
Happy Reading....
🍀🍀🍀
Om Randy yang mendengar cerita itu pun sangat geram dan terpukul. Putri satu-satunya yang ia selalu jaga dengan penuh kasih sayang, harus mengalami kejadian yang memilukan. Sebagai seorang ayah, dia sangat gagal tak bisa memberikan perlindungan kepada putrinya. Padahal ia punya banyak ajudan yang bekerja kepadanya.
"Ya Allah, mengapa Engkau harus menghukum perbuatanku yang terdahulu kepada putri ku. "Ucap Om Randy lirih dengan mengusap kasar wajahnya. Ia sangat sedih karena perbuatannya yang bejad terdahulu harus berimbas pada putri satu-satunya.
Setelah menjelaskan semua yang Adyan tahu, Adyan pun berpamitan karena sudah di tunggu temannya. Untung tadi dia sempat menghubungi temannya bahwa dia akan telat sampai.
**
Dengan wajah garang menahan amarah, om Randy di ikuti kedua ajudannya mendatangi kantor polisi di mana Jimmy di tahan.
Setelah kepergian Adyan, belum sempat menemui puterinya om Randy sudah bergegas menuju ke kantor polisi. Dia ingin membuat perhitungan kepada orang yang ingin merusak putrinya. Meskipun belum terjadi, tapi kejadian itu akan berimbas ke psikis Tisha.
"Selamat pagi Dan, ada yang bisa saya bantu? " Ucap salah satu polisi yang menjaga di depan. Karena om Randy memakai seragamnya, polisi tersebut bersikap hormat.
"Saya ingin bertemu dengan orang yang baru saja masuk karena kasus percobaan pemerkosaan. " Jawab om Randy datar tanpa ekspresi.
"Kalau boleh komandan ada hubungan apa dengan dia? "
"Saya ayah dari wanita yang akan ia lecehkan. "
"Baik mari saya antar, tapi hanya 15 menit saja. Karena tersangka baru saja di obati oleh dokter karena banyak luka lebam yang ia derita. " Tambah si polisi itu lagi.
Om Randy pun hanya menganggukkan kepalanya. Sedangkan kedua ajudan beliau saling berbisik.
"Kenapa dia nggak mampus sekalian aja. " Ucap salah satu ajudan kepada rekannya.
"Benar manusia iblis seperti dia harusnya mampus. " Balas si ajudan yang lain.
Om Randy dan kedua ajudannya di persilahkan untuk duduk di kursi tunggu pengunjung. Sedangkan sang polisi segera masuk mencari Jimmy untuk ia bawa ke ruang tunggu.
Tak berselang lama, sang polisi itupun kembali dengan di ekori oleh seorang pemuda yang tampak mengenaskan. Banyak perban yang ia terima di wajah.
"Mungkin itu hadiah dari Adyan. " Guman om Randy setelah melihat Jimmy.
"Silahkan duduk." Pinta sang polisi.
Jimmy pun duduk dengan rasa takut ketika melihat lelaki paruh baya di hadapannya dengan wajah yang sangat garang tampak ingin menelan ia mentah-mentah. Dengan ragu-ragu ia pun duduk dengan wajah menunduk. Sedangkan polisi itu pamit untuk kembali ke depan.
__ADS_1
"Jimmy Morisco. Putra dari salah satu pemilik Restoran di kota B. " Ucap Om Randy dengan wajah datar.
Deg...
Jimmy pun menelan ludahnya karena tak menyangka jika ayah Tisha mengetahui asal-usul dirinya.
"Saya tak akan mengotori tangan saya untuk memukul lelaki b****** seperti dirimu." Ucap om Randy kembali.
"Saat ini juga saya bisa membunuh kami tanpa tangan saya. Tapi saya tak akan melakukannya. " Tambah om Randy.
"Syukur... " Batin Jimmy.
"Tapi saya pastikan kamu akan mendekam lama di penjara dan saya juga akan menghancurkan keluargamu. " Ancam om Randy kepada Jimmy dengan wajah gaharnya.
Deg.....
Jimmy pun kaget dengan kata yang di lontarkan oleh om Randy.
"Tolong jangan om, jangan hancurkan keluarga saya. " Pinta Jimmy dengan memohon.
"Seharusnya kamu berfikir dulu sebelum bertindak dan sekarang membuat anak perempuan saya depresi karenamu. Saya tak akan memaafkanmu sebagai gantinya saya akan membuat keluargamu menanggungnya. " Ucap om Randy kembali.
Tapi om Randy tak menanggapinya. Beliau segera bangkit dari duduknya beserta kedua ajudannya dan meninggalkan Jimmy yang sedang bersimpuh memohon maaf atas perbuatan yang ia lakukan. Tapi penyesalan memang di akhir, dia sekarang menyesal dan tak tahu apa yang akan terjadi pada keluarga nya karena perbuatannya.
"Pastikan keluarga si B****** itu mendapatkan pelajaran yang setimpal karena perbuatan anaknya. Dan agar menjadi efek jera buat mereka yang menafkahi anak mereka dengan uang tak berkah. " Pinta om Randy kepada kedua ajudannya.
"Siap Dan, laksanakan. " Jawab kedua ajudan dengan kompak.
Om Randy dan kedua ajudannya itupun segera bergegas kembali kerumah untuk mengetahui keadaan putrinya. Beliau merasa tak tenang dengan keadaan putrinya.
**
Di kediaman om Randy, tante Nita masih berusaha membujuk putrinya untuk membuka pintu kamarnya.
Sejak pulang dan diantar oleh Adyan, Tisha langsung mengurung dirinya di kamar. Hingga mamanya Nita merasa cemas dengan putri nya. Apalagi suaminya entah kemana dia belum masuk ke dalam rumah setelah Tisha pulang.
"Sayang, buka pintunya nak. Mama ingin masuk. " Pinta Tante Nita kepada Tisha.
Tisha yang ada di dalam kamar hanya menangis menumpahkan rasa sedihnya. Ia merasa sangat hancur dengan perbuatan Jimmy. Ada bekas kissmark di leher putihnya yang membuat ia jijik.
"Hiks..... aku kotor.... hiks..... " Tisha pun menangis dengan mengusap bekas kissmark di lehernya hingga lehernya memerah.
__ADS_1
"Hiks.... Ya Allah mengapa Engkau berikan cobaan ini kepadaku... Hiks.....hiks...... "
Tisha pun masih memakai kemeja Adyan di tubuhnya.
"Apa abang akan merasa jijik denganku. " Ucap Tisha di sela tangisannya. Ia sekarang merasa minder dengan Adyan. Dia sudah pasrah jika Adyan tak akan mau menerimanya setelah apa yang terjadi pada nya
Tak berselang lama, om Randy pun pulang dan masuk tergesa-gesa menuju kamar Tisha. Disana beliau melihat istrinya yang menangis di depan pintu kamar Tisha.
"Sayang, tolong buka nak. Mama ingin memelukmu. " Ucap Nita kembali. Beliau sangat takut jika terjadi apa-apa dengan putrinya. Apalagi dengan keadaan yang tak baik.
"Ma... " Panggil om Randy.
"Pah,.. tolong pah. Tisha dari tadi tak mau buka pintunya mama takut dia kenapa-kenapa. " Pinta tante Nita kepada suaminya.
Dor... dor... dor..
"Sayang buka pintunya nak." Sekarang gantian om Randy yang mengedor pintu. Tapi tak ada jawaban dari kamar Tisha.
"Pah gimana ini? "
"Tadi mama coba buka pakai kunci cadangan tapi tak bisa, kemungkinan kunci tergantung di daun pintu."
"Biar papa dobrak pintu ini. Mama mundur dulu. " Ucap om Randy.
"Baik pah. Mamah udah takut jika terjadi apa-apa dengan putri kita. Hiks.... "
Om Randy pun mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu kamar Tisha.
Brug....
Percobaan pertama gagal. Dan om Randy masih belum putus asa. Beliau pun mencoba lagi dan lagi. Dan....
Brug.....
Pintu pun terbuka paksa. Om Randy dan tante Nita pun segera masuk untuk melihat keadaan Tisha.
Deg...
"Sayang...... "
****
__ADS_1