
*****
Happy Reading 🤗
Setelah asyik bercengkrama di taman, keluarga pak Jaka masuk ke dalam rumah karena adzan magrib sudah berkumandang. Mereka semua sudah bersiap-siap untuk menunaikan ibadah sholat Magrib berjamaah. Di rumah pak Jaka ada mushola kecil yang biasanya di gunakan keluarga beserta pekerja berjamaah bersama. Dan sore ini keluarga pak Jaka sedang berkumpul, maka mushola menjadi sangat ramai. Sholat magrib ini di imami oleh pak Jaka. Setelah selesai sholat berjamaah, mereka melanjutkan berkumpul di meja makan. Sudah ada banyak makanan yang tertata di sana. Mereka duduk terkadang masih ada candaan. Apalagi cucu bu Ronah yang antusias ada menu kesukaan mereka puding buah dan brownies buatan omanya. Tidak lupa bu Ronah mengiming-ngimingi cucunya es cream setelah mereka makan malam.
"Wah ibu masak rawon ya...." tanya Nadira dengan wajah berbinar melihat menu kesukaannya.
"Ya dong, rawon kan menjadi makanan khas kita jika berkumpul." Jawab bu Ronah dengan senyuman. Meskipun usia bu Ronah sudah tidak muda lagi, tapi wajahnya tampak masih cantik meskipun sudah ada sedikit kerutan yang tergores di wajah ayunya.
"Pokok ke ibu ter the best dech...." Nadira menimpali dengan menunjukkan 2 jempol kepada ibunya.
"Heleh, bilang saja dirimu kelaparan dek...." Ejek Maulan menggoda adiknya.
"Mas Irsyad bantu adikmu ini kek, dari tadi di bully melulu sama si rakus." Rajuk Nadira yang meminta pembelaan dari abang tertuanya.
"Idih....ngapai bela kamu , udah gede gitu ingat umur tu sebelah sudah ada buntut gitu masih manja aja." Ejek Irsyad menambahi yang membuat Nadira semakin cemberut.
"Ihhhh... ngeselin banget sich, punya kakak cowok dua cuma bisa ngebully adiknya yang cantik jelita ini."
Frans, suami Nadira hanya geleng-geleng kepalanya melihat tingkah manja istrinya. Inilah yang membuat Frans jatuh cinta kepada Nadira, sifat manja Nadira dan tingkah absurd Nadira menimbulkan benih-benih cinta. Frans butuh 2 tahun mendekati Nadira, dan perjuangannya tak ada yang sia-sia akhirnya dia bisa memiliki pujaan hatinya dan saat ini mereka sudah memiliki buah cinta mereka Raihan Abinyu Putra Frans. Anak manis yang sama usulnya seperti mamanya. Lengkap sudah kebahagiaan mereka.
Berbeda dengan Maulana dan Sinta, Mereka berpacaran sejak kelas 3 SMA, melanjutkan kuliah di tempat yang sama hanya berbeda fakultas. Hingga akhirnya mereka menikah ketika lulus kuliah. Meskipun harus melangkahi kakaknya Irsyad yang masih mengejar karirnya. Meskipun Irsyad sudah lama menjalin hubungan dengan bundanya Aira, tapi Irsyad memilih mengejar karirnya dulu sebelum mempersunting pujaan hatinya.
"Sudah.....sudah, kalian tu ya tiap ketemu berantem melulu." Ucap bu Ronah menengahi anak-anaknya. "Mo lanjut makan nggak ni ?" Tambah bu Ronah.
"Jadi dong bu, nanti kalau nggak nyobain makanan ibu nggak afdol dong berkunjung kesini " Tambah Nadia.
Yang lainnya hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya tidak terkejut dengan sifat Nadira. Termasuk Sinta yang kadang gemes dengan sifat absurd Nadira. Tapi Sinta sangat sayang Nadira seperti adik kandungnya sendiri. Inilah kebahagian untuk pak Jaka dan bu Ronah yang dapat membuat anak dan anak mantu nya saling menyayangi . Mereka tidak pernah membedakan mana anak dan menantunya. "Semoga tahun kebahagian ini bertambah dengan datangnya pendamping hidup untuk Irsyad, Somoga nak Salma lah yang menjadi pelengkap keluarga kecil mereka." Ucap doa bu Ronah dalam hatinya yang melihat kebahagiaan anak-anaknya.
__ADS_1
Merekapun melanjutkan makan malamnya dengan riuh gembira. Hingga menu hidangan merekapun habis semua. Meskipun seperti itu, bu Ronah tidak pernah melupakan pekerja di rumahnya. Beliau selalu menyisakan makanan apa yang keluarga makan sebelum makanan di hidangkan di meja makan. Sehingga bukan makanan sisa yang diberikan.
Setelah selesai makan malam, keluarga pak Jaka melanjutkan berkumpul di ruang keluarga. Ada televisi 50 inc di sana, ada tempat karaoke dan playstation. Sedangkan anak-anak sedang asyik makan es cream dan brownies.
"Eh bang, aku denger dari ibu katanya Aira lagi dekat dengan onty cantik, memangnya onty cantik itu siapa sih bang ?" Tanya Nadira untuk memecahkan suasana. Sedangkan Maulana beserta istrinya menyimak pembicaraan dengan rasa penasarannya.
"Onty cantik itu namanya nak Salma, dia yang nolongin Aira waktu tersesat di taman. " Jawab bu Ronah.
"Abang sudah pernah bertemu bang ?" tanya Nadira lagi.
"Sudah, tadi pagi." jawab Irsyad singkat.
"Ih abang nyebelin, di tanya jawabnya irit banget. nggak Asyik." Rajuk Nadira.
Bu Ronah hanya tersenyum melihat anaknya.
"La terus abang harus bilang apa ? kan abang udah jawab."
"Wkwkwkkwk....ha....haha......., Cantik dari mana dilihat dari ujung monas ? "Ledek Maulana menggoda adiknya. Yang di hadiahi cubitan dari istrinya. Aduh sayang kok nyubit mas sich?"
"Makanya mulut itu jangan ngeledek adiknya melulu." Bela Sinta kepada Nadira.
"Makasih kakak iparku yang cantik sudah membela adikmu ini yang tertindas." Jawab Nadira dengan kegirangan.
"Heleh seneng tu di belain."
"Ya dong, masak anak bu Ronah di bilang jelek wong ibu aja cantik pasti putrinya juga cantik jelita dong. kalau tidak mana mungkin si abang Frans ini bucin." Jawab Nadira sambil mengedip-ngedipkan matanya untuk menggoda suaminya.
Franspun hanya mendengus mendengar ucapan istrinya. Tapi memang benar juga sih dirinya memang bucin sekali kepada Nadira. hahahha
__ADS_1
"Eh bang, dia cantik nggak bang?" Tanya Nadira mencoba menggoda kakak sulungnya.
"Kalau perempuan pasti cantik lah dek, aneh-aneh saja kamu tanyanya." Jawab ketus Irsyad.Sedangkan Maulana hanya tertawa melihat adiknya yang di bantai kakaknya.
"hehehhe, ya maaf bang. Tapi ngomong- ngomong bisa tu kak jadi kandidat bunda buaya Aira." Nadira bertambah semangat menggoda kakaknya.
Blush...... wajah Irsyad pun merona mendengar ucapan Adiknya. tapi ia bisa mengendalikan sikapnya. Tapi tidak di pungkiri jika Irsyad pun kagum melihat kedekatan putrinya dengan Salma. Tampak Salma tulus menyayangi putrinya dari pancaran matanya. Diapun merasa gugup ketika berdekatan dengan Salma. Tetapi iya bisa mengontrol sikapnya. Ia juga tidak mau gegabah apalagi statusnya dan tidak di pungkiri jika hatinya masih berlabuh pada Almarhumah istrinya.
"Apaan sih dek, nggak usah resek dek." ucap Irsyad.
"Hahahaha, nggak usah sewot dong kak. Kan Nadira cuma ngasih masukan."
"Bener kata Nadira dech bang, abang harus mencoba membuka hati abang untuk yang lainnya. Mbak Aisyah juga sudah tenang disana." Maulana menambahi.
"Ya bang, abang coba buka hati abang dech. Kasihan anak abang dia membutuhkan kasih sayang seorang bunda ". Bujuk Nadira
"Maaf bang bukan Sinta ikut campur, kami sama kali tidak pernah keberatan merawat Aira. Tapi terkadang saya melihat raut kesedihan di wajah Aira jika melihat saya mas Maulana dan anak-anak berinteraksi."Sinta menambahi.
"La bener itu kata mbak Sinta bang." Nadira masih mencoba membujuk.
"Benet kata adik-adikmu nak. Coba kamu buka lagi hati kamu. Ayah sebenarnya tidak ingin mendesak kamu, tapi kamu masih muda membutuhkan melanjutkan hidupmu apalagi Aira yang saat ini butuh sosok seorang ibu." Pak Jaka ikut menasehati putranya.
"Iya yah, nanti Irsyad pikirkan. Kalau begitu Irsyad pamit dulu ke kamar. "Wajah Irsyadpun berubah sendu. Lebih baik ia menghindar karena hatinya masih belum bisa melupakan istrinya.
"Aira ayah ke kamar dulu ya. kamu maen sama adek-adek dulu.ucap Irsyad pada Aira dan berjalan menuju kamarnya.
Pak Jaka,bu Ronah beserta anak-anaknya merasa bersalah. Merekapun diam beberapa saat.
"Biarkan kakak kalian menenangkan diri dulu. Ibu yakin suatu saat pasti kakak kalian mau membuka hatinya. " Bujuk bu Ronah untuk mencairkan suasana.
__ADS_1
Semua pun menganggukkan kepalanya dan kembali bercengkrama. Meskipum ada rasa yang mengganjal. Terutama Nadira. Sedangkan Irsyad, Ia termenung di kamar dengan memandang foto istrinya nya. Dengan wajah tersendu, dan matanya meneteskan air mata ia berbicara dengan mengusap wajah istrinya. "Dek apa yang harus mas lakukan dek, mas sangat mencintai adek. Tapi mas juga tidak ingin melihat anak kita bersedih ."