
Happy Reading....
🌿🌿🌿🌿
"Sebenarnya saya sudah mengajukan untuk pindah di kota ini om, dan InsyaAllah saya bisa menjaga putri om tanpa meninggalkan tugas saya. " Balas Adyan dengan mantap.
"Gimana menurutmu Suh? " Om Randy pun meminta pendapat ke ayah Irsyad.
"Jika memang kamu berniat seperti itu, ayah dukung kamu. Yang terpenting jangan sampai kamu melalaikan tugas utamamu. " Pesan ayah Irsyad kepada Adyan.
"Dan, om akan menugaskan salah satu ajudan om untuk membantumu di saat kamu benar-benar sedang sibuk dengan tugas utamamu. " Om Randy pun ikut menasehati Adyan.
"Siap yah dan om. InsyaAllah Adyan bisa membagi waktu untuk tugas maupun menjaga Tisha. " Adyan pun menjawab dengan lantang.
"Bolehkah om tahu alasan kamu mengajukan diri untuk menjaga putri om? " Om Randy bertanya alasan Adyan.
Ayah Irsyad pun juga penasaran dengan jawaban yang akan di lontarkan putranya. Baru kali ini, dia mendengar putranya mau menjaga seorang perempuan selain keluarga. Meskipun Tisha dan Adyan sudah mengenal sejak bayi.
"Karena saya tidak ingin melihat kejadian seperti kemarin menimpa Tisha om. Saya sudah mengenal putri om sejak kecil, dan kami pun sejak kecil bermain bersama. Apalagi bunda juga menyayangi putri om seperti putrinya sendiri. Jadi, saya harus menjaganya om seperti saya menjaga Shakila. " Jawab Adyan tegas. Entah itu jujur dari lubuk hatinya atau tidak.
Ayah Irsyad pun hanya tersenyum mendengar jawaban putranya. Dia bisa melihat di mata Adyan, jika jawaban yang ia lontarkan tak seratus persen jujur.
"Ayah tahu kamu tidak hanya menganggap dia sebagai teman, tapi dia sangat berarti di hidupmu meskipun kamu belum menyadarinya. " Batin ayah Irsyad setelah melihat ke arah Adyan.
"Baik kalau begitu, om percaya pasti kamu bisa menjaga putri om satu-satunya. " Ucap Om Randy dengan menepuk lembut bahu Adyan.
"Oh ya jika kamu sudah siap, temui om di rumah. " Pesan om Randy.
"Siap om. " Adyan pun menjawab dengan tegas.
Setelah selesai berbicara membahas tentang Tisha, om Randy pun pamit untuk segera pulang kerumah. Sedangkan ayah Irsyad masuk kembali ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Karena hari ini dia tidak ada tugas ke luar. Sedangkan bunda Salma, beliau sedang berbelanja di temani putri bungsunya.
Adyan pun ikut segera masuk kedalam kamarnya untuk membersihkan diri, sholat dan beristirahat.
__ADS_1
Tak berselang lama, Adyan sudah segar dengan rambut yang basah. Adyan mengeringkannya dengan handuk. Setelah di rasa rambutnya sudah tak basah, Adyan segera memakai sarungnya dan bergegas menjalankan tugasnya sebagai seorang muslim.
"Assalamualaikum warahmatullahi, Assalamu'alaikum warahmatullahi. " Ucap salam Adyan setelah menyelesaikan sholat dhuhur nya.
"Ya Allah, Ya Rahman dan Ya Rahim. Engkaulah Dzat yang Maha Mendengar keluh kesah hambamu. Engkau Yang Maha Tahu akan apa yang akan terjadi pada hamba di kemudian hari. Entah apa yang hamba rasakan terhadap wanita, teman kecilku Tisha saat ini. Tapi hamba merasakan sakit yang sangat dalam ketika hamba melihat dia menangis dan terluka kemarin. Tak seperti dulu di saat hamba bersikap keras padanya dan diapun tak pernah menunjukkan tangisnya. Tapi, entah apa yang terjadi pada hamba kemarin setelah melihat tangisan dirinya untuk pertama kalinya. Hati hamba tergugah untuk melindungi dirinya. Jika memang keputusan hamba benar, maka lancarkanlah niat hamba Ya Allah. Amin. " Adyan pun berdoa mengeluarkan semua yanga da di hatinya kepada Dzat yang Maha mendengar.
Setelah selesai berdoa, Adyan pun bergegas untuk membaringkan tubuhnya yang letih di atas ranjangnya.
Flash End
Pagi ini, Tisha sudah siap dengan tunik dan rok plisketnya. Ia tambah cantik dan anggun dengan baju muslimah itu. Tidak lupa ia memakai hijab pasmina senada dengan bajunya.
"Assalamu'alaikum papa dan mama. " Sapa Tisha dengan wajah yang ceria.
"Waalaikum salam sayang. " Jawab om Randy dan tante Nita yang sudah duduk manis di meja makan untuk menyantap sarapannya.
"Mau sarapan aya sayang? " Tawar tante Nita kepada putrinya.
"Roti aja ma. " Jawab Tisha lembut.
"Makan yang banyak nak. " Pinta tante Nita setelah menyodorkan roti ke Tisha.
"Siap ma. " Jawab Tisha.
Mereka bertiga pun menyantap sarapan dengan senyum bahagia. Terutama om Randy dan istrinya tampak bahagia melihat perubahan sangat putri yang sedikit ceria.
"Oh ya sayang, tadi Adyan sudah datang. Mungkin sekarang dia, sudah menunggu di depan. " Ucap om Randy.
"Baik pah, setelah selesai sarapan Tisha kedepan. " Balas Tisha setelah selesai mengunyah rotinya. Ia tidak mau jika Adyan menunggu terlalu lama. Meskipun itu menang sekarang sudah menjadi tugas Adyan.
"Jangan lupa makan siangnya nak, itu sekarang kamu terlihat kurusan. " Nasehat tante Nita.
"Atau mama buatkan bekal buat kamu? "
__ADS_1
"Nggak usah mah, nanti siang Tisha sudah di butik. jadi makan siang di sana saja sama mbak Sari dan lainnya. " Tolak Tisha dengan nada halus. Entah pakaian membuat cara bicara Tisha pun berubah menjadi lebih lembut dari sebelumnya.
"Ya udah kalau begitu Tisha berangkat dulu pah, mah. " Pamit Tisha dengan mencium tangan papa dan mama nya bergantian. Tidak lupa om Randy dan tante Nita mencium pipi Tisha sebagai kebiasaan mereka.
"Iya sayang hati-hati. " Jawab om Randy.
"Siap pah. Assalamu'alaikum. "
"Waalaikum salam. " Om Randy dan tante Nita menjawab bersama.
Tisha pun bergegas untuk keluar rumahnya menuju ke mobil mamanya. Karena mobil Tisha masih berada di bengkel dan kemungkinan akan di jual, untuk rutinitas sehari-hari Tisha menggunakan mobil mamanya.
"Bismillah kuatkan hati ku Ya Allah. " Ucap Tisha dalam hati.
Tisha pun segera masuk ke kursi penumpang. Di dalam mobil, sudah ada Adyan yang duduk di balik kemudian tanpa senyum. Kacamata hitam sudah bertengger di atas hidung mancung nya, menambah ketampanan Adyan.
"Duduk di depan. Siapa yang nyuruh kamu duduk di belakang? " Ucap Adyan dingin kepada Tisha.
"Ish masih menyebalkan dan seenaknya sendiri. " Gerutu Tisha. Tisha pun dengan terpaksa turun kembali dan pindah ke kursi depan samping kemudi.
"Kenapa sih malah dia nyuruh aku duduk di depan, padahal aku duduk di belakang untuk menetralkan detuk jantungku. Apalagi aku masih merasa tak nyaman dengan dirinya. " Gerutu Tisha kembali di dalam hatinya.
Deg.....
Jantung Tisha tambah berdetak kencang ketika Adyan mendekatkan dirinya. Sampai dekatnya, Tisha bisa mencium parfum maskulin Adyan.
Klik...
Bunyi seatbealt yang Adyan pakaikan ke Tisha.
"Ceroboh." Ucap Adyan dingin kembali.
Tisha pun menarik napas dalam-dalam. Tisha pun menundukkan kepalanya karena malu. Tidak ada Tisha yang cerewet lagi ketika berhadapan dengan Adyan, apalagi menjadi Tom and Jerry. Yang ada hanya Tisha yang pemalu berbanding terbalik dengan dirinya yang sebelumnya.
__ADS_1
🌿🌿🌿🌿