
Dengan lembut Naya mengganti handuk yang menempel di kening sang suami, ia bersyukur sekarang panas tubuh Danu sudah mulai berkurang.
Setelah mengganti handuk kompresan, Naya melangkah ke dapur untuk membuat sop ayam.
Nafas Danu mulai terdengar teratur, meski sibuk di ruang dapur Naya sesekali memeriksa suhu tubuh Danu.
Jika Naya sibuk karena sedang merawat sang suami maka di kantor Januar sibuk dengan tugas Naya yang terpaksa ia selesaikan karena mendadak ijin pagi tadi.
Untung lah agenda yang di kirim Naya tidak terlalu banyak acara hari ini.
Januar meregangkan tubuhnya, berjam-jam duduk di kursi membuat otot tubuhnya terasa kaku.
"Nanti kita makan di ma....?" kalimat Januar terhenti saai ia baru teringat bahwa hari ini sekertarisnya ijin.
Pantas saja ruangannya terasa sepi dan dingin, setengah jam sebelum istirahat biasanya Naya akan rajin menanyakan di mana mereka akan makan.
"Mbak, di sini restoran terdekat dari kantor ada di mana?" pesan yang Januar kirim pada Tiwi.
"Ada resto Mm , Dd, Kpc, dan ada satu paling enak tapi agak jauhan dikit dari Tinar Perkasa resto....."
"Ah pokoknya yang paling dekat" sela Januar lewat pesannya.
"Ya itu resto Mm, memangnya kau tidak istirahat bareng Naya?" tanya Tiwi.
"Dia ijin tadi, katanya suaminya sakit."
"Hah, Naya ijin karena laki nya sakit?, mau-mau nya dia ngurusin suami nggak tahu di untungnya itu."
"Suami apa maksudnya mbak?" tanya Januar heran, tak biasanya kakaknya itu terlihat sangat kesal pada seseorang biasanya Tiwi paling anti mengomentari hidup orang lain.
"Suami ah sudah lah....kau unduh saja aplikasi belanja online agar kau bisa pesan makan tanpa harus bingung harus cari restoran mana."
Januar hanya bisa menatap layar ponselnya saat Tiwi menutup panggilannya sepihak.
Pria itu pun tersenyum lega setelah berhasil memesan makanan lewat aplikasi online yang baru ia unduh.
Tak lebih dari tiga puluh menit Ujo datang membawa makanan yang baru di terima dari aplikasi hijau.
"Maaf Tuan, ini pesanan anda sudah datang" ucap Ujo hormat.
"Ehm Jo, kau ambilah satu bungkus untuk makan siangmu, karena aku me mesan dua porsi" tawar Januar.
"Baik Tuan, terima kasih" jawab Ujo dengan wajah bahagia, lumayan hari ini ia bisa makan siang gratis.
__ADS_1
Dengan absennya sang sekertaris sungguh membuat pekerjaan Januar berkali-kali lipat banyaknya, ia pun segera menghabiskan makan siang karena setumpuk map masih harus ia cek.
Namun Januar kembali teringat ucapan sang Kakak tentang sekertarisnya itu, ada apa gerangan hingga Tiwi tampak begitu membenci suami sahabatnya.
Januar menggelengkan kepalanya cepat berharap otaknya tak selalu teringat Naya.
Ish pergilah kau, jangan ganggu aku.
Karena agenda hari ini sudah selesai, Januar pun pulang tanpa menambah jam kerja nya.
Sapaan dan anggukan para karyawan ia balas dengan anggukan kecil namun wajahnya tetap datar.
Beberapa karyawan sempat berbisik lirih.
"Sombong ya, nggak kaya Kakaknya" salah satu karyawan berucap lirih.
"Iya, kalau Ibu Tiwi ramah dan hangat, cantik lagi."
"Heum, tapi Kenapa malah adiknya terlihat lebih tua dan lebih seram ya...apa benar dia adik Ibu Tiwi" sambung karyawan lain.
Brakk.
"Eh copot kodok loncat..."ucap salah satu karyawan yang latah.
"Makannya kalau gosipin orang kira-kira atuh Mbak, masa atasan sendiri di ghibahin, nggak malu tuh waktu tanggal muda transferan gajihan datang" ujar Ujo santai.
"Nggak gitu juga Bang, kita mah nggak ghibahin kok, cuma bicara fakta aja, Tuan Januar beda jauh sama Ibu Tiwi dia....."
"Ssttt udah cukup !kalian jangan pernah lihat orang hanya dari penampilan saja, Tuan Januar tidak se buruk yang kalian sangka, kalian jangan berasumsi se enak udel kalian."
Dengan lantang Ujo berucap membela sang Bos, meski raut wajah terlihat menyeramkan dan sifatnya yang tegas dan dingin tapi hati pria itu baik hati.
Ujo memandang para peng ghibah tersebut dengan tatapan tajam membuat nyali mereka menciut.
Dari jauh Ujo memandang punggung sang Bos dengan nafas panjang, andai saja pria itu sedikit merawat wajahnya pastilah pesona yang tersembunyi akan membuat mulut mereka tertutup rapat, bahkan Ujo yakin mereka akan berbalik memuja atasanya itu, jambang lebat dan kumis yang menghias bibir merahnya membuat Tuan Januar terlihat jauh lebih tua dari umurnya.
Ujo menggaruk kepalanya yang tak gatal, berharap otaknya bisa menemukan alasan apa yang tepat agar sang bos mau merapikan jambang dan kumisnya.
Apa mungkin sang Bos tidak memiliki seorang kekasih hingga ia berpenampilan seadanya, bahkan tampak tak terurus.
Januar memasuki apartement di mana selama ini ia tempati, apartement yang dulu Kakaknya tinggal.
Ia melangkah ke kamar yang tertutup rapat, kamar tempat tidur Tiwi kakaknya.
__ADS_1
Ceklek.
Ruang kamar yang luas dengan perabotan khas para gadis.
Ranjang besar dengan meja rias juga lemari besar berjejer temlat baju tas dan sepatu mahal milik sang Kakak.
Januar memindai ruangan, sepi dan hening, tatapanya tiba-tiba terfokus pada beberapa foto yang terpajang di atas meja rias.
Dua wajah yang cukup familiar baginya namun satu wajah lagi tampak asing.
Rupanya mereka yang bergabung dalam kelompok 'Tiga wanita ******' kelompok yang selalu Kakaknya banggakan.
Mereka terlihat sangat dekat, senyum ceria selalu tersungging dengan pose yang terkadang membuat Januar menarik sudut bibirnya.
"Manis" ia berucap lirih.
Baru ia lihat Naya tersenyum lepas di foto tersebut.
Yang ia lihat selama ini, Naya adalah wanita yang kalem dan tertutup bahkan bicara pun se adanya.
Apa yang membuatmu berubah, kau cantik saat tersenyum, kau mempesona saat tawa ceria mu kau tampakkan pada dunia, apa yang telah merubahmu.
Drrt drrtt.
Januar mengambil ponsel di kantong celananya.
"Heum ada apak Mbak?" tanya nya.
"Nu apa kau sudah pulang?."
"Sudah, baru datang ke apartement, kenapa Mbak."
"Hm tidak, aku hanya ingin tahu, apa Naya memberi kabar padamu besok masuk atau masih ijin" tanya Naya.
"Tidak, dia tidak mengatakan apa-apa, kenapa?"
Tiwi pun menceritakan kisah hidup Naya, tentang kedekatan mereka bertiga, hingga tentang perjodohan yang menimpa Naya.
Bahkan Tiwipun menceritakan betapa usaha keras yang Naya lakukan untuk membuat sang suami menyukainya, meski dengan terang-terangan Danu mengatakan ia tak akan meninggalkan kekasihnya, bahkan ia sudah berrencana untuk tetap akan melepas Naya satu tahun kemudian.
Tiwi menumpahkan kekesalan pada suami sahabatnya itu, ia sangat menyayangkan sifat Danu yang lebih memilih kekasihnya sedangkan Naya yang sudah sah menjadi istri ia acuhkan begitu saja.
Kesal hati Tiwi saat Naya sering curhat meski hanya lewat suara, semua masakan tak pernah Danu sentuh, bahkan mereka tidur terpisah.
__ADS_1
Januar menghela nafas panjang, rupanya senyum yang hilang itu karena kisah pahit yang di alami sekertarisnya.