Bunda Untuk Aira

Bunda Untuk Aira
Gila...


__ADS_3

Happy Reading.....


****


"Kalian tu ya berantem melulu, mbok ya kayak tadi jadi adem lihatnya. " Protes Marsya.


"Idih ogah. " Balas Adyan dan Tisha bersamaan.


"Wah tuh jawab aja barengan, kalian memang jodoh. "Celetuk Marsya kembali dengan tersenyum.


" benar tu kak Marsya, mungkin memang mereka berjodoh. " Tambah Shakila dengan kegirangan.


"Dan pasti aku bahagia ni kalau kak Tisha jadi kakakku. Kan kak Tisha baik banget mirip kak Aira. " Tambah Shakila kembali dengan wajah membayangkan jika Tisha menjadi kakaknya. Pasti rumah jadi ramai karena kekonyolan Tisha dan abangnya.


"Ngayal aja ketinggian. " Buyar sudah khayalan Shakila ketika sang abang merusak tatanan hijabnya.


"Ish... abang nyebelin banget. " Ketus Shakila dengan meniup-niup ujung hijabnya yang di rusak Adyan.


Marsya dan Tisha pun ketawa ketika tahu ke isengan Adyan terhadap adiknya. Ternyata nggak hanya terhadap Tisha, wajah datar dan dingin serta mulut seperti bon cabe itu pun suka jail dengan adiknya.


"Kamu mo pulang atau disini saja? " Tanya Adyan dengan menekuk kedua tangan nya dengan sombongnya.


"Yah bang, makan dulu dong." Rengek Shakila.


"Ya udah ayo dek makan sama kak Tisha aja dari pada tu makan sama si bon cabe. Malah makanannya berubah asem kayak tu muka. " Sindiran Tisha.


"Yah mulai dah. " Ucap Marsya yang sudah siap-siap mendengar pertengkaran kembali.


"Nggak ada, mending pulang sekarang." Tolak Adyan.


"Apalagi abang nggak mau makan sama si manja. Sekarang kita pulang atau abang tinggal di sini. " Ancam Adyan.


"Kalau loe nggak mau bayarin Illa makan, biar gue aja yang bayarin.Dan satu lagi, gi sana pulang biar gue yang nganterin Tisha pulang. " Usir Tisha dengan mengibaskan tangannya tanda mengusir Adyan.


"Illa adik gue, berangkat juga bareng gue pulang pun harus sama gue lah. " Adyan pun menjawab dengan nyolot.

__ADS_1


"Sudah-sudah kak, biar Illa pulang sama abang. Nanti takut nya si abang tambah marah jadi nggak dapat jatah saku lagi dari dia Illanya. " Jawab Illa dengan polosnya.


Karena menang, Adyan pun seperti di atas angin. Dengan sombongnya dia menatap sinis Tisha.


"Ya udah dek, Hati-hati awas nanti si bin cabe marah berubah kayak banteng. "


Shakila pun tertawa dengan ucapan nyleneh


Tisha. Sudah banyak julukan yang di sematkan untuk kakaknya.


Takut sang kakak marah seperti banteng kayak julukan yang Tisha beri, Shakila pun bergegas untuk pulang mengikuti kemauan sang kakak. Setelah membayar di kasir, Adyan pun menarik adiknya untuk segera keluar dari toko buku.


"Lama-lama aku disini malah tambah gila karena meladeni cewek kecentilan ini


" Batin Adyan.


Adyan dan Shakila pun pulang setelah Shakila berpamitan. Sedangkan Tisha dan Marsya merasa tak acuh dengan sikap Adyan yang meyebalkan.


**


Setelah 45 menit, Adyan dan Shakila sampai di rumahnya. Dia bergegas turun dari mobilnya setelah memarkirkannya di garasi. Sedangkan Shakila, jangan di tanya dia sudah berlari keluar mobil setelah mobil masuk dari gerbang.


"Ish..... adik jangan teriak-teriak dong, bunda masih dengar suaramu. " Protes Salma dari dapur.


"Hehehe... maaf bunda " Shakila pun cengengesan setelah sampai di dapur.


"Kebiasaan deh dek kamu itu, ini rumah loh bukan hutan. " Nasehat Salma dengan mencuci tangannya dan segera menyodorkan tangannya untuk di cium sang putri. Menjadi kebiasaan di keluarga Salma.


"Kan Illa nggak tahu bunda di dapur. " Jawab Shakila manyun dengan menerima uluran tangan dari sang bunda untuk ia cium.


"Abang mana kak? " Tanya Salma yang belum melihat Adyan.


"Masih di depan bunda. " Jawab Shakila dengan mencomot cake brownies buatan Salma.


Pluk....

__ADS_1


Suara tepukan tangan Salma ke tangan Shakila.


"Ish adik kebiasaan deh, cuci tangan dulu itu sebelum comot sana-sini. " Ucap Salma memperingati.


"Maaf bun, kan adik lapar banget. Tadi abang nggak mau traktir makan sih, ya jadi ya adik kelaparan. " Adu Shakila kepada sang bunda. Tidak lupa dia segera mencuci tangannya sebelum sang ibunda ratu marah kembali.


"Loh memangnya kenapa kak? Kok tumben banget nggak jajan seperti biasanya. " Tanya Salma yang penasaran.


Shakila pun menceritakan semua yang terjadi di toko buku tanpa menguranginya. Baik dari pertengkaran sang abang dengan Tisha bangkan julukan yang di sematkan Tisha untuk Adyan. Salma pun tertawa terpingkal-pingkal mendengar julukan untuk sang putra.


"Tu si bon cabe lagi sakit hati bun, karena kalah melawan kak Tisha. " Sindir Shakila kepada sang kakak.


"Ish apaan sich dek, awas aja jika manggil abang seperti itu. Ingat abang tak akan ngasih jatah uang saku dan jalan-jalan lagi. " Ancam Adyan.


"Yah, jangan gitu dong kak. " Balas Shakila dengan memelas.


"Adik bunda sudah bilang jangan boris, ni kenapa juga masih minta jatah uang saku ke abang. Bulan depan jatah uang saku adik bunda potong. " Ancam Salma.


"Yah bun, jangan ding bun. " Shakila pun beralih ke bunda nya untuk menjelaskan tak di potong uang sakunya.


"Ish abang juga nyebelin banget sich, ni bunda jadi tahu kan rahasia adik. " Shakila pun kesal dengan Adyan.


Dan si tersangka pun berlari untuk segera masuk ke dalam kamar sebelum sang adik bungsu marah kepadanya.


Sedangkan Shakila masih harus mendengarkan ceramah sang bunda. Kata Shakila jika bunda nya mulai menasehati nya, waktunya akan lebih panjang melebihi ceramah dari Mamah Dedeh di TV. Bukannya tak boleh, tapi Salma mengajarkan kepada ketiga anaknya tentang hidup sederhana meskipun mereka tak akan kekurangan. Karena Rasulullah SAW telah mengajarkan kita tentang dilarangnya hidup boros.


Untuk mengurangi ceramah sah bunda, Shakila pun menceritakan banyak tentang Tisha. Bagaimana penampilannya yang saat ini tampak lebih dewasa dari sebelumnya. Dan kesuksesan yang sudah di raih Tisha. Bahkan Shakila pun bercerita tentang sikap Tisha yang sudah berubah kepada sang abang. Bagaimana yang dia ingat, dulu Tisha tak pernah absen untuk selalu mengintili dimanapun Adyan berada. Tapi sekarang berubah, apalagi Salma sangat penasaran bagaimana Tisha sekarang. Mereka sudah tak bertemu hampir 1 tahun. terakhir adalah ketika kelulusan Adyan. Untuk kedua orang tua Tisha mereka sering bertemu, tapi berbeda dengan Tisha.


"Bunda yakin ada yang tak beres dengan kalian berdua, tapi bunda juga mempunyai firasat jika suatu saat kalian akan kembali akur dan hidup bersama. " Ucap Salma dalam hatinya. Tak lupa dia tersenyum simpul membayangkan sang putra satu-satunya bisa bersatu dengan anak dari sahabatnya.


Sedangkan Adyan, setelah masuk di kamar nya dia segera mencuci tangan dan kaki dan sekalian berwudhu untuk melaksanakan sholat Ashar.


Setelah selesai, kemudian dia mencopot celana bahannya menyisakan celana boxer dan kaos tipis. Dia mulai merangkak ke ranjang untuk sejenak mengistirahatkan pikirannya.


Entah mengapa bayangan Tisha yang menyindir dan menjulukinya berseliweran di kepalanya.

__ADS_1


"Sepertinya aku sudah menjadi gila.......


*****


__ADS_2