
Happy Reading....
πΏπΏπΏπΏ
"Iya Sha, makasih ya. " Jawab Sarah.
"Sama-sama mbak. " Balas Tisha dengan tersenyum ramah.
"Cin, mbak Sarah kamu ajak ngobrol dulu ya. Aku mau ke depan sebentar. " Pamit Tisha.
"Baik mbak. "
**
Hari-hari telah berlalu. Sarah sudah mendapat rumah kost. Dia jadi tinggal d kost yang sama dengan Cindy. Tidak hanya itu, diapun juga sudah bekerja di butik Tisha. Sejak menikah, dia tidak pernah bekerja tapi sekarang dia menikmati harinya dengan bahagia tanpa beban ataupun tekanan.
Untuk masalah rumah tangganya, dia sudah tak ambil pusing. Yang dia pikirin sekarang adalah kehidupan dia kedepannya. Untuk suaminya, dia selalu menghubungi Sarah tapi tak pernah di responnya. Rasa kecewanya yang begitu besar membuat ia enggan berbicara dengan suaminya. Ia butuh menenangkan diri untuk mengambil keputusan terakhir yaitu gugat cerai.
"Mbak Sarah, mbak Sari nanti aku pulang cepat ya soalnya kata mama akan ada acara di rumah. " Ucap Tisha kepada kedua pegawainya.
"Iya Sha, ya mbak. " Balas Sarah dan mbak Sari bersamaan.
Oh ya untuk Sarah, dia masih memanggil Tisha dengan sebutan nama karena itu permintaan Tisha sendiri.
Sebelum berangkat ke butik tadi pagi karena dia memang tidak ada jam kuliah dan bimbingan, tante Nita meminta Tisha untuk pulang cepat karena akan ada acara di rumah mereka. Beliau tidak mengatakan detail acara apa yang akan diadakan tante Nita. Beliau hanya memerintahkan saja untuk pulang lebih awal. Jadi, Tisha pun tak ambil pusing. Yang ia pikirkan pasti acara seperti biasanya yaitu kumpul antar rekan kerja papanya beserta keluarga besar mereka masing-masing.
"Oh ya mbak, kemarin desing baju muslimah terbaru udah datang dan kami simpan di ruang persediaan. " Lapor mbak Sari.
"Udah mbak cek satu-satu bajunya? " Tanya Tisha.
"Sudah mbak, dan menurut saya tidak ada yang reject. Tapi mungkin lebih baik mbak Tisha juga memeriksanya terlebih dahulu sebelum kita launching di butik kita. " Saran mbak Sari.
"Iya mbak. Habis ini biar saya cek dulu. Jadi, habis ini kita adakan pemotretan untuk catalog kita. " Balas Tisha.
__ADS_1
"Iya mbak harus itu. Apalagi kalau modelnya mbak Tisha dan mas Adyan pasti cepat laku loh produk kita. Kan kalian pasangan yang cocok mbak. " Puji mbak Sari.
"Mbak Sari bisa saja sih. " Tisha pun tersenyum dengan tersipu malu.
"Bener loh Sha, kami sama Adyan emang cocok banget. Semoga kalian segera menuju ke jenjang yang lebih serius ya. Do'a terbaik buat kalian. " Sarah pun ikut menimpalinya.
"Amin." Tisha dan mbak Sari ikut mengamini do'a dari Sarah.
"Makasih do'a nya mbak Sarah. Semoga mbak juga segera selesai masalahnya dan mbak bisa hidup berbahagia. " Balas Tisha dengan tulus.
"Amin-amin Sha. Aku bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang baik seperti kalian. Entah apa yang akan terjadi pada aku jika tidak ada kalian. " Ucap Sarah kembali dengan mata berkaca-kaca mengingat apa yang terjadi sama dia.
"Mbak Sarah pasti kuat. Kami akan selalu ada buat mbak Sarah. Jadi jangan sedih lagi ya. " Tisha pun mendekat dan memeluk Sarah. Mbak Sari pun ikut tersenyum melihat kebaikan atasannya. Dia tidak dengan sikap Tisha. Selama dia bekerja di sini, tak pernah sama sekali dia melihat sifat buruk Tisha. Malah pegawai di butik Tisha pun tak pernah ganti kecuali yang keluar karena harus mengikuti suaminya. Baginya, gaji dan bonus yang di berikan sangat lah besar di banding dengan butik yang lainnya.
Setelah acara mellow-mellow, mbak Sari dan Sarah kembali bekerja. sedangkan Tisha, dia pergi ke ruang persediaan untuk mengecek barang yang di maksud mbak Sari tadi. Setelah ini, dia juga akan segera pulang karena sang mama sudah menelponnya. Abang Adyan tercintanya tak bisa menjemputnya karena ternyata dia juga sedang ada acara keluarga. Akhirnya, Tisha pun di jemput oleh ajudan papanya yang lain. Om Randy belum memperbolehkan dia untuk naik taksi online karena masih trauma dengan kejadian yang di alami oleh putrinya. Beliau lebih over protective lagi dari sebelumnya.
"Mbak Sari, semua baju udah aku cek dan alhamdulillah memang nggak ada yang reject, jadi mungkin lusa kita bisa melakukan potretan dan bulan depan baju bisa di launcingkan.
" Siap mbak. " Balas mbak Sari dan mencatat apa yang di sampaikan Tisha.
"Iya mbak. Ini mama udah telpon dari tadi. Dan itu ajudan papa juga sudah ada di depan. " Jawab Tisha.
"Loh, nggak di jemput mas Adyan pa mbak? "
"Nggak mbak, tadi abang telpon jika dia juga di telpon bunda nya untuk pulang karena ada acara keluarga. Jadi, aku minta papa untuk mengirim ajudannya buat jemput. " Jelas Tisha
"Oh begitu mbak, ya udah mbak hati-hati. "
"Siap mbak, ya udah aku pulang dulu ya. Assalamu'alaikum. "
"Waalaikum salam. "
Tisha berjalan keluar dari butiknya untuk menuju ke parkiran depan karena mobil ayahnya sudah menunggunya di sana.
__ADS_1
"Udah lama bang? " Tanya Tisha kepada salah satu ajudan papanya.
"Belum mbak. Ini saya juga barusan tiba. " Balas bang Rafi.
Tisha pun segera masuk ke dalam mobil di bagian penumpang. Bang Rafi pun segera menjalankan mobilnya menuju ke rumah om Randy.
Di dalam perjalanan, Tisha pun mencoba menghubungi maupun mengirim pesan ke pujaan hatinya, Adyan. Tapi sejak tadi setelah mengabari dirinya tak bisa menjemput Tisha, Adyan sama sekali belum membalas maupun mengangkat telpon dari Tisha. Tisha pun menjadi gundah dan khawatir.
"Kok abang nggak balas maupun angkat telponku ya. Dia sebenarnya kemana sih. Masak ada acara keluarga sampai segitu sibuknya. Dan nggak bawa HPnya. " Gerutu Tisha yang jengkel dengan Adyan.
"Acara apa sih sebenarnya. Kok nggak biasanya sih. " Tisha pun semakin uring-uringan ketika mencoba menelpon kembali tapi tak ada jawaban.
"Ish.... " Ucap Tisha dengan suara sedikit keras.
"Ada apa mbak? " Tanya bang Rafi yang mendengar Tisha sedikit berteriak.
"Nggak papa bang. Maaf kalau membuat bang Rafi kaget. " Tisha pun sedikit malu membuat ajudan ayahnya kaget.
Jalanan yang macet menambah kebetean Tisha. Tidak biasanya jam segini keadaan jalanan macet dan kenapa pas momentnya dengan suasana hati Tisha. Membuat Tisha semakin jengkel.
"Abang kemana sih, susah banget di hubungi. "
"Awas aja nanti aku giniin. Biar ngerasain gimana jika telpon dan pesannya nggak aku respon. Awas aja. " Gerutu Tisha kembali. Rafi pun hanya menggelengkan kepala dengan tersenyum melihat anak atasannya dari kaca spion depan.
Setelah 45 menit, akhirnya mobil sudah masuk ke pekarangan rumah Tisha. Di sana sudah berjajar beberapa mobil. Tisha pun tidak kaget karena seperti inilah jika di rumahnya akan diadakan acara.
Tisha dengan PD-nya segera turun dari mobil dan masuk kedalam rumah. Dia ingin segera mandi agar pikirannya menjadi sedikit fresh karena jengkel dengan Adyan.
Tidak lupa ia menyapa beberapa ajudan ayahnya yang sedang bertugas di sana. Kemudian, dia segera masuk kedalam rumah yang pintunya sudah terbuka.
"Assalamu'alaikum." Tisha mengucapkan salam ketika masuk rumah.
"Waalaikum salam. surprise......... "
__ADS_1
πΏπΏπΏπΏ
Hayo surprise apa yaππππ