Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Bocah Tua


__ADS_3

Naya hanya bisa menelan ludah kasar saat sepiring bihun miliknya tinggal beberapa suap, sedangkan Tiwi pergi dengan wajah tanpa dosa.


Beberapa tumpuk berkas harus Naya selesaikan karena pimpinan akan berpindah tangan.


Lebih dari dua jam Naya berkutat dengan berkas di meja kerja nya, semua sudah ia teliti dan cek seluruhnya, tak terasa perutnya mulai keroncongan.


Ruangan pantry tampak sepi, tak ada Bang Ujo di dalamnya.


Terpaksa nih nyari sarapan sendiri ke bawah, Naya membatin lalu mengambil dompetnya.


Di ruangan lobi pun batang hidung Ujo tak tampak.


Brukk.


Naya yang tak fokus pada langkahnya tiba-tiba menabrak tubuh tegap yang juga sedang menatap ponselnya.


"M maaf maaf Pak " ucap Naya sambil menundukan kepalanya.


Sementara pria bertubuh tegap itu hanya melirik sekilas dan kembali asik dengan ponselnya.


Cih udah sombong wajahnya serem lagi, mirip dukun mesum, Naya membatin.


Dengan kumis dan cambang yang lebat membuat pria bertubuh tegap itu memang terlihat menyeramkan, apalagi dengan tatapan matanya yang tajam.


Bukan seperti dukun mesum seperti yang Naya pikirkan, pria tersebut lebih mirip seorang pimpinan mafia yang sedang menyamar.


Naya kembali melangkah setelah sekilas melihat pria bertubuh tegap tersebut masuk ke dalam lift.


Alisnya nengerut heran, siapa yang akan di temuinya di perusahaan ini, Naya membatin.


Tak ingin membuang waktu percuma, Naya pun melangkah ke luar gedung untuk mencari sarapannya yang tertunda.


Beruntung gerobak tukang ketoprak sedang parkir tak jauh dari gerbang pos satpam.


Dengan langkah panjang Naya kembali ke ruangan dengan membawa se bungkus ketoprak di tangannya.


Kenapa tampak sepi, biasanya banyak karyawan yang lalu lalang, apalagi di jam segini pasti banyak yang ke pantry untuk membuat kopi atau minuman dingin.


"Bang Ujo, tumben sepi..." tanyanya pada Ujo yang sedang membereskan peralatan pantry.


"Mungkin mereka sedang mengikuti meeting serah terima jabatan pimpinan juga sekaligus perpisahan Ibu Tiwi" terang Ujo.


Naya hanya mengangguk pelan.


"Apa adik Bu Tiwi sudah datang Bang?"


"Sudah Mbak, bahkan sekarang masih ada di ruangan meeting untuk perkenalan."


Naya mengerutkan alisnya, rupanya ia terlambat, Ah ...toh ia sudah kenal dengan adik Tiwi, jadi tak perlu ikut perkenalan secara resmi.

__ADS_1


Naya pun mengambil piring untuk tempat ketoprak yang baru di belinya.


Suasana sepi malah membuatnya lebih fokus menikmati sarapan yang terlambat itu.


Menghabiskan ketoprak tak butuh waktu lama bagi Naya karena perutnya yang sudah berontak minta di isi.


Meeting perkenalan lama amat, apa musti ada kata pendahuluan dulu atau sambutan dari masing-masing Kepala Divisi, tapi rasanya tak mungkin, Naya membatin.


Ceklek.


Tiwi muncul dengan bibir bergetar menahan tangis.


"Nayaaa huu huu ....aku besok berangkat, kita nggak bisa bareng dugem lagi, nggak bareng-bareng nyanyi lagi dan nggak bareng-bareng kecengin cogan lagi huu huu...." tangis Tiwi pecah sudah.


Jika di ruang meeting tadi ia bisa kuat menjaga imej nya tapi berdua di satu ruang dengan sang bestie maka runtuh sudah semua ke tegarannya.


Tiwi memeluk Naya erat, seakan itulah perpisahan terakhir mereka dan tak akan lagi bertemu.


Padahal Tiwi bisa saja pulang pergi sesuka hati dan setiap waktu.


"Ehm hmm" suara berat menyadarkan keduanya hingga pelukan pun terurai.


"Eh noh adek Gue, lu masih ingat kan?" Tiwi mengedikan dagu ke arah Januar yang baru masuk ke ruangan.


"Hah, ini adek Elu? lelaki tua ini,.....apa adek Lu gagal oplas?" tanya Naya jujur, dengan kumis dan cambang lebatnya membuat wajah Januar tampak lebih tua dari Tiwi.


"Udah lah masa bodo, mau lebih tua, mau lebih seram, dia tetep Januar adek Gue" ucap Tiwi sambil mengusap ingusnya ke bahu Naya.


"Aihhh ...gila lu jorokk" sungut Naya kesal sambil mengelap bahunya dengan tisu.


Januar hanya tersenyum masam, dari interaksi keduanya bisa di lihat betapa dekat mereka.


"Nanti sore Lu anter Gue ke bandara, nggak ada penolakan titik!" pinta Tiwi yang cenderung bernada ancaman.


"Lha bukannya besok?."


"Nyokap nyuruh pulang hari ini Nay, makanya Januar langsung Gue suruh perkenalan sekaligus oper alih jabatan" terang Tiwi santai.


"Tapi Gue ijin dulu sama suami Gue" teriak Naya di jawab dengan anggukan Tiwi lalu pergi dari ruangan tersebut.


Januar pun mengekor sang Kakak dengan santai.


Naya kini tersenyum, Danu memberinya ijin untuk mengantar Tiwi ke bandara.


Pukul tiga sore mereka pun berangkat ke bandara, Januar mengemudi dengan tatapan tenang tertuju ke jalan di depannya, sementara sang Kakak dan sahabatnya ramai berceloteh riang.


Sesekali pria berjambang lebat itu melirik ke kursi di belakang kemudi, Tiwi dan Naya tampak bercengkerama penuh suka cita, bercerita tentang masa kuliah hingga sesudah bekerja, padahal sebentar lagi pasti akan terjadi banjir air mata perpisahan.


"Nay Lu jangan sampai lupain Gue, pokoknya keep contact always ya..."rengek Tiwi.

__ADS_1


Cih lebay, rutuk Januar dalam hati.


"Heum, Lu juga kalau udah dapet kawan baru, kawan lama jangan di singkirkan" balas Naya.


Tiwi menganggukan kepalanya pasti.


Satu tas ransel mungil tempat ponsel dan peralatan make up dan dua koper besar tempat baju.


Januar dengan sabar menarik satu koper besar dan Naya membantu menarik satu koper ber ukuran sedang.


Sepanjang perjalanan di bandara Tiwi tak melepas pegangan tangannya dari sang sahabat.


Dan seketika banjir air mata pun di mulai, Januar hanya bisa membuang matanya, dua wanita yang saling berpelukan erat saling menangis terisak.


"Nay beneran jangan lupain Gue ya."


"Iya Wi, udah sono berangkat...."Naya menepuk bahu Tiwi, berusaha terlihat tegar.


Dengan terisak Tiwi melambai ke Naya.


Januar hanya diam melihat kakanya yang tampak berat pergi meninggalkan tanah kelahiran.


Karena penyakit sang Ayah, terpaksa mereka tinggal di KL karena pengobatan membuat Ayahnya tak bisa melakan perjalanan jauh terlalu sering, sedangkan pengobatan harus rutin setiap bulan.


Dan Januar yang sudah cukup terampil di kantor cabang, di minta sang Ayah untuk menggantikan kakaknya di kantor pusat yang berada di indonesia.


Sepanjang perjalanan mereka diam membisu, Naya yang masih merasa kehilangan sang sahabat sedangkan Januar yang bingung harus memulai percakapan dari mana.


Kruuuk kruuuk.


Bunyi suara perut Naya memecah keheningan.


"Kamu lapar?" tanya Januar santai.


Hah, apa dia bilang, kamu....sialan ni bocah, gue lebih tua tiga tahun darinya.


"Ehm tadi belum makan siang" ucap Naya jujur.


Januar pun menepikan mobilnya di sebuah restoran mewah bernuansa melayu.


"Ayo kita turun" ujarnya.


"Ehm apa tidak di rumah makan biasa aja" jawab Naya lugu, restoran itu terlalu mewah baginya.


"Ini restoran terdekat, apa kau tahan jika harus menahan satu jam perjalanan lagi" jawab Januar dingin.


Glek.


Ini bocah luar dalem serem semua, nggak ada manis-manisnya.

__ADS_1


__ADS_2