Bunda Untuk Aira

Bunda Untuk Aira
What happen??


__ADS_3

Happy Reading....


🌿🌿🌿🌿


"Apa ini yang membuat abang berubah dan tidak menghubungi aku? "


"Baru tadi malam abang bilang sangat mencintai aku, tapi mengapa hari ini abang pergi bersama wanita lain*? " Tishapun ingin rasanya menumpahkan air matanya ketika melihat Adyan makan bersama wanita lain. Dia pun hanya bisa menahan karena merasa tidak enak dengan bu Monika.


Setelah selesai, dan memastikan apa yang di pesan bu Monika tercatat dengan baik, Tisha segera pamit untuk pulang. Dia sudah tidak mood untuk pergi ke butik. Dia ingin segera sampai di rumah dan meluapkan apa yang ia rasakan saat ini di kamarnya.


Sebelum keluar dari kafe, satu kali lagi Tisha menengok ke arah Adyan duduk. Karena kursi Adyan membelakangi tempat duduk Tisha, sehingga Adyan tidak bisa melihat jika ada Tisha di sana.


Tisha pun segera meninggalkan kafe setelah masuk ke dalam mobil yang menjemputnya. Di dalam mobil, Tisha hanya melihat ke luar jendela mobil bagian penumpang. Rasanya dia masih belum percaya jika Adyan bisa pergi bersama perempuan lain di saat kemarin malam ada sedikit masalah.


"Kenapa ketika aku sudah merasa yakin dengan dirimu, abang tega menyakiti hatiku. Apa salah jika aku ingin fokus ke skripsi aku, apa segitu kecilnya rasa cinta mu kepadaku. " Tisha hanya bisa meluapkan kekecewaannya di dalam hati.


Setelah 45 menit, Tisha sudah sampai di rumahnya. Dia pun segera masuk ke dalam kamar. Tante Nita dan om Randy sedang ada acara kedinasan di luar, sehingga ketika Tisha sampai rumah tak ada yang ada di rumah selain ART yang ada di belakang.


Brakkk...


Tishapun menutup pintu dengan sedikit kencang. Dia segera berlari menuju ranjangnya setelah melepas sepatu, hijab dan tasnya.


"Hiks.... hiks..... " Air mata yang sejak di kafe ia tahan, akhirnya tumpah juga.


"Kenapa abang tega sama aku. Apa salah ku. Apakah selama ini abang hanya mempermainkan hatiku.. Hiks... " Tisha menangis dengan mengeluarkan semua rasa sesak di dadanya.


"Apa semua yang ia ucapkan selama ini hanya palsu belaka. Dan sekarang dia sudah sukses menyakiti aku."


"Ya Allah, jika memang dia bukan jodoh yang terbaik untukku, aku ikhlas untuk melepaskannya. Cukup kali ini aku merasa sakit yang amat dalam. Lebih baik aku di sakiti dengan ucapannya yang dingin kepadaku dari pada ia membohongi aku dengan dekat dengan wanita lain. " Ucap Tisha.


"Aku harus bertindak tegas untuk mengambil keputusan. Karena aku nggak mau sakit lagi. "


"Jika memang dia tidak benar-benar mencintaimu, mulai sekarang aku akan berusaha menjauhinya. Hiks... hiks... " Akhirnya Tisha pun memutuskan tindakan apa yang akan ia lakukan.


Setelah puas menumpahkan rasa sakit di hatinya, Tisha segera menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Dia segera melaksanakan sholat Ashar. Dan ternyata, sholat membuat hatinya sedikit tenang.


**


Malam harinya, Tisha segera menyelesaikan gambar desain baju ke dua yang di pesan oleh mbak Monika. Untuk sejenak ia bisa melupakan masalahnya.

__ADS_1


Sampai sore, tak ada pesan yang masuk dari Adyan. Tisha pun sudah mulai cuek saja untuk membentengi hatinya.


Ting.....


HP Tisha pun berbunyi tanda pesan whatsapp masuk.


Tisha pun berhenti sejenak untuk mengecek handphonenya.


Deg....


Nama laki-laki yang baru saja menyakitinya mengirim pesan kepadanya.


"Assalamu'alaikum Sha, maaf sejak tadi pagi tidak hubungi kamu. Soalnya abang lagi ada tugas di luar dan handphone tertinggal di kantor. "Isi pesan Adyan yang hanya di lihat Tisha tanpa membukanya.


Tisha menaruh kembali handphone nya di atas meja di kamarnya.


" Alasan saja, bilangnya tugas luar. Tapi nyatanya sedang asyik makan siang bersama perempuan lain. "Tisha menggerutu. Dia pun kembali fokus untuk menyelesaikan desainnya.


**


Matahari sudah menampakkan kehadirannya. Tanda esok pagi telah tiba. Tisha pun yang sudah siap segera berangkat ke kampus setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya. Untuk masalah dia dan Adyan, Tisha masih menyembunyikannya. Untuk ketika dia menangis, kedua orang tuanya masih ada di liat rumah. Sehingga kedua orang tuanya tidak mengetahui dirinya yang sedang menangis.


"Assalamu'alaikum Sha. " Sapa Adyan yang pagi ini sudah berada di depan rumah Tisha.


Deg....


Adyan merasa aneh dengan sikap Tisha pagi ini. Dia melihat wajah Tisha yang tak senang ada dirinya di sana.


"Ayo kita berangkat. Abang antar kamu ke kampus. " Ajak Adyan dengan menampilkan senyuman nya. Dia masih berusaha tenang dengan perubahan sang pujaan hati.


Tanda menjawab Tisha pun segera masuk ke mobil Adyan di kursi penumpang.


"Kok di belakang Sha? " Adyan pun protes.


"Maaf bang, bisa segera antar saya ke kampus? pagi ini saya ada bimbingan. Jika memang abang keberatan, biar saya minta bang Udin mengantarkan saya. "Sela Tisha dengan bahasa formal tak seperti biasanya.


Adyan yang tidak ingin berdebat pun segera masuk ke dalam mobilnya dan segera menjalankan mobilnya menuju ke kampus Tisha. Dari spion depan, Adyan mencuri-curi pandang melihat ke arah belakang untuk melihat Tisha. Tisha pun hanya membuang muka dengan melihat pemandangan di luar melalui jendela.


" Kamu ada apa Sha? kenapa sikap kamu berubah sama aban? " Adyan yang sudah merasa gatal melihat sikap tak biasa Tisha mencoba bertanya.

__ADS_1


"Nggak ada apa-apa bang? " Jawab Tisha datar.


"Tapi sikap kamu berubah. " Adyan masih berusaha bertanya.


"Cuma perasaan abang saja. " Jawab Tisha dengan menengok sebentar ke arah depan. Setelah itu, dia kembali melihat ke arah luar.


"Huh... "Adyan pun hanya bisa menghela napas. Mungkin sekarang dia akan diam terlebih dahulu. Tapi dia akan mencari tahu mengapa sikap perempuan yang ia cintai berubah.


" Oh ya bang, mulai nanti siang anda tidak perlu menjemput saya lagi. Saya bisa naik taksi atau meminta salah satu ajudan papa untuk menjemput saya. " Ucap Tisha.


Deg....


Jantung Adyan seperti berhenti berdetak ketika mendengar perkataan Tisha.


"Maksud kamu apa? " Tanya Adyan kembali dengan suara sedikit meninggi. Dari tadi, dia sudah menahan untuk tidak emosi. Tapi sekarang, batas kesabarannya sudah habis.


"Maksud saya, anda tidak perlu menjemput saya lagi. Nanti biar saya bicara dengan papa. Saya tidak ingin mengganggu tugas anda. Saya tidak ingin menjadi beban anda. " Tisha masih mencoba menjelaskan dengan bahasa formalnya.


Adyan yang sudah tidak bisa mengontrol emosinya, segera menepikan mobilnya setelah memastikan tidak ada mobil yang berjalan di belakangnya.


"Dari tadi aku udah sabar ya Sha, sejak dari rumah kamu berbicara dengan bahasa formal tak seperti biasanya. Maksud kamu apa? " bentak Adyan.


"Kan saya sudah bilang saya tidak ingin mengganggu tugas anda. Saya bisa diri saya sendiri. Toh di rumah masih banyak bawahan papa yang mengantar jemput saya. Jadi anda bisa fokus ke tugas anda. " Tishapun masih memberanikan dirinya untuk menjawab Adyan.


"Sampai kapanpun kamu adalah tanggung jawab aku. Jadi aku yang akan mengantar dan menjemput kamu. " Ucap Adyan memutuskan keputusan secara sepihak.


"Anda jangan egois, saya juga punya hati bang. Dari tadi aku udah nahan diri aku untuk tidak menangis, tapi kenapa abang seenaknya sendiri. Aku masih punya hati bang. Seharusnya aku yang marah sama abang bukan abang yang marah sama aku. Dari kemarin aku nungguin kabar dari abang, sapai aku nggak fokus untuk kuliah. Aku kira abang masih marah sama aku karena keinginanku untuk menyelesaikan skripsi dahulu, tapi apa, orang yang aku pikirkan dan membuatku tidak tenang ternyata sedang berduaan dengan wanita lain dan mereka tertawa bersama. Abang sama sekali nggak hubungi aku, tapi apa??? abang malah pergi makan siang berdua dengan wanita di kafe. Apa itu yang di namakan tugas luar? iya seperti itukah?? " Tishapun meluapkan rasa sakit di hatinya. Diapun menangis mengingat apa yang ia lihat kemarin.


Deg....


Jantung Adyan berdetak cepat mendengar luapan emosi Tisha.


"Aku akan jelasin Sha, itu semua bukan seperti yang kamu pikirkan. " Adyan mencoba untuk menjelaskan.


"Sudah lah bang, mungkin memang selama ini aku saja yang mencintai abang. Dan abang memang tak pernah mencintai aku, jadi mulai sekarang silahkan abang berbuat sesuka abang karena aku sudah tidak mau peduli lagi. cukup aku berkali-kali menahan rasa sakit. " Ucap Tisha menyela penjelasan Adyan.


"Sha, dengerin aku dulu. " Adyan masih memohon kepada Tisha.


Tishapun segera membuka pintu mobil Adyan untuk menghindari apa yang akan di ucapkan Adyan.

__ADS_1


"Sha, tunggu aku bisa jelasin. "....


🌿🌿🌿🌿


__ADS_2