
Danu menghepaskan tubuhnya di atas ranjang besarnya, Sam sudah pergi beberapa saat yang lalu.
Apartemen yang mewah dan nyaman semakin terasa sunyi.
Danu meraih ponsel dan mulai membuka akun media sosial miliknya yang jarang ia lihat.
Bahkan aku tak memiliki fotomu satu pun Nay, Danu membatin lirih.Semakin sesak dadanya saat ia melihat akun sosial media milik Naya yang terkunci, entah kenapa hatinya menjadi amat merindukan istri yang di sia-siakannya.
Sedang apa kah kau sekarang, andai dari dulu aku menyadari kebodohanku, tak akan aku se sakit ini, andai dulu aku menyadari bahwa kau memang tercipta untukku, tak akan mungkin aku menolakmu Nay, maafkan aku, bukalah pintu hatimu kembali untukku, Danu membatin sedih.
Andai dari semula aku menerimamu ,mungkin saat ini kita sudah bahagia bersama, kembalilah padaku Kanaya Dewanti.
Danu memukul dadanya yang terasa sesak, masih teringat olehnya, bahkan di malam pertama ia terang-terangan mengatakan bahwa ia mencintai wanita lain, Dan Naya masih tersenyum pasrah meski hatinya pasti amat hancur.
Kau lelaki paling bodoh di dunia Danu, kau buang berlian hanya untuk mempertahankan kerikil kotor di tanganmu.
Tiba-tiba mata Danu membulat saat melihat akun sosial media milik Sam, tampak Sam memposting foto bersama dengan Naya beberapa hari yang lalu, keduanya tersenyum ceria, ada rasa iri di hati Danu.
Bahkan asistennya itu lebih tahu mana pasir dan mana yang berlian.
"Sam, apa kau ada foto Naya?tolong kirim padaku" pesan yang Danu kirim pada asistennya.
"Buat apa Bos?" jawab Sam cepat.
"Bukan urusan Lu CEPAAT" Danu mengetik dengan huruf kapital karena kesal, ingin ia melempar benda persegi panjang itu ke kepala asistennya agar rasa kepo hilang dari otak asistennya itu.
"Bukan buat melet kan bos?" tanya Sam polos, membuat Danu semakin memanas dan menjawab dengan emot kepalan tangan tujuh kali.
Sam hanya terkekeh puas lalu mengirimkan poto Naya.
Dan Sam kembali mencebikan bibirnya saat centang biru dua langsung terlihat kala ia berhasil mengirimkan dua poto Naya.
"Mana lagi?" tanya Danu.
"Sudah cukup Bos."
"Cukup apanya?"
"Cukup untuk mengobati kerinduanmu pada Non Naya, kalau saya kirim lagi nanti takutnya bos nggak bisa tidur."
"Kenapa memangnya?"
"Karena non Naya terlalu cantil kalau hanya untuk di bayangkan..."kalimat Sam membuat Danu mendengus kesal.
"Apa kau sudah memberi kado hadiah kehamilan untuk istrimu?"Danu mengetik dengan senyum smirk.
__ADS_1
Mata Sam membulat sempurna" belum bos?"
"Apa yang istrimu inginkan?"
Sam berfikir sejenak, selama hamil istrinya memang tidak pernah mengatakan ingin sesuatu hingga Sam pun bingung apa yang istrinya mau.
"Hei jangan bilang kau tak tahu yang istrimu mau?dasar suami tidak peka" kalimat telak Danu membuat Sam menelan ludah kasar.
"Istri saya hanya ingin tenang tanpa memikirkan biaya sekolah anak kami nantinya."
"Apa segini cukup?" tanya Danu setelah berhasil mentransfer sejumlah uang ke no. rekening Sam.
Dan mulut Sam membulat sempurna, Danu telah mengirmkan uang yang cukup fantastis yang cukup untuk biaya sekolah anaknya bahkan hingga ke jenjang bangku kuliah.
"Terima kasih bos, tapi kurasa itu terlalu banyak, aku tak akan bisa membalas kebaikanmu bos" kalimat Sam di akhiri emot cinta.
"Kau tahu kau bisa membayarnya sekarang juga.."jawab Danu.
Sam pun menyeringai lebar, ia mulai menscrolling akun milik Tiwi, Elis dan dokter Kendra untuk mencari foto terbaik Naya.
Dan Danu pun tersenyum puas, kini galerinya penuh dengan gambar Naya.
Kau memang bidadari yang tercipta untukku Nay.
"Kau pasti akan kembali padaku"ia bermonolog sendiri lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ia harus berterima kasih pada asistennya, karena moodboosternya sangat baik hari ini.
Sepanjang perjalanan mulut Danu tak henti berdendang, kisah sedih hari kemarin karena penghianatan Silvy kini tak ada artinya lagi, Semangat Danu kini kembali menyala, ia berencana akan membawa Naya kembali ke apartemen apapun yang terjadi.
"Bos ceria amat?" tanya Sam begitu Danu sampai di ruangannya.
Danu hanya tersenyum smirk dan menepuk bahu Sam.
"Aku akan segera membawa Naya kembali ke sisiku" ucap Danu percaya diri, Sam hanya mengangguk ikut merasa senang.
Setelah menyelesaikan berkas yang menumpuk di meja nya Danu pun beranjak pergi.
Dengan wajah ceria ia mengemudikan mobil membelah ibukota.
Dan ia memarkirkan mobilnya di sebuah gedung apartemen mewah, langkahnya panjang memasuki lobi apartemen.
Dengan celana jenas biru laut dan jaket denim yang melekat di tubuhnya juga topi putih yang ia pakai untuk menutupi wajahnya yang tampan.
Danu sengaja merubah penampilannya sebelum mendatangi apartemen di mana Naya tinggal.
__ADS_1
Dengan posisi duduk santai dan majalah bisnis yang menutupi wajahnya, Danu menunggu dengan sabar, berharap bu Heni muncul.
Dan penantiannya tak sia-sia, bahkan kini bu Heni datang bersama dengan Naya, rupanya mereka baru membeli bahan makanan dan sayuran.
Untuk beberapa detik Danu terdiam ia melihat senyum manis Naya saat bercanda tawa dengan bu Heni, bahkan mereka tampak bergandengan tangan.
Hati Danu menghangat seketika, senyum yang belum pernah ia lihat sebelumnya, apakah nanti kehadiarannya tak akan mengganggu keceriaan Naya.
"Nay, tunggu..."teriak Danu sambil mengejar Naya dan bu Heni.
Kedua wanita itu sontak memalingkan wajahnya, melihat kedatangan Danu, bu Heni spontan meraih tubuh Naya agar berlindung di belakangnya.
Sesak dada Danu melihat hal tersebut, mereka dengan suka rela melindungi Naya.
"Maaf bu, bisa saya bicara dengan Naya sebentar" pinta Danu sopan.
Bu Heni bimbang, lalu melihat ke arah Naya yang tampak tenang, sikap sopan Danu membuatnya tak terlalu tegang.
"Biarkan bu Hen" ucap Naya lirih.
"Tapi tidak boleh pergi dari sini, mbak Nay harus tetap bersama saya" bu Heni berucap tegas sambil terus waspada.
Danu pasrah dan perlahan mendekati Naya.
Naya berusaha tetap tenang meski jantungnya berdebar kencang, ia menatap wajah tampan Danu yang juga memandangnya dengan intens.
"Naya, sebelumnya maafkan aku yang mungkin membuat kau terkejut, karena tak ada cara lain untuk menemuimu."
"Maaf Tuan, bisa di persingkat kalimatnya? Saya takut Mas Jan datang" ucap bu Heni gugup.
"Ehm hmm baiklah, akan saya persingkat, Naya mungkin kau sudah mengira bahwa kecelakaan yang menimpamu adalah perintah dariku, dengan ini aku katakan bahwa aku bersumpah tak ada niat sedikit pun untuk mencelakaiamu apalagi menyuruh orang untuk membunuhmu, kau bisa tanyakan langsung pada polisi yang sedang menangani kasus ini..."jelas Danu.
Naya tetap diam.
"Dan ketahuilah, aku datang hanya ingin memohon agar kau me maafkanku Nay, mari kita mulai pernikahan kita dari awal, ...jika kau tak percaya dengan apa yang ku katakan, aku akan mencari siapa yang telah tega membuatmu celaka, aku akan menyeretnya ke hadapanmu sebagai bukti bahwa bukan aku otak dari semua kejadian ini, maafkna aku Naya, kembalilah dan terimalah maafku" Danu berucap dengan suara bergetar.
"Mbak Nay kalau sudah, mari kita ke atas"bu Heni takut jika Januar melihat Naya dengan Danu berbicara, sedangkan ia sudah di wanti Januar agar segera lapor padanya jika Danu menemui mreka.
Dengan tatapan kosong Naya menurut saat bu Heni menarik tangannya memasuki lift.
"Naya percayalah padaku, aku tak pernah menyuruh orang untuk mencelakaiamu, maafkan aku Naya...Nay"Danu terus berteriak sambil mengejar Naya yang sudah terlebih dahulu memasuki lift.
Beberapa pasang mata tertuju pada wajah lesu Danu, pria tampan itu tampak tak bersemangat meninggalkan lobi apartemen.
Akan ku buktikan padamu, bukan aku pelakunya.
__ADS_1