Bunda Untuk Aira

Bunda Untuk Aira
Ternyata..


__ADS_3

Happy Reading....


🌺🌺🌺🌺


"Jangan sampai loe menyesal jika salah satu dari mereka bisa mengguide dirinya. " Ucap Marsya kembali dengan senyum smirk di bibirnya.


Tisha pun berdiri terpaku setelah mendengar perkataan sahabatnya.


"Nggak-nggak boleh, mereka nggak boleh mendekati abang. " Ucap Tisha dengan egois.


"Ya udah gue pulang dulu. Gie sana cepat susul tu bodyguard loe dari pada nanti ada yang maju buat deketin dia. "Ucap Marsya memanasin Tisha.


Tisha pun segera bergegas berjalan menuju ke arah Adyan. Dia tidak rela jika ada yang menggoda Adyan. Rasa cemburu di hatinya muncul ketika melihat banyaknya pasang mata para mahasiswi yang melihat kearah Adyan. Bahkan banyak juga yang saling berbisik-bisik memuji Adyan.


" *Eh coba lihat deh itu cowok ganteng banget. Duh badannya itu loh maskulin banget. Rasanya pingin gue peluk. "


"Kalau dia jadi cowok gue ya, udah gue kurung tu di kamar biar ketampanannya buat gue seorang*. " Balas mahasiswi yang lain yang mengagumi Adyan.


Tisha pun semakin geram. Dengan langkah cepat ia pun menghampiri Adyan.


"Ayo segera antar aku ke butik. " Ucap Tisha ketus setelah sampai di depan Adyan. Tisha pun segera masuk ke dalam mobil agar Adyan juga masuk.


Adyan pun mengerutkan dahinya karena melihat wajah tak bersahabat Tisha yang baru datang.


Brak....


Bunyi pintu mobil yang di tutup Adyan.


"Kamu kenapa? " Tanya Adyan yang tak mengerti dengan perubahan wajah Tisha dari tadi pagi.


"Nggak papa. " Jawab Tisha dengan mengembungkan pipinya karena kesal.


Adyan pun hanya menggelengkan kepalanya dan menaikkan bahunya melihat Tisha. Dia pun segera menekan gas untuk menjalankan mobilnya untuk menuju ke butik.


Di sepanjang berjalanan, mimik buka Tisha tak berubah. Dia masih diam dan cemberut. Adyan pun hanya melirik sekilas ke arah Tisha.


"Aneh, datang-datang cemberut saja. " Batin Adyan.


Dia tidak tahu saja jika Tisha cemberut karena rasa cemburunya kepada mahasiswi-mahasiswi di kampusnya yang secara terang-terangan memuji Adyan.


"Mau mampir makan dulu atau langsung ke butik? " Tawar Adyan untuk memecahkan suasana.


"Butik." Jawab Tisha ketus karena masih sebaliknya dengan kejadian tadi.


"Kamu nggak lapar?, ini waktu makan siang loh?. " Ucap Adyan kembali untuk membujuk Tisha.


"Makan di butik juga bisa. Disana juga banyak warung makan kecil. Makanannya juga enak dan bersih. Mending beli di sana untuk membantu mereka. " Jawab Tisha menjelaskan.


Deg....

__ADS_1


"Anak ini ternyata memikirkan orang lain, aku kira dia hanya memikirkan dirinya saja karena kemanjaan nya. " Batin Adyan yang mulai mengagumi Tisha. Setelah dia dekat, dia baru tahu sikap Tisha sesungguhnya. Salah satunya adalah sikap simpatinya terhadap sesama. Dulu dia hanya tahu jika Tisha adalah anak yang manja. Sejak kecil ketika main kerumahnya, anak ini hanya merengek saja ketika menginginkan sesuatu. Apalagi sebagai anak tunggal dari keluarga kaya, pastinya dia dimanjakan oleh orang tuanya.


"Okey." Balas Adyan dengan melirik sekilas ke arah Tisha.


Adyan pun melajukan kembali mobilnya menuju ke butik Tisha. Sudah tidak ada obrolan kembali antara dirinya dan Tisha. Karena dia belum tahu letak butik nya, dia pun memberanikan diri untuk bertanya meskipun wajah Tisha yang masih kurang bersahabat.


"Dimana letak butikmu? "


Tisha pun menoleh ke arah Adyan.


"Jalan xxxx dekat toko bunga xxx. Ada di kanan jalan. " Tisha pun menjelaskan.


Adyan pun paham dan segera melajukan mobilnya menuju ke alamat yang sudah di katakan oleh Tisha. Tak berselang lama, mereka pun telah sampai. Adyan pun memarkirkan mobilnya di parkiran depan butik. Cukup luas dan nyaman. Itu pikiran pertama Adyan menilai butik Tisha.


Tisha pun turun setelah mobil berhenti.


"Ayo masuk dulu. " Ajak Tisha kepada Adyan sebelum menutup kembali pintunya.


Adyan pun mengerutkan dahinya karena tak paham.


"Masuk, aku pesanankan makanan. Pasti abang belum makan siang juga. " Jelas Tisha karena gemas dengan Adyan yang masih belum beranjak dari kursi pengemudi.


Adyan yang paham pun ikut keluar dari mobil. Setelah mengunci mobil, dia mengikuti Tisha yang sudah berjalan di depan.


Klik...


"Mbak Tisha sudah datang? " Tanya mbak Sari.


"Iya mbak. " Balas Tisha ramah.


Mbak Sari pun kaget ketika melihat Tisha datang tak seorang diri, tapi bersama pria tampan dan gagah di belakangnya. Mereka sampai terperangah dengan wajah tampan Adyan. Para pegawai saling berbisik-bisik karena tak biasanya si bos mereka membawa laki-laki ke butik.


Tisha yang paham jika para pegawainya terbengong melihat dia dan Adyan hanya tersenyum.


"Mbak Sari nanti keruangan aku ya, kami masuk dulu. " Pamit Tisha kepada mbak Sari.


"Ayo bang. " Ucap Tisha kepada Adyan.


Adyan yang masih mengamati butik Tisha secara keseluruhan kaget.


"Oh ya. " Jawab Adyan dan mengekori Tisha. Tapi sebelumnya di juga menyapa ramah pegawai Tisha yang menatap nya.


"Mari mbak. " Ucap Adyan ramah.


"Iya mas. Silahkan. " Para pegawai sangat senang dengan keramahan Adyan.


Tisha dan Adyan pun berjalan ke lantai dua yang di jadikan Tisha sebagai kantor.


"Duduk bang. " Pinta Tisha kepada Adyan. Disana sudah ada kursi sofa yang dijadikan sebagai tempat untuk para tamu atau klien Tisha

__ADS_1


Adyan menganggukkan kepalanya dan segera duduk di sofa. pandangannya menelisik ruangan Tisha. Feminim dan coraknya sesuai kepribadian Tisha. Satu kata untuk menilai ruangan kerja Tisha.


Tisha pun segera duduk di kursinya. Di sana, ia mulai mengecek laporan yang sudah tertata di meja.


Tak berselang lama mbak Sari pun masuk ke ruangan Tisha.


Tok. tok... tok...


"Masuk." Ucap Tisha mempersilakan.


Mbak Sari pun masuk dan membawa laporan kembali.


"Mbak Tisha ini laporan perincian tentang bonus yang mbak rencanakan kemarin." Jelas mbak Sari.


"Baik mbak, biar saya cek kembali. " Jawab Tisha dengan mengambil laporan tersebut.


Tisha pun meneliti dengan wajah serius tak seperti biasanya.


"Cantik,. " Puji Adyan yang melihat Tisha dengan wajah serius nya.


Adyan pun tersenyum sendiri melihat ke arah Tisha. Dia tidak menyangka jika cewek manja ini bisa membangun butik hingga sebesar ini. Dia juga melihat banyak pembeli yang datang.


"Okey ini udah clear mbak. Jadi pegawai baru dan yang lama bonusnya di bedakan sedikit. Dan InsyaAllah mereka juga memahami nya. " Ucap Tisha setelah selesai membaca laporannya.


"Oh ya mbak, ini aku udah buat desain baju muslimah nya. Nanti mbak cek juga ya dan kasih masukan. " Tambah Tisha dengan menyerahkan beberapa lembar gambar baju muslimah yang ia desain.


"Baik mbak, pasti nanti segera saya cek. Tapi ini bagus banget lo mbak. " Jawab mbak Sari dan memuji karya Tisha. Memang tak di ragukan kembali keahlian Tisha dalam mendesain. Meskipun bukan jurusannya, Tisha sangatlah lihai dalam menggambar.


"Terimakasih mbak. " Balas Tisha dengan ramah.


Interaksi antara Tisha dan pegawai nya pun tak lepas dari penglihatan Adyan.


"Kalau begitu, saya keluar dulu mbak. " Mbak Sari pamit untuk keluar.


"Silahkan mbak, tapi sebelumnya saya minta tolong di pesan kan makan siang buat saya seperti biasa. "


"Abang mau makan apa? " Tawar Tisha.


"Apa saja. " Balas Adyan pendek.


"Berarti 2 ya mbak seperti biasa saja di warung Mpok Darti. Dan tolong bilang mbak Siti untuk membuat kan kopi buat abang. " Ucap Tisha.


"Baik mbak. Kalsium begitu saya keluar dulu."


Mbak Sari pun keluar dari ruangan Tisha setelah mencatat apa saja pesanan Tisha. Dan Adyan masih mengamati ruangan Tisha secara seksama.


🍁🍁🍁🍁


Selamat hari Minggu. Semoga selalu di berikan kesehatan buat para pembaca semuanya. Entah lagi seneng banget buat ngetik Tisha dan Adyan. Jangan lupa buat like dan vote cerita author semua ya. Terima kasih πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°

__ADS_1


__ADS_2