Bunda Untuk Aira

Bunda Untuk Aira
Keluarga Randy


__ADS_3

Happy Reading...


****


"Harus itu bun, abang ingin mencari calon istri bun bukan pacaran seperti anak muda yang lainnya. Dan abang ingin mencari seperti bunda dan kakak agar bisa abang ajak membangun rumah tangga yang bahagia di dunia dan akhirat kelak. " Adyan menjelaskan kriteria pasangan yang ia inginkan.


"InsyaAllah bang, abang akan dapat yang sprti itu. " Salma pun ikut menyemangatinya.


Tak terasa perjalanan pulang pun tampak cepat karena di habiskan oleh ibu dan anaknya untuk mengobrol melepas rindu. Dan sampailah mereka di depan pintu gerbang rumah Irsyad. Adyan menekan klakson agar penjaga membukakan gerbangnya.


Salma dengan di bantu putranya turun dari mobil. Setelah Adyan membukakan pintu untuk bundanya dan memastikan bundanya turun dengan baik, Adyan berpindah ke bagasi untuk mengambil barang belanjaan. (Sudah pas ya jadi calon menantu idaman 🤣🤣🤣🤣).


Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah. Salma dan Adyan tersenyum ramah ketika berpapasan dengan ajudan-ajudan ayahnya yang sedang berjaga di depan rumah.


"Sudah pulang bu? " Tanya sang ajudan yang memberi hormat ketika bunda Salma tiba.


"Iya ni om. Mari saya masuk dulu ya. " Jawab Salma kemudian pamit untuk segera masuk.


"Silahkan ibu. "


"Saya masuk dulu ya bang. " Adyan pun ikut berpamitan.


"Silahkan mas Adyan. "


Salma dan Adyan pun segera masuk. Apalagi Salma ingin segera ke dapur untuk mengolah bahan makanan yang sudah ia beli. Meskipun sudah mempunyai asisten rumah tangga yang juga membantu memasak, untuk masak dan memasak Salma lebih suka memasaknya sendiri. Apalagi sang suami lebih suka masakan yang di buat oleh dirinya.


"Bun, ini taruh di mana? " Tanya Adyan kepada bundanya.


"Taruh di dapur saja bang, bunda ke kamar dulu buat naruh tas. " Jawab bunda Salma.


Adyan pun menaruh barang belanjaan ke dapur. Disana sudah ada asisten yang siap membantu bunda Salma untuk memasak buat acara makan malam nanti.

__ADS_1


"Mbok, saya ke kamar dulu ya. " Pamit Adyan kepada mbok Sum.


"Silahkan mas Adyan. " Balas mbok Sum dengan tersenyum ramah.


Adyan pun berjalan menuju ke kamarnya setelah meletakkan barang belanjaan. Dia merebahkan tubuhnya di atas bed dengan memandang lekat atap kamar Adyan yang bercat putih kontras dengan warna cat dinding kamar Adyan yang berwarna biru gelap menggambarkan dirinya.


"Huh..... " Adyan menarik napas dalam-dalam mengingat pembicaraan dirinya dengan sang bunda. Bunda Salma mengharapkan agar dirinya bisa segera membawa calon istri untuk nya.


Sebenarnya selama ini dia sadar dan paham jika banyak wanita yang memperhatikannya. Salah satunya adalah Tisha. Dulu, Tisha sering di ajak kerumah Adyan oleh tante Nita karena memang hubungan kedua orang tua mereka sangat akrab. Awalnya, Adyan yang pendiam dengan orang lain merasa terganggu dengan Tisha gadis kecil yang crewet dan ceria. Hingga akhirnya Adyan pun menerima kehadiran Tisha dalam hidupnya. Sampai Tisha pun meminta orang tuanya untuk bersekolah 1 sekolahan dengan Adyan. Awalnya Adyan biasa saja karena menganggap Tisha seperti adiknya Shakila. Tapi lambat laun perhatian nya di salah artikan oleh Tisha, hingga gadis tersebut berani mengutarakan perasaannya disaat dia kelas 11 sedangkan Adyan kelas 12.


Karena memang Adyan ingin fokus untuk mengejar karirnya lebih dahulu hingga ia berkata kasar kepada Tisha agar gadis itu tak terlalu mengharapkannya berlebihan. Karena dia takut jika Tisha akan kecewa. Bahkan ketika ada acara di tempat pendidikannya yang di wajibkan membawa rekanita, dia akan meminta adik nya Shakila atau saudara lainnya untuk menemani nya. Bukannya ia tak laku, bahkan teman-temannya selalu mengenalkan Adyan dengan wanita tenan dari rekanita mereka, siapa yang tak mau jika berkenalan dengan Adyan maupun yang lainnya. Bahkan ketika pesiar saja banyak gadis yang caper dengan para Taruna yang sedang pesiar. Tapi beda dengan Adyan, yang ia pikirkan bukan mencari pacar dia ingin menyelesaikan pendidikannya dengan maksimal tanpa embel-embel nama ayahnya.


****


Malam pun telah tiba, Salma sudah selesai menyiapkan menu makanan untuk menyambut kedatangan keluarga Randy dengan di bantu ART dan Shakila.


Tak berselang lama, deru suara mobil terdengar dari luar rumah. Tak berselang lama, keluarga Randy yang berdiri dari Randy, Nita dan Rosa masuk kedalam rumah.


Ayah Irsyad sudah berdiri di depan untuk menyambut kedatangan keluarga Randy yang di temani Adyan.


"Waalaikum salam Jendral Randy yang budiman. " Jawab ayah Irsyad dengan tersenyum.


"Hahaha, kamu bisa aja suh. Gimana ni kabar udah lama kita tak ketemu. " Tambah om Randy.


"Alhamdulillah ini baik suh, bagaimana kamu? " Sama Suh, aku juga baik."Balas ayah Irsyad kembali.


"Ehem, mentang-mentang ketemu sahabatnya sampai lupa ada orang di belakang. " Protes Nita yang jengah melihat suami dan sahabatnya.


"Maaf ma, papa dah lama tak ketemu dia jadi gini dah. " Jawab om Randy dengan kikkuk.


"Maaf mbak Nita, bagaimana kabar mbak Nita? "

__ADS_1


"Alhamdulillah baik om. Ini dimana mbak Salma kok saya nggak lihat? "


"Masih di belakang nanti kesini mbak." Balas Ayah.


"Pasti ini nak Tisha ya? " Tanya ayah dengan menunjuk Tisha yang ada di samping Nita.


"Iya om. Assalamu'alaikum om. Bagaimana kabarnya? " Jawab Tisha dengan menyalami ayah Irsyad Tisha tampak anggun dengan dress di atas mata kaki berwarna cream dengan belt du perut menunjukkan tubuhnya yang ramping. Tak lupa rambutnya yang ia gerai dengan di beri pencepit rambut di depan.


"Wah tambah cantik aja nak. " Puji Ayah Irsyad kepada Tisha.


"Terima kasih om ats pujiannya. " Balas Tisha dengan merona.


"Hi bung Adyan. Akhirnya om bisa bertemu kamu kembali. " Sapa Randy kepada Adyan yang ada di belakang ayah Irsyad.


"Siap Dan. Saya juga senang bertemu komandan kembali. " Jawab Adyan dengan sikap hormat nya.


"Nggak usah bersikap formal seperti itu nak. Kalau di luar kamu memang bawahan saya tapi jika di sini kamu adalah anak sahabat saya. " Protes Randy kepada Adyan.


"Maaf om, terbawa kebiasaan. " Ucap Adyan dengan nyengir kuda. Tidak lupa dia juga menyalami Randy dengan hormat.


"Wah sekarang tambah ganteng aja Adyan ini. " Puji Nita setelah Adyan bergantian menyalami Nita.


"Tante bisa saja. Tante juga semakin cantik. " Adyan pun membalas memuji Nita.


"Kamu bisa aja nak, padahal tante merasa kalah saing dengan putri cantik tante sekarang." Puji Nita dengan melirik ke arah putri nya. Sebagai seorang ibu, dia tahu jika sang putri mencintai anak sahabatnya. Tapi Nita tak mau mengulangi kesalahan di masa lalunya dimana dengan kekuasaan sangat ayah, dia mendapatkan apa yang dua inginkan sampai cinta pun ia mendapatkan karena jabatan sang ayah hingga akhirnya dia pun merasakan sakit yang tak berdarah meskipun akhirnya kebahagiaan memayungi kehidupan keluarganya saat ini. Dan sekarang dia ingin sang putri mendapatkan orang yang benar-benar mencintai putrinya dengan tulus bukan karena jabatan dari sang papa.


Adyan pun tersenyum tipis mendengar perkataan Nita. Bukannya ia tak suka, tapi setelah ia bermimpi bertemu Tisha di mimpinya. Ada rasa canggung yang Adyan rasakan ketika bertemu Tisha.


"Apa kabar. " Sapa Adyan dengan mengulurkan tangannya ke Tisha. Meskipun sebenarnya mereka akan berantem ketika bertemu, malam ini Adyan menahan egonya karena rasa hormatnya kepada kedua orang tua Nita.


"Alhamdulillah baik bang Adyan. " Balas Tisha dengan sedikit tersenyum. Dia pun juga menjaga image maupun sikapnya.

__ADS_1


"Meskipun ni hati dag dig dug, harus tetap jaga image dong maklum ketemu camer. " Batin Tisha dengan menyembunyikan senyuman di bibirnya.


***"


__ADS_2