Bunda Untuk Aira

Bunda Untuk Aira
Cemburu


__ADS_3

Happy Reading....


🍁🍁🍁🍁


"Abang mau makan apa? " Tawar Tisha.


"Apa saja. " Balas Adyan pendek.


"Berarti 2 ya mbak seperti biasa saja di warung Mpok Darti. Dan tolong bilang mbak Siti untuk membuat kan kopi buat abang. " Ucap Tisha.


"Baik mbak. Kalsium begitu saya keluar dulu."


Mbak Sari pun keluar dari ruangan Tisha setelah mencatat apa saja pesanan Tisha. Dan Adyan masih mengamati ruangan Tisha secara seksama. Dia melihat setiap inchi apa saja yang ada di ruangan. Banyak gambar atau desain baju yang terpampang rapi di dinding. Dan juga ada banyak penghargaan yang di dapat Tisha di sana.


Kagum....


Satu kata yang terlintas di otak Adyan saat ini. Wanita manja ini ternyata tak seperti yang ia pikirkan. Wanita ini sangatlah hebat dengan prestasi yang ia raih di usia yang masih muda.


"Ehem... "


Tisha pun menghentikan mengamati laporannya ketika mendengar Adyan berdehem. Dia pun menatap ke arah Adyan.


"Itu penghargaan dalam acara apa? " Tanya Adyan yang penasaran melihat foto dimana Tisha mendapatkan piala dan berdiri berdampingan dengan Desaigner ternama du ibu kota.


"Oh, itu waktu acara fashion show tahun lalu. Ajang perlombaan untuk menampilkan karya desaingner muda yang berbakat. " Jawab Tisha dengan kembali menatap laporannya.


"Setiap pulang kampus langsung kesini? " Tanya Adyan kembali yang mulai tertarik dengan keseharian Tisha.


"Yah seperti itu lah bang, butik ini kan hasil jerih payah aku untuk menunjukkan jika aku bukan anak manja yang selalu berada di " Ketiak" papaku dan banyak menyusahkan banyak orang. "Jawab Tisha dengan menekankan kata ketiak sebagai perumpamaan untuk menyindir Adyan.


Tisha masih ingat betul dengan perkataan Adyan yang mengjudge dirinya sebagai anak manja dan tak akan mungkin bisa berdiri sendiri tanpa bantuan kedua orang tuanya. Apalagi dia terkenal anak seorang pejabat di kesatuannya dan anak satu-satunya pasti dia akan sangat manja. Tapi semua dugaan Adyan di patahkan oleh Tisha.


Tisha bisa membuktikan jika dirinya bukan anak manja dan meskipun dia adalah anak semata wayang, tapi dia berhasil dengan usaha dan bakatnya.

__ADS_1


Adyan yang merasa tersindir pun hanya menggaruk tengkuknya. Dia merasa bersalah karena pernah menyakiti hati Tisha dengan perkataannya. Apalagi dulu ketika pendidikan, banyak teman-teman seangkatan yang memandang remeh dirinya karena dekat dengan Tisha. Karena banyak temannya yang sudah mengenal Tisha yang adalah putra dari seorang Pati, membuat Adyan di anggap mendapatkan peringkat karena bantuan dari ayah maupun ayah dari Tisha. Sehingga itulah yang membuat Adyan bersikap acuh kepada Tisha.


Dan sekarang Adyan bisa membungkam mulut teman-teman nya dengan prestasi yang benar-benar ia dapat karena keahliannya bukan karena bantuan dari ayah dan ayah Tisha.


Tak berselang lama, mbak Sari pun masuk ke ruangan Tisha dengan membawa 2 bungkus nasi yang di bungkus dengan kertas minyak berlapis daun pisang.


"Ini mbak makanannya. " Ucap mbak Sari dengan meletakkan 2 bungkus nasi dan dua piring beserta perangkatnya seperti sendok dan garpu.


"Makasih mbak. " Balas Tisha dengan berdiri dan mendekati sofa yang diduduki Adyan.


"Sama-sama mbak. " Jawab mbak Sari


"Oh ya mas ini inuman nya. " Ucap mbak Sari beralih ke Adyan dengan meletakkan minuman yang di pesan tadi di depan Adyan.


"Makasih mbak. " Adyan pun mengucapkan terimakasih.


"Ya sama-sama mas. Kalau begitu saya keluar dulu. " Pamit mbak Sari.


"Iya mbak. "


"Ini bang. " Ucap Tisha sopan dengan menyerahkan nasi tersebut ke Adyan.


"Terimakasih." Balas Adyan dengan canggung.


Tisha pun hanya tersenyum dan fokus kembali membuka nasi bagiannya. Tampak nasi campur yang berisi nasi, sayur lodeh kering tempe, mie dan sambal. Tidak lupa ada ayam goreng dan irisan telur pindang sebagai lauknya.


"Mari makan. " Ajak Tisha.


Tisha pun segera menyiapkan nasi ke dalam mulutnya. Hanya menu sederhana dan rumahan. tapi Tisha menikmatinya. Tidak ada yang menyangka jika anak seorang Pati dan pemilik butik besar mau makan menu sederhana dengan bungkus kertas minyak.


Banyak dari mereka di luaran bahkan berasal dari keluarga biasa saja ingin selalu menunjukkan jika mereka bisa dan bangga makan di cafe. Meskipun dengan membayar mahal, mereka rela tanpa berfikir esok hari.


Adyan pun tersenyum dan memandang Tisha dengan kagum.

__ADS_1


"Nggak menyangka dia bisa makan menu seperti ini. " Ucap Adyan dalam hatinya dengan memandang Tisha yang menyantap makanannya dengan lahap.


Jika Adyan sudah terbiasa dengan makanan seperti ini ketika berpendidikan. Dan waktu awal masuk ke satuan, dia pun di gojlok kembali dengan jatah makanan yang sederhana seperti ini. Jika dia ataupun yang lainnya tak menghabiskan, maka akan ada hukuman yang mereka Terima. Bahkan waktu makan pun sudah di beri waktu, kadang mereka pun harus makan tanpa mengunyah langsung telan mentah-mentah dengan bantuan air minum. (Inget cerita ni waktu pendidikan, sampai menyembunyikan nasi dan lauknya di bawah botol air minum dan kemudian akan mereka makan kembali di kamar mandi πŸ˜…πŸ˜…).


"Kenapa bang nglihatin aku seperti itu? " Tanya Tisha yang risih di pandangi Adyan.


"Nggak, aku cuma kaget aja ternyata dirimu bisa juga makan makanan sederhana ini. " Balas Adyan.


"Menurut aku semua makanan sama aja sih, yang membedakan tempatnya dan rasanya. Toh makanan ini bersih dan enak jadi ngapain juga gengsi makan makanan sederhana ini. " Balas Tisha dengan melanjutkan makannya..


"Kamu nggak makan ke cafe gitu, secara kan dirimu seorang pemilik butik yang terkenal. "


"Kadang-kadang juga ke kafe bang kalau meeting dengan klien , tapi kalau di butik sering makan di warung mpok Darmi. Ya anggap aja berbagi rejeki bang soalnya beliau juga jualan untuk biayain anak-anaknya sekolah. " Tisha pun menjelaskan alasan mengapa dia suka makan di sini.


"Kadang juga aku sering makan di warung nya langsung, meskipun kecil tapi untuk kebersihan nya tetap terjaga. "


"La suaminya kemana kok beliau mencari biaya sekolah buat anaknya? "


"Beliau itu seorang janda, suaminya meninggal gara-gara tabrak lari dan meninggalkan 3 orang anak. Jadi ya beliau harus bekerja keras untuk anak-anaknya. "


Adyanpun semakin bertambah rasa kekagumannya dengan mendengar perkataan Tisha. Dia sangat malu sudah berfikiran jelek terhadap Tisha.


Obrolan mereka pun terhenti setelah pintu ruangan Tisha di buka oleh seseorang.


"Wah enak ni baru makan siang. " Ucap orang tersebut membuyarkan Tisha dan Adyan.


Tisha pun menoleh dan tersenyum lebar setelah tahu siapa yang datang.


"Kak Dion." Panggil Tisha dengan menghampiri orang tersebut dan berhambur ke pelukannya.


. Adyan yang melihat Tisha memeluk seorang laki-laki itu pun merasa panas dan rasanya tak rela.


"*Siapa sih laki-laki itu? "...

__ADS_1


🌿🌿🌿🌿*


Hayo siapa dia πŸ€”πŸ€”πŸ€”πŸ€”πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2