
**Happy Reading.....
💓💓💓💓💓💓💓💓**
"Sabar Nit,pasti ada hikmah di setiap kejadian ini."Ucap Riri lirih menenangkan Nita.
"Aku tidak tahu hubungan mereka sampai sejauh ini Ri,pantas saja mas Randi selalu alasan dinas luar pas Mona lepas dinas."
"Kenapa ini harus terjadi padaku Ri,hik....hik....."
"Maafin aku juga Nit yang nggak cerita langsung sama kamu. Sebenarnya kemarin aku sempat lihat suamimu dan Mona masuk ke hotel itu ketika aku dan temanku di kafe. Tapi aku nggak berani cerita sama kamu,takutnya kamu tidak percaya sama aku."Jelas Riri yang masih memeluk Nita.
"Hik....hik...hik....aku nggak menyangka mereka menyakiti aku seperti ini."Isak Nita.
"Mengapa mereka bisa kecelakaan seperti ini Nit?" Selidik Riri dengan membantu Nita duduk di depan IGD.
"Kejadian itu terlalu cepat Ri,aku berada di belakang mereka dan beberapa saat aku melihat mobil mas Randi oleng dan menabrak pembatas jalan. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada mereka."Jelas Nita.
"Aku nggak tahu apa yang terjadi pada mereka. Sekarang Mona sudah pergi Ri,entah apa aku bisa maafin dia setelah kejadian ini."
"Kamu harus maafin dia Nit,meskipun perbuatannya sudah terlalu jahat sama kamu tapi sekarang dia sudah pergi kamu harus maafin biar dia tenang di sana." Bujuk Riri.
"Entahlah Ri,a....ku nggak kuat Ri."Ucap Nita yang masih sesenggukan.
Tak berselang lama,dokter kembali untuk memberikan info tentang keadaan Randi.
Cklek....... Suara pintu IGD terbuka.
"Keluarga korban?" Ucap dokter dengan nama Ridwan di sneilnya.
"I...ya dok,saya istrinya. Bagaimana keadaan suami saya dok?" Jawab Nita yang sudah berdiri setelah melihat dokter keluar dari ruangan.
"Maaf bu,keadaan pasien saat ini masih kritis. Karena benturan di kepalanya,beliau mengalami pendarahan dalam otaknya jadi harus segera di operasi untuk menghentikan pendarahannya. Dan satu lagi bu,karena kedua kaki suami ibu tergencat badan mobil,kemungkin beliau akan mengalami kelumpuhan. Semoga saja tidak permanen."Jelas dokter yang merasa kasihan.
Deg......
"Ba...ik dok,tolong selamatkan suami saya. Lakukan yang terbaik buat dia." Jawab Nita yang kaget mendengar kondisi sang suami.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin bu untuk kesembuhan suami ibum Silahkan ibu ikut suster untuk menandatangani surat persetujuan." Tambah sang dokter.
"Terima kasih dok."
"Ri.....mas Randi Ri.Hiks........."
"Sabar Nit,berdoa saja semoga Allah memberikan kesembuhan pada suamimu." Ucap Riri menenangkan Nita.
"Iya Ri,aku kebagian administrasi dulu." Pamit Nita.
Nita pun mengikuti suster untuk mengurus administrasi penanganan Randi. Dengan wajah sembab dan sedikit terisak dia berjalan lunglai.
"Semoga setelah kejadian ini,kamu akan bahagia Nit. Sebenarnya kamu orang yang baik Nit. Tapi terkadang dirimu egois dalam beberapa hal. "Ucap Riri dalam hati dengan melihat kepergian Nita.
💓💓💓💓💓💓💓💓💓
"Assalamualaikum dek." Ucap Irsyad setelah sampai ke dalam rumahnya.
"Waalaikum salam mas. Kok sudah pulang?" Jawab Salma dan tidak lupa menci tangan suaminya untuk menyambut kedatangannya.
"Ada kabar duka dek,bang Randii tadi kecelakaan dek. Sekarang berada di rumah sakit P******." Ucap Irsyad.
"Innalillahi wa Inna lillahi Roji'un. Sekarang bagaimana keadaan om Randi mas?" Jawab Salma kaget mendengar berita tersebut. Merekapun bercerita dengan duduk di ruang tamu.
"Belum tahu kabar selanjutnya dek,tapi kata bang Ramon mobil bang Randi rusak parah tadi beliau melihatnya waktu lewat di lokasi kejadian."
__ADS_1
"Ya udah,sekarang kita tengok om Randi mas. Kita kasih semangat buat mbak Nita. Pasti beliau saat ini sangat sedih." Pinta Salma.
"Ya dek,ini om Irfan juga tadi hubungi mas ngajak lihat keadaan om Randi." Ucap Irsyad.
"Ya mas,meskipun selama ini mbak Nita tidak begitu baik sama Salma,tapi sebagai tetangga kita harus saling membantu dan menghibur mas. Salma juga tidak dendam selama ini sama mbak Nita. Semoga beliau di beri ketabahan ya mas dengan cobaan ini." Jelas Salma yang merasa kasihan dengan Nita. Dia membayangkan jika berada di posisi Nita.
"Benar dek,kita tidak boleh dendam sama orang yang benci dan menghina kita. Apalagi tertawa melihat orang yang menghina kita sedang tertimpa musibah. Cukup do'akan yang terbaik agar do'a itu kembali juga pada kita." Tambah Irsyad.
"Betul itu mas." Jawab Salma dengan tersenyum.
"Oh ya nanti Aira kita ajak kan mas ke rumah sakit?"
"Ya nanti kita ajak saja apalagi nanti juga ada Rio jadi mereka bisa bermain berdua dahulu di Playground yang tersedia di sana."
"Iya mas,Salma mo menghampiri Aira dulu di kamarnya sekalian siap-siap."Pamit Salma.
"Ya dek,mas juga mo siap-siap juga."
Salma masuk ke kamar Aira setelah berpamitan dengan suaminya. Dia melihat Aira sedang asyik dengan berbagai macam crayon untuk mewarnai gambar dari sekolahnya.
"Sayang,gambarnya sudah selesai belum?" Tanya Salma setelah sampai di kamar Aira dan menghampirinya.
"Belum bunda,tinggal sedikit." Jawab Aura yang masih fokus dengan mewarnainya.
"Aira lanjutkan gambarnya nanti lagi ya,kita sekarang jenguk om Randi di rumah sakit dulu sama ayah." Ajak Salma dengan membelai lembut rambut Aira.
"Om Landi Sakit ya bunda?" Tanya Aira dengan polosnya dan dia menghentikan aktifitas menggambar nya.
"Iya sayang,makanya kita harus jenguk om." Jawab Salma.
"Kasihan tante Nita ya bun,pasti sekalang sedih." Ucap Aira dengan nada sedih. Wajah Aira tampak imut.
"Makanya sayang bunda ajak Aira jenguk om,jadi nanti kita bisa menghibur tante Nita biar nggak sedih lagi." Jelas Salma.
"Sekarang kita bereskan dulu peralatan Aira baru kita siap-siap ya." Ajak Salma.
"Siap bunda." Jawab Aira dengan posisi hormat.
Salma dan Irsyad selalu mengajarkan kepada Aira untuk berbagi dan berbuat baik kepada teman-temannya. Mereka juga mengajarkan secara langsung dengan mengajak Aira di panti asuhan agar dia belajar mau memahami keadaan di sekelilingnya. Hal inilah yang membuat Aira tumbuh menjadi gadis kecil yang baik terhadap teman-temannya.
❤❤❤❤❤❤❤
"Bunda dan putri ayah sudah siap?" Tanya Irsyad yang sudah berdiri di ruang tamu menunggu kehadiran istri dan putrinya.
"Sudah yah." Jawab Salma Aira bersama.
"Let's go."Ajak Irsyad.
Irsyad dan keluarga kecilnyapun keluar bersamaan dari dalam rumahnya. Di depan teras,sudah ada keluarga Irfan yang menunggu kedatangan keluarga Irsyad.
"Suh,sudah lama menunggunya?" Tanya Irsyad setelah keluar rumah.
"Barusan juga suh,bagaimana ini kita pergi ke sana nya mau bawa mobil sendiri atau 1 saja?"Ucap Irfan.
"Kalau menurut mama sih pa kita bawa 1 saja biar rame dan mama bisa ngobrol sama tante Salma." Bujuk Rosa kepada suaminya.
"Benar ma,nanti kan Rio bisa duduk bareng Aira." Tambah Rio yang sudah berada di dekat Aira. Rio selalu senang jika berdekatan dengan Aira,jadi dimanapun ada kesempatan Rio akan selalu mendekati Aira.
"Eh bocah anaknya siapa sih ini,udah ganjen banget sama anak orang." Ucap Irfan yang jengah dengan kelakuan putranya.
"Ya anak papa dan mama lah,masak anak kodok. Kalau Rio anak kodok berarti papa juga kodok dong.Hahahha." Jawab Rio dengan tertawa terbahak-bahak.
"Enak saja ngatain papa kodok,ganteng kayak gini di bilang kodok.Kamu tu anak kecebong yang geganjenan." Tambah Irfan.
__ADS_1
"Sudah deh kalian tu ya anak sama bapak sukanya ribut saja. Kamu lagi mas sudah tua nggak mau ngalah sama anak kecil." Ucap Rosa menengahi.
"Makanya suh kalau bikin tu pakai bismillah,bukan asal buat saja." Tambah Irsyad yang geli mendengar berdebatan bapak dan anaknya.
"Tiap buat juga baca bismillah Suh,tapi entah deh dia mirip siapa." Adu Irfan.
"Ya mirip kamu lah,sifatnya sama keras kepala dan nggak mau ngalah. Aku kan cuma sebagai penampung sementara." Jawab Rosa.
"Ini malah bahas hal seperti ini sih,kapan berangkatnya. Ini juga kalau bicara pada nggak di filter padahal ada bocah di bawah umur ni." Ucap Salma. Sedangkan Aira hanya melihat perdebatan itu saja karena dia tidak paham dengan apa yang sedang orang dewasa ucapkan.
"Hehhehe,maaf dek. Ya udah kita bawa 1 mobil saja biar cepat." Putus Irsyad.
"Ya udah bawa mobil kamu saja suh yang besar." Ucap Irfan.
"Asyik......."Teriak Rio kegirangan. " Nanti kita bisa ngobrol bersama ya Aira." Ucap Rio kepada Aira.
"Iya Lio." Jawab Aira.
Kedua keluarga itu pun akhirnya berangkat ke rumah sakit dengan mengendarai mobil Irsyad. Irsyad dan Irfan duduk di depan,Irsyad yang menyetir. Sedangkan Aira dan Rio di kursi paling belakang karena mereka ingin duduk bersama tanpa di ganggu. Dan para ibu duduk di jok tengah.
"Aira,besok maen sepeda lagi ya?" Ajak Rio kepada Aira.
"Boleh,tapi Lio jangan tinggalin Aila waktu naik sepeda. Kan Aila nggak bisa kencang-kencang naik sepedanya nanti di malahin ayah kalau jatuh." Jawab Aira.
"Ok Aira. Nanti Rio nggak ninggalin Aira lagi. Tapi Aira juga jangan ajak Raiyan. Kan Rio nggak suka." Ucap Rio dengan nada cemburu ala-ala bocah.
"Idih,ni anak bisa juga cemburu. Salah nyidam apa aku dulu mbak,kok bisa anakku umur segini udah tahu cemburu segala." Ucap Rosa yang mendengar nada cemburu putranya.
"Namanya juga anak-anak mbak,mungkin Rio merasa nyaman sama Aira waktu main jadi dia nggak suka kalau di ganggu teman yang lainnya."Jelas Salma.
"Kayaknya kalau anak kita sudah besar,kita jadi besanan ni Suh." Ucap Irfan kepada Irsyad yang sedang fokus mengemudi.
"Masih lama tu suh,anak kita juga baru piyek udah bahas besanan segala." Jawab Irsyad yang jengah dengan teman satu angkatannya ini. Sejak dulu Irfan memang sudah terkenal dengan kebanyolannya yang membuat teman-temannya senang jika berada di dekatnya. Dan sifatnya ini tak pernah berubah sampai saat ini.
Tak terasa mobil yang di kendarai Irsyad sudah sampai di parkiran rumah sakit dimana Randi di rawat. Mereka turun bersama setelah mobil terpakir. Kemudian berjalan masuk ke dalam bersama-sama.
Di dalam,ada area Playground khusus anak-anak yang diajak berkunjung ke rumah sakit. Di sana juga ada security yang membantu mengawasi anak-anak yang di tinggal orang tuanya menjnguk pasien. Ada ayunan,puzzle dan beberapa mainan lainnya.
"Aira sama Rio tunggu sini dulu ya dan jangan kemana-mana. Kita mau jenguk om Randi dulu sebentar. Karena kalian masih anak-anak jadi tidak boleh masuk." Jelas Salma kepada Aira dan Rio.
"Siap tante,nanti Rio jaga Aira deh." Jawab Rio.
"Terimakasih sayang,tante percaya sama Rio." Tambah Salma.
"Bunda,Aila kesana dulu ya sama Lio." Pamit Aira menunjuk area permainan.
"Iya sayang,hati-hati ya." Jawab Salma.
"Siap bunda,tante." Jawab Aira dan Rio bersama.
Aira dan Rio pun berjalan menuju area bermain. Disana,Salma dan Rosa meminta tolong kepada security untuk mengawasi sebentar putra dan putrinya. Untung disana tidak ramai dengan anak-anak,jadi security lbih mudah mengawasi Rio dan Aira.
Setelah Irsyad dan Irfan bertanya kepada bagian informasi tentang keberadaan Randi,mereka menghampiri istri mereka untuk segera menuju ruangan Randi.
Menurut informasi,Randi sedang menjalankan operasi. sehingga merekapun berjalan menuju tempat operasi pasien setelah selesai menitipkan Aira dan Rio.
Mereka berjalan beriringan,tampak di depan ruang operasi ada 2 wanita yang sedang menunggu Randi.
"Mbak Nita...." Panggil Salma dan Rosa bersama setelah sampai disana. Mereka melihat Nita dalam keadaan kacau dengan menangis terisak.
Nita pun mendongakkan wajahnya setelah mendengar namanya di panggil. Nita sedang berdiri dengan di dampingi Riri.
"Mbak Salma...........
__ADS_1
To be continue.......