Bunda Untuk Aira

Bunda Untuk Aira
Menemui Sarah


__ADS_3

Happy Reading....


🌿🌿🌿🌿


"Kalau aku jadi dia, udah aku potong tu masa depannya. Udah dapat enaknya eh cuma karena belum mendapat keturunan langsung di tinggalkan. " Tisha pun ikut emosi.


Glek.... Adyan menelan ludahnya karena mendengar ucapan bar-bar Tisha.


"Ya Allah, gimana nasib dirinya esok jika memang aku khilaf nyakitin dia. " Batin Adyan yang ngeri mendengar ucapan Tisha.


"Kenapa bang, kok mengedikkan bahu gitu. " Tisha yang melihat Adyan mengedikkan bahunyapun bertanya.


"Eh nggak kok Sha, abang nggak papa. " Jawab Adyan berbohong.


Tisha pun hanya ber oh ria.


"Sha, karena abang tidak mau kita ada kesalah pahaman lagi, apa kamu mau abang ajak nemuin Sarah. Ini juga buat berjaga-jaga untuk masa depan kita. " Ajak Adyan.


"Memangnya abang tahun rumahnya? " Tisha malah kembali bertanya.


"Emmm.... kemarin habis abang ngajak makan, aku sekalian anterin dia pulang Sha. Tapi nggak ada maksud apa-apa, cuma kasihan aja soalnya dia pergi dari rumahnya tanpa membawa uang. " Jelas Adyan.


"Ya udah ayo, aku tidak mau ya nanti habis dia ketemu abang jadi ngejar-ngejar abang lagi. " Ucap Tisha yang mulai menampakkan kecemburuan nya. Karena dia ingat betul bagaimana sikap Sarah ketika mereka masih SMA, Sarah yang notabennya kakak kelas Tisha dan bagaimana sikapnya dulu kepada dirinya bahkan pernah melabrak Tisha karena tahu jika Tisha selalu mengejar-ngejar Adyan. (Ingat dulu waktu zaman SMA, lihat teman seangkatan di labrak sama kakak kelas karena cowok di toilet. Mungkin kalau ingat itu yg bersangkutan pasti malu πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„)


"Semangat banget sih calon istri abang Adyan. Masih cemburu ya. " Goda Adyan dengan mengeluarkan gombalannya. Dia senang karena akhirnya Tisha mau mendengarkan penjelasan dirinya.


"Apaan sih bang. " Jawab Tisha dengan kedua pipi yang merona ketika mendengar Adyan menyebut kata calon istri.


Adyan pun tersenyum bahagia melihat rona merah di pipi Tisha. Dia senang melihat perempuan di sampingnya yang biasanya pemberani akhirnya bisa merasa malu juga.


"Ya udah, ayo kita ke rumah Sarah. Setelah ini, abang akan selalu terbuka sama kamu Sha. Dan abang juga tidak akan memaksa kamu lagi masalah pernikahan. " Ucap Adyan.


"Maafin Tisha ya bang, do'ain Tisha biar cepat selesai skripsinya bang. Biar kita bisa segera menikah."


"Pasti Sha, aku akan berdoa yang terbaik untuk kita. " Balas Adyan.


"Aku bukannya belum siap bang, tapi aku ingin setelah menikah fokus ku hanya untuk keluarga. Dan untuk butik, aku bisa meng-handle nya meskipun dari rumah. Tapi kalau masalah kuliah, itu yang sulit bang." Tisha pun mencoba mengeluarkan uneg-unegnya.


"Iya Sha, abang paham kok. "


Adyan segera menghidupkan mobilnya untuk menuju ke rumah Sarah. Dia berharap jika Sarah berada di rumah. Sehingga masalah kesalahan pahaman antara dirinya dan Tisha segera selesai.


Setelah menempuh perjalanan 30 menit, mereka berdua telah sampai di rumah minimalis berlantai dua. Adyan segera memarkirkan mobilnya di pinggir jalan tepat di depan rumah Sarah.


"Ayo Sha kita turun. " Ajak Adyan.


Tishapun menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju. Mereka berduapun segera turun.


Tet... tet..........


Adyan memencet tombol pintu gerbang rumah Sarah.

__ADS_1


Tak berselang lama, pintu gerbang pun di buka oleh seseorang.


"Loh Adyan, ada apa ya kok datang kesini? " Ucap Sarah yang kaget melihat kehadiran Adyan di rumahnya. Dia belum melihat Tisha yang terhalang bahu lebar Adyan.


"Iya Rah, maaf jika kedatangan kami mengganggu kamu. " Balas Adyan.


Sarah mengerutkan dahinya karena bingung dengan kata kami yang di ucapkan Adyan. Tishapun segera maju ke samping Adyan.


"Oh ya Rah, kenalkan ini Tisha calon istriku. " Adyan memperkenalkan Tisha ke Sarah.


"Tisha.... Tisha maksud kamu Tisha yang centil adik kelas kira itu ya? " Tebak Sarah yang mengingat juniornya di SMA.


"Iya benar Rah. " Jawab Adyan dengan terkekeh.


Tishapun cemberut karena mendengar ucapan Sarah. Memang benar sih dulu di waktu dia SMA, dia terkenal cewek yang centil.


"Hallo Sya, gimana kabarnya? sekarang tambah cantik ya dengan hijabnya. " Puji Sarah kepada Tisha.


"Alhamdulillah baik mbak, mbak juga cantik kok. " Jawab Tisha dengan memuji balik Sarah. Dia melihat perubahan sikap Sarah yang tampak ramah dan lembut dan berbeda dengan waktu SMA.


"Oh ya, ayo masuk dulu. Maaf malah mengajak kalian mengobrol di luar. " Sarah pun mengajak Adyan dan Tisha masuk ke dalam rumahnya.


"Ayo silahkan duduk. "


"Terima kasih Rah. " Jawab Adyan. Adyan pun duduk di kursi di ruang tamu dan diikuti Tisha di sampingnya.


"Bentar ya, aku ambil minum dulu. " Pamit Sarah.


"Nggak repot kok, di rumah juga ada. "


Sarah pun berlalu dari ruang tamu menuju ke dapur untuk mengambil kan minum kepada Adyan dan Tisha. Sedangkan Tisha dan Adyan, mereka berdua sedang memperhatikan foto yang terpasang di dinding.


"Silahkan di minum. " Ucap Sarah setelah membawa 2 cangkir teh serta cemilan.


"Terima kasih kak. " Jawab Tisha ramah.


"Oh ya kalau boleh tahu, ada apa ya kalian kesini? " Sarah bertanya kembali kepada Adyan dan Tisha.


"Ehemm." Adyan berdehem sebentar.


"Maksud kedatangan kami adalah..... "


Adyan menjelaskan duduk perkara sebenarnya, dia meminta bantuan Sarah untuk menjelaskan ke Tisha agar calon istrinya ini tidak salah paham.


Sarah pun juga menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya tanpa menambahi atau mengurangi. Ceritanya pun sama persis dengan apa yang di sampaikan Adyan.


"Jadi gitu Sha, kami nggak sengaja bertemu di jalan. Dan saat itu aku sedang kacau sekali. Entah apa yang akan terjadi sama aku jika tidak ketemu Adyan. " Ucap Sarah.


"Iya kak, maaf jika kedatangan aku malah buat kak Sarah sedih lagi. " Tisha pun merasa tidak enak dengan Sarah yang tampak sendu ketika menceritakan tentang rumah tangganya.


"Nggak kok Sha, malah aku yang nggak enak gara-gara Adyan nolong aku malah membuat hubungan kalian hampir rusak. " Tapi wajar juga jika kamu marah Sha, aku juga masih ingat dengan perbuatanku dulu ketika SMA yang sering membully kamu "Sarah pun terkekeh mengingat sikapnya yang arogan dan selalu membully Tisha karena mengejar-ngejar Adyan. Du ketika SMA dia memang sempat suka dengan Adyan, tapi sekarang rasa itu sudah hilang.

__ADS_1


" Nggak papa kak, dulu kan kita masih remaja dan labil. Yang terpenting sekarang kita sudah berubah menjadi yang lebih baik lagi "Balas Tisha.


Mereka bertiga pun bercerita mengenang masa-masa SMA dulu. Sampai mereka tidak sadar jika ada orang yang baru saja datang.


" Wah enak sekali ya, si suami sedang membanting tulang, eh ini istrinya sedang asyik membawa temannya untuk mengobrol ceria. "Sindir si ibu paruh baya ke Sarah.


" Bu, udah bu. "Seorang lelaki yang kemungkinan suami Sarah karena wajahnya sama dengan foto yang tertempel di dinding.


" Kamu itu selalu belain istri kamu yang mandul itu. Udah nggak bisa hamil eh ini malah asyik ngobrol seperti putri saja. "


Deg....


Hati Sarah semakin sakit mendengar ejekan sang ibu mertua. Apalagi ini ada temannya yang mendengar.


Tisha pun kaget mendengar ejekan ibu paruh baya itu kepada Sarah. Dia bisa melihat kesedihan di wajah Sarah.


"Maaf Bu, ini teman saya dan mereka juga baru saja ke sini. " Sarah mencoba menjelaskan.


"Alah alasan saja." Jawab si ibu dengan sewot.


"Oh ya, satu minggu lagi Hamid akan nikah. Kamu sebagai istri pertama harus ngasih izin anakku untuk menikah lagi. Apalagi harusnya kamu sadar diri dengan kekuranganmu. "


"Maaf Bu, sampai kapanpun Sarah tidak akan mengizinkan mas Hamid menikah lagi. Jika memang mas Hamid ingin menikah lagi, maka ceraikan dulu Sarah. " Akhirnya Sarahpun mencoba melawan.


Plak.....


"Beraninya kamu ya,"


"Ibu... " Hamid kaget melihat ibunya menampar istrinya, Sarah.


"Astagfirullah." Tisha pun kaget melihat kejadian ini.


"Udah untung dulu kamu menikahkan kamu dengan Hamid, kalau bukan karena kami mungkin kalian sudah jadi gembel di jalan." Ibu mertua Sarah semakin mengungkit masa lalu Sarah.


"Bu sudah bu, Hamid akan mengikuti ibu tapi tolong jangan Sakiti Sarah lagi. " Hamid mencoba membela sang istri.


"Baik bu, mulai sekarang saya akan tinggalkan rumah ini. Silahkan mas Hamid urus surat perceraian kita. Setelah itu, terserah mas mau menikah lagi. " Ucap Sarah dan segera masuk kedalam rumah.


Tak berselang lama, Sarah membawa koper yang berisi beberapa bajunya. Dia hanya membawa baju yang ia beli sendiri. Semua fasilitas yang di berikan Hamid ia tinggalkan. Sudah cukup ia sabar atas cacian dari ibunya Hamid beserta keluarganya.


"Yang, kamu mau kemana. " Hamid mencoba mencegah Sarah.


"Ini bukan rumah saya, saya sadar diri siapa saya. Saya akan pergi dari sini karena percuma saya di sini tapi suami yang seharusnya menjaga dan melindungi saya malah tak pernah m lakukannya. " Jawab Sarah dengan sendu.


"Maaf Adyan dan Tisha jika kalian harus melihat ini semua. Tapi maaf saya akan segera pergi. " Ucap Sarah yang merasa tak enak.


"Nggak kok Rah, ya udah kami juga mau pamit. " Jawab Adyan.


"Kak Sarah ikut kami saja. " Ajak Tisha setelah ketiga orang itu keluar dari rumah Sarah.


🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


__ADS_2