
Happy Reading...
********
10 Tahun kemudian....
Tampak gadis cantik yang baru lulus Sekolah Menengah Atas sibuk belajar menyiapkan diri untuk mendaftar ke Perguruan Tinggi favorit yang dia pilih di kota Y.
Dia sangat berusaha keras untuk belajar agar di terima di Fakultas Kedokteran sesuai dengan cita-citanya. Dan juga janji dia kepada seseorang. Ya seseorang yang namanya sampai saat ini selalu ada di hatinya.
"Kakak......" Teriak gadis kecil anak ke tiga pasangan Irsyad dan Salma, yaitu Shakila Adiba Atmarini. Gadis kecil yang cantik mewarisi sang bunda.
"Adek jangan teriak-teriak sayang. Kakak baru belajar. Maen sama abang saja."Bujuk Salma yang tidak ingin putri kecilnya mengganggu sang kakak yang sedang fokus belajar.
"Nggak mau bun,abang nggak mau maen sama adek. Adek resek kalau sama abang." Rajuk Adyan yang menolak bermain sama adeknya karena sifat adiknya yang jail dan suka mengganggu Adyan ketika bermain. Pasti ada-ada saja yang terjadi dengan Adyan,dari wajahnya yang penuh coretan krayon atau bajunya yang harus kotor karena ulah adiknya. Meskipun seperti itu,Adyan tetap sayang adiknya.
Shakila Adiba Atmarini lahir ketika usia Adyan memasuki 5 tahun. Salma mendapat kepercayaan kembali untuk mengandung anak keduanya. Meskipun sudah ada 2 anak yang lahir dari rahimnya,tetap saja Aira akan selalu menjadi putri sulungnya.
Untuk Irsyad,di usianya yang sudah kepala empat semakin gagah dan cemerlang dalam karirnya. Dia sangat bersyukur di karunia istri yang cantik dan sangat menyayangi putra-putrinya tanpa membeda-bedakan kasih sayangnya. Dia bersyukur menikahi wanita pilihan sang putri,karena sifatnya yang lembut dan penyayang menjadikan sosok istri yang pas di ajak Irsyad menjalankan rumah tangga yang terkadang ada pasang surutnya. Perempuan sholehah dan selalu bebakti kepada sang suami. Sosok bunda yang mendidik putra-putrinya menjadi anak sholeh dan sholehah maupun cerdas. Itulah kebanggan Irsyad memiliki Salma.
Di usia pernikahan yang memasuki 11 tahun ini, mereka masih saling kompak dan damai. Tanpa hari tanpa canda dan gurau di rumah mereka. Hingga membuat orang yang melintas di depan rumah mereka,selalu iri melihat kerukunan dan kebahagiaan di dalam rumah. Apalagi pangkat Irsyad dan jabatan yang lumayan di kesatuannya,membuat keluarganya menjadi contoh untuk anggotanya. Istri yang lembut yang mampu mengayomi dan mendapingi sang suami,dan putra-putri yang tidak pernah menyombongkan dirinya dengan jabatan yang di emban sang ayah. Itulah hasil didikan sang bunda.
"Akila mau maen sama kakak bunda,Akila nggak mau maen sama abang. Abang sering buat adik jengkel." Rajuk bocah cilik kepada bundanya.
"Abang juga nggak mau maen sama adek,Wek." Tambang Adyan mengejek sang adik dengan menjulurkan lidahnya.
"Itu bunda abang nakal." Lapor Akila yang mulai berkaca-kaca.
"Abang,nggak boleh gitu dong." Pinta Salma dengan lembut.
"Hehehe,abisnya abang gemes sama adek bunda." Jawab Adyan dengan cengiran.
__ADS_1
"Sini Akila maen sama kakak saja." Ucap Aira setelah keluar dari kamarnya. Di paksakan seperti apapun untuk belajar, jika adik kecilnya merajuk semua yang dia pelajari akan sia-sia. Karena sang adik tidak akan mau diam sebelum sang kakak turun tangan menghadapi keinginan si gadis kecil tersebut.
"Kakak kan baru belajar,selesaikan duku aja kak. Biar adek sama bunda." Ucap Salma.
"Nggak pa-pa bun,nanti sama saja adik pasti rewel kalau belum bermain sama kakak." Jawab Aira dengan lembut. Semakin bertambahnya usia,Aira tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik dan bertambah dewasa. Selalu bisa menengahi antara kedua adiknya yang sering berantem.
"Ya sudah bunda mau menyelesaikan masak dulu buat makan siang." Pamit Salma.
Salma pun kembali ke dapur. Salma masih tetap seperti dahulu,meskipun jabatan sang suami yang bertambah tinggi, tak membuat dia menjadi lupa akan kodratnya. Tetap melakukan pekerjaan rumah dengan tangannya sendiri. Dan dibantu oleh sang putri Aira. Salma sudah mendidik Aira untuk bisa memasak dan hidup mandiri, Salma tak ingin jika sang putri akan menjadi wanita yang manja ketika ia sudah berumah tangga kelak. Sehingga, ketika Aira duduk di bangku SMP Salma sudah mengajarkan beberapa contoh pekerjaan rumah yang harus wanita kuasai. Meskipun ketika SD Aira sudah mau membantu Salma tanpa paksaan.
"Masak apa bun?" Tanya Irsyad yang baru saja berada di dapur.
"Ayah ngagetin saja." Jawab Salma yang kaget kehadiran sang suami secara tiba-tiba.
"Masak ayam kecap sayur cap cay,cumi tepung dan tidak ketinggalan kesukaan ayah sambal terasi." Tambah Salma dengan menunjukkan cap cay yang sedang ia masak.
"Hemmmm.... harum. Bunda memang the best untuk urusan perut." Goda Irsyad dengan memeluk sang istri dari belakang.
"Ayah kebiasaan ih,bunda baru masak ni yah. Dan nggak enak nanti jika anak-anak lihat." Jawab Salma.
Irsyad selalu menghabiskan waktu liburan nya di rumah bersama keluarga. Hari libur adalah hari yang sangat berharga untuknya karena setiap hari waktunya di habiskan untuk kesibukannya di luar.
"Anak-anak kemana bun?" Tanya Irsyad setelah melepaskan pelukannya dari sang istri.
"Putri kecil ayah baru merajuk ingin maen sama kakak,jadi tadi di ajak kakak ke depan buat maen ayunan. Kalau abang baru lihat TV di depan sambil biasa yah pasti mengotak-atik mainan nya. Kalau nggak rusak pasti jadi bentuk mainan yang abstrak. " Jelas Salma menceritakan tingkah sang putra-putrinya.
"Tidak terasa ya bun,usia pernikahan kita sudah memasuki 11 tahun. Sepertinya baru kemarin kita nikah,baru kemarin kita salah paham dan hampir membatalkan pernikahan. Dan sekarang kita sudah di karunia 3 putra dan putri yang tampan dan cantik dan cerdas."Ucap Irsyad menerawang jauh awal mula bertemu dan sampai ke tahap pernikahan.
"Iya yah,bunda bersyukur bisa menjadi istri ayah cinta pertama bunda. Dan sekarang menjadi ayah dan suami yang akan selalu bunda cintai hingga akhir hayat bunda." Jawab Salma berbalik kearah sang suami setelah mematikan kompor.
"Ayah juga akan selalu menyayangi bunda hingga akhir hayat ayah."Ucap Irsyad dengan mencium lembut dahi sang istri.
__ADS_1
"Bunda adik sudah lapar." Teriak Akila masuk ke dapur di ikuti Aira.
"Upz.... maaf ayah bunda sudah mengganggu." Ucap Aira tidak enak yang menggaanggu kemesraan kedua orang tuanya.
Salma pun malu-malu dengan pipi merona kepergok sedang bermesraan dengan Irsyad.
"Ehem...."(Irsyad berdehem sebentar untuk mengurangi kegugupannya karena kepergok sang putri).
"Kok maennya sudahan dek?" Tanya Irsyad kepada Akila.
"Adik udah lapar yah,makanya adik udahan maennya." Jawab Akila dengan cerewet.
"Ini udah selesai sayang,sekarang adik panggil abang dulu sana biar bunda dan kakak menata makanannya di meja makan." Pinta Salma.
"Okey bunda." Jawab Akila dan berlari manggil si abang di ruang keluarga.
"Ayah kesana dulu ya." Pamit Irsyad.
Salma pun menganggukkan kepalanya. Dengan perlahan dia menata makanan ke dalam piring dengan di bantu Aira. Kemudian Aira membawanya ke meja makan.
Setelah siap, semua keluarga berkumpul di ruang makan untuk menyantap makan siang bersama. Tidak ada hari yang sepi di keluarga Irsyad tanpa canda dan tawa. Mereka selalu menggunakan waktu kebersamaan dengan sebaik mungkin untuk saling berbagi cerita dengan apa yang terjadi pada mereka.
Suasana menjadi ramai dengan candaan Adyan yang iseng kepada sang adik. Dan Aira yang selalu menjadi penengah.
"Terimakasih ya Allah sudah menghadirkan mereka di hidupku. Dengan kebahagian tak terhingga yang aku miliki dalam hidupku.'Batin Irsyad dengan memperhatikan canda tawa istri beserta putra-putrinya.
The End...............
*************
Assalamualaikum kakak-kakak reader semuanya, Alhamdulillah tak terasa cerita Salma dan Irsyad sudah berakhir. Mohon maaf jika di akhir-akhir author rehap sejenak untuk melanjutkan ceritanya. Mohon maaf jika endingnya nggak bagus. he.......
__ADS_1
Selamat membaca dan tunggu cerita di season kedua ya 🤗🤗🤗🤗🤗🤗
Happy Week end.......