
Happy Reading...
🌹🌹🌹🌹
"Kalau nggak mau lihat seperti itu, tadi harusnya abang pilih film kartun buat anak-anak saja. " Ucap Tisha kembali.
Adyanpun tersenyum kaku mendengar ucapan Tisha. Dia pun merasa tak enak melihat Tisha yang cemberut karena merasa terganggu.
Setelah film selesai, Tisha pun keluar dengan wajah yang masih cemberut. Adyan merasa tak enak karena sudah mengganggu kenyamanan Tisha dalam menonton. Sedangkan Dion hanya ketawa melihat wajah Tisha yang tampak menggelikan.
. "Besok kalau aku nonton lagi, abang nggak usah ikut masuk. " Ucap Tisha telak setelah mereka berjalan keluar pintu bioskop.
Adyan hanya menganggukkan kepalanya saja tanpa menjawab karena ngerasa tak enak.
"Sya, mo makan dulu atau langsung pulang? " Tawar Dion.
"pulang aja deh kak, aku lagi malas banget. " Jawab Tisha dengan ketus.
"Ya udah ayo aku antar. " Ajak Dion dengan menarik lembut tangan Tisha.
"Biar Tisha pulang sama saya saja, karena itu sudah menjadi tugas saya. " Cegah Adyan kepada Dion yang akan mengajak Tisha.
Dion dan Tisha pun menghentikan langkah nya. Mereka berdua menengok ke arah Adyan yang ada di belakang.
"Tisha bisa pulang bersama kak Dion bang. " Tolak Tisha yang masih sedikit kesal dengan Adyan.
"Tapi kamu adalah tanggung jawab aku, suka atau tidak suka, kamu tetap pulang sama saya. " Ucap Adyan dengan nada sedikit keras. Sejak tadi dia sudah berusaha sabar melihat Tisha dan Dion yang tampak berdekatan di hadapannya. Dan sekarang entah karena kesal melihat Tisha yang di tarik dan dia tak menolaknya, membuat Adyan menjadi panas.
Tanpa persetujuan Tisha, Adyan pun menarik Tisha menjauh dari Dion. Dion hanya melongo melihat sepupunya di tarik dari genggamannya.
"Akhirnya." Sejurus kemudian Dion pun tersenyum simpul melihat adegan tadi. Diapun segera berjalan keluar mengekori Adyan yang menarik Tisha di depannya dengan jarak sedikit menjauh. Dia hanya ingin memberikan ruang kepada sepupunya dan pengawalnya.
"Bang, berhenti. Jangan narik-narik aku seperti ini. Aku bisa jalan sendiri. " Ucap Tisha yang sudah merasa lelah mengimbangi langkah Adyan yang menariknya.
Bruk
__ADS_1
Tisha pun menabrak punggung tegap Adyan yang berhenti mendadak di depannya.
"Auu..... " Teriak Tisha yang merasa sakit di jidatnya karena menabrak punggung Adyan.
"Bisa nggak sih kalau berhenti bilang dulu. " Ucap Tisha kembali dengan memegang dahinya.
Adyan pun menengok ke belakang dengan wajah datarnya. Wajahnya saat ini berubah dingin kembali seperti semula.
"Saya sudah mendapat tugas dari komandan saya untuk menjaga kamu. Dan saya mohon kerja samanya. " Ucap Adyan datar dengan sikap formalnya. Adyan pun menarik kembali Tisha menuju ke parkiran tanpa menunggu jawaban dari Tisha.
Tisha pun hanya melongo melihat perubahan sikap Adyan. Diapun hanya pasrah dan mengikuti kembali Adyan dari belakang.
"Aneh banget orang ini. " Guman Tisha dalam hatinya.
Setelah sampai di depan mobil Tisha, Adyan berjalan menuju ke pintu samping kemudi. Diapun membukakan pintu untuk Tisha.
Klik...
Pintu pun terbuka.
"Masuk." Perintah Adyan kepada Tisha dengan wajah dinginnya.
"Bushed dah, ini malah gue di tinggal kayak orang ilang aja. " Gerutu Dion yang kesal melihat Adyan menjalankan mobil tanpa berpamitan.
Dion pun ikut masuk kedalam mobilnya. Sebelum menjalankan mobilnya, dia menempatkan dirinya untuk mengirim pesan ke Tisha.
"Gimana, loe lihat kan jika dia cemburu sama dirimu? " Send ke Tisha.
Ting....
HP Tisha pun berbunyi. Diapun segera mengambil hpnya di dalam tas selempang dan segera membukanya.
"Masak sih kak??, Kayaknya biasa aja tuh. Wong biasanya wajahnya dingin kayak es. Tuh si bon cabe, mukanya asem banget kak. Di dalam mobil kayak kuburan. " Tisha pun membalas pesan dari sepupunya dan mengadukan apa yang ia rasakan.
Ting....
__ADS_1
HP Tisha pun berbunyi kembali.
"Lihat aja entar, sepertinya nanti kamu harus siap-siap beliin gue hadiah sesuai janji loe. 😜😜" Balas Dion dengan emoji meledek.
"Jangan senang dulu, toh dia juga belum nyatain suka sama aku. *Balas Tisha kembali dengan tersenyum dalam mengetik pesan balasan.
Adyan yang melihat Tisha tersenyum pun, penasaran dengan siapa Tisha bertukar pesan. Hawa panas di hatinya yang melihat Tisha dekat dengan seorang laki-laki dan sekarang ditambah Tisha malah senyum-senyum sendiri ketika berbalas pesan membuat hati Adyan semakin tak menentu.
"Kenapa aku merasakan tak rela jika dia berdekatan dengan laki-laki lain. " Guman Adyan dengan dua ekor matanya melirik ke arah Tisha yang masih memegang hpnya.
"Apa aku sudah benar-benar jatuh cinta kepada dirinya? " Adyan pun bertanya pada dirinya sendiri.
Diapun meremas stir kemudi untuk mengurangi rasa kesal dan gundah di hatinya. Seumur hidup dia tak pernah merasakan seperti ini. Sekarang dia merasa aneh dengan hatinya.
"Ish sial. Lebih baik melawan pemberontak dari pada harus mengalami situasi seperti ini. " Guman Adyan kembali.
"Ada apa bang? " Tisha memberanikan diri untuk bertanya kepada Adyan. Dia melihat sekilas wajah Adyan merasa kesal. Meskipun dia tahu Adyan sedang menahan rasa cemburu terhadap dirinya, tapi Tisha belum yakin sepenuhnya.
"Tidak ada. " Balas Adyan singkat dan ketus.
Tisha pun mengedikkan bahunya dan tak ingin bertanya kembali.
Adyan pun kembali fokus melajukan mobil menuju ke kediaman om Randy untuk mengantarkan Tisha. Meskipun dengan hati yang masih bergemuruh, dia tetap profesional dalam bertugasnya.
Setelah menempuh perjalanan 45 menit, mereka sudah sampai di depan rumah om Randy. Tisha pun segera melepaskan seatbelt di tubuhnya sebelum turun.
"Terimakasih." Ucap Tisha setelah membuka pintu mobil.
"Ya." Adyan pun hanya menjawab datar dengan melirik ke arah Tisha sekilas.
"Huh... " Tisha pun menarik napas dalam-dalam ketika mendengar jawaban singkat dari Adyan. Diapun tak memperdulikan lagi, kemudian dia turun dan segera masuk ke dalam rumah. Sedangkan Adyan, dia memarkirkan mobil ke garasi dan setelahnya dia mengambil sepeda motor sport nya untuk segera kembali ke tempat ia bertugas. Dia tidak ingin merasa lebih galau kembali jika ia masih berada di rumah Tisha.
Dengan wajah datar dan bergemuruh, diapun melakukan motornya dengan kecepatan sedang setelah berpamitan dengan petugas lainnya yang sedang bertugas di sana.
Entah apa yang Tuhan rencanakan pada hidupnya, perempuan yang dulu ia tolak mati-matian dan selalu ia hindari, saat ini seperti semesta menertawakan nya karena membuat hidup nya berjungkir balik tak menentu karena melihat ada laki-laki lain dekat dengan dia. Padahal dia juga belum tahu pasti siapa laki-laki itu sebenarnya.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹
Mohon maaf beberapa hari ini nggak bisa up setiap hari karena badan sedang tak bisa di ajak bekerja. 🙏🙏