Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Naya yang Malang


__ADS_3

Januar bergegas melajukan mobilnya menuju alamat di mana apartement Naya berada, setelah Tiwi menceritakan semua padanya tentang kisah nasib rumah tangga Naya, pria itu entah kenapa hatinya merasa tak tenang apalagi Tiwi dan Elis tak bisa menghubungi nomornya.


Hari mulai gelap dan jalanan pun padat merayap, beberapa kali Januar memukul kemudinya menumpahkan kekesalan.


Dan ternyata simpul kemacetan adalah adanya sebuah kecelakaan tunggal di mana sebuah mobil terjungkal dengan body setengah hancur.


Pandangan Januar terfokus pada onggokan body mobil yang rusak parah di bahu jalan dan asap pun tampak masih mengepul.


Untuk sepersekian detik waktu bagai terhenti saat mata Januar melihat sebuah koper yang terlempar beberapa langkah dari dalam mobil.


Deg.


Bukankah itu koper yang di bawa Ujo tadi saat mengantar Naya pulang, pikir Januar.


Perasaan tak enak tiba-tiba menjalar di dadanya, ia mengeluarkan kepala lewat kaca samping sambil terus memacu mobil secara perlahan karena memang kemacetan padat merayap.


Koper berwarna abu silver milik Naya, Januar mengerjapkan matanya bebrtapa kali berharap penglihatannya salah, namun tetap saja warna koper itu tak berubah.


Ada beberapa polisi yang bertugas mengatur jalan masih berdiri di TKP.


"Pak maaf, ada berapa korban yang ada di mobil itu?" tanya Januar cepat, karena mobil masih tetap melaju meski lambat.


"Ada dua orang pria dan satu wanita, satu pria meninggal di tempat, dan dua lagi sudah di bawa ke rumah sakit Cepat Sehat" jawab Pak polisi tegas .


"Oh terima kasih pak" ucap Januar dengan mengangguk hormat.


Januar semakin cemas saat dari Google maps kemacetan jalan masih memakan waktu tiga puluh menit lagi.


"Drrt drrt.


"Yup ada apa Bos?" suara Jefry dari ujung telepon.


"Lu cepat ke lokasi Gue saat ini, pakai motor."


"M maksudnya bos?" suara Jefry tampak bingung.


"Udah cepetan sejarang juga, gue tunggu di mobil, nanti Gue Shareloc."


Meski di liputi tanda tanya Jefry segera mengambil motor bututnya dan menuju ke alamat yang sang Bos kirim.


Karena lokasi Jefry yang cukuo dekat hingga dalam waktu singkat ia bisa mencapai tempat di mana mobil Januar terjebak kemacetan.


Tok tok.


Januar memalingkan wajah ke samping saat seorang pengendara motor mengetuk kaca mobil sampingnya.


Senyumnya pun terbit lalu pria itu bergegas keluar.


"Lu bisa bawa mobil kan?" tanya Januar dan Jefry mengangguk cepat.

__ADS_1


"Beri jaket dan helm mu, Lu bawa mobil ke apartement ."


Jefry masih dengan wajah penuh kebingungan menurut melepas jaket kulit dan helm lalu menyerahkan pada Januar.


Perasaan aku beli jaket dan helm seukuran dengan tubuhku tapi kenapa begitu pas di pakai tubuhnya, Jefry membatin saat Januar melepas jas dan mengganti dengan jaket kulit Jefry.


Dengan bantuan Mbah Serba tahu lewat ponsel, Januar memacu motor menuju Rumah Sakit Cepat Sehat di mana Naya di bawa.


Tak lebih dari tiga puluh menit akhirnya Januar sampai di gerbang Rumah sakit, segera pria itu berlari menuju ruang resepsionis.


Para petugas yang kebanyakan perempuan tampak saling pandang karena Januar bertanya dengan kalimat yang cukup cepat dengan helm masih menempel di kepalanya.


"Oh m maaf.." Januar melepas helm full face nya.


Para petugas resepsionis pun tertegun, wajah rupawan Jamuar membuat mereka tertegun sesaat.


"Apa pasien bernama Naya ada di rumah sakit ini, dia kecelakaan beberapa saat yang lalu" terang Januar cepat.


"Apa yang di maksud Tuan adalah Kanaya Dewanty?" tanya balik resepsionis sambil menunjukan kartu identidas karyawan Tinar Perkasa.


"Iya, dia Naya" jawab Januar.


"Non Naya masih di ruang ICU tuan, beliau belum sadar."


"A apa saya bisa melihatnya?"


Januar pun melangkah menuju ruangan di mana Naya di rawat, dadanya berdenyut nyeri, kepala nya yang di lilit perban dengan jarum infus di tangan juga alat pernapasan di hidungnya, sungguh melihat keadaan Naya seperti itu, Januar meeasa trenyuh.


"Kak, Naya kecelakaan, dan sekarang masih di ruang ICU belum sadar" pesan yang Januar kirim pada sang Kakak.


Drrt drrtt.


"Kenapa pangggilan ku kau tolak Nu?"


"Lewat pesan saja, takutnya ganggu ketenangan pasien" pesan Januar.


"Tapi Gue mau liat Nay Nuu...." pesan Tiwi di akhiri emot air mata deras.


Ceklek.


Seorang dokter dan dua perawat datang memeriksa kondisi Naya, Januar hanya bisa mengamati dari balik kaca.


"Dok bagaimana keadaannya Dok?" tanya Januar saat dokter keluar ruangan Naya.


"Masa kritisnya sudah lewat, dan kita harus menunggu sampai kondisinya benar-benar stabil agar bisa kami pindahkan ke ruang rawat."


"L lalu apa luka yang di deritanya parah Dok?"


"Nyonya Naya, mengalami benturan di kepala, dan beberapa luka lecet di tangan, untuk benturan mungkin cukup keras hingga menimbulkan memar di tengkorak juga kulit kepala sobek pada bagian belakang."

__ADS_1


Januar mendengarkan dengan dada sesak, meski tak cukup mengerti bahasa yang Dokter katakan.


"Bagaimana akibatnya nanti Dok? Tidak terlalu parah kan?"


"Melihat dari luka nya mungkin ada sedikit pengaruh pada otot syarafnya, tapi itu perlu di lakukan obserfasi lebih kanjut, namun harapan kami, semoga luka pasien tidak terlalu parah hingga tidak mempengaruhi otot syaraf."


"Baik dok, terima kasih banyak."


Januar membalas anggukan sang dokter dengan anggukan hormat.


Tak tok tak.


Elis datang dengan langkah cepat dengan air mata yang sudah menganak sungai, ia langsung berangkat ke Rumah Sakit setelah Tiwi menghubunginya lewat pesan bahwa Naya mengalami kecelakaan dan kritis.


"Nay ...huu huu huu, kenapa jadi seperti ini, kan sudah Gue bilang Lu suruh tunggu Gue, jagi gini kan "isak tangis Elis lirih sambil memandang Naya dari kaca pembatas.


"Jef ke Rumah Sakit Cepat Sehat sekarang juga, jangan lupa ajak Tanu."


Januar mengirim pesan pada Jefry setelah mengurus administari.


Pria tampan itu menghempaskan tubuhnya di kursi lobi Rumah Sakit.


Ada keanehan yang mengganjal di kepakanya tentang kecelakaan tersebut, dari keterangan polisi lalu lintas mengatakan bahwa kecelakaan mobil yang di alami Naya terdapat dua orang pria, jika Naya menyewa taxi online, kenapa bisa ada orang lain dalam mobil tersebut, batin januar.


Tak tok tak.


Jefry dan Tanu datang dengan langkah cepat menuju Januar berada, nafas keduanya ter engah-engah.


"Ada apa Tuan? siapa yang sedang ada di rumah sakit ini?" tanya Jefry.


"Naya, asistenku."


Jefry dan Tanu saling pandang, mereka memang sesekali pernah bertemu dengan Naya sahabat Tiwi, bos lama mereka.


"Kenapa dengan Mbak Naya Tuan?"tanya Tanu.


"Dia mengalami kecelakaan, mobil taxi online yang mereka tumpangi menabrak pembatas jalan."


Jefry dan Tanu saling pandang untuk kedua kalinya.


"Aku merasakan kejanggalan dari kecelakaan yang di alami asistenku, dan aku minta kalian menyelidikinya, Tanu...tugas mu adala..retas semua CCTV yang ada di depan lobi Tinar perkasa juga yang do sebarang jalan yang mengarah ke gerbang Tinar perkasa, lihat kalau ada yang mencurigakan dan cepat lapor padaku" jelas Januar.


"Siap Tuan."


Keduanya pun langsung kembali pamit.


Januar kembali menghela nafas panjang, Elis masih berdiri dengan wajah menempel di kaca, mungkin hatinya ikut hancur melihat keadaan sahabat terbaiknya kini terbaring tak berdaya di atas ranjang pasien.


Siapa sebenarnya yang telah melakukan ini padamu.

__ADS_1


__ADS_2