
Tak pernah Salma sebahagia ini ketika bersama Irsyad. Dulu ketika dia berhubungan dengan Rahman, rasanya biasa saja tetap dia merasa bahagia tapi sebanding dengan kebahagiaan yang dia rasakan bersama calon imam nya.
Sejak masuk ke kamar hotelnya, Salma tak lepas dari senyuman dari wajahnya ketika mengingat moment kebersamaannya di cafe tadi.
"Ya Allah terimakasih karunia tak terhingga yang Engkau berikan kepada hamba, saat ini hamba bisa merasakan kebahagiaan seperti ini." Doa Salma dalam hatinya.
"Coba telpon ibu saja ah."Salma mulai mengambil handphone nya di dalam tas cangklong yang dia bawa tadi. Setelah mendapat nama ibunya di ponsel pintarnya, dia mendial nomor tersebut.
"Assalamualaikum nak, bagaimana keadaan kamu disana?" Ucap Bu Murti pertama kali setelah tersambung.
Sejak Salma sampai di kota P kemarin malam, dia memang belum sempat untuk menghubungi orangtuanya dikarenakan setelah sampai hotel dia beristirahat dikarenakan kecapean. Paginya, dia juga terfokus dengan masalah yang dia hadapi dengan Irsyad.
"Waalaikum salam ibu, Alhamdulillah Salma baik-baik saja."Jawab Salma dengan antusias.
"Alhdulillah nak, dari kemarin ibu khawatir keadaanmu disana. Apalagi kamu tidak mengabari ibu. Bagaimana sudah ketemu nak Irsyad belum ?"
"Sudah bu tadi pagi. Ini barusan juga pulang ke hotel di anterin mas Irsyad. Dan Alhamdulillah masalah kami sudah selesai."
"Alhamdulillah, kalau boleh tahu sebenarnya ada masalah apa nak sama nak Irsyad? Tanya bu Murti yang penasaran.
"Sebenarnya ini menyangkut mas..... Rahman bu." Jawab Salma dengan sedikit ragu. Setelah kejadian yang dahulu, bu Murti lebih sensitif jika berbicara masalah Rahman. Karena dia, putri bungsunya mengalami kesakitan dan trauma yang berkepanjangan. Selain itu, mereka juga harus menanggung malu akibat pembatalan pernikahan yang sepihak.
"Kenapa lagi dengan dia nak ?" Tanya bu Murti dengan nada sedikit keras.
Salma pun menceritakan semuanya di saat ketidak sengajaan bertemu di supermarket dan keputusan Salma untuk berbicara di cafe sehingga menimbulkan ke salah pahaman yang membuat hubungannya dengan Irsyad sedikit bermasalah.
"Terus kamu jawab apa nak ke pada dia ?"
"Salma bilang jika tidak ada lagi yang perlu di perbaiki bu karena Salma sudah punya calon dan mo nikah."
"Enak saja mi minta balikan, setelah di tinggal istrinya saja dan karirnya meredup ngemis-ngemis ke kamu. Ibu nggak rela dan ridho jika kamu balik ma dia. Untung sekarang kamu sudah ketemu dengan nak Irsyad. Ibu yakin jika dia calon suami yang bertanggungjawab nak, jadi besok jika kamu menikah sama dia kamu harus jadi istri yang patuh dan menghormatinya. Apalagi status dia yang punya anak, jangan pernah kamu membedakan antara Aira dan calon anakmu kelak yang kamu lahirkan dari rahim mu." Nasehat bu Murti kepada Salma.
"Salma akan selalu ingat pesan ibu, Ibu juga tahu sebelum bertemu dengan mas Irsyad, Salma sudah dulu bertemu Aira dan Salma langsung jatuh cinta ke Aira bu. Insyaallah kasih sayang Salma tidak akan berubah sampai kapanpun untuk Aira."
"Alhamdulillah nak kalau begitu, ibu bahagia kamu sudah menemukan kebahagiaan mu. Ngomong-ngomong kamu mau pulang kapan naj?"
__ADS_1
"Tadi sudah nyari tiket pesawat bu buat besok pagi, tapi ternyata penerbangan malam sekali jadi Salma belum jadi pesan." Jawab Salma.
"Ya udah pokoknya kamu harus jaga diri disana. Nanti kalau mo pulang, jangan lupa hubungi ibu atau ayah. Biar kami juga tenang." Ucap bu Murti.
"Iya bu, nanti Salma hubungi ibu, kalau begitu Salma tutup dulu ya bu Salma mau sholat Dhuhur dahulu. Assalamualaikum." Pamit Salma.
"Ya nak, Waalaikum Salam." Jawab bu Murti.
Salma mematikan telponnya nya. Sebelum meletakkan ponselnya di nakas, dia melihat notif pesan masuk. Diapun membukanya apalagi setelah melihat nama pengirim pesan, dia tersenyum dan membukanya.
"*Assalamualaikum dek, kok mas telpon nggak bisa. Kamu sedang telpon siapa ?" Tulis Irsyad dengan nada posesif nya.
"Waalaikum* salam mas,maaf baru balas barusan telpon ibu buat ngabarin keadaan Salma mas. Memangnya mas berfikir Salma telpon siapa ?" Balas Salma.
Salma tidak merasa keberatan dengan sikap posesif yang di keluarkan Irsyad sejak tadi pagi. Dia jadi merasa jika Irsyad sudah mulai menerima kehadiran Salma di hatinya.
"Alhamdulillah kalau kamu telpon ibu. Mas kira kamu menghubungi orang lain."
"Mas cemburu ya, cie......cie.... mas cemburuin Salma. Salma seneng deh di crmburuin mas." Jawab Salma. Salma mengetik balasan pesan dengan senyum-senyum sendiri. Untung saat ini dia berada di dalam kamarnya, jadi dia tidak malu membalas pesan dengan senyum sendiri menghadap ponselnya.
"Assalamualaikum dek, memangnya mas nggak boleh gitu cemburu dengan calon istri mas yang cantik ini ?" Ucap Irsyad dengan nada manja.
"Waalaikum salam calon imam nya Salma. Tentu saja Salma sangat senang bisa di cemburu in mas. Tandanya mas cinta sama Salma." Jawab Salma.
"*Mas seneng deh dengan sebutan baru kamu ke mas, Calon suami.xixiixixi."
"Kan memang mas calon suami Salma."
"Hehhe, iya bener dek. Oh ya dek bagaimana besok kamu jadi pulang jam berapa* ?"
"Salma nggak jadi pulang besok mas, tadi nyari tiket pesawat tidak ada yang pagi atau pun siang waktu keberangkatan nya, jadi belum pesan tiketnya."
"Alhamdulillah dek, kalau adik belum jadi pesan."
"Lo memangnya ada apa mas, kok sepertinya mas senang Salma tidak jadi pulang besok?" Tanya Salma yang penasaran.
__ADS_1
"Tadi mas barusan di telpon dari kantor, jadi intinya besok kita ada sidang pengajuan dengan atasan mas. Apa adik sudah siap ?"
"Alhamdulillah mas, akhirnya pengajuannya sudah di terima. Insyaallah Salma siap mas." Jawab Salma dengan lantang.
" Tapi kamu sudah tahu kan apa saja yang akan kita hadapi disaat sidang ?"
"Insyaallah Salma sedikit sudah tahu apa yang akan Salma hadapi. Kemarin Salma sudah bertanya dengan teman Salma yang menikah dengan seorang tentara juga. Dan Salma juga buka referensi di google untuk menambah pengetahuan Salma."
"Alhamdulillah dek, nanti mas kirimin no. NRP mas, jabatan ataupun apapun yang berhubungan dengan kedinasan mas. Jadi selama belum selesai ini, kamu harus tetap stay di sini dulu biar urusan kita cepat selesai dan kita cepat nikah." Ucap Irsyad dengan semangat.
"Iya mas, Salma akan minta izin ke kepala sekolah. Yang utama saat ini adalah urusan kita mas."
"Cie yang sudah nggak sabaran di nikahin mad...."Goda Irsyad.
"Ih apaan sih mas, mas juga sama ingin cepat nikahin Salma kan ?"
"Ya memang, biar secepatnya ada yang nemenin mas disini, mengurus mas dari menyiapkan baju dinas mas dan makanan untuk mas. Masak mas di suruh makan di kantin asrama terus, kan bosen dek." Rajuk Irsyad.
"Iya mas, besok Salma akan menyiapkan semua keperluan mas setelah kita nikah."
"Ya udah nanti kamu kasih kabar ke ibu dan ayah jika kamu akan menyelesaikan urusan kita disini dulu jadi belum tahu kamu kapan pulangnya. Dan besok mas akan jemput kamu jam 7." Ucap Irsyad memberikan nasehat kepada Salma.
"Siap komandan, segera perintah akan dilaksanakan." Jawab Salma dengan meniru ala-ala militer.
" Wah sudah mulai pinter ni....."
"Kan belajar nya dari mas....."
"*Ya harus calon istri mas ini pinter, hehe....., ya udah mas tutup dulu ini mau ada kegiatan lagi. Kalau ada apa-apa langsung telpon mas. Assalamualaikum."
"Ya mas, Wa'alaikum salam*."
Setelah selesai bertelepon, Salma menaruh ponselnya di atas meja nakas di samping ranjang hotel. Salma berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan segera melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslimah.
**Note :
__ADS_1
Ye Alhamdulillah bab ini selesai juga, tetap ya jangan lupa Dukungannya dengan memberikan vote dan like untuk karya Author. 🤗🤗🤗😇😇😇**