Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Sidang Akhir


__ADS_3

Ujo menggelengkan kepalanya cepat untuk memastikan apakah pendengarannya memang sedang terganggu.


Ceklek.


Januar mematung, ternyata di ruangan Naya ada Dokter Kendra.


"Kenapa kau di sini" tanyanya sinis.


"Aku hanya ingin memastikan apakah dia baik-baik saja, kudengar dia sakit" jawab Kendra tenang.


"Ga, kau ke ruanganku, ambil dokumen yang sudah ku tanda tangan" Januar pun pergi, dari sudut matanya ia sempat melihat netra Naya berkaca-kaca.


Vega pun meninggalkan ruangan mengikuti Januar, sedangkan Naya berusaha mengerjapkan matanya, agar air matanya berhenti keluar, namun hal itu tak luput dari pengamatan Kendra.


"Ada apa? apa ada sesuatu yang mengganggumu?"tanya Kendra dalam, namun Naya menggelengkan kepalanya.


"Mungkin setelah sidang putusan besok, aku akan pindah ke apartemenku" Naya berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Ya ku rasa itu lebih bagus."


"Terima kasih atas dukunganmu selama ini Ken."


Kendra mengangguk sambil membuang matanya, ada denyut nyeri di dadanya, andai Naya tahu, apa pun akan ia lakukan untuknya.


"Lalu bagaimana pernikahanmu?"tanya Kendra.Yang ia tahu Silvy adalah selingkuhan Danu dan Naya tak mungkin meneruskan biduk rumah tangganya jika ternyata Danu tak mencintainya, apalagi setelah perlakuan Danu selama ini padanya, meski ia tahu bahwa betapa menyesalnya Danu kini.


"Mungkin jodohku dengan mas Danu hanya sampai di sini Ken?" desah Naya.


Keberadaan Kendra di ruangan Naya membuat hati Januar tak tenang, Naya bahkan mengabaikan panggilannya.


Dan hati Januar semakin memanas saat sore hari Ujo mengatakan bahwa Naya sudah lebih dulu pulang bersama Kendra, Naya pun me nonaktifkan ponselnya dan ini membuat Januar semakin kalang kabut.


Ceklek.


"Selamat sore Mas Jan, tumben pulang duluan biasanya bareng mbak Nay" sapa Bu Heni.


"Hah, Naya belum pulang Bu?"tanya Januar kaget, Bu Heni menggelengkan kepalanya.


Januar mendengus kesal lalu bergegas ke kamarnya.


Kendra menepikan mobil nya di depan salon Elis, Aslan yang sedang menunggu tampak tersenyum dan melambaikan tangan melihat kedatangan keduanya.


"Tumben kau tidak bersama bodyguard posesifmu itu" sindir Aslan.


"Dia ku culik" seloroh Kendra sambil melirik Naya yang hanya membalas dengan cibiran bibir mungilnya.


"Hei ..tumben kau datang bareng Kendra?"Elis muncul dari ruang pribadinya.


"Bocah ingusan itu sedang lengah, mungkin sekarang sedang kalang kabut mencarinya" ujar Kendra lagi.

__ADS_1


Aslan terkekeh ringan, ia melihat ada raut penuh rasa cemburu di mata Kendra.


Ke empatnya pun duduk di bangku panjang yang terletak di samping salon, langit sore yang cerah membuat suasana luar salon tampak terang.


"Bagaimana apa kau sudah menyiapkan lahir dan batinmu untuk menerima keputusan sidang besok?" tanya Aslan, ia sengaja meminta Kendra untuk mengajak Naya ke salon Elis untuk membicarakan sidang akhir.


"Apapun putusan hakim aku akan terima."


"Bagaimana jika ternyata hukuman yang di dapat Silvy dan antek-anteknya tak memuaskanmu?."


"Aku percaya semua usaha yang telah kau lakukan, dan aku yakin hukuman itu pantas mereka terima."


Aslan menghela nafas lega.


"Oiya, Lis mungkin setelah Silvy di penjara, aku akan langsung pindah dari apartemen Tiwi karena aku merasa sudah aman."


Ada senyum smirk terbit di bibir Kendra.


"Heum oke, pasti Gue bantu."


Dan pukul sembilan mereka menyudahi pertemuan itu, Kendra mengantar Naya kembali ke apartemen, senyumnya tersungging puas saat di lihat banyak notifikasi pesan dan panggilan dari Januar.


Sengaja ia tinggalkan ponsel di dalam tasnya, dan apa yang ada dalam pikirannya memang terjadi, Januar kalang kabut mencari Naya.


Dari sudut matanya ia melihat Naya diam memandang lurus ke jalanan, entah apa yang sedang mengganggu pikirkannya.


"Heum, "hanya deheman singkat yang membuat Kendra bingung.


"Apa yang mengganggu pikiranmu?" sambungnya.


Naya melihat Kendra sekilas lalu kembali menatap jalanan yang sibuk dengan kemacetan di depannya.


"Aku sangat lelah dengan semua ini, aku ingin semua cepat berakhir" ucapnya lirih.


"Bukankah hanya tinggal satu kali sidang lagi yang harus kau ikuti."


"Ya, tapi mungkin aku akan langsung menggugat cerai mas Danu meski pernikahanku berjalan tak baik, tapi aku ingin kami berpisah secara baik-baik"


Kendra mengela nafas panjang, ia tahu bagaimana keadaan rumah tangga Naya, memang tak mungkin untuk di teruskan lagi.


"Sudah aku turun di sini saja" ujar Naya cepat.


Kendra pub menepikan mobil di depan gerbang gedung apartemen.


"Hati-hati dan cepatlah tidur, simpan energimu untuk esok" pesan Kendra dalam.


Naya mengangguk dan melambaikan tangan di iringi senyum manis.


Andai aku bisa memiliki hatimu, batin Kendra sambil membalas lambaian Naya dengan anggukan.

__ADS_1


Dengan amat perlahan Naya menarik tuas pintu, menahan sebisa mungkin agar suara tak sampai terdengar dari kamar Januar.


Langkahnya berjingkat melewati ruang tamu yang temaram, sepatu pun ia lepas dan dengan pelan menaruhnya di rak sepatu.


C e k l ek...."Ehm ehm" serasa jantung Naya tanggal dari tempatnya, suara deheman berat januar terdengar jelas bersumber dari ruang dapur.


Naya berdiri mematung, dadanya berdebar kencang, Januar dengan tenang melangkah mendekatinya.


Greeepp, sepersekian detik Nafas Naya tercekat di tenggorokan saat Januar tiba-tiba merengkuh dan memeluknya erat.


"Maafkan aku, sungguh tak akan ku ulangi lagi, aku tak akan menyentuh sebelum kau sah berpisah dari suamimu, tapi tolong jangan pergi dariku."


Racauan Januar membuat Naya menghempaskan nafas kesal, Januar selalu saja bertingkah tak terkendali, bahkan sekarang dengan santainya ia memeluk erat.


Perlahan Naya mengurai tubuh kekar Januar dan memandang netranya tajam.


"Setelah sidang besok aku akan pindah ke apartemen."


"Haruskah."


"Memang harus seperti itu" ujar Naya tegas.


"Tapi...."


"Ini untuk kebaikan kita semua, andai kita tetap bersama, aku takut aku tak bisa lagi menahan diriku"akhirnya Naya jujur dengan hatinya, ia pun tak akan sanggup terus bertahan dengan perlakuan Januar yang begitu lembut hingga membuatnya terbuai.


"Baiklah ..." ucap Januar pasrah.


"Tolong lepaskan aku, aku mau istirahat" pinta Naya karena tangan Januar masih memegang pinggangnya.


"Tapi maafkan aku"kembali Januar memelas, ia sangat takut jika Naya tetap marah dan acuh padanya.


"Jangan kau ulangi lagi" Naya berucap lembut.


"Heum ..." Januar mengangguk lega.


Naya pun ke kamarnya, ia ingin segera istirahat, hingga esok ia siap dengan semua keputusan hakim yang di jatuhkan untuk Silvy.


Pagi pun tiba, meski ini sidang terakhir tapi Naya masih tetap merasa gugup, seperti pagi ini, selera makan pun seakan hilang, hingga Januar memaksa untuk menghabiskan beberapa suap agar perutnya terisi.


Suasana gedung tampak mulai ramai, Aslan dan tim nya sudah siap di tempatnya, Kendra datang bersama Elis lalu duduk di kursi di belakang tim Aslan.


Silvy tampak tertunduk lesu, seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik duduk dengan wajah tegang bahkan raut kecantikan tak bisa menutupi kegugupannya.


Beberapa pria berjas mendampingi wanita paruh baya tersebut.


Sedangkan Danu duduk tenang dengan mata tak lepas menatap ke arah Naya.


Kenapa mataku begitu buta, sedangkan pesonamu tak tertandingi.

__ADS_1


__ADS_2