Bunda Untuk Aira

Bunda Untuk Aira
Bangga


__ADS_3

Happy Reading...


****


Entah mengapa bayangan Tisha yang menyindir dan menjulukinya berseliweran di kepalanya.


"Sepertinya aku sudah menjadi gila gara-gara mikirin dia. Ish.... menyebalkan. " Gerutu Adyan yang masih setia terlentang di kasurnya.


Perlahan-lahan, matanya pun tertutup. Adyan sudah terbang di alam mimpinya.


Seorang wanita memakai dress motif bunga selutut dengan rambut bergerai berlarian mengitari taman yang penuh bunga. Ia tampak bahagia dengan senyuman yang selalu mengembang di bibir tipisnya.


Hingga membuat dia tambah cantik berkali lipat.


"Abang, ayo kesini kejar aku. " Panggil wanita tersebut dengan melambaikan tangannya.


Adyan pun terpukau dengan penampilan si gadis di depannya. Dia hanya diam tanpa berjalan tuk menghampirinya.


"Abang, ayo dong kesini. Ayo maen bareng. " Ajak si gadis kembali tang masih mengharapkan jika Adyan menghampirinya.


Dengan wajah cemberut, dia masih kembali menari dengan di iringi kupu-kupu yang berterbangan dengan warna-warni yang indah.


"Ayo dong abang, jangan diam saja di sana.


Tapi ketika akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba hujan deras mengguyur taman tersebut.


Dan gadis yang ingin di hampiri, perlahan-lahan menghilang akibat ada suara keras meneriakkan nama si bon cabe level 30 berkali-kali.


" Hei..... hei... hei. "Panggil Adyan yang tak menemukan gadis itu kembali.


Dan perlahan-lahan, dia pun bangun dari tidurnya.


Tok... tok.... tok....


" Abang bangun udah magrib. Abang bon cabe level 30 dan dingin kaya es batu ato bangun. "Teriak Shakila dengan mengedor-kedor pintu kamar Adyan.


Adyan yang merasa terganggu tidurnya pun membuka matanya perlahan-lahan.


" Eh, kenapa gue mimpian si cewek manja? "Tanya Adyan yang linglung.

__ADS_1


" Ish... apaan ini bisa-bisanya wajah si bar-bar muncul dalam tidurku. "Gerutu Adyan kembali.


" Abang.... ayo bangun kalau nggak aku laporin sama bunda, 1......"


"Ish tu anak juga ganggu aja. " Gerutu Adyan karena kesal di ganggu adiknya.


"Dua, ti.... "


Ceklek....


Adyan membuka pintu kamarnya dengan wajah cemberut.


"Apaan sih dek, ganggu aja. " Gerutu Adyan ke Shakila.


"Tu di suruh bunda, ni udah magrib pamali kalau tidur mo magrib. Makanya bunda nyuruh adik bangunin abang. Apalagi abang kalau di rumah paling kebo lo di bangunin. " Kelas Shakila.


"Ya udah gi kamu turun dulu, abang mo mandi dan siap-siap sholat berjama'ah. " Usir Adyan ke Shakila.


"Okey, abangku ganteng yang kayak bon cabe level 30."Ledek Shakila.


Sebelum Adyan menjawab, Shakila sudah kabur dari kamar Adyan karena dia tahu pasti si abang akan marah dan menjitak kepalanya.


" Ish... itu gara-gara si manja yang sudah mempengaruhi hal buruk pada Illa. "Ucap Adyan yang menyalahkan Tisha.


Adyan kembali menutup pintu kamarnya untuk segera mandi dan ber siap-siap untuk melaksanakan kewajibannya sebagai muslim.


Di keluarga Irsyad, terbiasa melaksanakan sholat magrib berjamaah khususnya. Karena di jam ini semua keluarga sudah berkumpul.


Adyan sudah memakai baju koko dan sarung. Tidak lupa pecis di kepalanya. Dia pun turun dari kamarnya menuju ke mushola yang tersedia di lantai bawah dekat dengan ruang makan.


Di sana, sudah ada ayah, bundanya dan Shakila serta ada 2 ajudan yang sedang berjaga.


"Abang hari ini jadi imam, mumpung abang di rumah. " Pinta Irsyad kepada putranya.


"Baik yah. " Jawab Adyan.


Adyan memposisikan dirinya sebagai imam di depan. Setelah memastikan shaf sudah rapi, dia pun mulai mengimami sholat magrib.


Setelah selesai, keluarga Irsyad berpindah ke meja makan. Di sana sudah tertata makanan yang sudah si masak Salma oleh bik Sumi yang masih setia mengabdi di keluarga Irsyad.

__ADS_1


"Sudah semuanya bi? " Tanya Salma yang sudah berada di meja makan.


"Sudah ibu. Ini tinggal ambil kue yang di buat ibu tadi buat desert. " Jawab bik Sumi dengan ramah.


"Ya sudah, tolong bawahan bapak dan pegawai yang lain di suruh makan malam juga ya. " Pinta Salma.


"Baik ibu. " Jawab bik Sumi kembali.


"Kalau begitu saya pamit ke belakang bu. " Pamit bik Sumi.


Bik Sumi pun berjalan menuju ke depan melalui pintu belakang. Beliau akan memanggil staf dan penjaga yang bertugas untuk makan malam.


Dulu Irsyad meminta semua yang bekerja di rumahnya untuk makan bersama di satu meja makan, tapi mereka merasa sungkan. Sehingga membuat Irsyad membuatkan meja makan lagi untuk para pekerja.


"Bang, bagaimana liburan kamu sejauh ini? " Tanya Irsyad setelah mereka selesai menyantap makan malam mereka. Tinggal menyantap makanan penutup yang di selingi dengan perbincangan.


"Alhamdulillah ayah, semuanya baik." Balas Adyan.


"Tadi pagi abang juga sempat main ke yon ***** menemui teman abang Letnan Darma. " Jelas Adyan.


"Abang nggak mau tugas di sini saja? " Tanya Salma.


"Kalau iya, biar ayah bantu. " Tambah Irsyad.


"Abang kepingin di sini yah, bun biar dekat sama keluarga. Tapi sebagai seorang abdi negara, abang harus siap dimana pun abang di tugaskan." Jelas Adyan.


"Terima kasih untuk tawaran ayah, tapi abang kepingin jika abang pindah di sini, abang ingin karena prestasi ataupun tugas dari atasan yah. Abang tidak mau dapat kenyamanan atau di istimewakan karena putra dari ayah. " Tolak Adyan secara harus.


"Abang juga ingin seperti bang Mario dan ayah ketika masih muda yang siap dimanapun ayah mendapat tugas. " Tambah Adyan kembali.


"Ayah bangga denganmu nak, dengan kekuasaan ayah kamu bisa mendapat prestasi lebih cepat, tapi kamu malah menolak dan ingin meraihnya dengan jerih payahmu sendiri. Semoga Allah selalu melindungimu." Ucap Irsyad yang merasa bangga dengan putranya.


. "Iya bang, bunda juga bangga sama kamu. Lebih baik kita berdiri di kaki kita sendiri dengan jerih payah kita sendiri. Itu akan ada rasa kebanggaan di hati kita. " Tambah Salma yang mendukung keputusan Adyan.


Irsyad dan Salma selalu mengajarkan kesederhanaan dan bekerja keras ketika mereka menginginkan sesuatu. Bukan dengan cara instan yang akhirnya akan merugikan mereka di kemudian hari.


"Emang ya si abang top markotop. " Puji Shakila kepada sang kakak.


Keluarga Irsyad yang minus Aira beserta keluarga, menikmati makan malam dengan sangat bahagia. Itu karena si putra satu-satunya sedang cuti, sehingga mereka bisa menikmati makan malam bersama kembali.

__ADS_1


****


__ADS_2