
Pak Sam aku tawarin makan dulu Mas, aku masak banyak, sayang kalau di buang sedangkan kau tidak pernah mau masakan buatanku" sindir Naya jujur, ia merasa harus melindungi Pak Sam, jika memang Danu akan memarahinya.
"Maaf Tuan..."Sam tertunduk dengan wajah penuh penyesalan.
Naya menatap Danu tajam, ia tak rela Pak Sam mendapat murka suaminya itu.
"Mas, Pak Sam tidak salah aku yang...."
"Sudahlah, itu tak penting bagiku, kalian teruskan makan kalian, aku mau tidur" Danu berucap sinis lalu kembali ke kamarnya.
Naya menatap pria di hadapannya dengan penuh sesal.
"Maaf Pak, karena saya bapak jadi kena marah Tuan.."sesal Naya.
"Ah tidak Nona, saya tahu Tuan tak marah pada Nona, mungkin suasana hati Tuan yang sedang buruk saja" jawab Sam lembut, ia sungguh tak tega melihat Naya bersedih.
"Terima kasih atas makan malam yang lezat ini Non, saya sangat menyukai masakan Non Naya" sambung Sam jujur.
Kedua mata Naya berbinar," Benar kah Pak? Kalau begitu besok Bapak makan sama saya lagi kalau mampir ke sini" ucap Naya semangat.
Sam mengangguk meng iya kan.
"Tentu Non, kapan pun Non Naya minta, saya bersedia."
Keduanya mengadukan kepalan tangan dan tersenyum ceria.Tanpa mereka sadari, sepasang mata memandang dari celah pintu kamar yang terbuka dengan bibir mencebik kesal.
Naya merapikan peralatan makan setelah Sam pergi, lalu bergegas ke kamar.
Naya berkaca di lemari riasnya, melihat wajah dengan potongan rambut terpendek yang pernah ia miliki, sedikit ringan memang, tapi tengkuknya kini berasa dingin karena terpaan angin langsung menyapu kulitnya.
Naya menghela nafas panjang, rambut hitam panjangnya kini sudah menjadi kenangan, tiba-tiba sekelebat bayangan baby face terlintas di benaknya.
Naya menggelengkan kepalanya cepat, berharap wajah Januar segera menghilang dari pelupuk matanya.
Karena pria itu ia harus kehilangan rambut indahnya.
Naya menghempaskan tubuhnya di atas ranjang besarnya, kamarnya yang sepi dan hening, tidak seperti yang orang bayangkan, di usia pernikahan mereka yang baru satu bulan lebih tapi tak sekali pun Naya mendapat perlakuan manis dari sang suami, apalagi merasakan seperti apa rasanya malam pertama.
Banyak orang mengatakan ia cantik, masak pun ia cukup bisa di andalkan, dan di katakan boros, Naya tak pernah sekalipun belanja kebutuhan yang tak terlalu penting.
Naya menghela nafas panjang.
Apa yang harus ku lakukan agar membuat kau menganggapku sebagai istrimu Mas.
Tangan Naya menyapu permukaan ranjang, terasa dingin seperti biasa.
Drrrt drrt.
__ADS_1
"Udah pada tidur Lu mak?" Tiwi mengawali obrolan grup.
"Gue baru nguap, ganggu aja" Elis menjawab dengan emot seringai mengerikan.
"Gue nggak bisa tidur nih"...Naya.
"Kangen Gue saat kita lagi BeTe, pasti kita tidur bareng di apartement, joged bareng..minum bareng....ah, kapan lagi kita bisa ngumpul bareng nih hiks"......Tiwi.
"Lu ada masalah ama suami Elu Nay?" ...Elis.
"Nggak ada masalah, jangankan masalah..ngobrol saling bertukar cerita pun kami tidak pernah" ...Naya.
"Gimana suami Elu lihat mode rambut baru Elu?" ....Elis.
"Biasa aja..."...Naya.
"Biasa gimana?".....Elis.
Elis tahu, besar harapan Naya agar penampilan barunya itu bisa sedikit menarik perhatian Danu.
Naya hanya memandang layar ponselnya, enyah bagaimana ia harus menjawab, karena memang suaminya tak perduli dengan penampilannya, jangankan memandang takjub, melirik dari sudut matanya pun Danu tidak.
Naya membolak-balikan tubuhnya di atas ranjang, di pandangi langit kamarnya yang putih polos, andai saja ada sedikit hati Danu untuknya agar asa di hatinya tetap menyala bahwa suaminya sedikit menyisakan tempat di hati untuknya.
Naya jatuh tertidur tanpa sadar dengan ponsel yang masih menyala.
Ceklek.
Rupanya Naya sudah asik dengan aktifitas di dapur, aroma wangi masakan menyeruak indra penciuman Danu.
"Sudah bangun Mas?" tanya Naya yang melihat Danu melewati dapur.
"Heum" seperti biasa Danu hanya menjawab singkat, setelah mengambil minuman hangat ia pun kembali ke kamarnya.
Naya kembali meneruskan kegiatannya, setelah selesai ia membagi masakan menjadi dua, satu untuk di bawanya ke kantor, satu lagi akan ia titipkan pada Danu untuk Sam asistennya.
Dari penuturannya Sam bercerita bahwa beberapa minggu ini istrinya tak bisa menyiapkan sarapan karena sedang hamil muda, dan terpaksa Sam harus membeli sarapan di luar.
Setelah selesai Naya pun segera berganti baju kantor karena pagi tadi ia sudah mandi.
Ojek online sudah menunggunya di depan lobi gedung.
Begitupun Danu, pria tampan itu keluar dari kamar setelah berdandan, niatnya untuk berangkat siang ia urungkan, Silvy mengatakan kalau ponselnya rusak dan ia berada di rumahnya hari ini.
Danu berniat untuk pergi ke rumah Silvy nanti sore sepulangnya dari kantor, rasa rindunya sudah membuncah, beberapa hari tak bertemu Silvy sungguh membuat harinya menjadi buruk karena semangatnya menghilang.
Empat puluh menit perjalanan, Danu pun sampai di gedung perusahaan miliknya, satpam gerbang perusahaan mengangguk penuh hormat saat Danu membuka kaca mobil.
__ADS_1
"Apa asisten Sam sudah berangkat?" tanyanya pada satpam.
"Sudah Tuan, beberapa menit yang lalu asisten Sam sudah datang" jawab pria berseragam biru navi dengan hormat.
Danu pun segera memberikan kunci mobil ke satpam tersebut agar di parkirkan.
Karena Naya menitipkan makanan untuk Sam, ia terpaksa harus menemui asisten Sam dahulu.
"Lu di mana?" tanya Danu lewat panggilan aplikasi hijau.
"Saya di ruangan saya Tuan" jawab Sam heran, tak biasanya sang Bos mencarinya pagi-pagi.
Beberapa menit akhirnya Danu sampai di ruangan Sam.
Ceklek.
Brakk.
Sam mengerutkna alisnya saat Danu menaruh bungkusan Rice Box di atas meja nya.
"A apa ini Bos?" tanya Sam.
"Itu titipan dari Naya" Danu menjawab sinis, sang istri sangat perhatian pada asistennya hingga rela membawakan sarapan pagi untuknya.
Mata Sam berbinar ceria, tak percaya ternyata Nona Naya benar-benar menepati ucapannya.
"Wah t terima kasih Tuan" jawab Sam semangat.
Danu hanya berdecak lalu pergi dari ruangan Sam dengan rasa dongkol.
Naya malah membawakan sarapan untuk Sam, sedangkan suaminya sendiri ia biarkan kelaparan.
Danu menghempaskan pantatnya di kursinya yang nyaman.
"Sayang kau di mana? aku rindu."pesan yang Danu kirim ke Silvy.
"Aku di rumah honey i miss you too" Danu tersenyum melihat balasan Silvy.
"Aku nanti malam datang, berdandanlah yang cantik" pesan Danu di akhiri emot Cinta, dan di jawab emot cinta juga oleh Silvy.
Sementara di sebuah kamar hotel, seorang pria semakin mempercepat kayuhan tubuhnya di belakang Silvy, pertanda ia akan mencapai puncak.
Erangan manja dan ******* panas keluar saling bersahutan di kamar mandi hotel mewah tersebut, lenguhan panjang keduanya terdengar memenuhi ruangan kedap suara itu setelah mereka bersama-sama mencapai puncak kenikmatan.
"Kau memang selalu membuatku puas Sil" ucap pria berperut sixpack di belakang silvy yang masih enggan mengurai tubuh Silvy dari dekapannya.
Seringai lebar Silvy terbit, bayangan sebuah tas mewah sudah menari-nari di pelupuk matanya.
__ADS_1