Bunda Untuk Aira

Bunda Untuk Aira
Believe me


__ADS_3

Happy Reading...


🌿🌿🌿🌿


"Sha, dengerin aku dulu. " Adyan masih memohon kepada Tisha.


Tishapun segera membuka pintu mobil Adyan untuk menghindari apa yang akan di ucapkan Adyan.


"Sha, tunggu aku bisa jelasin. "Teriak Adyan memanggil perempuan yang ia cintai. Adyanpun segera melepaskan setbelt dan segera turun dari mobilnya. Tapi sayang, dia kalah cepat. Tisha sudah menghentikan taksi yang secara tidak sengaja melintas di sana.


" Sha.. sha, please aku bisa jelasin. " Ucap Adyan kembali dengan mencoba menghalau taksi yang akan berjalan.


"Pak, tolong segera pergi dari sini. " Pinta Tisha kepada supir taksi tersebut tanpa menghiraukan panggilan dari Adyan. Hatinya masih diliputi rasa cemburu, sehingga ia tidak ingin mendengarkan penjelasan dari Adyan.


"Sha sha... please turun. " Adyan masih belum pantang menyerah untuk mengejar taksi yang di tumpangi Tisha. Tapi sayang, taksi itupun berjalan lebih cepat sesuai dengan perintah Tisha sehingga Adyan tidak bisa mengejarnya.


"Ah...... " Adyanpun berteriak karena frustasi.


"Kenapa kamu nggak mau mendengarkan penjelasanku Sha. " Ucap Adyan kembali dengan menjambak rambut cepaknya.


"Coba jika kemarin aku tidak luka membawa hpku karena masih aku cas ketika tugas luar. Coba jika aku tidak bertemu Sarah. Ah........ "


Flashback


Siang itu, ketika Adyan dari kegiatan luar, Adyan melihat seorang wanita berhijab besar menangis di pinggir jalan sehingga membuat jiwa kemanusiaan Adyan tersentuh. Adyanpun turun dari mobilnya setelah ia memarkirkannya di pinggir jalan. Adyan segera menghampiri perempuan tersebut.


"Assalamu'alaikum mbak, maaf jika saya mengganggu maaf." Sapa Adyan setelah sampai di samping perempuan itu.


Perempuan itupun mendongakkan kepalanya dan melihat lelaki berbaju loreng berada di sampingnya.


"A.. a... Adyan.... " Ucap perempuan itu setelah melihat Adyan.


Adyan mengerutkan dahinya karena tidak mengenali perempuan itu. " Maaf? "


"A... aku Sarah anak IPA 1, satu kelas sama kamu dulu. " Akhirnya Sarah memperkenalkan dirinya dengan menghapus air matanya.


"Sarah.... Sarah. " Adyan mencoba mengingat nama Sarah yang dulu pernah satu kelas dengannya.


"Oh Sarah Pratiwi? " Adyan mencoba memastikan.


"Iya, aku Sarah Pratiwi. " Jawab Sarah.


"Maaf Rah, soalnya penampilanmu sekarang beda banget. " Ucap Adyan kembali yang mengingat jika dulu Sarah hanya memakai baju dan rok pendek dan berbeda sekaki dengan saat ini yang sudah berubah memakai pakaian yang tertutup dan tampak sangat muslimah.


"Nggak papa Yan. "

__ADS_1


"Kalau boleh tahu, mengapa kamu kok menangis di sini? Apa ada yang terjadi sama kamu? " Tanya Adyan yang menunjukkan sikap peduli dengan apa yang terjadi dengan temannya di waktu SMA dulu.


Sarah kembali murung mengingat permasalahan yang terjadi pada rumah tangganya.


"Ya udah kalau kamu tidak ingin menjelaskan Rah, mungkin itu privasi kamu. " Adyanpun memakluminya.


"Hiks.. hiks, aku... aku..... sedang ada masalah dengan su...suamiku Yan. " Akhirnya Sarahpun menceritakan permasalahan yang terjadi pada dirinya. Tekanan yang begitu banyak membuat dia merasa sudah tak sanggup menghadapinya.


Sarah menikah dengan di jodohkan dengan anak dari teman pamannya. Karena ayahnya yang mengalami kebrangkutan membuat dia harus rela mengorbankan dirinya untuk membantu keluarganya. Dia di jodohkan dengan seorang lelaki dari saudagar kaya. Keluarga besar suaminya yang agamis membuat dia merubah total penampilannya. Awalnya dia tidak mencintai suaminya, tapi perlahan-lahan iapun menerimanya dan mulai mencintai suaminya. Tapi cobaan belum berhenti menghadang pernikahannya, sudah hampir 5 tahun dia berumah tangga tapi ia belum hamil juga sehingga membuat keluarga suaminya meminta Bagas, suami Sarah untuk menikah lagi agar segera memiliki keturunan.


Siang ini, suaminya sedang di pertemukan oleh calon madu Sarah. Bagas yang patuh kepada orang tuanya tak bisa mengambil keputusan yang tegas. Sarah pun kecewa dan diapun pergi tak tau arah untuk meluapkan kekecewaannya.


"Memang manusia hidup pasti ada aja masalah yang di hadapi Rah. Tapi semua itu sebagai tanda jika Allah sedang mengujimu untuk mengetahui seberapa sabar dan ikhlasnya kamu menghadapi masalah ini. Dan percaya lah di balik semua ini pasti akan ada kebahagiaan yang Allah beri untukmu. " Adyan memberikan nasehat kepada Sarah. Sebagai seorang laki-laki, dia tidak akan menduakan istrinya kelak meskipun dalam pernikahan mereka tak di beri keturunan. Mengingat istri, Adyan tersenyum membayangkan Tisha yang akan mendampinginya.


"Makasih ya Yan, entahlah mungkin hari ini aku sedang sedih dan tak bisa berfikir logis. Benar kata kamu, jika memang ini takdirku aku akan menjalaninya dengan ikhlas. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada rumah tangga ku, tapi sebagai wanita aku tidak ingin di madu Yan. Lebih baik aku mengalah jika memang keputusan suamiku masih tetap ingin melakukan poligami. " Akhirnya Sarahpun sedikit tenang.


"Nah gitu dong, tetap jadi Sarah yang dulu. Yang cuek dan kuat. "


Kruk... kruk... kruk...


"Eh maaf Yan. " Sarahpun malu ketika cacing di perutnya berdemo.


"Ya udah ayo aku traktir Ra, agar kamu ceria lagi. " Akhirnya Adyanpun mengajak Sarah untuk makan di kafe dimana Tisha melakukan meeting bersama Mona dan terjadilah kesalah pahaman ini.


Flash End


Adyanpun sudah sampai di depan kampus Tisha. Dengan setia dia menunggu Tisha di parkiran. Mata Adyan tak mengamati depan gerbang kampus Tisha dengan mata elangnya.


Meskipun harus menunggu lama, Adyan tetap setia. Untung dia tidak ada tugas yang penting, sehingga dia bisa menyelesaikan masalahnya bersama Tisha. Dia tidak ingin kesalahan pahaman ini berimbas dengan hubungan mereka apalagi sampai apa yang di katakan Tisha untuk menjauhinya menjadi nyata.


3 jam kemudian Adyan melihat dua orang wanita berhijab yang sangat ia kenal berjalan keluar dari kampus. Ya dia adalah Tisha dan Marsya. Marsya sudah mengikuti jejak Tisha untuk memakai hijab. Dia pun sekarang tampak lebih cantik dengan balutan hijab di kepalanya..


"Tisha.... " Panggil Adyan dengan segera menghampiri Tisha dan Marsya sebelum Tisha pergi menghindarinya. Penampilan Adyanpun sedikit lusuh berbeda dengan sebelumnya.


Tisha menoleh sejenak. Dan tak menghiraukan kedatangan Adyan.


"Sya, tadi kamu udah pesan taksi kan? " Tisha mencoba memastikan. Hari ini Marsya juga tidak memakai mobil karena sedang di servis.


"Tapi Tis, itu ada bang Adyan. " Marsya mencoba memberikan ruang untuk Adyan dan Tisya menyelesaikan masalahnya. Meskipun dia sudah tahu ceritanya, tapi Marsya percaya jika sebenarnya ada ke salah pahaman saja.


"Tisha, please tolong dengerin penjelasan aku dulu. Setelah ini terserah kamu masih marah sama aku. " Adyan pun memelas kepada Tisha.


"Tis, bener kata bang Adyan. Mending kalian selesaikan dulu dan dengerin penjelasan bang Adyan. Setelah ini, kamu mo ambil keputusan apa terserah. Yang penting sudah tidak ada lagi kesalahan pahaman antara kalian. " Marsya pun ikut memberikan nasehat kepada Tisha.


"Huh..... " Tisha pun menghembuskan nafasnya kasar.

__ADS_1


"Ya udah gue selesaikan dulu masalah gue. Maaf ya gue nggak jadi bareng sama dirimu. " Akhirnya Tisha pun mau mengikuti Adyan.


"Okey, No worry Tis. Gue bisa pulang sendiri. "


Tishapun segera mengikuti Adyan menuju ke mobilnya. Masih dengan diam, akhirnya Tisha mau naik mobil di depan di samping Adyan.


"Kita cari makan dulu ya dan sekalian aku jelasin semuanya. " Ucap Adyan dengan lembut sambil menengok ke arah Tisha.


"Terserah." Jawab Tisha ketus tanpa menengok ke arah Adyan ketika menjawab.


Adyanpun hanya bisa menghela napas saja. Ini juga salah dia karena tak mengabari Tisha.


Mereka berdua pun sampai di rumah makan lesehan khas Sunda. Adyan mengajak Tisha untuk mencari tempat lesehan yang masih kosong dan sepi. Tisha hanya mengikutinya tanpa bersuara. Suasana rumah makan ini lumayan ramai karena waktu makan siang.


"Disini saja ya. " Pinta Adyan kembali setelah menemukan tempat kosong dan tidak terlalu ramai.


Tishapun hanya diam dan segera melepas sepatunya dan duduk di bawah.


Adyan memanggil pelayan dan memesan makanan karena Tisha sama sekali mau berbicara dengan dirinya. Sehingga Adyanpun memesan makanannya sendiri untuk mereka berdua.


"Sha, aku akan jelasin semuanya." Ucap Adyan setelah pelayan meninggalkan mereka untuk membuatkan pesanan Adyan.


"Jelasin tinggal jelasin aja. " Jawab Tisha masih ketus.


"Perempuan yang kamu lihat di kafe itu adalah Sarah, teman sekelasku waktu SMA dulu. " Adyan mulai menjelaskan.


"Sarah yang dulu pakaiannya minim dan sering ngejar abang itu kan? " Tanya Tisha yang cemburu setelah tahu siapa perempuan itu. Tisha masih ingat betul bagaimana sikap Sarah ketika Tisha akan mengunjungi kelas Adyan. Sarah begitu tidak sukanya terhadap Tisha.


"Iya betul dia Sarah yang kamu sebutkan. Tapi percayalah Sha, kami tidak sengaja bertemu dijalan. Dia pun juga sudah menikah Sha. Aku sama sekali tidak ada hubungan apapun sama dia. "


"Terus ngapain kalian berduaan di kafe, apalagi dia udah nikah apa tidak akan terjadi kesalahan pahaman jika suaminya tahu Sarah pergi berduaan bersama laki-laki lain? " Tisha sedikit meninggikan suaranya.


"Sha, dengerin aku dulu aku akan ceritakan semuanya. Jika penjelasanku ini masih belum membuatmu percaya, aku bisa meminta Sarah ikut menjelaskan nya. "


"Ya udah cepetan jelasin. "


Adyanpun mulai menjelaskan semuanya agar Tisha tidak salah paham terhadap dirinya.


"Jadi, dia di pinggir jalan sambil menangis karena mau di poligami sama suaminya? " Tisha berubah menjadi bersimpati setelah mendengar cerita Adyan. Dia sebagai wanita tahu bagaimana perasaan Sarah jika dia harus di madu. Pasti begitu sakit.


"Iya Sha, terus aku nggak sengaja denger perutnya berbunyi makanya karena tidak tega aku ajak dia makan siang. Apalagi dia tidak membawa tas dan uang sepeserpun saking kalut dan sakit hatinya. " Jawab Adyan.


"Kalau aku jadi dia, udah aku potong tu masa depannya. Udah dapat enaknya eh cuma karena belum mendapat keturunan langsung di tinggalkan. " Tisha pun ikut emosi.


Glek.... Adyan menelan ludahnya karena mendengar ucapan bar-bar Tisha.

__ADS_1


"*Ya Allah, gimana nasib dirinya esok jika memang aku khilaf nyakitin dia. "


🌿🌿🌿🌿*


__ADS_2