
Happy Reading....
🌿🌿🌿🌿
"Abang kenapa bun, kok nggak seperti biasanya? " Tanya ayah Irsyad yang melihat raut wajah Adyan yang tak biasa.
"Maklum yah, putra kita sedang jatuh cinta. Dan sekarang dia sedang meyakinkan hatinya." Jawab bunda Salma dengan tersenyum.
"Akhirnya putra kita yang dingin itu bisa merasakan jatuh cinta juga bun. " Ayah Irsyad pun ikut senang mendengar kabar tersebut.
"Kalau boleh tahu siapa bun gadis itu, apa perlu kita membantu abang dengan bertemu dengan kedua orang tuanya? " Tanya ayah Irsyad yang penasaran.
"Ayah kenal kok, tapi menurut bunda saat ini jangan dulu yah biar abang berusaha dulu meyakinkan hatinya. Jika waktunya pas, nanti kita baru datang ke rumahnya. " Balas bunda Salam dengan lembut.
"Siapa sih bun. Ayah malah jadi tambah penasaran. "
"Sudah nanti bunda pasti cerita, tapi nanti. sekarang lebih baik ayah membersihkan diri dan istirahat. " Ajak bunda Salma dengan menggandeng tangan sang suami menuju kamar mereka.
Ayah Irsyad pun pasrah dan mengikuti sang istri. Meskipun dia penasaran, tapi ada rasa sedikit lega karena akhirnya Adyan putra satu-satunya bersama Salma bisa menyukai perempuan dan tak melulu memikirkan karirnya saja.
"Apa jangan-jangan Tisha putrinya suh Randy? " Batin ayah Irsyad.
"Tapi kemarin dia sudah menyodorkan dirinya untuk menjaga Tisha. pasti benar memang dia." Batin ayah Irsyad kembali dengan wajah sumringah.
"Semoga Adyan benar-benar suka dengan Tisha, jadi anak-anakki menikah dengan anak-anak sahabatku. " Ide ayah Irsyad.
"Ayah kenapa kok senyum-senyum sendiri? " Tanya bunda Salma yang melihat suaminya senyum ketika mereka sampai di dalam kamar.
"Eh nggak bun. Cuma seneng aja dengar kabar baik tentang abang. " Jawab ayah Irsyad lembut. Usia mereka yang sudah setengah abad lebih, tak mengurangi keromantisan pasangan paruh baya ini. Wajah mereka pun masih tampak seperti usia 40 an, padahal mereka akan segera mempunyai 2 cucu.
"Bunda siapin air panas dulu ya buat ayah. " Ucap bunda Salma.
"Ya bun. " Jawab ayah Irsyad. Bunda Salma pun berjalan menuju ke kamar mandi untuk menyiapkan air panas untuk ayah Irsyad. Sedangkan ayah Irsyad, sedang melepas baju dinasnya.
Setelah Aira panasnya siap, ayah Irsyad pun segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bunda Salma mengambil teh hangat yang di campur madu untuk di minum ayah Irsyad setelah selesai mandi.
Berbeda dengan kedua orang tuanya, malam ini Adyan masih tidak bisa memejamkan kedua matanya. Bayangan Tisha yang sedang bergandengan dengan Dion berseliweran di pikirannya. Sehingga membuat dia tidak tenang.
"Besok aku harus bertanya dengan dia. Ya, harus tanya siapa Dion sebenarnya. " Ucap Adyan yang sedang menatap langit-langit kamar tidur nya dengan kedua tangan sebagai bantalannya.
"Apa sekarang aja ya? " Adyan pun semakin bimbang.
"Eh jangan deh, besok aja. Mending sekarang aku coba buat memejamkan mataku. " Adyan pun mematikan lampu kamar agar dia bisa tidur. Perlahan-lahan dia pun bisa tertidur dengan kegelisahan di dalam hatinya.
__ADS_1
**
Pagi-pagi sekali, setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya, Adyan segera menjalankan sepeda motor sport nya menuju ke rumah Tisha. Pagi ini dia akan menghantarkan Tisha menuju ke kampus.
Adyan dengan bersemangat melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedikit tinggi agar segera sampai di rumah Tisha. Tampak beberapa ajudan om Randy yang sudah rapi menjaga di depan rumah.
"Pagi Dan. " Sapa salah satu ajudan dan juga anak buah Adyan yang akan membantu dia menjaga Tisha ketika ada tugas mendadak di batalyon.
"Pagi bang. " Jawab Adyan ramah. Adyan pun segera melajukan motornya kembali menuju parkiran yang sudah di sediakan setelah berpamitan dengan petugas yang lain.
Adyan duduk di teras depan dengan berbincang-bincang dengan yang lainnya sambil menunggu Tisha keluar dari dalam rumah. Mereka membahas tentang pekerjaan mereka. Terkadang mereka juga saling bercanda di selingi dengan canda tawa.
Tak berselang lama, ada sebuah mobil yang datang dan parkir di depan rumah. Adyan serta yang lainnya melihat kearah mobil. Ada seorang laki-laki yang memakai baju kasual turun dari mobilnya.
Deg....
Jantung Adyan berdetak kencang ketika melihat Dionlah yang turun.
"Ngapain ni orang pagi-pagi udah kesini. " Batin Adyan.
"Pagi semuanya. " Sapa Dion kepada Adyan serta yang lainnya.
"Pagi." Balas Adyan dengan malas dan di ikuti oleh yang lainnya.
Adyan pun semakin tak tenang ketika melihat Dion masuk kedalam rumah. Dia menerka-nerka apa yang akan Dion lakukan di pagi ini. Dia berharap tidak akan ada yang serius.
"Kak, kebiasaan sih gangguin aku mulu. Dulu aja rambutku yang di acak-acak sekarang hijabpun jadi gantinya. " Protes Tisha kepada Dion yang sedang mengacak-acak hijabnya. Mereka berdua berjalan berdua menuju depan rumah.
"Soalnya aku gemes banget ma kamu Sya, rasane pingin cubit tu pipi tembemmu. " Jawab Dion dengan memberikan tanda kedua tangannya seperti mencubit pipi Tisha.
"Emangnya pipiku quisy pa yang bisa di cubit-cubit. " Balas Tisha kembali.
"Kalian itu ya kalau ketemu selalu berantem terus. Nggak ada sedikit aja rukunnya. " Tante Nita pun ikut menimpali. Ternyata beliau juga ikut mengantarkan mereka berdua dengan berjalan di belakang.
"Namanya juga kita tante. " Jawab Dion kembali.
Nita pun hanya menggelengkan kepalanya. Dia sudah hafal betul bagaimana tingkah anak dan keponakannya.
"Selamat Pagi bu, pagi Tisha. " Sapa Adyan dengan datar dan sopan.
"Pagi nak Adyan, udah nyampai ya. " Balas tante Nita dengan ramah.
"Siap, sudah ibu. " Balas Adyan dengan hormat. Dia pun menengok ke arah Tisha yang sedang berdekatan dengan Dion.
__ADS_1
"Formal amat bang, gini nih gue nggak mau nerusin opa. " Ucap Dion yang dapat hadiah cubitan dari tante Nita.
"Au.... sakit tan " Ucap Dion yang mengaduh karena cubitan tantenya.
. "Kalau bicara itu di pikir dulu jangan asal jeplak. Kebiasaan. " Balas tante Nita.
"Kan memang dia seperti itu mah, bagi dia hidup nggak ada Serius-seriusnya. " Tisha pun ikut menimpali.
"Ya harus dong. Hidup itu harus di buat enjoy biar nggak cepat tua. " Balas Dion kembali dengan santai.
"Ya udah tante, aku pamit dulu mo ke kantor. " Pamit Dion.
. "Ke kantor apa maen. Masak pakai baju kayak gitu. " Tisha pun menilai pakaian Dion.
"Ya ini namanya kerja santai. Kerja yes, santai juga yes. " Balas Dion dengan sombong.
"Ya udah hati-hati jangan ngebut. Salam buat mama dan papa kamu. Nanti kalau tante dan om libur pasti ke sana. " Pesan tante Nita.
"Beres."
"Kamu mau bareng aku nggak Sya? " Tawar Dion kepada Tisha.
"Biar bersama saya saja karena itu sudah tugas saya. " Adyan pun ikut menimpali.
Dion, Tisha dan tante Nita pun saling pandang ketika mendengar ucapan Adyan.
"Ya udah, Tisha sama abang aja kak berangkatnya. " Akhirnya Tisha pun memutuskan.
Dion pun akhirnya kembali ke mobilnya setelah berpamitan. Sedangkan Tisha dan Dion segera masuk ke dalam mobil Tisha yang sudah di ganti.
"Ehem.. " Adyan pun berdehem untuk membuka pembicaraan.
Tisha pun menatap sekilas dan kemudian menatap depan kembali.
"Dion itu siapa kamu? " Adyan pun bertanya kepada Tisha.
Tisha pun mengerutkan dahinya karena merasa aneh dengan pertanyaan Adyan.
"Memangnya kenapa bang? " Tisha pun balas bertanya.
"Nggak, cuma tanya saja. " Balas Adyan yang masih belum mau jujur dengan hatinya.
"*Kenapa susah sekali untuk berbicara jujur dengan nya. "...
__ADS_1
🌿🌿🌿🌿*