cabut itu sangat menganggu rasanya gatal,” keluh Nicolas dengan suara memohon.


“Baiklah.” Ines akhirnya melakukannya  ia memegang wajah suaminya, untuk pertama kalinya bisa menatap wajah Nicolas sedekat itu. Nicolas menepati janjinya  tutup mata sampai Ines selesai ia hanya ingin mengembalikan kepercayaan diri Ines.


“Katakan kalau sudah selesai, Aku mau bersin.”


“Sudah.” Ines melepaskan tangannya dari wajah Nicolas,


‘Apa Aku menyentuh wajahnya tadi?’ tanya Ines kegirangan dalam hati, karena itu satu kemajuan,  biasanya ia akan gugup dan merasa  mual.


“Tidak apa -apa kan? Makanya jangan takut kalau aku menyentuhmu, berikan tanganmu.”


“Aa …! Untuk apa?” tanya Ines kedua alisnya saling menyatu.


“Berikan saja.” Ines menyodorkan telapak tangannya, tapi saat dipegang sama  Nicolas tangan itu sangat dingin.


“Tidak mengapa, itulah yang kita obati.” Nicolas menggenggam telapak tangan Ines dengan erat. Tubuh Ines kembali menegang seperti patung , Nicolas mengajaknya   ke balkon.


“Coba lihat pemandangan di jalanan sana, baru siang begini sudah macet parah, bagaimana gak bertambah depresi penduduk kota ini,” ujar Nicolas mengarahkan tangannya menunjuk jalanan.


Perhatian Ines teralihkan dari telapak tangan yang digenggam Nicolas, ia juga menatap  deretan mobil-mobil yang saling membunyikan klakson dan menyebabkan suara riuh di jalanan.


“Menurutmu apa yang terjadi?” tanya Ines menatap ke arah jalanan pusat dari kemacetan.


“Kecelakaan mungkin.”


“Ya, Aku juga menduga seperti itu,” ujar Ines.


“Dari pada menduga-dunga kamu boleh melihat apa yang terjadi di sana.”


“Caranya?” tanya Ines.


“Ambil camera di kamarku dalam koper paling bawah.” Nicolas mengajaknya ke kamarnya lagi meminta Ines membongkar bara-barang pribadinya. Ines mendapatkan camera  yang memiliki teropong itu.


“Bagaimana cara menggunakannya?”

__ADS_1


Nicolas memeluknya dari belakang dan mengajari Ines bagaimana cara menggunakannya, strategi Nicolas dangat berhasil.  Perhatian Ines tidak lagi pada sentuhan dan rangkulan yang dilakukan Nicolas tapi matanya fokus menatap layar  camera.


“Kamu benar … sepertinya ada kecelakaan mobil beruntun tepat di lampu merah, apa perlu Aku menolongnya?”


“Coba kamu arahkan ke arah samping  petugas  dan ambulan pasti sudah ada di sana,” ujar Nicolas,  demi bisa memeluk Ines Nicolas sampai mencabut jarum infus di tangannya dan meletakkan botol infus di atas sofa.


“Ya kamu benar, tapi … ada orang tua yang duduk dengan kepala terluka , kasihan jadi ingat kakek,” ujar Ines dengan wajah sendu.


“Coba lihat ada berapa mobil yang mengalami tabrakan?” Nicolas mengalihkan pembicaraan agar Ines tidak  sedih.


“Oh … mobilnya ada enam, bagaimana ceritanya mereka bisa tabrakan  beruntun begitu?” Nicolas menjawab dan menjelaskan  melalui pengalamanya.


Setelah hampir sepulu menit memeluk istrinya dari belakang menutup mata bau tubuh Ines dan wangi rambunya membuat Nicolas merasa tenang.


‘Ya ampun ternyata istriku sangat wangi’ ucap Nicolas dalam hati.


“Ini sudah.” ujar Ines setelah menyadari kalau Nicolas memeluk tubuhnya dengan mesra.


“Bagaimana perasaanmu …?” tanya Nicolas lagi.


“Maksudnya?”


“Aku memelukmu selama  sepuluh menit dan menggenggam telapak tanganmu, tidak ada yang terjadi kan?”


“Apa kamu sudah tahu?” Ines balik bertanya.


“Ya dan Aku ingin membantumu melepaskan ketakutanmu, itu semua terjadi karena kamu terlalu membenciku, cobalah untuk melupakan semua  yang pernah terjadi dimasa lalu diantara kita, Aku sudah bilang aku dijebak Naura, Aku juga membencinya sama sepertimu,” ujar Nicolas.


Wajah Ines langsung menurun menatap Nicolas dengan mata berkaca-kaca.


“Tapi Aku belum bisa,” ujar Ines dengan  pundak bergetar.


“Kemarilah, Aku ingin memelukmu, Aku ingin memberikan dadaku untuk kamu menangis. Aku dan Keanu ada saat kamu sedih, kami berdua lelaki tampan yang akan menjaga kamu selamanya, kamu tidak sendirian , kemarilah,” ujar Nicolas  menarik tangan Ines.


“Kamu hanya kasihan padaku.” ucap Ines.


“Kamu salah Nes … Aku mencintaimu, sangat mencintaimu,” ujar Nicolas. Pengakuan cinta  dari Nicolas ternyata  mampu merobohkan tembok pertahanan Ines yang sudah ia bentangkan selama enam tahun.


“Tapi saat itu kamu bilang tidak.”


“Cinta tumbuh di hati seseorang berbeda-beda, ada yang sekali melihat langsung jatuh cinta, ada juga berproses sama dengan perasaanku padamu. Aku mencintaimu Nes,” ujar Nicolas


Pundak Ines bergetar, ia menangis tanpa suara, Nicolas menarik tangannya dan membawanya ke dadanya, memeluknya dengan erat,” menangislah sayang … keluarkan semua kemarahan mu dan kesedihanmu, aku akan mendengarkannya dan selalu bersamamu sampai aku menua,” ucapan Nicolas akhirnya menghancurkan  tembok pertahanan Ines, ia menangis  keras meluapkan semua perasaan yang selama ini ia tahan sendiri, memeluk pinggang Nicolas dengan erat.


Ternyata Bu Atin mengintip dan mendengar semuanya, ia ikut menangis, apa yang dikatakan Pak Darto benar semuanya.

__ADS_1


Lelaki tua itu pernah bilang hanya Nicolas yang bisa menyembuhkan Ines dari trauma masa lalunya , hanya Nicolas yang bisa menjaga dan mencintai Ines dengan tulus.


Bersambung


__ADS_2