Bunda Untuk Aira

Bunda Untuk Aira
Tikus dan Kucing


__ADS_3

Happy Reading....


******


"Nggak nyangka ni cewek manja punya peduli juga dengan orang lain. " Batin Adyan yang memperhatikan Tisha.


"Bapak tunggu sini sebentar ya. " Pintar Tisha kepada si bapak.


"Baik Non. " Jawab Si bapak.


Tisha tanpa memperdulikan keberadaan Adyan, membuka pintu penumpang untuk mengambil kantong kresek berwarna hitam. Biasa bagi Tisha, dia sering menyediakan stok sembako di mobil nya. Bukan mendapat pujian, tapi Tisha sangat bersyukur dengan pencapaian usahanya saat ini. Dan dia sadar di sebagian pendapatan yang ia dapat dari butik ada hak untuk kaum duafa.


Adyan hanya mengamati apa yang akan di lakukan Tisha.


"Bapak, ini ada sedikit rejeki buat bapak. " Ucap Tisha dan menyerahkan kresek tersebut kepada si bapak.


"Ya Allah, non terimakasih sekali. Semoga Allah melancarkan rejeki non. " Ucap Si bapak dengan mata yang berkaca-kaca. Dari penampilan si bapak, beliau tampak sedang bingung.


"Sama-sama bapak. Sekali lagi bapak hati-hati ya ketika di jalan. " Pesan Tisha.


"Iya non, sekali lagi terimakasih. Alhamdulillah hari ini anak dan istri saya bisa makan nasi. " Ucap Syukur si bapak setelah membuka isi dari kresek tersebut. Ada senyuman yang mengembang di bibir si bapak.


"Alhamdulillah bapak jika bisa bermanfaat. " Balas Tisha yang juga ikut merasakan bahagia.


Adyan melihat kebahagiaan si bapak, ikut meyamperi si bapak dan mengeluarkan sejumlah uang untuk si bapak dari dompetnya.


"Oh pak, ini ada sedikit tambahan. " Ucap Adyan dengan memberikan uang ke tangan si bapak.


"Ti.. dak usah mas. " Balas Si bapak.


"Tidak apa-apa pak, saya ikhlas kok. Di Terima ya. " Paksa Adyan.


"Terimakasih mas, non. Semoga mas dan non di beri kemudahan rejekinya dan semoga mas dan non berjodoh karena sama-sama mempunyai hati yang baik dan dermawan. " Do'a si bapak.


Adyan dan Tisha saling pandang ketika mendengar do'a yang di panjatkan si bapak. Tapi tanpa berucap, mereka sama-sama mengaminkan dalam hati.


Si bapak pun pamit untuk segera kembali ke rumah.


"Ini jadinya bagai mana depan mobilku penyok. " Sikap bon cabe Adyan mulai kembali.


. "Ish.... menyebalkan. Tinggal bawa ke bengkel aja repot. " Balas Tisha tambah sewotnya.


"Ya harus bawa ke bengkel, tapi kamu cewek manja yang harus bayar tagihannya. " Jawab Adyan kembali.


"Hello.... bapak tentara terhormat. Lihat tu mobil aku juga penyok dan yang nabrak juga si tu. Ini malah nyuruh gue bayar tagihannya. " Tisha pun tak mau kalah. Dia menjawab setiap ucapan yang di lontarkan Adyan.


"Mau tanggung jawab nggak, kalah nggak mobilmu akan aku sita. " Ancam Adyan kepada Tisha.


"What...? "

__ADS_1


"Huh..... " Tisha pun menghela napasnya. Tisha tanpa menjawab ancaman Adyan segera maju ke dalam mobilnya.


. "Eh.... eh, mo kemana ini tanggung jawab dulu. " Cegah Adyan.


Tisha pun masuk ke mobil dan mengambil kartu nama di dompetnya.


"Ni, " Tisha pun melempar kartu namanya ke hadapan Adyan yang berada di depan pintu mobilnya.


"Tu simpan kartu nama gue, bawa tu mobil anda abang es yang mulutnya kayak bon cabe level 30 ke bengkel. Kalau udah selesai kirim tu tagihannya ke nomor telponku. " Jawab Tisha.


Setelah melampiaskan kekesalannya kepada Adyan, Tisha pun menutup kaca mobilnya kembali. Dia mulai melakukan mobilnya untuk menjauh dari Adyan.


Sedangkan Adyan masih mlongo melihat kepergian Tisha karena kaget dengan panggilan terbaru untuknya.


"Apaan tadi, abang es mulut bon cabe? " Adyan mengulang panggilan yang di sematkan Tisha untuknya.


"Ganteng-ganteng gini di katain mulut bon cabe. Menyebalkan" Gerutu Adyan.


Adyan pun ikut kembali masuk ke mobilnya. Dia menaruh kartu nama Tisha di atas dashboard. Ia mulai melajukan mobilnya untuk meneruskan perjalannya.


"Tapi tu anak sekarang beda banget dari 1 tahun yang lalu. " Ucap Adyan sambil menyetir mobilnya.


"Ish ngapain juga mikirin dia. " Gerutu Adyan kembali.


**


"Jadi telat kan, ni gara-gara si bon cabe. Awas aja besok kalau ketemu lagi. Gue nggak mau ngalah lagi. " Gerutu Tisha yang akan terlambat masuk kelas.


"Bodo amat di marahin pak Dadang, dari pada nggak berangkat mending sedikit terlambat nggak pa-pa. " Tisha pun berbicara sendiri.


Setelah mengunci mobilnya, Tisha segera bergegas menuju kelasnya. Tanpa melihat kanan kiri, Tisha berjalan cepat menuju ke kelas. Dia terlambat 10 menit. Dengan mantap, dia tetap masuk kedalam kelas agar bisa mengikuti pelajaran. Sayang jika bolos, dia sudah semester 7 dan sebentar lagi sudah skripsi.


Tok... tok...


Tisha mengetuk pintu kelas yang tertutup sebelum masuk.


"Permisi pak, maaf saya terlambat. " Ucap Tisha setelah ia masuk kedalam kelas.


"Kenapa kamu bisa terlambat? " Tanya pak Dadang yang menghampiri Tisha.


"Tadi mobil saya di tabrak orang dari belakang pak, jadi tadi saya harus mengurusnya sebentar. " Tisha pun menjelaskan insiden yang ia alami tadi pagi.


Pak Dadang pun memperhatikan mata Aira, dia tidak menemukan kebohongan di sana.


"Baik, silahkan duduk. Besok lebih hati-hati ketika di jalan. " Pesan Pak Dadang.


"Terimakasih pak. " Balas Tisha dengan tersenyum.


Tisha pun berjalan menuju kursi. Di sana sudah ada Marsya yang memanggilnya. Marsya sudah mencarikan tempat duduk untuk Tisha.

__ADS_1


"Kamu nggak pa-pa kan Tisha? " Tanya Marsya pelan kepada Tisha yang sedang menempatkan dirinya di sampingnya.


"Alhamdulillah nggak Sha, tapi tadi gue apes banget " Jelas Tisha dan sedikit jengkel ketika mengingat kesialan yang ia alami.


"Memangnya kenapa? " Tanya Marsya kembali.


"Ish... nanti gue ceritain. Sekarang kita kuliah dulu. Gue nggak mau ya dikeluarin dari kelas gara-gara ngobrol ma dirimu. Pa lagi tadi gue datang terlambat. " Jelas Tisha.


"Okey." Jawab Marsya meskipun masih penasaran dengan apa yang telah di alami sang sahabat.


Untuk sesaat, Tisha pun fokus dengan pembelajaran dari pak Dadang. Dia tak mau mendapat nilai jelek dalam mata kuliah pak Dadang.


Setelah 2 jam pembelajaran, mata kuliah yang di ampu pak Dadang pun usai. Pak Dadang pun meninggalkan kelas di ikuti seluruh siswa karena kelas tersebut akan di gunakan untuk tempat kuliah kelas yang lain.


Marsya dan Tisha memutuskan untuk ke kantin sebelum mereka akan mengikuti mata kuliah kembali di 1 jam yang akan datang.


"Mo pesan apa lo. " Tanya Tisha kepada Marsya.


"Biasa soto ayam banyak koyanya ya dan jangan lupa minumnya jus jeruk. " Jawab Marsya kepada Tisha.


Tisha pun mengangguk dan berjalan menuju depan untuk memesan makanan. Setelah selesai, dia kembali ke meja yang ia dan Marsya pilih.


"Katanya lo mo cerita tentang insiden tadi pagi. " Todong Marsya yang tidak sabar mengetahui apa yang terjadi dengan sahabatnya.


"Nggak sabaran banget sich. " Gerutu Tisha.


Marsya pun tertawa mendengar gerutu Tisha.


"Gue tadi pagi benar-benar sial dah. " Ucap Tisha memulai ceritanya.


"Sial gimana? "


"Pagi-pagi seperti biasa mama gue rempong banget ngedor-ngedor pintu kayak mong hancurinnya aja. "


"Wkkwkw. Ya wajar lah tante Nita ngedor-ngedor pintu kamar mu. Dirimu kalau udah tidur kayak kebo aja. " Ucap Marsya dengan tertawa. Dia tah kebiasaan sahabatnya jadi dia nggak heran jika sang mama mengedor pintu Tisha dengan bar-bar.


"Enak aja di samain dengan kebo. " Tisha pun kesal dengan melempar tisu ke arah Marsya.


Marsya pun hanya tertawa terbahak-bahak melihat sahabatnya yang sedang kesal.


"Dan yang paling siak lagi, mobil gue di tabrak dari belakang. Tu sekarang penyok dah. Tapi yang buat gue dongkol yang nabrak gue itu. "


"Emangnya siapa yang nabrak mobil loh?


. " Yang nabrak mobil gue tu si manusia es mulut bon cabe level 30." Jelas Tisha.


"What......? "


*****

__ADS_1


__ADS_2