Bunda Untuk Aira

Bunda Untuk Aira
Ondel-ondel...


__ADS_3

Happy Reading....


*****


"Ish emang dasar manusia es mulut bon cabe level 30. Lo bicara nggak di pikir dulu. " Gerutu Tisha dengan wajah sinisnya.


Shakila dan Marsya pun saling pandang ketika mendengar pertengkaran 2 orang berbeda jenis kelamin di depan mereka.


"Ih kak Ian ma kak Tisha kayak anak kecil aja. berantem melulu. " Ucap Shakila untuk memisahkan 2 orang di depannya.


"Benar Shakila, mereka berdua juga nggak malu berantem di sini. " Marsya pun menambahkan.


Tisha dan Adyan pun saling pandang. Adyan yang merasa malu di katain adiknya hanya menggarukkan kepala belakangnya. Sedangkan Tisha hanya menampilkan senyum kudanya.


"Gimana ni, mo lanjut ke toko buku atau mo ngelanjutin berantem nya dulu. " Tawar Shakila yang intinya menyindir 2 orang dewasa di hadapannya.


"Jadi dong Illa, kan kak Tisha kesini mo nyari buku penting. " Balas Tisha sedikit malu.


"Ya udah ayo kak. " Ajak Shakila dengan menggandeng tangan Tisha dan Marsya.


"Lo dek, masak abang di tinggal. " Keluh Adyan yang berjalan sendirian di belakang cewek-cewek cantik.


"Syukurin." Ledek Tisha.


"Ish cewek manja menyebalkan. " Gerutu Adyan dengan menampilkan wajah masamnya.


"Dan udah mirip dah kayak bodyguard. " Tambah Adyan sedikit keras karena kesal dengan adiknya.


Setelah pulang menemui rekannya saat pendidikan, adiknya Shakila merengek untuk di antar ke toko buku. Meskipun mereka akan mirip tikus dan kucing ketika di rumah, tapi rasa sayang Adyan kepada adik bungsunya sangat besar. Dengan bergegas, Adyan pun mengantar sang adik.


"Memang mirip bodyguard tu, badan udah gede kayak gitu. " Tisha pun berkata sinis dengan sedikit menengok belakang.


Adyan pun hanya diam tanpa menanggapi sindiran Tisha karena banyak orang di sana. Adyan hanya acuh dengan melihat-lihat toko yang berjajar.


Mereka berempat pun sampai di toko buku. Toko buku di sini sangatlah besar dan lengkap. Tidak hanya buku bacaan dan pelajaran, di sana juga menjual aneka peralatan kantor dan sekolah.


"Kak, Illa kesana dulu ya mo nyari buku latihan ujian. " Pamit Shakila.


"Okey Illa, kak Tisha sama kak Marsya mo ke stand buku ekonomi dulu mo nyari buku referensi. " Balas Tisha.


Tisha dan Marsya pun bergegas mencari buku setelah pamit ke Shakila tanpa melihat maupun pamit ke Adyan. Sedangkan Adyan, hanya cuek-cuek saja.

__ADS_1


Dengan perhatian, Adyan menemani adiknya dengan membuntutinya di belakang ketika Shakila mencari buku.


"Abang, menurut abang buku ini sama ini lebih lengkap mana? " Tanya Shakila meminta pendapat.


"Coba abang lihat dulu. " Balas Adyan dengan mengambil kedua buku di tangan adiknya.


Adyan pun mengecek sampul depan buku dengan teliti. Tanpa mereka sadari ada 2 anak remaja seusia Shakila memperhatikan Adyan tanpa kedik.


"Eh coba lihat dek cowok di depan, udah bodynya gagah tampan lagi. " puji 1 remaja.


"Eh iya deh, kayak body aparat-aparat gitu deh. Dan tu coba lihat pundaknya pelukable banget deh. Jadi pingin kenalan sama tu cowok. " Balas remaja yang lain dengan memperagakan jika Adyan memeluknya.


"Ehem... " Tisha yang gemas dan geram dengan pujian yang di lontarkan ke Adyan berdehem untuk mengganggu kedua remaja tersebut.


"Dek, masih kecil tu belajar yang bener, bukannya ganjen ma cowok orang. " Tisha pun sewot dengan kedua remaja tersebut.


"Emangnya masalah gitu buat si mbak? " Jawab remaja yang satu dengan penampilan kayak ondel2.


"Toh ni mata, juga mata kita. Ngapain mbaknya sewot. " Tambah dia dengan angkuhnya.


"Ni orang kayak ondel-ondel aja, nggak ngerti fashion banget. " Batin Tisha dengan memperhatikan penampilan si remaja yang sewot kepadanya.


"Untung tu si manusia es nggak dengar perkataan gue. " Guman Tisha kembali dengan melihat ke arah Adyan yang sedikit jauh dari Tisha dan Marsya.


"Tadi aja berantem melulu, sekarang cemburu aja setelah ada yang terang-terangan ngagumin tu cowok. " Batin Marsya dengan tersenyum. Padahal di hatinya ingin mentertawakan sahabatnya yang sedang cemburu dengan remaja di depan mereka.


"Idih si mbaknya ngaku-ngaku jadi cewek si mas ganteng itu. " Remaja yang satunya juga dengan sewot membalas perkataan Tisha.


"Oh, ni dua clurut nggak ada sopan-santunnya. Lihat aja gue kerjain. " Batin Tisha dengan rencana liciknya.


"Okey gue buktiin kalau cowok itu benar-benar cowok gue. " Ucap Tisha dengan tegas.


"Coba aja, kalau benar kami berdua akan pergi dari sini. " Tantang kedua remaja.


Dengan PD, Tisha pun berjalan ke arah Adyan yang tampak sendiri. Mungkin Shakila sedang mencari buku yang dia butuhkan.


Dengan gaya bak model profesional, dia berjalan berlenggak-lenggok seperti di atas cat wall di ikuti Marsya yang dari tadi hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkat si sahabat.


"Coba gue lihat gimana reaksi si es ma Tisha. " Batin Marsya.


Tisha dengan beraninya memeluk Adyan dari belakang. Karena kaget, Adyan mo memukul siapa yang berani memeluknya. Untung Dia segera mengecek dengan menengok ke belakang, jika tidak Tisha akan ia tinju.

__ADS_1


"Hi, Yang udah selesai milih-milih bukunya. " Ucap Tisha mesra kepada Adyan.


Adyan yang mengerutkan dahinya karena tak tahu apa yang terjadi dengan cewek yang tadi beradu argumen dengannya.


Tisha pun memberikan tanda dengan memainkan matanya agar Adyan mau bekerja sama dengan dirinya. Karena masih belum paham, Adyan meminta penjelasan dengan matanya.


Tisha pun memberikan tanda dengan arah matanya menengok ke belakang, Adyan pun paham dan menengok ke belakang ada 2 remaja dengan pakaian minim dan penampilan kayak ondel-ondel memperhatikannya.


"Oh ya Yang, ni udah baru saja ketemu bukunya. " Balas Adyan yang sok lembut dan memeluk Tisha kembali. Tidak lupa ia juga tersenyum lembut kepada Tisha.


"Ya udah, gi cari dek Illa dulu baru kita pulang. " Ucap Tisha kembali.


"Okey yang. " Balas Adyan. Adyan pun pura-pura pergi untuk mencari adiknya.


Sedangkan untuk kedua remaja tersebut, kaget dan malu.


Dengan arogan, Tisha pun melihat ke arah kedua remaja dengan tersenyum menang. Akhirnya kedua remaja tersebut pergi keluar meninggalkan toko buku.


"Kalian berdua emang bakat kalau di suruh jadi aktor dan aktris di TV. " Celetuk Marsya setelah melihat akting sahabatnya.


Tisha pun tersenyum malu. Dia nggak menyangka bisa seberani ini.


"Udah puas meluk-meluk aku? " Ucap Adyan sewot dengan menekuk kedua tangan nya ke depan.


"Idih, lo aja juga meluk gue. " Balas Tisha tak mau kalah.


"Yang meluk duluan kan dirimu, bukan aku. "Balas Adyan kembali.


" Hei, tuan es batu dan mulut bon cabe level 30. Gue tadi cuma bantuin lo dari 2 remaja yang lihatin diri loh buat fantasi liar mereka. Bukannya Terima kasih juga. " Jelas Tisha dengan nada ketusnya.


"Biarin lah, mereka juga punya mata. Toh aku juga nggak keberatan, ngapain dirimu sewot. "


"Ish..... " Ucap Tisha.


"Kalian tu ya berantem melulu, mbok ya kayak tadi jadi adem lihatnya. " Protes Marsya.


"Idih ogah. " Balas Adyan dan Tisha bersamaan.


"Wah tuh jawab aja barengan, kalian memang jodoh. ".....


*****

__ADS_1


__ADS_2