Bunda Untuk Aira

Bunda Untuk Aira
Memperhatikan


__ADS_3

Happy Reading....


**************************************************


Sudah sepekan, Aira dan rekannya di rumah sakit menjadi


relawan di daerah bencana. Mereka tidak hanya mengobati maupun merawat pasien


yang sakit, tapi juga menghibur para warga yang shock kehilangan harta benda


maupun keluarga akibat longsor.


"Selamat pagi anak-anak." Sapa Aira kepada


anak-anak korban bencana di tenda pengungsian.


"Selamat pagi kak Aira." Jawab anak-anak serempak.


"Wah hari ini sudah pada ceria ya, hayo tadi pagi


sarapan sama apa saja?"


"Sama ayam dan mie goreng kakak." Jawab salah satu


anak dengan semangat.


"Wah enak sekali ya, padahal kak Aira cuma makan sama


tempe." Jelas Aira dengan tersenyum.


Hari ini Aira memberikan semangat dan hiburan untuk


anak-anak. Di sela istirahatnya, dia dan rekan yang lainnya menyempatkan diri


untuk berkumpul dengan anak-anak. Tingkah mereka yang lucu dan kadang-kadang


konyol membuat hiburan tersendiri di sela kesibukan mereka sebagai tenaga


kesehatan. Ada juga dari petugas TNI maupun POLRI yang ikut memberikan hiburan.


Membuat anak-anak bisa tertawa bersama menjadi salah satu pengobat psikis


mereka.


"Ada yang mau maju kedepan dan bernyanyi?" Pinta


Aira kepada salah satu anak di sana.


"Nanti ada hadiah loh dari kakak Aira dan kak


Jenni." Bujuk Aira kembali.


"Saya kak..." Ucap salah satu anak bernama Angkasa.


"Yupz, Angkasa ayo maju kedepan." Pinta Aira.


Angkasa pun maju kedepan.


"Angkasa mau apa hari ini, mau bernyanyi atau


bercerita?" Tanya Jenni.


"Apa ya kak......." Ucap Angkasa sambil menaruh


jari telunjuknya di atas bibir tanda berfikir.


"Kalau Angkasa mo nyanyi, nanti di bantu kak Aira


ya?" Tambah Angkasa merajuk ke Aira dengan mata berbinar.


Sifatnya yang lembut dan periang, membuat anak-anak menyukai


Aira.


"Boleh, tapi lagunya apa dulu ni....., semoga Kak Aira


bisa." Jawab Aira dengan menghampiri Angkasa dan mensejajarkan tubuhnya


dengan tinggi Angkasa.


"Lagunya Alam Walker kak AIra On My Way .”


“okey siap, kak Aira bias.” Balas Aira.


“Yang ngerap biar bang Alex aja deh.” Tambah Alex yang ikut


nimbrung saja.


“Kayak bias saja kamu, Lex.” Ucap Doni salah satu anggota POLRI


teman Alex.


“Ojo nyepelekke aku Cak, ngene-ngene diriku jagone.” Balas


Alex meyombongkan dirinya pakai Bahasa di daerahnya.


“ Ya…..ya….ya, nanti kalau nanti dirimu salah tinggal ketawa


aja diriku.” Tambah Doni.


“Kalau suaraku merdu, tinggal nanti kamu traktir bakso.” Ucap


Alex.


Teman-teman yang lainpun hanya menggelengkan kepalanya. Tidak


ada yang kaget dengan mereka kedua, setelah beberapa hari di sana, Aira pun


sudah paham betul dengan tingkah konyol kedua anggota berbeda Detasemen itu. Alex


pamit sebentar untuk mengambil gitar yang dia bawa sebagai teman menglipur

__ADS_1


rindu. Anak-anak pun menunggu antusias. Tanpa disadari Aira,  ada sesosok yang selalu memperhatikannya


ketika ia bertugas maupun waktu menghibur anak-anak ataupun korban dewasa yang


lainnya.


“Ayo….ayo…..Kita mulai bernyanyi angkasa.” Ajak Alex setelah


dia kembali membawa gitar kesayangannya. Duduk di kursi kecil dia mulai


menunjukkan kepawaiannya dalam bermain gitar. Angkasa mendengarkan suara gitar


yang di dengar untuk mengepaskan nada mulai untuk bernyanyi..


Jreng……….


On My Way…..


I'm sorry


but


Don't wanna talk, I need a moment before I go


It's nothing personal


I draw the blinds


They don't need to see me cry


'Cause even if they understand


They don't understand


So then


when I'm finished


I'm all 'bout my business and ready to save the world


I'm taking my misery


Make it my *****; can't be everyone's favorite girl


So take


aim and fire away


I've never been so wide awake


No, nobody but me can keep me safe


And I'm on my way


The blood moon is on the rise


The fire burning in my eyes


No, nobody but me can keep me safe


And I'm on my way


Lo siento


mucho (Farru), pero me voy (Eh)


Porque a tu lado me di cuenta que nada soy (Eh-ey)


Y me cansé de luchar y de guerrear en vano


De estar en la línea de fuego y de meter la mano


Acepto mis errore', también soy…


Pero ya


(Ya) no tengo más na' que hacer aquí (Aquí)


Me voy, llegó la hora 'e partir (Partir)


De mi propio camino, seguir lejos de ti


So take


aim and fire away


I've never been so wide awake


No, nobody but me can keep me safe


And I'm on my way


The blood moon is on the rise (Is on the rise, na-na)


The fire burning in my eyes (The fire burning in my eyes)


No, nobody but me can keep me safe


And I'm on my way


I'm on my


way


Everybody keep me safe


Everybody keep me safe


Everybody keep me safe


Everybody, everybody on my way

__ADS_1


So take


aim and fire away


Anak-anak


dan relawan yang lainnya menikmati lagu yang di nyanyikan mereka bertiga,


“Prok…..prok….”


Semua bertepuk tangan setelah ketiga orang beda usia tersebut selesai


bernyanyi.


“Wah


ternyata dokter Aira suaranya merdu sekali.” Puji Doni.


“ Bang Doni


bias saja.” Balas Aira dengan tersenyum.


“Gimana


bang suaraku, merdu kan?” Ucap Alex dengan mengangkat kerah bajunya.


“Okey, aku


akui suaramu bagus cak. Besok aku traktir bakso sepuasmu.”Balas Doni.


“Wah udah


lama kenal dokter Aira, baru tahu ternyata suaranya bagus juga. Penyanyi


aslinya pun kalah sama dokter.” Puji Jenni.


“ Suster bias


saja, itu bakat terpendam yang tidak bisa di salurkan.” Jawab Aira.


“Angkasa


juga bagus, sesuai janji kak AIra dan Jenni yang berani maju kedepan ada


hadiah. Coba kak Jenni ambilkan hadiah di belakang yang sudah kita sediakan.”


“Siap


dok.”


“ Untuk


adik-adik yang lain, besok gantian ya yang maju kedepan biar dapat hadiah.”


Tambah Aira.


“Ini Angkasa


hadiahnya, semoga bermanfaat buat Angkasa.” Ucap Jenni dengan menyerahkan


hadiahnya.


“Saya


nggak dapat hadiahnya ni, Dok?’ Goda Alex kepada Aira.


“Tadi


udah dapat bakso gitu cak. Jangan ganggu dokter Aira cak, dipindah kepedalaman


baru tau rasa dirimu.” Jawab Doni yang melirik kearah samping dimana Mario


berdiri.


Tanpa


sepengetahuan Aira, sejak Aira tampil bersama Angkasa dan Alex dia tidak


berpindah tempat dimana dia berdiri. Dengan menyilangkan kedua tangannya ke


depan dada, dia menikmati penampilan Aira dengan wajah yang sulit di artikan.


Alex yang


tahu maksud dari Doni pun, melirik ke arah pandang Doni. Dan menemukan keberadaan


atasannya di sana. Dengan muka tersenyum jail, Alex malah mendekati Aira untuk


menggodanya.


“Dokter, malam


minggu ini kita nyanyi bareng lagi yuk?” Ajak Alex.


“Wah


nyari mati beneran ni orang.” Jawab Doni dengan menarik kerah baju belakang Alex


menjauh dari Aira.


Sedangkan


Mario, masih dengan wajah datar memperhatikan Aira….


############################################################


Akhirnya bisa up lagi, mohon maaf buat kakak2 yang udah


menunggu. Krmungkinan cerita AIra akan saya buat di story sendiri setelah


mencapai episode yang ditentukan untuk novel kontrak. MOhon selalu dukungannya

__ADS_1


ya dengan memberi like setelah membaca.


__ADS_2