
Happy
reading....
Hari ini,
Aira mendapat tugas untuk menjaga basecamp yang digunakan untuk rumah
sakit darurat bagi korban bencana. Karena adanya bencana susulan membuat korban
bencana bertambah. Ada korban terluka maupun meninggal disana. Masih banyak
anak-anak yang histeris jarena shock menghadapi bencana besar yang mereka alami
dan ada beberapa yang kehilangan sanak saudaranya.
"Dokter......dokter
tolong bantu istri saya mau melahirkan." Ucap salah satu warga yang
berjenis kelamin laki-laki dengan menggendong istrinya yang sudah tampak pucat
pasi. Di tambah wajah sang suamin yang terkena lumpur dan darah bercampur jadi
satu.
" Ya
allah bapak, silahkan taruh di banker." Ucap AIra dengan membantu si suami
untuk mengarahkannya menaruh istrinya di tempat yang di sediakan.
"Suster
Jenni, tolong panggilkan suster Elena dan bantu bapaknya untuk dibersihkan
lupa." Perintah Aira yang merasa panik dengan keadaan si ibu yang akan
melahirkan.
"Baik
dok, saya akan panggilkan. Dan bapak mari ikut saya agar saya bantu rawat luka
bapak." Jawab Jenni.
"Saya
nanti saja sus, yang terpenting tolong selamatkan istri dan calon anak
saya." Jawab sang suami dengan keras kepala. Yang ada dalam pikirannya
sekarang adalah keselamat sang istri."
"Tapi
luka bapak jika tidak segera di bersihkan dan di obati akan berbahaya." Ucap
Jenni memaksa si bapak.
“Tolong
sus, luka saya masih bias saya tahan. Tapi istri sa….ya, Sus.” Jawab si bapak
dengan suara bergetar karena mengkhawatirkan san istri.
“Ada apa
ini sus, Tanya Mario yang menghampiri Jenni dan si bapak.
“Ini Dan,
bapak ini tidak mau lukanya di bersihkan padahal ini sangat berbahaya.” Jawab
Jenni menjelaskan.
“Suster
Jenni, mana suster Elena. I…..” Suara Aira berhenti sejenak setelah
pandangannya menuju kedepan karena melihat Mario ada di hadapannya. Entah
bagaimana perasaan Aira saat ini. Rasanya jantungnya berhenti bekerja ketika
bertemu dengan Mario.
Pandangan
merekapun saling bertemu. Mariopun memutuskan pandangannya melihat ke arah si
bapak.
“Ibu ini
harus segera di tangani sus, karena ketubannya pecah.” Tambah Aira dengan wajah
berkeringat karena mengkhawatirkan si ibu.
“Biarkan
saya yang membersihkan luka bapak ini, suster Jenni bantu dokter Aira saja.
Beliau saat ini yang sangat membutuhkan bantuan suster.” Tawar Mario. Mario
juga merasakan gemuruh di hatinya ketinya melafalkan nama Aira di bibirnya.
“Baik
Dan, terimakasih.” Ucap Jenni yang di jawab anggukan oleh Mario.
__ADS_1
“Bapak
sama pak Mario, biar saya bantu dokter Aira untuk membantu persalinan istri
bapak.” Pamit Jenni.
Jennipun
berjalan menuju ke ruang dimana dijadikan ruang bersalin sementara.
“Tolong
sus bantu saya menyiapkan peralatan. Saya akan berusaha memberikan aba-aba ke
ibu.” Pinta Aira yang sedang memakai kaos tangan karet.
“Baik
dok.” Jawab Jenni. Dengan sigap Jenni mengambil air di baskom, gunting dan
peralatan laiinya. Tidak lupa dia juga memakai kaos tangan karet agar steril.
“Ibu
harus kuat ya, sebentar lagi ibu akan bertemu anak ibu.” Pinta Aira memberikan
semangat kepada si Ibu yang sudah merasakan kesakitan. Ada raut Lelah diwajahnya.
Wajahnya yang penuh peluh keringat.
Si ibupun
hanya menganggukkan kepalanya. Sudah tak ada tenaga baginya untuk menjawab
perkataan Aira.
“Uh……..sa…..kit
dok.” Ucap lirih si ibu yang sudah merasakan kesakitan.
Itulah
perjuangan seorang ibu. Di mana dia akan merasakan seperti 12 tulang rusuknya
patah ketika detik-detik melahirkan. Pantas bagi ibu yang gugur dalam melahirkan
surga balasannya. Dimana perjuangan beliau melahirkan putra-putrinya kedunia
ini tanpa beban ataupun rasa sungkan dengan menaruhkan nyawanya.
Tes…..Airapun
meneteskan air matanya dan segera menghapusnya. Ketika melihat si ibu yang
kesakitan. Mengingatkan dia atas perjuangan ibunya Aisyah dan Salma yang
bertaruh nyawa untuk melahirkannya dan kedua adiknya. Haram bagia anak-anak
beliau ketika melahirkan.
“Ibu
harus kuat ya, ikutin aba-aba saya. Tarik napas, keluarkan.” Ucap Aira memberikan
aba-aba kepada si ibu dengan memberikan contoh.” Meskipun dia bukan dokter
kandungan, tapi karena situasi yang mendesak dia harus membantu ibu melahirkan
anaknya dengan selamat.
“Jangan
mengeden dulu ya bu, sebelum saya memberi aba-aba.” Tambah AIra.
“Sa….ya
tidak ku….at dok.” Jawab si ibu dengan napas yang terengah-engah.
“Suster
Jenni, tolong pasangkan oksigen untuk membantu ibunya.” Pinta Aira yang melihat
si ibu seperti kesusahan dalam bernapas.
“Baik dok.”
Jawab Jenni. Dengan cekatan Jenni memasangkan oksigen ke hidung si ibu.”
Airapun
membantu mengurut perut si ibu agar anaknya segera keluar. Dengan pelan dan sabra
Aira memijatnya dan tetap memberikan aba-aba dan motivasi agar kesadaran sang
ibu tetap terjaga.
“Sedikit
lagi ibu, ini kepalanya sudah kelihatan. Sekarang ikutin saya Tarik nafas dalam
keluarkan dan mulai mengejan ibu. Saya hitung, 1,2 dan 3 ayo ibu. Semangat……”
Ucap Aira.
“Hu….hah……………………………….”
Teriak si ibu dan di ikuti suara tangisan bayi yang baru saja keluar.
__ADS_1
“Selamat
ibu, selamat anak ibu perempuan.” Ucap Aira yang menggendong si bayi. Aira
menyerahkan si bayi dan dia segera memotong tali pusar si bayi yang menghubungkan
dengan si ibu.
Setelah
selesai, Aira menggendong bayi tersebut untuk di dekatkan dengan ibunya.
“Ini ibu
lihatlah putri ibu. Ucap Aira dengan melihatkan wajah si bayi.
Dengan tersenyum,
si ibu melihatnya. Sebelum kesadarannya hilang.
‘Bu,
tolong bangun bu.” Ucap Aira yang panik melihat si ibu yang kehilangan
kesadarannya.
“Dok,
ibunya mengalami pendarahan.” Ucap Jenni yang melihat darah keluar dari tubuh
sang ibu.
“Ya Allah…….(Ucap
Aira panik) tolong panggilkan suster yang lainnya untuk merawat bayi ini.”
Pinta AIra dengan menyerahkan si bayi yang masih berlumuran darah.
“Dok,
maaf tadi saya sedang membantu korban longsor di sebelah.” Ucap Elena yang
tiba-tiba masuk ke ruangan.
“ Suster
Elena tolong bersihkan bayi ini dan panggilkan dokter Anton untuk membantu
saya. Dan suster jenni bantu saya di sini.” Pinta AIra dengan wajah panik.
“Baik dok”
Jawab Elena dan Jenni bersamaan. Elenapun mengambil alih si bayi dan membawanya
keluar.
“Bagaimana
istri saya sus.”Tanya si bapak yang melihat suster Elena membawa bayinya
keluar.
“Bentar
bapak, biar dokter Aira yang menjelaskan. Saya akan membersihkan bayi bapak
terlebih dahulu.
“Mas
Rian, tolong panggilkan dokter Anton untuk segera membantu dokter Aira.” Pinta Elena
kepada Rian, seorang perawat yang melintas disana.
“Baik
mbak Elena.” Jawab Rian dan bergegas mencari dokter Anton. Dia berfikir pasti
ada apa-apa sampai dokter Aira memerlukan bantuan dokter Anton.
Mario yang
menemani si bapak setelah membersihkan luka si bapak, ikut berfikir ada yang
terjadi di dalam sana. Ingin masuk kedalam dan memastikan keadaan, dia sungkan
karena ini berhubungan dengan ibu yang melahiirkan.
“Ya Allah bantulah Aira di dalam sana. Semoga
tidak ada hal-hal yang mengkhawatirkan yang terjadi.” Do’a Mario di
hatinya.
Assalamualaikum
kakak2 mohon maap late up karena banyaknya tugas kerja dan kuliah mengharuskan
upnya lambat. Mohon pengertiannya ya. Terimakasih masih setia membaca cerita saya
yang absurd ini.
Ni author kasih bonus visualnya dokter Aira dan abang Mario.
si abang Mario
__ADS_1