
Hari telah berganti petang, Matahari yang bersinar pun akan tenggelam di peraduannya di gantikan dengan sang rembulan yang mengintip malu di singgasananya.
Setelah melaksanakan sholat Magrib berjamaah, keluarga pak Jaka mempersiapkan diri untuk menuju rumah Salma. Hantaran telah tertata rapi di masing-masing mobil. Sore ini, Irsyad memakai baju batik yang menampakkan kegagahan pada tubuhnya. Kulit yang bersih dan tubuh yang atletis menambah ketampanannya.
Irsyad melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu setelah berganti baju. Disana sudah berkumpul keluarga besarnya. Tidak ketinggalan si cantik Aira yang sangat antusias ketika akan di ajak ke rumah Salma.
Tap....tap...tap
Suara sepatu pantofel beradu dengan lantai marmer rumah Irsyad. Nadira dan Sinta menoleh ke sumber suara. Mereka sangat terpukau dengan penampilan abangnya.
"Subhanallah, ini beneran abangku." Teriak Nadira yang kagum dengan kakaknya.
"Itu mulutnya di tutup dek, nanti ada lalat masuk baru tahu rasa." Ucap Irsyad meledek adiknya.
"Ih abang ini, harusnya berterima kasih sama Nadira. Udah di puji juga."Ucap Nadira kesal.
"Kan dari dulu kamu tahu kalau mas mu ini ganteng."Jawab Irsyad dengan PD nya.
"Kya...." Nadira mencibir ke PD an kakaknya.
"Haha...Makanya dek diam aja, Mas Irsyad di lawan." Ucap Maulana menambahi.
"Ini lagi, nggak bagus-bagusnya jadi kakak. Belain kek adiknya."
"Ngapain juga belain kamu. Tu suruh belain suamimu sana." Tunjuk Maulana ke arah Frans. Frans yang di tunjuk hanya tersenyum saja.
"Sudah-sudah kalian ini berantem saja kerjaannya ." Ucap bu Ronah menengahi. "Ni kita nggak jadi ngantar kakakmu melamar pujaan hatinya kalau ngeladenin kalian "
"Hahaha... Benar juga bu. Kasihan nanti si abang kembali tugas belum nemu gandengan." Cibir Nadira.
"Ya udah ini sudah siap semua kan ?" Kalau sudah ayo kita berangkat sekarang takut kemalaman nanti." Ajak pak Jaka.
"Nak, nanti kamu ikut semobil ayah sama ibu saja biar mang Ujang yang nyetir."Ajak bu Ronah.
"Baik bu, Aira sayang mau sama ayah atau tante Nadira ?"
"Mau cama ayah aja ya." Ucap Aira.
"Ya sudah, ayo segera berangkat." Ajak pak Jaka.
Merekapun jalan keluar menuju halaman rumah di sana sudah ada mobil 3 yang berjajar. Mobil depan akan di isi oleh rombongan Irsyad, Aira , kedua orang tuanya beserta bi Ijah dan Nisa. Mobil kedua diisi Nadira dan keluarganya dan di susul mobil terakhir keluarga Maulana. Aira di gendong oleh Irsyad menuju ke mobil. Tampak wajah Aira yang bahagia. Apalagi ketika Irsyad be cerita jika onty cantiknya akan menjadi bunda beneran untuk Aira, dia berteriak kegirangan dengan mencium kedua pipi ayahnya dengan bahagia.
"Ayah, hali ini ayah sangat tampan." Puji Aira di gendongan ayahnya.
"Masak sich sayang." Jawab Irsyad.
Pak Jaka dan bu Ronah hanya tersenyum mendengar pujian Aira kepada ayahnya.
"Benelan kok ayah, Aira tidak bohong."
"Terimakasih pujiannya putri cantik ayah." Ucap Irsyad dengan mencium gemas pipi Aira.
__ADS_1
Mereka pun masuk ke dalam mobil mereka masing-masing. Sebelum berangkat, pak Jaka sebagai kepala keluarga memimpin do'a agar di beri kelancaran dalam menjalankan acara lamaran ini. Setelah siap, merekapun melajukan mobilnya beriringan membelah jalan menuju rumah Salma.
Kira-kira membutuhkan waktu 40 menit untuk sampai ke rumah Salma.
***********
Kediaman Salma
Setelah sholat Magrib, Salma ditarik Arin menuju kamarnya. Di sana sudah ada Tania, Intan beserta putra-putranya. Brian anak Tania sedang asyik bermain dengan Rachel putri dari Intan di karpetkamar Salma. Di sana juga sudah ada seorang MUA teman Arin yang akan merias Salma.
Awalnya Salma menolak memakai jasa MUA, dia hanya ingin merias wajahnya secara natural. Bukan Arin dan Tania jika tidak bisa membujuk Salma. Akhirnya Salmapum mengalah, dia berfikir kembali acara ini adalah acara yang sangat dia tunggu. Tampil berbeda mungkin tidak masalah untuk menghargai tamu. Setelah di rias, Salma berganti kebaya yang sudah di pilih tadi pagi.
Semua mata tertuju je arah Salma. Mereka sangat terpukau dengan riasan Salma. Karena memang Salma jarang untuk merias wajah yang berlebihan, sehingga riasan ini membuat semua yang ada di kamar pangkling dengan wajah Salma. Pada dasarnya memang Salma sudah cantik di tambah dengan polesan make up menambah kecantikan untuk Salma.
"Subhanallah dek, cantik banget sich kamu." Puji Arin kepada Salma.
"Terimakasih kasih kak, tapi Salma nggak PD kak."
"Eh ngapain nggak PD juga Ma, kamu tambah cantik lo dengan riasan ini dan dengan memakai kebaya ini juga." Tambah Tania.
"Bener lo mbak, kamu cantik banget. Gimana nanti calon mbak lihat mbak Salma kayak ini pasti tambah klepek-klepek." Ucap Intan.
"Kamu bisa saja dek." Sanggah Salma.
"Kakak nggak nyesel deh manggil Lila untuk merias kamu." Puji Arin ke Lila.
"Siapa dulu yang ngrias." Ucap Lila dengan bangga memuji riasannya.
"Siap kak." Ucap Tania dan Intan bersama.
"Mbak Salma saya pamit dulu ya. Semoga acaranya lancar." Pamit Lila.
"Ya mbak, terimakasih ya mbak bantuannya."
Lila pun menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
Arin pun keluar dari kamar Salma untuk mengantar Lila pulang. Setelah selesaiengantar Lila, Arin kembali ke dalam untuk membantu tetangga ibunya yang sedang menata hidangan di meja makan.
Setelah beberapa menit, ada deru suara mobil yang berhenti di depan rumah orang tua Salma.
"Mas Arvan coba deh lihat, sepertinya keluarga calonya Salma sudah datang " Pinta Arin kepada suaminya yang sedang mengobrol dengan suami Tania dan Intan.
"Baik dek mas kedepan dulu, coba kamu panggil ayah dan ibu di dalam."
Arvan pun melangkahkan kakinya menuju halaman depan dan diikuti Rahardian dan Andika suami dari Tania dan Intan. Setelah sampai di halaman depan, Pak Handoko dan pakde Jono ikut menyambut tamu yang datang.
Irsyad dan orang tuanya pun turun dari mobil. Di susul Nadira beserta keluarga dan Maulana beserta keluarga yang membawa hantaran untuk Salma. Ikut Nisa bi Ijah dan mang Ujang yang membantu keluarga Irsyad membawa hantaran.
Merekapun berjalan beriringan menuju ke Rumah Salma.
"Assalamualaikum." Ucap pak Jaka beserta keluarga nya.
"Waalaikumsalam." Ucap Pak Handoko beserta keluarga nya.
__ADS_1
"Selamat datang bapak dan ibu yang mau bersilaturahmi ke gubuk kami yang sederhana ini." Ucap pak Handoko.
"Terimakasih pak Handoko beserta keluarga yang sudah sudi menerima kehadiran kami."Jawab pak Jaka.
"Ya sudah sekarang kita masuk rumah pak,bu kita lanjutkan ngobrol kita di dalam." Tawar pak Handoko.
Merekapun masuk ke rumah Salma. Arvan menghantarkan keluarga calon adik iparnya di kursi yang sudah di sediakan. Tidak lupa mereka saling bersalaman. Ruangan yang digunakan untuk acara ditata berhadapan untuk 2 keluarga. Bu Ronah dab Arin beserta bude Wati istri dari pakde Jono menghampiri keluarga Irsyad untuk bersalaman. Merekapun saling memperkenalkan diri mereka. Terutama bu Ronah dan Bu Murti yang saling berpelukan.
"Wah seneng nya bu bisa berkenalan dengan ibu dan keluarga." Ucap bu Murti.
"Sama bu saya juga sangat senang akhirnya nak Salma bisa menjadi bagian keluarga kami." Jawab bu Ronah.
"Mbak Salmanya dimana mana ini bu." Tanya Nadira yang penasaran dengan calon kakak iparnya.
"Masih di dalam nak nanti setelah acara dimulai akan di panggil kesini." Jawab bu Murti dengan senyum tipis di bibirnya.
"Wah ganteng juga ya bu calonnya adik." Puji Arin kepada Irsyad.
"Cocok dong sama adik mu, sekarang kamu panggil adikmu gi kesini." Pinta Bu Murti.
"Baik bu." Ucap Arin.
Arin pun berjalan menuju kamar Salma. Sedangkan keluarga pak Jaka sudah duduk berjajar dan berhadapan dengan keluarga pak Handoko. Di kursi depan bagian keluarga pak Jaka di isi oleh Irsyad dan Aira yang di himpit oleh pak Jaka dan Bu Ronah sedangkan kursi di belakang nya diisi keluarga Maulana dan Nadira.
Sedangkan kursi yang bersebrangan di isi oleh pak Handoko yang di dampingi bu Murti di bagian kanan dan bagian kiri ada Pakde Jono dan budhe Wati sedangkan kursi tengah masih kosong yang akan di isi oleh Salma.
Mereka mengobrol untuk menunggu seseorang yang ditunggu kehadirannya. Nadira dan Sinta sangat penasaran dengan calon kakak iparnya. Mereka tengak-tengok mencari keberadaan Salma. Setelah beberapa saat, Salma pun muncul di ntar oleh Arin dan kedua sahabat nya menuju ke kursi yang disediakan.
Tap...tap...tap (bunyi high heels Salma )
Semua orang di ruangan mandang kearah Salma. Tak terkecuali Irsyad yang terpukau dengan Salma. Salma yang merasa di pandang hanya menundukkan wajahnya karena malu.
"Dek jangan nunduk dong, tu keluarga calon mu juga ingin lihat kamu." Pinta Arin.
Salma pun mendongakkan wajahnya menghadap ke arah orang di ruangan tersebut dengan tersenyum . Irsyad pun sampai terbengong karena terpukau dengan kecantikan Salma. Nadira yang melihat kakaknya mencari ide untuk menggoda kakaknya.
"Ehemm....(Suara Nadira memecahkan lamunan Irsyad dengan menyenggol pundak kakaknya). Mas tu mulut di tutupin dech ada lalat masuk baru tau rasa." Goda Nadira.
"Apaan sich dek." Jawab Irsyad jengkel.
"Wah calon kakak ipar cantik juga kak, pantesan kakak ngebet banget ." Goda Nadira dengan tertawa.
"Ya dek bener, tu mbak Salma cantik banget ." Tambah Sinta yang terpukau dengan kecantikan kakak iparnya.
"Ayah Aila mo cama onty ya."
Salmapun duduk di tengah-tengah orang tuanya dan pakdhe budhe nya. Salma berhadapan langsung dengan Irsyad. Dia tersenyum di hadapan Irsyad dan Aira kemudian menundukkan kepalanya. Dari arah depan, Aira berlari menuju ke arah Salma.
"Onty..." Teriak Aira yang berlari menuju Salma.
"Jangan lari dong sayang." Ucap Salma dengan mengangkat tubuh Aira di pangkuannya.
**NOTE :
Jangan lupa vote dan like nya ya. Di tunggu sarannya juga**...
__ADS_1