Bunda Untuk Aira

Bunda Untuk Aira
Taman


__ADS_3

Jangan lupa buat kasih Vote dan likenya ya bagi yang suka dengan Aira 🤗🤗🤗🤗


**Happy Reading.......


💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓**


Setelah menempuh perjalanan 40 menit,mobil Irsyad dan Irfan tiba di Taman. Mereka memarkirkan mobilnya bersebelahan. Setelah memarkirkan mobilnya,Irsyad keluar terlebih dahulu untuk membantu istrinya turun karena sedang memangku Aira.


"Bunda sama kakak tunggu sini dulu ya,ayah mau bantu om Randi."Pinta Irsyad kepada anak dan istrinya setelah selesai membukakan pintu mobil.


"Siap ayah."Jawab Aira dan Irsyad bersama.


Salma dan Aira menunggu di luar mengambil barang bawaannya dan juga mengambil kursi roda Randi.


"Kak,ayo kita tunggu di sini dulu biar ayah bantu om Randi turun." Ajak Salma dengan menggandeng tangan anaknya.


Irsyad pun mulai membantu Randi turun setelah menaruh kursi rodanya di depan pintu penumpang.


"Terimakasih suh." Ucap Randi kepada Irsyad.


"Sama-sama." Jawab Irsyad setelah menurunkan Randi.


"Ayo kita kesana." Ajak Salma.


"Aira......." Ucap Rio sedikit keras mendekati Aira.


"Rio pelan kan suaramu,ini bukan hutan. Heran papa tiap hari teriak-teriak nggak ada capeknya." Ucap Irfan yang kesal dengan putranya.


"Biarin,kan Rio nggak manggil papa tapi lagi manggil Aira. Kenapa papa yang sewot?" Jawab Rio menantang ayahnya. Dan mulailah peperangan antara papa dan putranya. Tiap hari ketika bersama pasti ada-ada aja ulah mereka yang sering berantem.


"Idih ni bapak sama anak,nggak tau tempat banget dimanapun berantem melulu. Ni juga yang besar nggak mau ngalah sama anaknya." Ucap Rosa dengan menjewer telinga suaminya.


"Aduh.....ampun Ma,ni Rio teriak-teriak nggak jelas.Emangnya ini hutan." Ucap Irfan kesakitan karena di jewer sang istri.


"Tapi kamu udah besar Pa,ingat Rio masih kecil. Ngalah gitu lah,gitu-gitu juga anak kamu." Bela Rosa kepada Rio.


"Sukurin tu Pa,emang enak wex....wex..." Ucap Rio kegirangan meledek papanya dengan menjulurkan lidahnya.


"Eh ni bocah cebong malah ngledek." Tambah Irfan yang kesal dengan anaknya.


"Suh,sudah deh tu banyak orang nggak malu beranteng sama anaknya?" Ucap Irsyad menengahi dengan menahan tawanya melihat tingkah teman perjuangannya dengan anaknya.


Nita pun juga tersenyum melihat keakraban keluarga tetangganya yang menandakan rasa kasih sayang mereka.


"Udah ayo kita masuk,mumpung belum ramai nanti lanjutin berantemnya di dalam." Ajak Salma yang juga menahan tawanya.


"Ayo Lio kita masuk. Nanti kebulu panas. Katanya Lio mau maen sama Aila." Ajak Aira kepada Rio.

__ADS_1


"Ayo princess,let's go.." Jawab Rio menggandeng Aira untuk berjalan masuk.


"Eh buses tu anak pintar merayu juga." Ucap Irfan dengan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rio.


Akhirnya,merekapun masuk kedalam bersama dengan Nita mendorong kursi roda Randi di ikuti Salma dan Rosa di sampingnya. Sedangkan Irfan dan Irsyad membawa bekal dan tikar yang mereka bawa.


Karena masih pagi,suasana taman masih cukup sepi pengunjung. Suasananya yang masih asri membuat para pengunjung nyaman berada di sana.


"Kita istirahat di sini aja ya sepertinya tempatnya enak." Ucap Irsyad menaruh barang bawaannya didawah pohon rindang di dalam taman dan berhadapan dengan Playground sehingga mereka bisa mengawasi Aira dan Rio ketika bermain.


"Ya Suh,tempatnya enak."Jawab Randi yang juga menikmati udara di sana.


"Bunda Aila mo maen kesana." Rengek Aira ketika melihat ayunan dan prosotan.


"Aira ayo maen sama Rio kesana." Ajak Rio ketika mendengar rengekan Aira.


"Bunda boleh?" Tanya Aira meminta persetujuan dari bundanya.


"Ya sayang,tapi hati-hati ya nggak boleh berlari-lari nanti jatuh." Pesan Salma kepada Aira dan Rio.


"Siap tante,Rio akan jaga Aira kan Rio penjaga Aira." Jawab Rio dengan PDnya.


"Heleh gaya pakai kata penjaga,badan aja kecil gitu." Ledek Irfan.


"Biarin wex...." Jawab Rio dengan kesal.


"Eh anak kecebong,enak saja ngatain papanya monster." Sungut Irfan yang di ledek anaknya. Sedangkan Rio dan Aira sudah berlari.


"Oalah kamu itu mulai lagi Suh,biarin juga mereka masih anak-anak." Jawab Irsyad.


"Udah dari pada berantem nggak jelas,mending papa dan om gelar tu tikar biar kita bisa duduk dan menikmati udara di sini." Ucap Salma yang jengah mendengar ledekan Irfan kepada Rio. Pasti nanti ujung-ujungnya berantem lagi.


"Benar tu pa,pasti kalau di lanjut papa paling berantem lagi sama Rio." Tambah Rosa.


"He....,iya mama tante Salma." Jawab Irfan cengengesan. Jika seperti ini,Irfan tidak nampak seperti mantan playboy ketika masih muda. Karena sikapnya yang urakan dan humoris.


Nita hanya memandang sendu interaksi antara kedua tetangganya beserta keluarganya. "Aku iri melihat keluarga mereka,bahagia dengan anak-anak mereka. Tidak ada beban yang mereka hadapi. Mereka bisa tertawa lepas." Batin Nita dengan sendu.


Randi melihat wajah istrinya yang tampak sendu ketika melihat keakraban keluarga sahabatnya. Diapun memegang tangan istrinya sambil menengok ke wajah istrinya.


Nita yang merasa tangannya di pegang,melihat ke arah suaminya dengan tersenyum menutupi rasa sedihnya. Dia merasa kesepian sudah 3 tahun berumah tangga tapi belum ada seorang anak yang menemani meramaikan kehidupannya.


"Besok kita juga progam anak ya yang,biar rumah kita juga ramai seperti Rio dan Aira." Ucap Randi lirih kepada sang istri. Dia tahu jika istrinya juga menginginkan adanya seorang anak di rumah tangga mereka,dia tambah merasa bersalah dengan semua sikap dia kepada sang istri.


"Iya mas." Jawab Nita dengan memaksakan tersenyum. Dia bersyukur di berikan kesempatan untuk memperbaiki pernikahannya dengan sang suami. Meskipun badai besar telah mereka hadapi,mereka berusaha mempertahankannya dan memperbaikinya. Nita juga bersyukur dengan cobaan ini suaminya sudah mulai mencintai dia dan bersikap lebih lembut dari sebelumnya.


"Ayo Suh,aku bantu buat duduk di bawah." Ajak Irsyad kepada Randi untuk menaruh Irsyad ke tikar yang sudah di gelarnya.

__ADS_1


"Terimakasih Suh,maaf merepotkan." Jawab Randi.


"Santai saja Suh,kita semua saudara. Jadi kita harus saling membantu satu sama lainnya." Tambah Irsyad.


"Ayo mbak Nita duduk sini." Ajak Salma.


"Ya mbak,ini banyak makanan juga." Tambah Rosa.


"Iya mbak Salma dan mbak Rosa. Maaf ya tadi saya nggak bawa apa-apa karena tadi juga kami tidak berencana pergi." Ucap Nita yang merasa tidak enak dengan kedua tetangganya.


"Ya Allah mbak,tenang aja ni saya bawa bekal banyak dan pastinya cukup buat kita semua." Ucap Salma menenangkan.


"Ni aku juga bawa kok mbak jadi santai saja." Tambah Rosa.


"Iya mbak." Jawab Nita dengan tersenyum.


"Ma,bekalnya di buka dong. Tapi mama bawa apa saja." Ucap Irfan kepada Rosa.


"Sabar pa,ni juga mau di buka." Jawab Rosa.


"Bun,ambilin ayah cappucino ya." Pinta Irsyad kepada Salma.


"Ya yah." Jawab Salma.


"Oh ya om Randi dan om Irfan mau juga cappucino nya?" Tawar Salma.


"Boleh itu tan." Jawab Irfan.


"Mas Randi habis minum obat mbak,jadi nggak boleh mengkonsumsi caffein." Tolak Nita.


"Oh ya maaf mbak Nita,kalau begitu teh hangat saja ya ni saya juga bawa teh hangat buat jaga-jaga." Ucap Salma dengan senyum ramahnya.


"Iya mbak terimakasih ya." Ucap Nita.


Salmapun tersenyum dan mengambilkan cappucino untuk suami dan Irfan sedangkan untuk Randi Salma menuangakn teh di dalam gelas plastik yang dia bawa dari rumah.


"Kapan-kapan kita agendakan lagi ni pergi bersama-sama biar nambah keakraban kita saja." Usul Rosa.


"Boleh juga itu tan,tapi bentar lagi perut istri saya sudah besar tan jadi nggak bisa pergi jauh-jauh." Irayadpun menjawab dengan memperhatikan kearah perut istrinya yang sudah membuncit. Dan terkadang dia kasihan ketika melihat istrinya yang mulai mudah kelelahan.


"He....,iya juga ya." Ucap Rosa.


"Mbak Salma ini sudah masuk berapa bulan kandungannya?" Tanya Nita dengan mengusap perut Salma.


"6 bulan mbak." Jawab Salma lembut.


"Semoga mbak juga segera menyusul ya,biar rumah kita tambah ramai." Tambah Salma.

__ADS_1


"Amin mbak. Terimakasih doanya." Nitapun tersenyum.


__ADS_2