Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Cerita Masa Kecil


__ADS_3

Naya melangkah dengan jantung bedebar ke kamar kecil, jarak yang cukup jauh membuat Naya memiliki cukup persiapan untuk mengikuti petunjuk Daniel.


Bruukk .


"Ah maaf, maaf Pak."


Naya menoleh saat kegaduhan menyita perhatiannya, namun Daniel dengan cepat memberi isyarat agar Naya berlari ke parkiran.


Rupanya dua pria yang bertabrakan tersebut tak lain adalah anak buah Ningsih dan orang kepercayaan Daniel yang sedang menjalankan tak tik pengalihan perhatian pria bertubuh tegap itu.


Di saat lengah itu lah Naya berlari ke arah mobil Daniel di susul Daniel yang langsung memutar kemudi meninggalkan area terminal sebelum anak buah Ningsih yang lain sadar kejadian tersebut hanya siasat Daniel dan anak buahnya.


Naya memegang tali seatbelt dengan erat karena Daniel memacu kereta besinya dengan kecepatan tinggi.


"Kau takut?" tanya Daniel saat melihat wajah Naya tegang dan memucat.


"Sedikit" jawaban singkat namun cepat itu membuat Daniel terkeleh lalu mengurangi kecepatan mobil.


"Kita ke mana?"tanya Naya karena ia tahu jalan itu bukan menuju ke apartementnya.


"Kita ke suatu tempat, ada seseorang yang harus kita temui" terang Daniel.


"K kenapa kau menolongku dari anak buah ibuku?" tanya Naya lirih.


"Butuh waktu lama untuk menceritakan tujuanku menyelamatkanmu, dan sekarang kita hampir sampai."


Daniel menepikan mobilnya di parkiran sebuah restoran besar, lalu turun di ikuti Naya di belakangnya.


"Hai Om, maaf lama menunggu" sapa nya pada seorang pria paruh baya yang sudah menunggunya di ruang VIP.

__ADS_1


Naya menghentikan langkahnya saat menyadari orang yang hendak mereka temui.


"Ayo, sapalah beliau..kalian sudah saling mengenal" ajak Daniel menarik tangan Naya.


"Om...Jeremy.." ucap Naya lirih dengan raut wajah terkejut, dari mana Daniel mengenal ayah Januar, pikirnya.


"Kau masih mengenalnya?" tanya Daniel.


"Lho Naya...jadi kamu..." sapa Jeremy yang juga tak kalah terkejut melihat wanita yang kata Daniel adalah putri dari Setyo sahabatnya ternyata Naya.


"Iya Om, dia Kanaya Dewanty putri dari Om Setyo Dewanto" jelas Daniel.


Naya dan Jeremy saling memandang lekat.


Jeremy tak menyangka gadis kecil yang dulu Setyo bawa ternyata adalah Naya, sahabat dari putrinya sendiri.


Jeremi memeluk Naya dengan erat, tak menyangka selama ini sudah mengenal dekat dengan putri sahabat baiknya.


Jeremy mengurai pelukan sambil mengusap air bening dari susut matanya.


"Kau pasti lupa nak, aku adalah Jeremy, sahabat ayahmu Setyo.."jelas Jeremy.


Mulut Naya membulat, kini memory beberapa belas tahun yang lalu kembali membayang di matanya, meski memori tak sempurna tapi ia masih ingat sahabat sang ayah.Rupanya Jeremy adalah sahabat ayahnya, lalu Naya beralih ke Daniel dan di balas dengan anggukan kepala dan senyum haru pria tampan itu.


"Kau sudah mengingatku? Aku Daniel, putra Om Dahlan yang juga sahabat ayah mu" terang Daniel.


Naya menutup mulutnya tak percaya, jadi Daniel adalah bocah lelaki tengil yang dulu sering bertemu dengannya, dan yang selalu menjaihili nya.


Daniel terkekeh melihat Naya masih shock, lalu mengambil dompet dari saku celananya.

__ADS_1


"Lihatlah, ini kau dan Ayahmu, aku dan juga Ayahku, serta Om Jeremy" terang Daniel sambil menunjuk wajah dalam foto.


Naya tertegun mengamati wajah di dalam foto lalu ia beralih memandang Daniel dan Jeremy.


"J jadi kalian..."


Jeremy mengangguk begitu pun Daniel, pria tampan itu tersenyum haru, kini gadis kecilnya mulai ingat memori yang tak akan pernah Daniel lupa.


Ku lah cinta pertamaku Nay, gadis kecilku dan cinta sejatiku, Daniel membatin.


Kedua mata Naya berembun, serasa ada sang ayah di sampingnya saat ini, ia tak pernah membayangkan Jeremy adalah lelaki sahabat ayahnya sendiri yang sudah ia temui sejak kecil, begitupun Daniel, pemuda culun yang selalu membuatnya kesal kini telah menjadi pria tampan mempesona.


"Ternyata dunia begitu sempit, kau sahabat putriku dan Ayahmu sahabatku dan kenyataan itu baru kita sadari sekarang ini, kalau saja tak ada kau Nil, mungkin Om tak akan pernah menyadari kalau Naya adalah putri kecil Setyo, kalian memang berjodoh" Jeremy menepuk bahu Daniel.


Glekk, Naya menelan kudah kasar, kini ia baru menyadari, masih ada kesalah pahaman yang masih tersimpul.


"Ayah..."teriak Tiwi memasuki ruangan namun langkahnya terhenti saat melihat Naya.


"Kau ....ada di sini?"tanya Tiwi terkejut, Naya mengangguk dengan senyum masam.


"Duduk sini yang benar Wi, nanti Ayah ceritakan kabar gembira ini"Ujar Jeremy pada putrinya.


Tiwi pun menarik kursi di samping Jeremy setelah mengirim pesan singkat pada sang adik.


Pria paruh baya itu menceritakan kisah bersama para sahabatnya termasuk Naya kecil dan Daniel yang ternyata adalah putra dari sahabat Jeremy, Dan tak lupa Jeremy memberikan dukungan pada Daniel yang berniat meminang Naya.


Tiwi memandang Naya yang tertunduk dengan wajah muram.


"Jadi kalian sudah saling mengenal ?" tanya Tiwi lirih.

__ADS_1


"Benar Wi, dan kau harus tahu, rupanya mereka memang di takdirkan untuk bersatu, jika dahulu Setyo yang menjodohkan Daniel kecil dengan putrinya begitu pun sekarang, Ningsih yang tak lain istri almarhum setyo pun menjodohkan mereja tanpa tahu kisah masa kecil Daniel dan Naya" terang Jeremy.


Pelayan datang membawa makanan yang sudah Jeremy pesan, dan mereka pun menikmati makan dengan lahap, namun tidak bagi Naya, apa lagi Tiwi, ia sempat mengirim pesan pada Januar bahwa Naya sedang bersamanya, pastilah tak lama lagi bocah itu sampai di restoran tersebut.


__ADS_2