Bunda Untuk Aira

Bunda Untuk Aira
Menyebalkan...


__ADS_3

Happy reading...


. " Yang nabrak mobil gue tu si manusia es mulut bon cabe level 30." Jelas Tisha.


"What......? " Teriak Marsya yang kaget.


"Emang si manusia es mulut bon cabe level 30 itu siapa sih Tis? " Marsya bertanya kembali dan kebiasaan Lolanya kambuh lagi.


"Ish mulai deh. " Tisha pun jengkel dengan temannya.


"Ya kan gue nggak tahu siapa tu mulut on cabe. Kalau si manusia es gue tahu. " Ucap Marsya kembali yang masih belum paham.


"Manusia es dan si mulut bon cabe juga sama aja. Orangnya sama. Dia si abang Adyan yang udah nolak gue dengan mengenaskan. " Jelas Tisha dengan satu tarik napas.


"Hehehehe... hihihi.... ya maaf, gue kan belum ngeh aja." Ngeles Marsya.


Tisha pun memutar matanya karena jengah dengan sahabat satu-satunya yang selalu setia sama dia dari jaman SMA. Yang dulu hanya ada yang berteman dengan dia karena kekayaan orang tuanya, tapi Marsya berbeda dia adalah sahabatnya yang tak memandang status Tisha.


"La terus tadi gimana habis dia nabrak mobil lo? "


"dia marah-marah seperti biasanya Sekarang nggak hanya tu muka yang seperti es batu anyep-anyep gitu. Ia juga berubah jadi orang bermulut pedas kayak bon cabe level 30." Jelas Tisha dengan berapi-api ketika mengingat kejadian tadi pagi.


"Hahahaha........ " Marsya pun tertawa terpingkal-pingkal.


"Gue jadi penasaran dah, gimana muka loe waktu ngadepin si manusia es itu. Masih jadi cewek centil yang ngejar-ngejar dia kayak urat malunya putus atau bagaimana. " Jelas Marsya yang tak henti meledek Tisha.


"Enak aja, gue buka Tisha yang 1 tahun dahulu atau 4 tahun yang lalu ya. Gue sekarang adalah Tisha mandiri bukan anak manja seperti apa yang ia judge ke gue." Protes Tisha.


"Tapi hati loe tetap nggak berubah kan untuk dia? " Tanya Marsya menyelidik.


. "Kalau itu, ya gimana dong gue nggak bisa bohongin perasaan gue terhadap si bon cabe. perasaan gue nggak mau berubah terhadapnya. " Jelas Tisha kembali.


"Kalau masalah hati gue nggak bisa ikut campur dah. Itu hati loe yang bisa ngerasain juga loe. Tapi saran gue sekarang mending loe jangan kayak 1 tahun yang lalu secara terang-terangan mendekati dia tanpa urat malu. " Saran Marsya meskipun di selingi dengan menyindir nya.


"Ish... awalnya aja sarannya bagus, tapi akhir-akhirnya juga masih nyindir aja. "Gerutu Tisha yang di balas Marsya dengan ketawa. Saking amazingnya dia tertawa, ada beberapa mahasiswa yang sedang berada di kantin memperhatikan nya.


" Kalau untuk deketin dia lagi, gue udah punya cara. Yang pastinya cara gue sekarang lebih elegan. "Tisha pun melontarkan rencananya dengan senyum smirknya.


Marsya pun hanya menggelengkan kepalanya mendengar apa yang Tisha ucapkan.

__ADS_1


Setelah menghabiskan makanannya, Tisha dan Marsya kembali ke kelas. Hari ini masih ada 1 kelas kembali. Rencana Mereka berdua akan pergi ke toko buku di Mal terbesar di kotanya untuk mencari referensi penyusunan skripsinya.


**


Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua. Tisha dan Marsya sudah berada di depan Mal sesuai rencana mereka.


"Sha, kita cari mushola dulu deh sebelum nyari buku. " Usul Tisha setelah melihat jam di lingkar tangan putihnya.


"Ayo dah. " Jawab Marsya mengiyakan ajakan Tisha.


Marsya sangat kagum dengan sahabatnya. Meskipun bicaranya yang asal jeplak dan pakaian yang terkadang sexy, tapi untuk urusan agama dia menomor satukan.


Mereka pun naik menuju lantai 3 dimana mushola berada. Dengan naik eskalator, mereka menuju kesana.


Setelah sampai lantai 3, mereka segera bergegas menuju mushola. Tidak lupa mereka melepas alas kaki sebelum masuk ke dalam. Mereka mengambil air wudhu bersamaan dan kemudian masuk untuk melaksanakan sholat Dhuhur.


Siang ini, mushola tampak masih ramai. Tapi, Tisha dan Marsya tak pernah lupa membawa mukenanya sendiri di dalam tasnya. Sehingga mereka tak perlu mengantri.


Tisha dan Marsya pun melaksanakan sholat dengan khusuk. Setelah selesai, mereka sedikit berbenah dengan memaki lipstik di bibirnya agar tak terlihat pucat.


"Kak Tisha. " Panggil seorang cewek kepada Tisha.


"Loh Illa, kamu disini juga ya? " Jawab Tisha yang kaget dengan keberadaan Shakila adik dari Adyan.


"Iya kak. Ni barusan sholat juga. " Balas Shakila cewek remaja yang saat ini sudah duduk di kelas 2 SMA.


"Oh ya kak Tisha mo pergi kemana ini? " Tanya Shakila kembali.


"Ini kakak mo nyari buku buat referensi skripsi kakak. " Jelas Tisha.


"Oh ya kalau kamu mi kemana Illa? "


"Sama dong kak, Illa juga mo nyari buku." Balas Illa dengan tersenyum. Jika tersenyum, Shakila akan mirip dengan Adyan versi perempuan. Bundanya yang cantik dan ayahnya tampan sehingga wajar jika putra dan putrinya mewarisi ketampanan dan kecantikan orang tuanya.


"Ya udah kita barengan aja Illa. " Ajak Tisha.


"Oh ya sampai lupa, kenalin ini teman kakak namanya kak Marsya? " Tisha pun memperkenalkan Marsya ke pada Shakila.


"Salam kenal kak. Namaku Shakila. Dan panggil aja Illa. " Ucap Shakila dengan ramah dan tidak lupa menjulurkan tangannya kepada Marsya.

__ADS_1


"Oh ya dek, salam kenal juga. Nama kakak Marsya. Panggil kak Marsya saja dek tapi jangan di tambahin and the bear ya. " Jawab Marsya dengan kebiasaan banyolnya.


Shakila pun tertawa mendengar jawaban Marsya. Tak terkecuali dengan Tisha.


"Oh ya, tadi kamu kesini sama siapa dek? " Tanya Tisha kembali.


"Sama abang kak, pasti ni abang udah nunggu di luar. " Balas Shakila. "Ayo kita keluar kak? "Ajak Shakila.


Deg....


Jantung Tisha pun berdetak tak terkendali ketika mendengar abang di sebutkan Shakila.


" Ngapain juga ketemu si manusia es lagi. "Gerutu Tisha dalam hatinya.


Karena ia sudah menawarkan untuk pergi ke buku bersama, jadi Tisha pun mengikuti Shakila untuk menuju depan bersama Marsya.


" Lama banget dek?. "gerutu Adyan setelah melihat sang adik keluar. Dia tak memperhatikan seseorang yang berjalan di belakang Shakila.


" Maaf abang ku yang bawel, tadi ketemu kak Tisha di dalam jadi aku ajak ngobrol dulu. "Jelas Shakila.


"Kak Tisha kak Marsya ayo kesini. " Panggil Shakila.


Deg....


"Ngapain juga ketemu ni cewek. " Adyan pun juga ikut membatin.


"Oh ya Illa. " Jawab Tisha yang berpura-pura biasa saja dengan menyeret Marsya.


"Ngapain kamu di sini? " Tanya Adyan dengan sewot.


"Ya sholat lah, masak di mushola mo makan. " Balas Tisha yang ikutan sewot.


"Aku kira dirimu di sini mo nyalon. " Sindir Adyan dengan pedasnya.


"Ish emang dasar manusia es mulut bon cabe level 30. Lo bicara nggak di pikir dulu. " Gerutu Tisha dengan wajah sinisnya.


Shakila dan Marsya pun saling pandang ketika mendengar pertengkaran 2 orang berbeda jenis kelamin di depan mereka.


****

__ADS_1


__ADS_2