Bunda Untuk Aira

Bunda Untuk Aira
Pamit


__ADS_3

Pagi ini Salma bangun tidur dengan tidak bersemangat. Sejak tadi malam dia hanya gasrak gusruk ketika tidur masih memikirkan kedua orangtuanya yang sejak kecil tak pernah tinggal jauh dari mereka.


Flash back


Irsyad mengetahui ketidak tenangan istrinya dalam tidur, hanya menghela napas. Dia memaklumi istrinya, tapi apa daya dia belum bisa mengajukan perpindahan tugasnya di sini. Irsyad menggenggam tangan istrinya untuk menenangkannya.


"Mas...,maaf Salma mengganggu tidur mas ya." Tanya Salma lirih dengan menghadap kesamping arah suaminya ketika merasakan genggaman di tangannya.


"Nggak kok dek, mas paham pasti adek berat ninggalin ayah dan bunda." Jawab Irsyad dengan menarik istrinya kedalam pelukannya.


"Maaf ya mas." Pinta Salma.


"Sudah sekarang adek tidur lagi ya."


Salmapun menganggukkan kepalanya. Akhirnya Salma tidur di dalam dekapan suaminya. Tidak lupa Irsyad mengelus rambut di pucuk kepala istrinya. Karena merasa nyaman, Salmapun dapat tertidur dengan tenang.


Setelah berpamitan di sekolah di mana Salma mengajar, dia tampak sedih. Itu juga yang dirasakan Aira ketika berpisah dengan teman-temannya.


Untuk Aira, malam ini dia tidur dengan pak Jaka dan bu Ronah.


Bu Ronah menatap cucunya yang sejak bayi dia asuh. Tidak lupa dia juga membelai pipi dan rambut Aira dengan halus.


"Bu jangan di gituin nanti Aira bangun karena terganggu." Tegur pak Jaka kepada istrinya.


"Ibu masih belum bisa berjauhan sama Aira yah, ayah tau sendiri sejak bayi lahir ibu yang rawat Aira karena Aisyah sakit. Ibu yang lihat perkembangan dia dari awal. Berat buat ibu yah." Jawab bu Ronah dengan mata berkaca.


"Ibu harus ikhlas, toh Aira ke sana juga sama ayah dan bundanya. Dulu yang menyuruh Irsyad menikah lagi siapa kan ibu. Jadi wajar kalau sekarang Irsyad juga mo ngajak mereka tinggal bareng." Jelas pak Jaka.


"Ibu juga harus tahu, pasti dulu Irsyad juga sedih harus jauh dari putrinya setelah Aisyah meninggal. Sekarang biarkan putra kita juga merasakan kebahagian untuk berkumpul dengan keluarga nya bu." Tambah pak Jaka untuk menashati istrinya.


"Iya yah, bu salah. Tapi ibu masih belum rela saja pisah sama Aira. Kenapa Irsyad tidak pindah di sini saja sih yah?"


"Pindah pun juga banyak prosedurnya bu, doakan saja biar Irsyad cepat pindah di daerah sini jadi kita lebih mudah untuk mengunjungi nya."


"Semoga yah, ibu akan selalu mendoakan kebahagiaan mereka." Ucap bu Ronah dengan mulai berhenti memang pipi Aira.


"Ya sudah sekarang ibu tidur, besok kita akan mengantar mereka ke bandara. Ibu juga besok jangan bilang lagi belum ikhlas di hadapan Irsyad nanti malah bikin dia sedih." Pinya pak Jaka.


"Iya yah ibu akan mencoba tegar besok ketika mengantar mereka." Jawab bu Ronah.


Bu Ronah membenarkan selimut untuk Aira, kemudian dia ikut berbaring di sebelah kanannya dan mulai memejamkan matanya. Pak Jaka juga mengikutinya.


Flash End


**********


Meskipun kurang bersemangat, Salma tetap bangun pagi. Dia ingin membuatkan sarapan untuk kedua mertuanya. Mumpung dia masih disini. Setelah mandi dan sholat berjamaah dengan sang suami, Salma izin untuk pergi ke dapur meskipun disana juga sudah ada bi Ijah yang sudah bersiap-siap untuk masak.


Dia melangkahkan kakinya turun dari tangga menuju dapur di lantai 1. Sesuai dengan dugaannya, di sana sudah ada bi Ijah yang sedang bersiap-siap.


"Assalamu'alaikum bi." Sapa Salma setelah sampai di dapur.


"Waalaikumsalam non Salma, kok pagi-pagi sudah disini." Jawab bi Ijah yang sedang menuangkan air untuk di rebus.


"Iya bi, pagi ini biar Salma yang buat sarapan ya bi mumpung Salma masih disini." Pinta Salma.

__ADS_1


"Tapi non biar bibi saja saja nanti non Salma kotor loh." Jawab bi Ijah.


"Tidak apa-apa bik, Biar Salma yang masak karena Salma juga pingin masakin mertua Salma."


"Ya udah kalau begitu, biar bibi yang bantu. Non Salma mau masak apa ini ?"


"Biasanya ayah dan ibu suka sarapan apa bi?"


"Apa saja kok non pasti di makan"


"Ada bahan untuk cap jay dan ayam nggak bi di kulkas?"


"Ada non kemarin bibi belanja di kulkas juga ada udang."


"Ya udah kalai begitu Salma masak itu saja, bibi bantu memotong sayuran nya ya."


"Beres non." Jawab bi Ijah dengan mengacungkan kedua ibu jarinya.


Salma mulai mengeksekusi bahan untuk di masak. Tidak lupa dia memakai clemek agar bajunya tidak kotor. 45 menit kemudian masakan Salma sudah matang meskipun dengan di bantu bi Ijah. Kemudian mereka menatanya di meja makan. Tidak lupa juga Salma membuatkan teh hijau madu untuk suami dan kedua mertuanya.


"Wah harum sekali, masak apa nak ?" Tanya bu Ronah ketika sampai di meja makan.


"Ini bu, Salma buat cap jay, ayam goreng dan udang tepung kesukaan Aira." Jawab Salma setelah menaruh teh di meja.


"Wah enak sepertinya, kalau begitu ibu panggil ayah dan Aira dulu. Tadi Aira juga sudah ibu mandikan." Jawab bu Ronah.


"Terima kasih bu, Salma juga mau memanggil mad Irsyad dulu."


Bu Ronah dan Salma berjalan menuju kamar masing-masing untuk membangunkan Irsyad, pak Jaka dan Aira.


***************


Sore ini rencana Irsyad beserta istri dan anaknya pergi ke bandara menuju kota P. Mereka di antar semua keluarga. Tidak terkecuali orang tua Salma beserta kakak dan keluarganya.


Mereka akan mengantarkan keberangkatan Irsyad beserta keluarga.


Salma sudah mempacking baju nya dan baju Aira. Sedangkan suaminya, dia hanya membawa beberapa baju saja yang kemarin dia bawa ketika cuti.


Salma hanya membawa 1 koper untuk dirinya dan 1 koper baju untuk Aira. Tidak banyak bawaan yang mereka bawa. Cukup pakaian dan perlengkapan yang mereka perlukan di sana.


"Mas, baju mas yang di bawa cukup yang ada di ransel ini saja ?" Tanya Salma dengan menunjuk ransel loreng suaminya."


"Iya dek, baju mas paling banyak sudah disana. Yang di sini di tinggal saja untuk ganti sewaktu-waktu kita kesini." Jawab Irsyad yang sudah siap membawa koper istri dan anaknya ke mobil.


Di bawah sudah berkumpul seluruh keluarga pak Jaka dan pak Handoko tak ketinggalan anak, cucu dan menantunya. Mereka akan mengantarkan keberangkatan Irsyad dan keluarga.


"Kak, sudah di bawa semuan barangnya, jangan sampai ada yang ketinggalan loh." Tanya Maulana setelah melihat kakaknya menyeret 2 koper ditangannya dan ransel di punggungnya. Sedangkan Salma hanya berjalan mengekori suaminya. Tadinya dia ingin menyeret 1 koper, tetapi di larang oleh suaminya.


"Sudah kok dek, mas dan mbak mu hanya bawa baju sedikit saja yang di perlukan disana. Apalagi di sana juga almarinya kecil."Jawab Irsyad.


"Sini biar Lana bantu bawa ke mobil. Mentang-mentang ototnya kuat semua barang di bawa sendiri."


"Tadi mbak juga sudah menawarkan untuk membawa 1 koper, tapi di tolak mas Irsyad." Ucap Salma.


"Biarin mbak, mas kan pingin pamer kepada kita kalau dirinya kuat." Ucap Maulana yang di sambut tertawa seluruh keluarga besar.

__ADS_1


"Aila, nanti kalau di sana jangan lupa telpon Aina dan abang ya. Pasti nanti Aina kesepian di sekolah kalena udah tidak ada Aira." Ucap Aina dengan wajah sendunya.


" Aina jangan sedih, nanti Aila juga ikut sedih. Kata bunda, nanti kita bisa kok telpon telus jadi biar nggak kangen." Jawab Aira.


"Iya Aila, Aina sayang banget sama Aira." Tambah Aina dengan memeluk Aira.


"Aila juga sayang Aina." Jawab Aira dengan memeluk kembali Aina.


Para mata orang dewasa disana ikut merasa sedih melihat Aira dan Aina berpelukan.


"Kakak, nanti jangan lupa sama kita juga loh." Ucap Pradit beserta sepupu Aira yang lain.


"Siap dek, kakak tidak akan lupa sama kalian. Kalian juga halus telpon kakak lo."


Merekapun bergegas masuk mobil masing-masing. Ada 4 mobil yang menghantarkan Irsyad ke bandara. Di perjalanan, tak hentinya Aira beserta sepupu nya bercanda gurau untuk mengurangi kesedihan.


******************


Setelah menempuh perjalanan 1 jam, akhirnya rombongan Irsyad beserta keluarga sampai di bandara SH. Mereka turun dari mobil masing-masing menuju ruang tunggu. Tidak lupa barang bawaan Irsyad juga sudah di turunkan sebelum mobil di parkir kan


"Sayang ingat pesan ibu dan ayah ya, jadi istri yang sholehah dan mandiri disana. Apalagi nanti di sana kalian jauh dari keluarga." Pesan bu Murti kepada putrinya.


"Iya bu, Salma akan selalu ingat pesan ibu dan ibu mertua. Doakan kami ya bu.?" Jawab Salma dengan memeluk ibunya. Akhirnya air mata yang sudah di bendungkun jatuh juga. Bu Murti dan bu Ronah menangis juga. Bu Ronah tak henti-hentinya membelai rambut Salma yang tertutup Jilbab.


"Jangan lupa telpon kami juga nak, sekarang orang tua kamu tidak hanya dua sudah tambah kami." Tambah bu Ronah.


"Baik bu Salma akan sering-sering telpon ayah dan ibu. Dan maafin Salma ya bu belum bisa menjadi menantu yang berbakti." Jawab Salma dengan memegang tangan ibu mertuanya setelah melepas pelukan ibunya.


"Kamu bilang apa nak, ibu yang berterimakasih kamu mau menjadi bundanya Aira. Ibu minta tolong sekarang kamu yang rawat Aira ya dengan baik. Sekarang tugas ibu sudah usai." Pesan bu Ronah.


"Insyaallah nanti saya akan ingatbpesan ibu." Jawab Salma dengan memeluk bu Ronah.


"Aira nanti jangan luapin om Lana dan onty Sinta ya." Ucap Maulana dengan menggendong Aira.


"Sama onty Nadira dan om frans jangan lupa juga loh." Tambah Nadira yang nimbrung pembicaraan Aia dan Maulana.


"Siap om dan onty, Aila tidak akan lupa sama kalian semua." Jawab Salma dengan mengangkat tangannya ke pelipis tanda hormat.


Adam yang natabennya anak yang mudah bergaulpun bisa langsung akrab dengan Pradip,Bayu dan Raihan keponakan Irsyad.


Aina yang sedih sejak tadi di gendong Arin ibunya. Dia merasa kehilangan teman bermainnya.


"Dek hati-hati disana ya, jangan lupa kalau ada apa-apa hubungi kakak." Pinta Arin kepada adiknya.


"Siap kak, Salma titip ibu dan ya kak. Sekarang yang dekat dengan mereka kan kakak."


"Itu sudah kewajiban kakak dek, insyaallah kakak dan mas Arvan akan menjaga ayah dan ibu kami jangan khawatir." Jawab Arin dengan menggendong Aina.


"Aina sayang onty pamit ya jangan nakal, besok kalau libur ajak abang Adam maen kesana." Nasehat Salma kepada Aina.


Aina pun hanya menganggukkan kepalanya. Setelah beberapa saat, panggilan dari informasi menuju ke kota K pun terdengar. Irsyad, istri dan anaknya berpamitan kepada seluruh keluarga sebelum masuk untuk check in. Ada tangis haru melepas kepergian mereka. Sebelum benar-benar masuk ke pintu kebernagkatan, Irsyad dan keluarga tidak lupa melambaikan tangan untuk salam perpisahan.


**Note :


Alhamdulillah akhirnya bisa up lagi. Mohon maaf buat reader atas keterlambatan upnya. Tapi episode ini lumayan panjang loh.....

__ADS_1


Jangan lupa ya dengan vote dan like nya 😇😇**


__ADS_2