
Happy Reading.....
**************
Hari ini tepat 7 bulan usia Adyan. Dia tumbuh menjadi anak yang tampan dan gembul. Semua yang melihat dia pasti ingin menggendong dan mencubit pipinya.
Diapun sudah bisa berceloteh dengan bahasa planet nya dan juga merangkak. Perkembangan Adyan pun sangat bagus,sehingga membuat Salma dan Irsyad takjub dengan putranya yang tumbuh pintar setiap harinya.
Untuk Aira,dia sudah masuk ke TK Besar. Aira saat ini tambah pintar dan sudah mulai bisa berbicara dengan lancar.
"Bunda,nanti siang kakak buatkan sup ayam sama bergedel kentang ya buat makan siang." Pinta Aira kepada bundanya.
"Iya sayang,nanti bunda buatkan." Jawab Salma yang sedang menyuapi Adyan. Saat ini mereka sedang sarapan bersama. Adyan juga sudah mulai makan sehingga Salma selalu membuatkan mapsi buat Adyan agar putranya tumbuh sehat.
"Bun,nanti ayah ada tugas di luar jadi nanti tolong jemput kakak ya. Soalnya ayah tidak tahu mau pulang jam berapa." Ucap Irsyad yang sudah rapi dengan baju dinasnya.
"Iya yah,nanti biar bunda yang jemput kakak."
"Mam..mam..maem." Celoteh Adyan kepada bundanya karena makanan di mulutnya sudah habis dia telan.
"Oh,Adyan udah nggak sabar ya....bunda sampai lupa,maafin bunda ya sayang." Ucap Salma sambil mengarahkan sendok ke mulut kecil Adyan yang sudah siap menerima makanan dari bundanya.
"Uluh...uluh gantengnya ayah maemnya banyak biar cepat besar kayak kakak ya." Ucap Irsyad sambil menoel pipi tembem Adyan.
"Ya...yah...yah." Jawab Adyan dengan mengarahkan kedua tangannya ke arah sang ayah sebagai tanda minta di gendong.
"Sama bunda saja ya sayang,ayah mo kerja nanti baju ayah kotor." Ucap Salma.
"Nggak pa-pa bun,biar ayah gendong sebentar dari pada nanti rewel." Jawab Irsyad sambil mengambil Adyan di kursi khusus bayi.
Adyan pun tersenyum bahagia karena di gendong ayahnya. Irsyad mengajak keluar rumah sebentar agar Salma juga menyelesaikan sarapannya. Dia sangat bangga dengan istrinya,meskipun harus mengurus putra dan putrinya seorang diri di tambah mengurus rumah Salma tak pernah mengeluh. Apalagi sang suami yang bertambah sibuk dengan pekerjaannya.
Irsyad sebisa mungkin akan membantu sang istri ketika dia mempunyai waktu senggang.Seperti saat ini,dia mencoba mengasuh sebentar Adyan.
"Kakak sarapannya sudah selesai?" Tanya Irsyad setelah kembali lagi ke ruang makan.
"Sudah ayah,ini sudah habis semua." Jawab Aira dengan menunjukkan piring kosong ke arah sang ayah.
"Anak pintar."Tambah Irsyad dengan memberikan 1 jempol kepada Aira.
__ADS_1
"Bunda sudah sarapannya?" Tambah Irsyad yang bergantian bertanya kepada Salma.
"Sudah yah,bentar bunda beresin ini ke dapur." Jawab Salma dengan mengambil bekas piring untuk mereka sarapan dan menaruhnya di dapur. Secepat mungkin Salma juga mencucinya agar nanti bisa mengerjakan pekerjaan yang lain.
"Sudah yah,ni Adyan biar bunda gendong. Sekarang ayah dan kakak cepat berangkat nanti takutnya telat." Pinta Salma sambil mengambil alih Adyan dari gendongan sang suami.
"Bunda, kakak berangkat dulu ya."Pamit Aira.
"Ya sayang,kakak hati-hati ya bunda udah nyiapin bekal di tas kakak."Jawab Salma dengan menggendong Adyan.
"Kakak berangka dulu ya adek,adek nggak boleh nakal. Nanti maen lagi sama kakak kalau kakak pulang sekolah."Ucap Aira untuk pamit kepada Adyan. Tidak lupa dia juga mencium pipi tembem Adyan.
"Ciap kakak,nanti Adyan tidak nakal dan nunggu kakak pulang." Jawab Salma menirukan suara anak kecil sambil mengarahkan tangan Adyan ke arah sang kakak. Adyanpun hanya tertawa sambil meraih pipi sang kakak.
"Bunda,kakak berangkat. Assalamualaikum." Ucap Aira sambil mencium tangan bundanya.
"Waalaikum salam kak." Jawab Salma sambil mencium pipi Aira.
"Bunda,ayah juga berangkat ya."Irsyadpun bergantian pamit kepada sang istri dengan menyodorkan tangannya.
"Iya yah,hati-hati." Jawab Salma sambil mencium tangan sang suami.
Salma dengan menggendong Adyan mengantar putri dan sang suami sampai depan rumah. Di sana sepeda motor Irsyad sudah terparkir. Aira dan Irsyad naik ke sepeda motor dan mulai meninggalkan rumah.
"Da...da ayah....da..da kakak." Ucap Salma sambil mengarahkan tangan Adyan ke arah sang ayah dan kakak yang sudah pergi.
"Sekarang kita masuk ya sayang." Ajak Salma kepada sang putra.
Sebelum dia menutup pintu rumahnya,dia mendengar suara Randy yang panik keluar rumah.
"Loh om,ada apa kok terburu-buru."Ucap Salma tang melihat Randy membuka pintu mobil.
"Tan,sepertinya istri saya mo melahirkan. Sekarang dia merasakan sakit di perutnya."Jawab Randy dengan rasa khawatir.
"Ya Allah, dimana mbak Nita om." Tanya Salma sambil menuju rumah Nita.
"Masih di dalam tan,ini saya baru menaruh barang bawaan ke mobil dulu." Jawab Randy.
Randy dan Salmapun masuk ke dalam rumah. Di atas sofa,tampak Nita yang meringis kesakitan sambil memegang perutnya.
__ADS_1
"Ya Allah mbak,sabar ya." Ucap Salma.
"Sa...kit mbak." Jawab Nita pelan karena merasakan sakit di perutnya.
"Om cepat bawa mbak Nita ke rumah sakit. Ini ketubannya udah keluar."Pinta Salma yang melihat ada air berwarna bening di bawah Nita.
"I...ya tan." Jawab Randy.
Randypun menggendong sang istri dengan pelan menuju mobil. Dan Salma mengikutinya dari belakang.
"Tan,saya berangkat dulu mohon do'anya agar istri saya di beri kelancaran dalam persalinan."Pamit Randy setelah menaruh sang istri di kursi samping pengemudi.
"Iya om,saya berdo'a semoga mbak Nita di beri kelancaran. Sekarang cepat om bawa mbak Nita."
"Iya tan."
Randy pun berputar arah menuju pintu pengemudi. Setelah masuk,dia mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit dengan kecepatan sedang.
"Sabar ya sayang,sebentar lagi kita sampai." Ucap Randy sambil tidak lepas menggenggam tangan sang istri dengan tangan kirinya. Sesnagkan tangan kanannya fokus di kemudi.
"Sa...sakit mas." Jawab Nita dengan suara parau menahan rasa sakit di perutnya. Piluh keringat keluar di dahinya. Dan dia mencengkram kuat kursi untuk meredakan rasa sakitnya.
"Tarik napas yang,keluarkan pelan-pelan." Pinta Randy memberikan instruksi kepada sang istri. Randy menjadi suami siaga setelah kehamilan Nita memasuki usia tua. Dia menemani Nita untuk mengikuti senam kehamilan dan bertanya beberapa hal tentang apa yang harus dia lakukan ketika menghadapi istri yang akan melahirkan sebagai rasa menebus kesalahan nya kepada sang istri di waktu yang lalu.
Sedangkan ayah Nita,sudah mulai berangsur memaafkan sang menantu. Di tambah akan hadirnya cucu di keluarga kecil Nita dan Randy.
"Huh....hah.........,"Nita mengambil napas pelan dan mengeluarkannya sesuai instruksi sang suami.
"Sabar ya yang." Ucap Randy menenangkan sang istri.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit,merekapun sampai du pelataran rumah sakit. Randy mematikan mobil dan keluar untuk meminta bantuan.
"Sus,tolong istri saya mau melahirkan."Ucap Randy setelah sampai pintu depan.
"Iya pak." Jawab suster dan mengambil bangker untuk membawa Nita.
Nitapun di gendong Randy menuju bangker. Setelah itu suster mendorongnya menuju ruang bersalin Di ikuti Randy di samping Nita yang tak mau melepas pegangan tangannya kepada sang istri
**************
__ADS_1