Bunda Untuk Aira

Bunda Untuk Aira
Tak Sengaja


__ADS_3

**Happy Reading...


******


"Huh**.... " Tisha menguap setelah mata indahnya terbuka.


"Jam berapa ni. " Ucap Tisha sambil mengambil handphonenya di atas nakas samping kamarnya.


"Huh, jam 5." Guman Tisha kembali.


Setelah menaruh kembali hpnya, Tisha bangun dari tempat tidurnya untuk berjalan menuju kamar mandi.


Meskipun dia belum sepenuhnya menjadi seorang muslimah yang baik, seperti menutup auratnya, Tisha tak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai muslimah.


Setelah berwudhu dan menjalankan sholat subuh, menjadi kebiasaan dia akan tidur kembali sebelum bersiap-siap menuju kampus. Terkadang mamanya sampai mengedor pintu kamar Tisha karena jengah dengan kebiasan buruk Tisha.


Baru memejamkan matanya sesaat, pintu kamar sudah di kedor dari luar.


"Tisha bangun udah siang. " Teriak Nita kepada sang putri tunggal.


Tisha yang merasa terganggu pun membuka matanya lebar-lebar.


"Bentar ma, lima menit lagi. " Balas Tisha dengan menutup telinganya memakai bantal.


"Bangun nggak kamu, kalau nggak cepat buka mama rusak ni pintu kamar kamu. " Tambah Nita mengancam Tisha.


"Ish.... menyebalkan. " Gerutu Tisha yang hanya bisa di dengar olehnya.


Tisha pun dengan terpaksa bangun dan segera membuka pintu kamarnya sebelum sang ratu marah dan merusak pintu kamarnya.


Ceklek.....


Di depan pintu sudah ada Nita yang berkacak pinggang menunggu sang putri bangun.


"Ish.... mama ini kebiasaan. Tisha masih ngantuk mama. Nanti Tisha juga ada jam kuliah siang. " Ucap Tisha setelah membuka pintu nya dengan menggaruk rambutnya yang berantakan.


"Kamu itu ya jadi cewek malas banget, habis sholat subuh pasti tidur lagi. " Jawab Nita dengan menjewer telinga anaknya.


"Aduh.... mama ini jahat banget sama anaknya. " Keluh Tisha dengan memegang telinganya yang di jewer sang mama.


"Udah nggak usah protes, sekarang siap-siap pergi ke kampus udah jam setengah 7." Perintah sang ratu.


"Okey mama. Jangan marah-marah nanti nggak cantik lagi. " Ledek Tisha dan ia pun segera berlari menghindari sang ratu marah kembali.


"Ish anak itu. " Gerutu Nita.

__ADS_1


"Mama dan papa tunggu di bawah. Awas saja kalau nggak cepat. " Ucap Nita memperingatkan.


"Okey mama. "


Nita pun turun ke bawah menuju meja makan. Di sana sudah ada sang suami yang sedang fokus membaca koran.


"Sudah bangun dia ma? " Tanya Randy yang sudah siap dengan baju seragamnya.


"Biasa pa, kalau belum di kedor dia nggak bakalan bangun. " Balas Nita dengan mendudukkan tubuhnya di kursi.


"Sabar mas, gitu-gitu juga anak kita. " Bela Randy.


"Papa itu mesti bela Tisha, dia itu cewek dan suatu saat akan jadi seorang istri. Mama nggak mau nanti menjadi kebiasaan dia kedepannya. " Balas Nita kembali.


Dia tak mau jika sang putri akan seperti dirinya dahulu. Cewek arogan dan tak berperasaan akibat didikan kedua orang tuanya yang selalu memanjakannya. Sehingga, dulu apapun yang ia inginkan harus menjadi miliknya meskipun dengan cara yang menyakiti orang lain.


Jika mengingat hal itu, membuat Nita sangat sedih dan menyesal.


Randy yang melihat perubahan wajah sang istri, menggenggam tangannya.


"Kita sudah mendidik dia lebih baik Ma. papa yakin Tisha bukan seorang yang manja seperti itu. Pasti dia akan menyesuaikan dirinya dengan tepat. Coba kita lihat, dia bisa mandiri ketika dia masih kuliah. Usahanya sekarang juga maju karena kerja kerasnya dan itu semua tanpa bantuan kita. Ucap Randy menenangkan sang istri.


"Benar pa, dia memang beda dengan ku saat muda. Dia mau berusaha dan bekerja keras dengan kemauannya sendiri. " Balas Nita dengan tersenyum.


Nita juga sangat bersyukur akan kehidupan nya saat ini, suami yang berubah sangat mencintai dan setia dan juga putri cantik melengkapi kehidupannya. Jika mengingat masa lalu, dia sangat bersyukur bahwa Allah masih memberikan kebahagian dan keluarga utuh untuk dirinya.


"Selamat pagi papaku yang ganteng dan baiknya pari purna. " Sapa Tisha dengan mencium pipi sang papa.


"Pagi putriku yang cantik jelita. " Balas Randy dengan membalas mencium pipi sang putri.


"Ish kebiasaan pagi-pagi udah lebay. " Gerutu Nita melihat tingkah putrinya yang konyol.


"Cie mamaku ngambek ni ye... " Goda Tisha dengan memeluk sang mama.


Nita pun hanya tersenyum dan mencium pipi sang putri dengan sayang.


Setelah Tisha sampai di meja makan, mereka pun sarapan bersama sebelum memulai aktifitas mereka masing-masing.


Setelah selesai sarapan, Tisha pamit untuk berangkat ke kampus nya Hari ini, dia tampak cantik dengan blouse 3/4 yang di padu padan kan dengan rok jins se lutut dan tidak lupa sepatu ket putih di kakinya.


Tisha masuk ke dalam mobil hasil jerih payahnya sendiri yang terparkir di garasi rumahnya.


Setelah siap, Tisha mulai mengendarai mobilnya untuk membelah padatnya jalan di pagi hari.


Agar tak jenuh, Tisha menghidupkan lagu di dalam mobil. ikut berdendang dan bernyanyi untuk mengurangi rasa bosan di dalam mobil.

__ADS_1


Tak berselang lama setelah lampu hijau, Tisha mengerem mendadak ketika melihat ada seorang kakek yang menyebrang tanpa melihat jalan.


Breg.....


Suara hantaman terdengar dari belakang mobilnya.


"Ish, hari ini sial banget. " Gerutu Tisha yang masih setia duduk di kursi pengemudi.


Beberapa menit kemudian, mobilnya di keruk dari luar.


"Hi... keluar. " Teriak seorang pemuda dengan mengetuk kaca pintu mobil Tisha.


Jleg.....


"Kok abang es. " Ucap Tisha setelah tahu siapa yang mengetuk kaca mobilnya


"Harus tenang, harus tenang. Tisha kamu harus tenang jangan gerogi. " Ucap Tisha memberikan semangat pada dirinya.


Setelah mengambil napas, Tisha pun membuka pintu mobilnya.


"Kamu.... " Teriak sang laki-laki yang kaget ketika melihat siapa pengemudi mobil yang ia tabrak.


"Ada apa abang es, terpesona ya lihat cewek cantik. " Jawab Tisha yang masih bisa bercanda di saat ini.


"Kalau nggak bisa nyetir nggak usah bawa mobil. Membahayakan pengemudi yang lainnya. " Ucap Adyan dengan sikap khasnya yang mirip bon cabe.


"He... tuan es batu. Harusnya aku yang marah karena anda yang menabrak belakang mobil saya. " Jawab Tisha yang ikut sewot.


"Enak aja muncul langsung marah-marah. Tenang Tisha kamu nggak boleh kalah lagi. " Batin Tisha.


"Hei cewek manja, kalau bukan kamu yang ngerem mendadak aku nggak bakalan nabrak mobil kamu. " Adyan pun juga tak mau kalah.


"Hello, kalau aku nggak ngerem mobilku mendadak, pasti akan nabrak itu bapak. " Balas Tisha yang juga tak mau kalah dengan menunjuk si bapak yang menyebrang.


Si bapak yang melihat pertikaian itupun menghampiri Tisha dan Adyan.


"Maafkan saya nak, tadi tiba-tiba kaki saya kram untuk jalan. Sehingga saya berhenti sejenak sebelum melanjutkan untuk menyebrang. Eh saya tidak tahu jika lampu sudah berwarna hijau. " Jelas si bapak menjelaskan duduk perkaranya.


"Tapi bapak nggak pa-pa kan sekarang, atau Tisha bantu bapak ke rumah sakit? " Tawar Tisha setelah mendengar penjelasan si bapak.


"Tidak usah nak, alhamdulillah ini sudah tidak apa-apa dengan kaki saya. " Balas si bapak kembali.


Tisha pun merasa lega dengan penjelasan dari si bapak.


Tanpa Tisha sadari, Adyan memperhatikan kepedulian Tisha terhadap orang lain.

__ADS_1


"Nggak nyangka ni cewek manja punya peduli juga dengan orang lain. " ...


******


__ADS_2