Bunda Untuk Aira

Bunda Untuk Aira
Panik


__ADS_3

Happy


reading....


Hari ini,


Aira  mendapat tugas untuk menjaga basecamp yang digunakan untuk rumah


sakit darurat bagi korban bencana. Karena adanya bencana susulan membuat korban


bencana bertambah. Ada korban terluka maupun meninggal disana. Masih banyak


anak-anak yang histeris jarena shock menghadapi bencana besar yang mereka alami


dan ada beberapa yang kehilangan sanak saudaranya.


"Dokter......dokter


tolong bantu istri saya mau melahirkan." Ucap salah satu warga yang


berjenis kelamin laki-laki dengan menggendong istrinya yang sudah tampak pucat


pasi. Di tambah wajah sang suamin yang terkena lumpur dan darah bercampur jadi


satu.


" Ya


allah bapak, silahkan taruh di banker." Ucap AIra dengan membantu si suami


untuk mengarahkannya menaruh istrinya di tempat yang di sediakan.


"Suster


Jenni, tolong panggilkan suster Elena dan bantu bapaknya untuk dibersihkan


lupa." Perintah Aira yang merasa panik dengan keadaan si ibu yang akan


melahirkan.


"Baik


dok, saya akan panggilkan. Dan bapak mari ikut saya agar saya bantu rawat luka


bapak." Jawab Jenni.


"Saya


nanti saja sus, yang terpenting tolong selamatkan istri dan calon anak


saya." Jawab sang suami dengan keras kepala. Yang ada dalam pikirannya


sekarang adalah keselamat sang istri."


"Tapi


luka bapak jika tidak segera di bersihkan dan di obati akan berbahaya." Ucap


Jenni memaksa si bapak.


“Tolong


sus, luka saya masih bias saya tahan. Tapi istri sa….ya, Sus.” Jawab si bapak


dengan suara bergetar karena mengkhawatirkan san istri.


“Ada apa


ini sus, Tanya Mario yang menghampiri Jenni dan si bapak.


“Ini Dan,


bapak ini tidak mau lukanya di bersihkan padahal ini sangat berbahaya.” Jawab


Jenni menjelaskan.


“Suster


Jenni, mana suster Elena. I…..” Suara Aira berhenti sejenak setelah


pandangannya menuju kedepan karena melihat Mario ada di hadapannya. Entah


bagaimana perasaan Aira saat ini. Rasanya jantungnya berhenti bekerja ketika


bertemu dengan Mario.


Pandangan


merekapun saling bertemu. Mariopun memutuskan pandangannya melihat ke arah si


bapak.


“Ibu ini


harus segera di tangani sus, karena ketubannya pecah.” Tambah Aira dengan wajah


berkeringat karena mengkhawatirkan si ibu.


“Biarkan


saya yang membersihkan luka bapak ini, suster Jenni bantu dokter Aira saja.


Beliau saat ini yang sangat membutuhkan bantuan suster.” Tawar Mario. Mario


juga merasakan gemuruh di hatinya ketinya melafalkan nama Aira di bibirnya.


“Baik


Dan, terimakasih.” Ucap Jenni yang di jawab anggukan oleh Mario.

__ADS_1


“Bapak


sama pak Mario, biar saya bantu dokter Aira untuk membantu persalinan istri


bapak.” Pamit Jenni.


Jennipun


berjalan menuju ke ruang dimana dijadikan ruang bersalin sementara.


“Tolong


sus bantu saya menyiapkan peralatan. Saya akan berusaha memberikan aba-aba ke


ibu.” Pinta Aira yang sedang memakai kaos tangan karet.


“Baik


dok.” Jawab Jenni. Dengan sigap Jenni mengambil air di baskom, gunting dan


peralatan laiinya. Tidak lupa dia juga memakai kaos tangan karet agar steril.


“Ibu


harus kuat ya, sebentar lagi ibu akan bertemu anak ibu.” Pinta Aira memberikan


semangat kepada si Ibu yang sudah merasakan kesakitan. Ada raut Lelah diwajahnya.


Wajahnya yang penuh peluh keringat.


Si ibupun


hanya menganggukkan kepalanya. Sudah tak ada tenaga baginya untuk menjawab


perkataan Aira.


“Uh……..sa…..kit


dok.” Ucap lirih si ibu yang sudah merasakan kesakitan.


Itulah


perjuangan seorang ibu. Di mana dia akan merasakan seperti 12 tulang rusuknya


patah ketika detik-detik melahirkan. Pantas bagi ibu yang gugur dalam melahirkan


surga balasannya. Dimana perjuangan beliau melahirkan putra-putrinya kedunia


ini tanpa beban ataupun rasa sungkan dengan menaruhkan nyawanya.


Tes…..Airapun


meneteskan air matanya dan segera menghapusnya. Ketika melihat si ibu yang


kesakitan. Mengingatkan dia atas perjuangan ibunya Aisyah dan Salma yang


bertaruh nyawa untuk melahirkannya dan kedua adiknya. Haram bagia anak-anak


beliau ketika melahirkan.


“Ibu


harus kuat ya, ikutin aba-aba saya. Tarik napas, keluarkan.” Ucap Aira memberikan


aba-aba kepada si ibu dengan memberikan contoh.” Meskipun dia bukan dokter


kandungan, tapi karena situasi yang mendesak dia harus membantu ibu melahirkan


anaknya dengan selamat.


“Jangan


mengeden dulu ya bu, sebelum saya memberi aba-aba.” Tambah AIra.


“Sa….ya


tidak ku….at dok.” Jawab si ibu dengan napas yang terengah-engah.


“Suster


Jenni, tolong pasangkan oksigen untuk membantu ibunya.” Pinta Aira yang melihat


si ibu seperti kesusahan dalam bernapas.


“Baik dok.”


Jawab Jenni. Dengan cekatan Jenni memasangkan oksigen ke hidung si ibu.”


 


Airapun


membantu mengurut perut si ibu agar anaknya segera keluar. Dengan pelan dan sabra


Aira memijatnya dan tetap memberikan aba-aba dan motivasi agar kesadaran sang


ibu tetap terjaga.


“Sedikit


lagi ibu, ini kepalanya sudah kelihatan. Sekarang ikutin saya Tarik nafas dalam


keluarkan dan mulai mengejan ibu. Saya hitung, 1,2 dan 3 ayo ibu. Semangat……”


Ucap Aira.


“Hu….hah……………………………….”


Teriak si ibu dan di ikuti suara tangisan bayi yang baru saja keluar.

__ADS_1


“Selamat


ibu, selamat anak ibu perempuan.” Ucap Aira yang menggendong si bayi. Aira


menyerahkan si bayi dan dia segera memotong tali pusar si bayi yang menghubungkan


dengan si ibu.


Setelah


selesai, Aira menggendong bayi tersebut untuk di dekatkan dengan ibunya.


“Ini ibu


lihatlah putri ibu. Ucap Aira dengan melihatkan wajah si bayi.


Dengan tersenyum,


si ibu melihatnya. Sebelum kesadarannya hilang.


‘Bu,


tolong bangun bu.” Ucap Aira yang panik melihat si ibu yang kehilangan


kesadarannya.


“Dok,


ibunya mengalami pendarahan.” Ucap Jenni yang melihat darah keluar dari tubuh


sang ibu.


“Ya Allah…….(Ucap


Aira panik) tolong panggilkan suster yang lainnya untuk merawat bayi ini.”


Pinta AIra dengan menyerahkan si bayi yang masih berlumuran darah.


“Dok,


maaf tadi saya sedang membantu korban longsor di sebelah.” Ucap Elena yang


tiba-tiba masuk ke ruangan.


“ Suster


Elena tolong bersihkan bayi ini dan panggilkan dokter Anton untuk membantu


saya. Dan suster jenni bantu saya di sini.” Pinta AIra dengan wajah panik.


“Baik dok”


Jawab Elena dan Jenni bersamaan. Elenapun mengambil alih si bayi dan membawanya


keluar.


“Bagaimana


istri saya sus.”Tanya si bapak yang melihat suster Elena membawa bayinya


keluar.


“Bentar


bapak, biar dokter Aira yang menjelaskan. Saya akan membersihkan bayi bapak


terlebih dahulu.


“Mas


Rian, tolong panggilkan dokter Anton untuk segera membantu dokter Aira.” Pinta Elena


kepada Rian, seorang perawat yang melintas disana.


“Baik


mbak Elena.” Jawab Rian dan bergegas mencari dokter Anton. Dia berfikir pasti


ada apa-apa sampai dokter Aira memerlukan bantuan dokter Anton.


Mario yang


menemani si bapak setelah membersihkan luka si bapak, ikut berfikir ada yang


terjadi di dalam sana. Ingin masuk kedalam dan memastikan keadaan, dia sungkan


karena ini berhubungan dengan ibu yang melahiirkan.


“Ya Allah bantulah Aira di dalam sana. Semoga


tidak ada hal-hal yang mengkhawatirkan yang terjadi.” Do’a Mario di


hatinya.


Assalamualaikum


kakak2 mohon maap late up karena banyaknya tugas kerja dan kuliah mengharuskan


upnya lambat.  Mohon pengertiannya ya. Terimakasih masih setia membaca cerita saya


yang absurd ini.


Ni author kasih bonus visualnya dokter Aira dan abang Mario.




si abang Mario

__ADS_1


 


__ADS_2