Bunda Untuk Aira

Bunda Untuk Aira
Misi Di Mulai..


__ADS_3

Happy Reading....


🌹🌹🌹🌹


Dulu ketika dia di tolak oleh Adyan, Tisha menumpahkannya kepada Dion. Hingga tak ada rahasia antara mereka. Usia mereka yang hanya terpaut 1 tahun membuat mereka nyambung dalam setiap hal. Hanya saja mereka harus terpisah ketika Dion memutuskan untuk kuliah ke luar negeri. Dia mengambil business Management di Australia. Berbeda jalur dengan kebanyakan keluarga besar dari kakeknya yang berkecimbung di dunia militer. Dia yang cerdas membuat dia bisa menyelesaikan S1 dan S2 nya hanya dalam waktu 4 tahun.


**


Setelah mengemukakan idenya, mereka pun mulai melancarkan misi pertama mereka yaitu membuat Adyan cemburu terhadap Tisha dan Dion.


"Mbak Sari, saya pergi ke luar dulu ya sama kak Dion. " Pamit Tisha kepada mbak Sari yang sedang berdiri di dekat kasir.


"Oh ya mbak silahkan. " Jawab mbak Sari dengan ramah.


Mbak Sari tahu siapa Dion sebenernya, karena dia sudah lama bekerja dengan Tisha. Apalagi ketika Dion cuti dari kuliahnya dan kembali ke tanah air, dia selalu menyempatkan dirinya untuk mengunjungi Tisha.


Tisha pun bergandengan tangan dengan Dion ketika keluar dari pintu butik. Tanpa mereka saling bercanda dan tertawa berdua entah apa yang sedang mereka bicarakan.


Adyan yang melihat Tisha keluar dengan bergandengan tangan, dadanya bergemuruh dan matanya membulat karen kaget.


"Ngapain sih, mereka harus bergandengan tangan. " Gerutu Adyan di dalam mobil.


Karena merasa gerah dengan pandangan yang ia lihat, Adyan pun keluar dari mobil.


Bruk....


Adyan pun menutup mobil dengan suara sedikit kencang. Dia tidak peduli mobil siapa ini. Yang ia pedulikan adalah gemuruh di hatinya.


"Bang Adyan. " Panggil Tisha dengan ramah.


"Ya? " Jawab Adyan pendek. Sedangkan Dion yang menonton saja.


"Abang pulang duluan aja. Aku mau pergi sama kak Dion dulu. Jadi nanti biar kak Dion yang ngantar aku pulang. " Ucap Tisha dengan senyum tipis yang penuh arti.


"Ya Bang, kami mo pergi dulu. Jadi santai, nanti aku antar Tisha pulang ke rumah tanpa lecet sedikitpun. Aman deh. " Dion pun ikut menimpali.


"Nggak bisa. " Ucap Adyan dengan tegas.

__ADS_1


Tisha dan Dion pun saling berpandangan ketika mendengar penolakan Adyan.


"Ma... maksud saya, saya tidak bisa membiarkan Tisha pergi bersama orang lain. Ini sudah perintah dari Dan Randy. " Tambah Adyan dengan sedikit tergagap.


"Kenapa aku harus gerogi gini sih. " Ucap Adyan dalam hatinya merutiti perkataannya.


"Santai bang, papa juga kenal kak Dion kok. Terus nanti Tisha sendiri yang akan hubungi papa untuk meminta izin. " Balas Tisha dengan memberikan pengertian ke Adyan. Hati dia berbunga-bunga meskipun belum pasti dia mengetahui hati Adyan sebenarnya.


"Kalau kalian pergi, saya juga ikut. " Ucap Adyan telak tanpa di ganggu gugat.


"Loh kok gitu sih bang. " Tisha pun protes.


"Maaf bang, saya tidak akan macam-macam kok sama Tisha. Meskipun aku udah lama tinggal di luar negeri, aku juga masih menjunjung tinggi nilai ketimuran. " Dion pun ikut menjelaskan.


"Karena mengawal Tisha adalah tugas saya dari atasan saya, jadi saya tidak bisa membiarkan Tisha berada di luar jangkauan saya. " Balas Adyan dengan tegas.


"Ya udah kalau itu maunya abang. Yang penting aku mau satu mobil dengan kak Dion. Abang pakai mobil itu di belakang kami. " Akhirnya Tisha pun pasrah dan memutuskan jika Adyan bisa mengikutinya.


"Okey." Jawab Adyan dengan malas. Dia pun menghembuskan napasnya dengan kasar karena merasa tak rela jika Tisha berada 1 mobil dengan laki-laki lain.


Tisha mengikuti Dion untuk menuju mobil Dion. Sedangkan Adyan kembali masuk di dalam mobil dengan wajah di tekuk.


"Ya sih, tapi aku belum yakin sepenuhnya deh kak tentang hati bang Adyan sebenarnya. " Balas Tisha.


"Kan baru permulaan, lihat aja entar pasti dia juga menyatakan perasaannya. Dan jangan lupa sepeda yang kamu janjikan. " Ucap Dion kembali dengan senyuman penuh kemenangan.


"Jangan seneng dulu, toh ini masih tahap awal. " Balas Tisha.


Dion pun tertawa kencang karena bisa mengganggu sepupunya itu.


"Sekarang kita mau kemana ini? " Tanya Dion yang sudah mulai mengemudikan mobilnya.


"Gimana kalau kita pergi nonton kak? " Tisha pun memberikan ide.


"Bagus juga, coba nanti kita lihat gimana sikap dia setelah tahu kita mau nonton. Apakah dia tetap ikut menonton bersama kita, atau dia hanya menunggu kita di luar sebagai mana pengawal sesungguhnya. " Jawab Dion.


"Kita lihat saja nanti. " Tisha pun tersenyum membayangkan apa yang akan di lakukan Adyan. Semoga saja apa yang di katakan kakak sepupunya itu benar, nggak papa dia harus merogoh uangnya untuk membeli sepeda untuk Dion. Yang terpenting, dia bisa tahu isi hati Adyan sebenarnya.

__ADS_1


Sementara di mobil lain, Adyan tampak tak bersemangat dan sering mengumpat.


"Kenapa sih dia malah mau ikut ma laki-laki itu. " Ucap Adyan dengan memukul stir mengemudi.


"Terus kenapa akau jadi kayak gini. Padahal dulu juga biasa saja waktu dia deketin aku. " Ucap Adyan kembali.


. "Ah..... " Adyan pun berteriak yang hanya di dengar oleh dirinya.


"Lama-lama aku jadi gila ini. " Adyan pun mengumpat dirinya sendiri. Dia merasa aneh dengan dirinya yang tak ingin melihat Tisha bersama orang lain.


Tak ingin kehilangan jejak, Adyan pun menjaga fokusnya untuk melihat mobil yang di kemudian Dion.


Mereka pun berjalan menyusuri jalanan yang lengah karena tak ada kemacetan. Setelah 30 menit, mobil Dion membelokkan mobilnya di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota mereka.


Adyan pun mengerutkan dahinya.


"Mau apa mereka pergi ke Mall? " Adyan pun bertanya pada dirinya.


Dengan malas, Adyan pun mengikuti mobil Dion menuju parkiran Mall. Setelah melihat mobil Dion berhenti dan menemukan tempat parkir, Adyan pun juga memarkirkan mobilnya di dekat mobil Dion.


Dion dan Tisha pun keluar mobil bersamaan dan di ikuti Adyan yang juga sudah selesai memarkirkan mobilnya.


Tanpa melihat Adyan, Tisha dan Dion pun berjalan dulu dengan bergandengan tangan. mereka sudah merencanakan ini ketika di dalam mobil.


Adyan pun semakin memerah menahan marah karena Tisha mengabaikannya dengan menganggap dia tak ada.


"Ini aku malah terlihat kayak kambing congek mengikuti orang bermesraan. " Gerutu Adyan di dalam hatinya. Dia pun tetap mengikuti Tisha dan Dion di belakang.


Adyan bisa melihat bagaimana kedua orang di depannya. Masih setia berpegangan tangan dan bercanda gurau tanpa menghiraukan orang di belakang mereka yang sudah memendam kekesalan melihat mereka.


Tisha pun berhenti sejenak dan menengok ke belakang.


"Eh bang Adyan maaf, aku kira abang nggak jadi ngikutin kamu. " Ucap Tisha.


"Hem." Adyan pun menjawab dengan deheman untuk menyembunyikan kekesalannya.


Dion yang melihat wajah Adyan pun tertawa di dalam hatinya.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹


Assalamu'alaikum, mohon maaf ya beberapa hari ini aku nggak bisa nuangin ide buat nulis. Sampai mo nulis saja susahnya Dapat 1 baris, di hapus karena merasa tidak ada feel-nya. Dan ide itu tidak bisa di prediksi kapan datangnya. Tapi saya usahanya tetap up, tapi nggak tahu jam berapa ya sesuai ide adabyang muncul. Terimakasih 🙏🙏


__ADS_2