
**********
Tisha Athifah Rumaisha, gadis cantik bak model putri pasangan Randy dan Nita. Ayahnya yang seorang Pati dan mamanya yang berasal dari keluarga terpandang, membuat Tisha berkehidupan yang sangat berkecukupan tanpa kekurangan.
Meskipun begitu, tak pernah menjadikan dia menjadi wanita yang congak akan apa yang dia punya. Tisha, ya nama panggilan untuk gadis yang saat ini duduk di bangku kuliah jurusan Ekonomi management. Berbanding terbalik dengan sang Mama yang seorang dokter, Tisha tak tertarik untuk berkecimbung dengan dunia kesehatan. Dia malah tertarik dengan dunia bisnis hingga membuat dia membuka usaha butik.
Wajahnya yang cantik dan tubuh langsing tinggi semampai membuat banyak para lelaki yang mengejarnya. Tapi tak ada satupun yang memikat hatinya.
"Hi Tisha. " Sapa seorang laki-laki tampan yang sedang turun dari mobil Lamborghini.
"Hi... " Jawab Tisha singkat.
"Mo pulang dengan ku? " Punya sang laki-laki.
"Maaf ya, aku bawa mobil sendiri. " Tolak Tisha dan kemudian dia berjalan menuju ke arah mobilnya di parkiran kampus.
Si lelaki pun sangat kecewa akan penolakan gadis cantik tersebut. Tapi mo bagaimana lagi, jika gadis cantik yang hari ini memakai blouse pendek berenda dan rok pensil selutut dan tidak lupa rambutnya yang ia kucir kuda menambah keanggunannya sudah menolak dia berulang kali.
"Kamu gimana sih Sha, cowok ganteng gitu kamu tolak. Apalagi itu loh mobilnya Lamborghini keluaran limited edition. " Sungut Marsha sahabat Tisha. Dia heran dengan sahabatnya, banyak laki-laki keren dan dari keluarga terpandang yang mendekatinya tapi tak pernah dia Terima.
"Alah, palingan juga harta bokapnya. Gue baru bangga ma dia kalau dia beli itu semua dari hasil jerih payahnya. " Jawab Tisha dengan pandangan fokus ke depan karena di balik kemudi.
"Sumpah deh, gue heran sebenarnya lo normal nggak sih? " Tanya Marsya kembali.
"Enak aja, gini-gini gue masih suka laki-laki tampan kali. " Sungut Tisha yang tak Terima dirinya di anggap tak normal.
__ADS_1
"La terus itu, banyak cowok tampan yang deketin dirimu nggak pernah kamu tanggapin. " Tanya Marsya yang penasaran.
"Gue tu cuma cinta sama abang datar. Mo banyaknya cowok tampan yang deketin gue, masih kalah tampan dan gagah abang datar gue. " Jawab Tisha dengan tersenyum membayangkan wajah si abang datar.
"Idih, mana gue lihat. "
"Ogah, nanti lo embat lagi. " Jawab Tisha.
"Ish, emangnya gue si Lampir. Yang tega ngembat gebetan temannya. " Sungut Marsya yang mengingat Tina.
"Ish, curhat ni ye yang baru di tikung ma Tina. " Goda Tisha.
"Nyebelin banget ih kamu tu. " Marsha pun cemberut karena godaan Tisha.
Tisha pun hanya tertawa melihat sahabatnya yang cemberut akan godaannya.
******
"Ya bun, nanti abang juga mo mampir ke Yon dulu mumpung masih cuti. " Balas Adyan yang sedang mengoles roti dengan selai coklat kesukaannya.
Dia ingat, ketika masih kecil dia akan berebut dengan kakaknya Aira ketika mengoles roti dengan selai coklat. Dan akan berakhir dengan kemarahan sang bunda karena selai coklat akan mengenai baju mereka.
"Oh ya bun salam buat kak Aira dan bang Rio, tolong sampaikan maafku yang bum bisa mengunjunginya. Semoga kakak di lancarkan di persalina keduanya. " Ucap Adyan menambahkan.
"Iya bang, nanti bunda sampaikan. Kakakmu pasti mengerti dengan kesibukanmu." Balas Salma dengan tersenyum. Di usianya yang sudah lebih setengah abad tak mengurangi kecantikannya. Tak ada kerutan di bawah matanya.
__ADS_1
"Dan nanti titip hadiah buat Maira ya bun, bilangin kalau uncle tampan kangen sama Maira. " Ucap Adyan kembali.
"Idih tampan apa, uncle es batu yang benar. " Cibir Syakila kepada kakaknya.
"Idih sewot, bilang aja iri nggak dapat hadiah dariku kamu? " Balas Adyan kepada adiknya.
"Ih gr banget, nanti minta bunda sama ayah beliin juga di beliin. " Bela Syakila.
"Dasar anak manja. " Cibir Adyan.
"Biarin wek. " Balas Syakila dengan menjulurkan lidahnya tanda meledek sang kakak.
"Kalian itu loh kalau kumpul bersama berantem melulu, apalagi kalau di tambah kakak udah persis kayak pasar tumpah. " Ucap Salma yang pusing mendengar kedua anaknya yang sedang beradu argumen.
"Namanya juga kakak beradik bun, kalau nggak gitu nggak rame ni rumah. " Ucap Irsyad membela kedua anaknya.
"Ayah mesti gitu. " Ucap Salma cemberut.
Irsyad pun hanya tertawa melihat istrinya cemberut. Di usinya yang sudah 50-an lebih dan sebentar lagi akan pensiun dari tugasnya tak memudarkan kegagahan dan ketampanan di masa lalunya.
Dan sekarang, Perjuangannya di lanjutkan oleh sang putra. Adyan mengikuti jejak sang ayah menjadi seorang abdi negara. Otaknya yang jenius, membuat dia meraih penghargaan Adhi Makayasa di lulusannya. Berbeda dengan karirnya yang mentereng, sifatnya yang dingin dan tegas membuatnya saat ini tak pernah memikirkan berhubungan dengan lain jenis. Bukan karena dia bermasalah, tapi memang dia sedang fokus dengan karirnya. Meskipun banyak wanita cantik dari kalangan model ataupun putri dari rekan ayahnya yang mendekati, tapi tak satupun yang dapat memikat hatinya.
Ya, Adyan Rafif Al Mair putra kedua Irsyad yang terkenal tegas dan berwajah dingin seperti bongkahan es batu di Kutub Utara.
********
__ADS_1
Ye, maaf ya aku ketik sekarang karena ide yang tiba-tiba muncul sayang jika tak di tuangkan nanti malah lupa. Untuk yang menginginkan cerita Aira tamat baru lanjut ke cerita selanjutnya, jangan khawatir saya akan fokus ke cerita Aira dulu. Untuk cerita Adyan dan Tisha hanya selingan saja. Jika ada ide ya langsung aq up biar tidak lupa. 😊