Bunda Untuk Aira

Bunda Untuk Aira
Anugrah..


__ADS_3

Happy Reading...


****


"Emang ya si abang top markotop. " Puji Shakila kepada sang kakak.


Keluarga Irsyad yang minus Aira beserta keluarga, menikmati makan malam dengan sangat bahagia. Itu karena si putra satu-satunya sedang cuti, sehingga mereka bisa menikmati makan malam bersama kembali.


"Abang, besok keluarga om Randy akan kesini. Ayah harap kamu juga bisa ikut menyambut kedatangan mereka. " Ucap Irsyad.


"Baik yah, abang usahakan tidak ada acara. " Balas Adyan.


"Wah ketemu lagi sama si manja dan bawel. Bisa apes lagi dah. "Gerutu Adyan dalam hatinya.


" Wah bahagianya adik bisa ketemu kak Tisha. "Ucap Shakila dengan tersenyum.


" Dalam rangka apa yah, beliau dan keluarga datang kesini? " Adyan pun bertanya karena penasaran.


"Biasa bang silaturahmi. Udah lama kami tak jumpa karena kesibukan kami masing-masing. Dan tadi ayah bertemu beliau, ya udah ayah ajak saja makan malam di rumah." Jawab Irsyad menjelaskan.


"Bukan karena mo jodohin abang sama kak Tisha yah? " Ucap Shakila dengan entengnya dan tanpa di saring.


"Upz, adik salah bicara. " Shakila pun menutup mulutnya ketika melihat wajah Sang kakak yang seperti mengeluarkan tanduk, sedangkan ayah dan bunda nya mengerutkan keningnya.


"Maksud adik apa? " Tanya Irsyad.


"He..... nggak jadi yah. " Jawab Shakila cengengesan. Ia pun kehilangan nyali ketika melihat kakak nya melotot ke arahnya.


Sedangkan Salma tersenyum simpul. Melihat gelagat Sang putra.


"Oh, ayah kira ada apa. "


"Cie-cie ada yang salting gara-gara mo ketemu camer. " Bisik Shakila untuk menggoda abangnya.

__ADS_1


"Apaan sih dek, bisa diem nggak. " Ucap Adyan dengan mempelototkan matanya agar adiknya takut padanya.


"Idih si abang es marah ni ye... " Shakila pun semakin menjadi-jadi menggoda abangnya.


"Ish... awas nanti kamu. " Ancam Adyan dengan gerak tangan yang akan menjitak kepala adiknya.


"Ehem...., ada apa ni abang dan adik, kok rame banget. " Ucap Irsyad menghentikan keributan antara Sang putra dan putri bungsunya.


"Hehe... nggak pa-pa kok yah. Abang cuma bercanda. " Jawab Adyan yang tak jadi menjitak kepala Shakila. Dia pun hanya menggaruk tengkuknya nggak tak gatal ketika mendengar ayahnya menghentikan keributan antara dia dan adiknya.


"Bohong deng yah, tadi abang mo jitak adik. " Adu Shakila dengan memeletkan lidahnya untuk mengejek Adyan.


Adyan pun semakin gemas dengan adiknya. Rasanya dia ingin menenggelamkan adik bungsunya yang super nyebelin ke samudra Pasifik.


Dengan gerak mulutnya yang berkomat-kamit seperti mbah dukun yang sedang membaca mantranya, Adyan mengisyaratkan bahasa kepada Shakila yang berarti "Awas nanti abang balas. "


Shakila pun hanya ketawa karena bahagia bisa menggoda dan menjaili abangnya.


'"Yah.... ayah nggak asyik. Belain abang es. " Shakila pun protes dengan memanyunkan bibirnya.


"Abang es? " Irsyad pun mengerutkan keningnya tanda dia tak tahu siapa yang Shakila panggil abang es.


"Iya yah abang es bon cabe level 30 tu panggilan kak ....... " Adyan pun segera membekap mulut adiknya agar tak menyebutkan nama Tisha kepada ayahnya.


"Ish.a.... ba.... ng... i.. ni... adik nggak bisa bicara. " Protes Shakila yang di bekap mulutnya oleh sang abang.


"Eh... eh... bang jangan gitu dong. Tu kasihan si adik. " Salma pun menyuruh Adyan untuk melepaskan Shakila.


"Makanya diam jangan kayak kaleng rombeng tu mulut. " Ucap Adyan setelah melepaskan tangannya dari mulut adiknya.


"Siapa kak yang manggil abang seperti itu? " Tanya Irsyad kembali kepada Shakila yang mendapat balasan senyuman dari Salma yang sudah tahu dari Shakila.


"Eh anu... yah... i.. tu te... man abang SMA dulu. Adik lupa namanya. " Elakkan Shakila yang nggak mau mendapat bekapan lagi dari Sang abang.

__ADS_1


"Oh, ada ya yang manggil abang seperti itu. Tapi wajar deh soalnya emang abang orangnya dingin banget. " Jawab Irsyad yang membenarkan ucapan Shakila.


"Kayak ayah nggak aja. Dulu waktu kenal bunda pertama kali juga dingin gitu deng bang. Sama nggak pernah tersenyum kecuali sama kakak. " Ucap Salma.


Adyan dan Shakila sudah mengetahui jika Aira bukanlah anak kandung bunda nya, melainkan anak dari ayah dan almarhumah istri pertamanya. Tapi mereka sangat bangga dengan bunda nya yang tak pernah membedakan antara anak yang lahir dari rahumnya ataupun bukan. Beliau sangat menyayangi semua anak-anaknya.


"La bagus bun, kan memang anak ayah jadi wajar jika harus mirip ayah. " Jawab Irsyad kembali dengan bangganya.


Salma pun mencebikkan mulutnya mendengar suaminya membanggakan dirinya.


"Enak aja, mereka juga anak-anak bunda kali yah. " Salma pun memprotes nya


Sedangkan Shakila maupun Adyan hanya tertawa mendengar berdebatan kedua orang tuanya.


Di usia kedua orang tuanya yang tak lagi muda, tapi mereka masih tetap mesra dan tak pernah sama sekali berantem ketika di depan anak-anaknya.


Salma dan Irsyad, ada kalanya mereka sedikit ada perdebatan. Karena tak ada rumah tangga yang akan jalan mulus, pasti akan ada krikil-krikil yang menghantam mahligai rumah tangganya. Konon itu sebagai penguat rumah tangga mereka. Dan Irsyad maupun Salma akan menyelesaikan nya di dalam kamar agar tak di ketahui anak-anaknya. Prinsip mereka, jika ada problem, maka di hari itu juga mereka akan menyelesaikan nya dan di esok hari problem itupun harus sudah usai. Itupun yang Salma ajarkan kepada sang Putri sulung Aira yang sudah berumah tangga.


Maka, di usia pernikahan yang hampir menuju seperempat abad, pernikahan Irsyad dan Salma selalu bahagia tanpa muncul orang ketiga diantara mereka. Adyan pun berharap suatu saat akan menemukan gadis yang sama sholehah nya seperti ibunya sehingga suatu saat jika dia berumah tangga keluarganya pun akan saling melengkapi.


"Ayah dan bunda kebiasaan bermesraan di depan adik. Kasihan ni abang yang masih jones. " Sindiran Shakila kembali.


Yang langsung mendapat plototan dari Adyan kembali.


"Jones apaan dek? "Tanya Salma.


" Itu bun, jomblo ngenes. "Ucap Shakila yang langsung lari dari ruang makan karena takut mendapat jitakan dari abangnya.


Salma dan Irsyad pun kembali tertawa dengan jawaban Sang putri hingga ART maupun ajudan Irsyad keheranan melihat majikan maupun atasannya tertawa lepas.


" Terima kasih ya Allah Engkau telah menganugrahkan kedua orang tua seperti beliau, hingga dapat mendidik putra dan putrinya menjadi anak yang sholeh, sholehah dan sukses. Semoga kesehatan dan kebahagiaan selalu Allah limpahkan kepada beliau. "Do'a Adyan dalam hatinya. Dia sangat bersyukur mempunyai keluarga seperti mereka.


****

__ADS_1


__ADS_2