Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Melepasmu Untuknya


__ADS_3

Jefry dan Tanu menunggu dengan tenang di sofa ruangan tengah, di apartement Januar masih belum terlalu banyak perabotan, sengaja ia membiarkan ruangan luas hanya berisi satu set sofa di ruang tengah juga televisi besar yang terpasang di dinding polosnya.


Namun area dapur ia buat selengkap mungkin, bahkan peralatan masak serba modern dan furniture pun berkualitas premium.


Januar tak begitu suka makanan restoran, sejak di KL pun ia lebih sering masak untuk makan sehari-hari daripada harus membeli di luar.


"Informasi tentang Daniel apa sudah kau dapat Nu?" tanya Januar pada Tanu.


Tanu membuka laptop lalu menunjukan pada Januar tentang temuannya.


"Benar dugaan kita Tuan, pria itu bukan benar-benar pria polos dari desa seperti yang orang pikirkan, meski menjabat sebagai kepala Desa, rupanya ada binis lain yang menggurita di luar pulau Jawa."


Tanu menunjukan lokasi sumber kekayaan keluarga Daniel di antaranya adalah kebun klapa sawit, pertambangan, juga real estate yang di miliki keluaranya yang semua bisnis itu berada di luar Jawa.


"Pantas saja ia memberi hadiah yang berharga fantastis untuk Nayaku" ucap januar lirih, Jefry dan Tanu hanya saling lirik tak berani bertanya lebih lanjut.


"Ada lagi hal penting yang harus kau tahu Tuan" Jefry menimpali.


"Apa itu?" Januar penasaran.


"Rupanya Ibu Ningsih sudah banyak memperoleh hadiah pemberian dari Tuan Daniel, dan itu cukup untuk membuat hidupnya tenang tanpa di pusingkan dengan biaya sekolah anak-anaknya juga kebutuhan sehari-hari" terang Jefry.


Rahang Januar mengembung keras, selama ini Naya begitu di peras bahkan takdir hidulnya Ningsih yang mengatur.


"Apa kalian sudah dapat alamat ibu tiri Naya?"


Jefry dan Tanu mengangguk pasti, mereka sudah menyelidiki ke kampung kelahiran Naya dan melihat Ningsih kini hidup bergelimang harta dengan rumah yang megah hasil dari bertukar dengan anak tirinya.


"Baik, kita akan menyusun rencana, aku tak akan membiarkan Naya terus menjadi sapi perahan wanita licik itu" ucap Januar kesal.


"Baik bos, kita harus menyusun siasat yang matang agar Mbak Naya bisa sepenuhnya terlepas dari ibu tirinya."


"Baik esok kita berkumpul lagi di sini, sekarang sudah malam, kalian pulang lah" titah Januar.


Jefry dan Tanu pamit dan membungkukan kepalanya hormat pada Januar, pria itupun mengangguk, lalu segera ke kamar untuk membersihkan tubuhnya, ia akan mengambil beberapa bajunya di apartemen Tiwi.


Waktu menunjukan pukul delapan, Naya mungkin sedang asik menonton televisi, jadi ia bisa leluasa keluar dari apartemenya tanpa di ketahui Naya, pikir Januar.

__ADS_1


Dengan celana jeans hitam dan kaos putih serta topi hitam membalut tubuh Januar yang atketis pria itu keluar dari apartement.


Langkahnya panjang melewati pintu apartement Naya menuju pintu lift.


Januar melangkah keluar dari lobi menuju parkiran, namun tiba-tiba sudut matanya menangkap sosok imut yang membuat hatinya resah.


Dengan hotpants dan kaos oversize yang di pakainya membuat tubuh ramping nan imut yang berjalan seorang diri itu terlihat menggemaskan, Januar melangkah mengikuti sosok manis yang menyita perhatiannya.


Dengan hentakan tangan cepat, Januar meraih pinggang ramping itu hingga sang pemilik pun berteriak kencang.


"Aakhhh..."


"Ssttt..." cepat Januar menutup mulut Naya yang berteriak nyaring.


Naya menghentikan gerak tubuhnya lalu menoleh ke sosok yang membekap mulutnya.


Wajah tampan Januar tersenyum manis melihat wajah panik Naya.


"Kau...untung jantungku masih aman" umpat Naya kesal sambil mengatur nafasnya.


"A aku baru dari mini market di depan, beli shampo."


"Tapi tak aman kalau keluar malam-malam sendiri sayang, apa kau tak tahu berita yang sedang viral, seorang wanita keluar malam hilang...."Tanya Januar, Naya menggeleng panik.


"K kenapa...apa wanita itu di bunuh?"tanyanya polos.


Januar terkekeh gemas.


"Esoknya ia di temukan di apartemen seorang berondong" ucapnya santai.


"Ish ish" Naya mengayunkan tangannya ke arah pinggang Januar dan mencubitnya kecil.


"Auuwwhh" pekikan Januar terdengar keras namun bibirnya tersungging seringai bahagia, bukannya mengurai tangan Naya yang menjepit pinggangnya, pria yang sedang di mabuk asmara itu bahkan semakin menarik tangan Naya hingga tubuhnya masuk ke dalam pelukannya.


"Diamlah dulu sebentar" bisiknya lirih sambil mengendus leher Naya.


"T tapi ini tempat umum, nanti ada orang lewat" bisik Naya panik sambil menoleh ke samping kiri dan kanannya.

__ADS_1


"Jadi gimana kalau kita ke apartement saja?" bisik Januar berat.


"Ah tidak, ini sudah malam, jangan"tolak Naya panik.


"Kalau begitu diamlah seperti ini, aku ingin mengisi daya tubuhku."


Akhirnya Naya pasrah membiarkan Januar memeluknya erat, tubuh keduanya menyatu dengan deru nafas Januar yang tenang.


"Sudah malam, pulanglah" bisik Naya setelah beberapa menit.


"Heum, kapan aku bisa memilikimu, agar kita tetap terus bersama"desah Januar pasrah.


Naya tersenyum haru, ia pun sebenarnya ingin mengajak Januar ke kampung untuk bertemu dengan Ningsih ibunya, ia ingin mengatakan kalau Januarlah pria yang di cintai dan ia harap menjadi suaminya kelak.


"Belum saatnya, aku harus menyelesaikan masalah dengan pria yang ibuku calonkan, aku akan menjelaskan padanya."


"Apa kau sudah bisa menghubunginya?."


"Belum.."


"Oke, aku akan sabar menunggu, dan secepatnya aku akan melamarmu."


Naya mengangguk pasti.


"Kau naiklah, sudah malam, tak aman berada di luar sendiri" ujar Januar lalu mencium bibir Naya lembut.


Untuk sesaat Naya kembali terhanyut dengan buaian mesra Januar, pria itu begitu pintar memainkan lidahnya di dalam sana hingga Naya pun mulai meresapi dan memejamkan matanya.


"Emmppfff" Januar seakan tak rela melepas ciumannya saat Naya mendorong tubuhnya.


"Sayang ....ayo kita menikah" suara Januar terdengar serak dan berat, pertanda aliran darahnya mulai memanas.


"Sudah...sudah...aku mau naik"Naya cepat meangkah menjauhi Januar yang sudah mulai sayu, jika terus berada dekat dengannya bukan tak mungkin ia pun tak bisa mengendalikan hawa panas tubuhnya.


Januar menghela nafas kasar saat Naya melambai dan tubuhnya menghilang di balik panel lift yang tertutup.


"Apa aku harus melepasmu untuknya" ucap satu suara di balik kemudi mobil yang menyaksikan adegan itu dengan jelas dari dalam mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2